Ringkasan Khotbah

10 May 2026
Khotbah Hari Ibu
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Yoh 19:25-27

Yoh 19:25-27

Ada momen-momen kecil di dalam Alkitab yang justru membukakan kebenaran yang besar. Yohanes 19 yang baru kita baca adalah salah satunya. “Ibu, inilah anakmu! Anak, inilah ibumu!” Saudara-saudara, ini adalah sesuatu kalimat yang sederhana bukan? Kita tidak memikirkan apa pun saja dengan kalimat yang begitu sederhana. Tetapi sebenarnya, melalui kalimat ini, Yesus mau memulihkan tatanan langit dan bumi, dan Yesus mau menebus tatanan dari umat manusia. Kalimat yang sederhana ini sendiri adalah kalimat yang diucapkan, adalah salah satu dari tujuh kalimat Yesus terakhir di kayu salib – tidak mungkin kalau tidak penting. Sebentar lagi mau mati, masakan kalimat yang tidak penting keluar dari mulutnya? Pasti ada sesuatu yang penting. Pasti ini adalah sesuatu yang paling fundamental. Oh begitu saya melihat semuanya ini, saya pikir ini biasa saja, tetapi begitu saya mendalaminya, begitu sederhana tetapi begitu penting dan begitu sulit kita mengaplikasikannya. Sekali lagi, ini adalah sesuatu kalimat yang akan menata seluruh tatanan hidup kita di dunia. Dan kalimat ini juga akan menata hubungan langit dan bumi. Saya akan bicara tentang dua hal yang paling sederhana dan paling penting ini. Yang pertama, kalimat ini menyatakan kasih dan hormat Kristus kepada orangtuanya, khususnya kepada ibunya, Maria. Oh ini kalimat sederhana kan? Saudara pikirkan sekali lagi, begitu sederhananya, siapa yang tidak tahu? Tetapi pertanyaan adalah siapa yang melakukannya? Kalimat ini adalah kalimat bicara mengenai kasih dan hormat Kristus kepada orangtuanya, khususnya ibunya, Maria. Karena Yusuf sudah meninggal. Saudara-saudara, hormat kepada orangtua adalah salah satu dari sepuluh perintah Allah. Tetapi bukan saja salah satu dari sepuluh perintah Allah. Ini adalah perintah yang membagi yang ada di tengah-tengah, antara empat perintah Allah berkenaan dengan pribadi Allah dan sisanya yang berkenaan dengan pribadi manusia. “Hormati ayahmu dan ibumu.” Kenapa tidak dibuat itu menjadi perintah yang kesembilan? Kenapa tidak dibuat perintah yang ketujuh? Kenapa harus diletakkan di perintah kelima? Empat perintah pertama seluruhnya bicara berkenaan dengan pribadi Allah. Sisanya adalah bicara mengenai relasi antara manusia. Di tengah-tengahnya, adalah “Hormati ayahmu dan ibumu.” Saudara-saudara, saudara bisa lihat ordo ini bukan? Allah, orangtua, baru sesama manusia. Di dalam pikirannya Allah, saudara dan saya tidak mungkin bisa menghormati orang lain sebelum saudara dan saya belajar menghormati orangtua. Ini adalah penetapan Allah akan ordo di bumi. Oh, kata yang sederhana, tapi penting sekali yang hilang di zaman postmodern ini adalah ordo. Tatanan. Tatanan itu membuat satu keharmonisan. Tatanan itu adalah satu sifat yang keluar dari pribadinya Allah. Bapa mengutus Anak. Anak dan Bapa mengutus Roh Kudus. Roh Kudus menaati Bapa dan Anak. Dan Anak menaati Bapa. Saudara-saudara sama sekali saudara tidak bisa membaliknya. Ini adalah sesuatu perintah, postulat yang nyata, yang ditetapkan Allah, yang real yang ditancapkan oleh Allah di dalam setiap hidup manusia. Saudara-saudara, Setan itu cara kerjanya merusak ordo. Membolak-balik ordo, yang di atas jadi di bawah, yang di bawah jadi di atas. Begitu ini terbalik, maka seluruhnya rusak. Kalau saudara-saudara mau bicara mengenai “saya ingin hidup saya, keluarga saya, harmonis Pak.” Saudara-saudara, saudara ingin ada damai sejahtera? Saudara-saudara ingin sukacita? Saudara letakkan semuanya di tempatnya. Ordo. Kalau saudara masih ingin damai, tapi saudara membalik ordo di dalam keluarga, itu adalah mimpi di siang hari bolong. Saudara-saudara, ordo itu bikin, tatanan itu bikin harmonis, bikin indah. 

Saudara-saudara, saudara lihat dia. Anak-anak semua lihat dia, lihat papamu, mamamu, lihat orang lain. Diciptakan Tuhan, ya begini, mata di sini, telinga di sini, mulut di sini, hidung di sini, ini semuanya harmonis, ini semuanya tepat. Saudara belah tengah begitu, semuanya tepat. Saudara-saudara, saudara pikir “Ah, tidak bagus, ah. Telinganya dua di sini, kaya kupu-kupu.” Bagus? Enggak. “Matanya di sebelah sini dong Pak! Harusnya Tuhan punya hikmat, sehingga kita bisa lihat kiri kanan langsung.” Saudara membalik semuanya menjadi tidak harmonis, menjadi tidak cantik. Apa lagi saudara pikir “Oh, ini lebih baik itu hidung itu kenapa itu ya, bolongannya ke bawa, harusnya ke atas!” Saudara baru tahu kalau kehujanan, saudara mati. Semua air hujan masuk ke dalam hidung kita. Tuhan beri semuanya ada tatanannya, semuanya ada ordonya. Saudara lihat gedung ini, sisinya seperti apa, panjang dan lebar di pikirkan, seluruhnya ordo. Saudara lihat lampu ini, antara satu lampu dengan lampu yang lain, berapa jaraknya. Seluruhnya ordo. Saudara melihat sendiri, Tuhan sudah membentuk dunia ini dengan ordo. Juga di dalam keluarga kita. Tetapi kita tidak mau menghormati Dia. Kita bahkan tidak, bukan saja tidak menghormati Tuhan, saudara-saudara, kita bahkan berpikir saya itu sama Tuhan sama. Saudara-saudara ada satu kalimat yang mungkin perlu di bicarakan terus di abad-abad ini, yaitu, “Let God be God, let man be man.” “Biarkan Tuhan menjadi Tuhan dan manusia menjadi manusia.” Tuhan itu bukan manusia, manusia itu juga bukan Tuhan. Dan juga demikian di dalam tatanan kita. Biarkan suami menjadi suami, biarkan istri menjadi istri, biarkan anak-anak menjadi anak-anak. 

Di atas kayu salib, Yesus mengatakan kepada mamanya, di tengah-tengah kesulitan yang besar, di tengah-tengah nafasnya yang makin-semakin singkat. Di tengah-tengah terik matahari, di tengah-tengah malu yang besar, Dia mengajarkan bagaimana seorang anak menghormati mamanya. Saudara-saudara, kita itu kalau sudah susah, lalu kemudian ada orang lain susah, kita sudah tidak ada empathy, tidak punya sympathy kepada mereka. Kita lagi susah, kemudian ada orang yang susah, lalu teman kita mengatakan “Kita bantu yuk, orang itu.” Lalu kemudian kita bilang “Gua lagi susah, ngapainmikirin orang susah.” Saudara-saudara, kita menjadi orang yang egois. Yesus tidak seperti itu. Di atas kayu salib, begitu sulitnya, Dia mengatakan kepada kita satu pelajaran yang besar. Seluruh anak selalu kasihi mamamu, papamu, orangtuamu, seumur hidupmu. Saudara-saudara, kasih dan menghormati orangtua, itu bukan berhenti di perkataan, tetapi dalam tindakan. Yesus memikirkan Maria, sebentar lagi Dia akan mati, meskipun Maria tidak tahu bahwa nanti Yesus akan bangkit dan naik ke surga. Tetapi Yesus sudah memberikan masa depan kepada Maria, Dia memikirkan Maria, apa yang terbaik untuk Maria. Dia mengatakan kepada ibunya, “Ibu, ini anakmu.” kepada Yohanes, dan kepada Yohanes “Anak, inilah ibumu.” Yesus memberikan hidup Maria untuk dipelihara kepada murid yang paling dikasihi. Ini adalah cinta, ini adalah hormat dengan tindakan. 

Saya suka dengan satu kalimat ini “Love is verb.” Jadi saudara-saudara, bukan cuma omongan. Di dalam Alkitab, Yesus pernah melawan orang-orang Yahudi yang mengatakan cinta itu cuman omongan. Saudara-saudara, di dalam Matius 15, maka kemudian Yesus berhadapan dengan orang-orang yang mengatakan demikian, “Yesus, saya punya uang, saya sudah habiskan untuk persembahan ke Bait Suci. Dan kemudian, sudah ya, saya tidak punya tanggung jawab lagi sama orangtuaku. Jadi waktu orangtuaku tanya, aku harus memelihara mereka, saya sudah mengatakan seluruhnya kupersembahkan sama Tuhan. Apakah Yesus kemudian senang? ‘Oh bagus, memang Tuhan paling utama, satu-satunya. Oh, engkau tidak punya waktu lagi untuk mamamu, papamu? Engkau semuanya pelayanan di gereja? Oh, engkau anak yang paling berdedikasi. Oh, engkau tidak punya lagi waktu untuk mengobrol sama papamu, mamamu? Engkau terus-menerus melayani di gereja, jadi choir, jadi pengurus, jadi apa, oh, engkau adalah anak yang paling berdedikasi.’ Yesus katakan itu? Tidak! Yesus katakan, “Munafik kamu!” Orang ini membolak-balik Firman Tuhan. Engkau juga tidak berikan itu untuk Tuhan. Hatimu bukan untuk kemuliaan Allah, tapi engkau menggunakan agama untuk dibenturkan dengan keluargamu untuk melepaskan tanggung jawabmu! Saudara-saudara perhatikan, semua pemuda-pemudi di sini perhatikan baik-baik. Engkau harus mengasihi Allah, engkau belajar untuk melayani Dia sungguh-sungguh. Tetapi melayani Allah, menaati Tuhan, di dalamnya ada kalimat “Hormati ayahmu dan ibumu.” Engkau tidak bisa melakukan yang satu dan melepaskan yang lain. Engkau harus tahu kalau Tuhan menghendaki dua-duanya ada dalam hatimu, dan engkau mengerjakannya dengan ketulusan. Menghormati itu tidak berhenti di dalam perkataan.

Saudara-saudara, kalau saudara-saudara melihat Reformed Confession, Heidelberg Confession, Westminister Confession, maka saudara-saudara akan menemukan apa itu arti kata hormati ayahmu dan ibumu. Dan salah satunya adalah, anak-anak dengarkan nasehat orangtuamu. Anak-anak, jangan engkau membantah orangtuamu. Jangan engkau menyejajarkan dirimu dengan orangtuamu. Kasihi orangtuamu, terutama kasihi mamamu. Jangan biarkan kutuk di dalam Kejadian 3:16 engkau dan saya terus melakukannya. Saudara tahu apa kutuk itu? Kutuk itu adalah kutuk yang diucapkan Allah di surga begitu manusia jatuh di dalam dosa. Ini adalah dua kutuk, yang di berikan Allah karena dosa, kepada wanita. Mari kita melihat dua kutuk ini. Kejadian 3:16. Ini adalah dua kutuk, yang akan dialami oleh wanita. Tetapi Kristus sudah menebusnya. Tidak seharusnya ini terus-menurus ada di dalam keluarga kita. Dua kutuk yang diberikan karena dosa kepada setiap wanita, setiap wanita perhatikan, adalah pertama dalam relasinya dengan anaknya, ke-2 dalam relasinya dengan suaminya. Yang pertama adalah “Firman-Nya kepada perempuan itu: ”Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu;” Saudara-saudara, jangan salah mengerti, ada beberapa orang yang tidak bertanggung jawab yang mengatakan hal ini. Saya tidak mengada-ada, sungguh-sungguh ini terjadi kurang lebih sekitar 20 tahun lalu. Ada jemaat yang pergi ke Australia dan pergi ke satu gereja karismatik yang besar di sini dan kemudian dia pulang, dan dia mengatakan artinya seperti ini: bahwa perempuan itu kalau melahirkan itu sakit. Dan beberapa waktu itu, ada beberapa jemaat di gereja itu, gereja yang tidak bertanggung jawab itu, yang mengatakan, dia bersaksi bahwa dia melahirkan tidak sakit karena di dalam Tuhan Yesus. Saudara-saudara, ini bukan bicara tentang proses melahirkan. Saudara-saudara, setiap perempuan kalau melahirkan itu sudah pasti sakit, itu tandanya bayi itu keluar. Karena saudara sakit, saudara cepat-cepat pergi ke rumah sakit. Itu jadi sakitnya itu adalah berkat. Kalau saudara tidak ada sakit, saudara lagi ke pasar, tiba-tiba anak saudara itu lahir. Saudara bahkan tidak menyadari itu, nanti orang di belakang saudara mengatakan “Bu, bu, ini anaknya siapa?” Saudara-saudara, bukan itu! Ini adalah bicara berkenaan, bahwa anak yang merupakan buah cinta kita, dan keluar dari rahim saudara, seharusnya adalah orang yang paling mengerti saudara. Orang yang paling mencintai saudara. Tetapi kenyataannya, dia adalah orang yang paling menyakitkan hatimu. Dan itulah yang terjadi di antara seluruh ibu-ibu. Seharusnya satu pribadi yang paling mengerti ibu, sel-sel ibu ada pada dia. Itu adalah anak. Bukankah dia seharusnya membahagiakan kita? Bukankah dia adalah yang paling cinta dengan kita? Dia satu DNA sama kita. Tetapi kenapa kemudian menjadi satu orang yang paling menyakitkan kita? Karena dosa. Dosa ada pada anak itu. Saudara-saudara, dan satu lagi saya tidak akan explore, yaitu bahwa suami akan berahi itu bicara berkenaan bukan hubungan seks, ini adalah bicara berkenaan dengan di dalam satu rumah tangga, maka akan ada pertentangan yang besar. Kalau kita ada di dalam Kristus, Tuhan memberikan kepada kita pengudusan. Tuhan memberikan kepada kita kuasa. Suami dan istri tidak lagi harus terus-menerus bertentang. Iya, pasti akan ada pertentangan karena kita masih berdosa, tapi perhatikan kalimat saya, saudara tidak harus terus-menerus harus bertentang. Tuhan sudah memberi kepadamu dan kepadaku adalah anugerah dari Roh Kudus. Roh Kudus itu sendiri ada di dalam diri kita. Dia menampukkan kita untuk boleh membelai istri kita. Dia memberikan kepada kita kemampuan untuk mengasihi istri kita, untuk mendoakan dia, memberikan kemampuan untuk memiliki kelembutan hati, sehingga kutuk ini tidak terjadi kepada rumah tangga kita. Juga demikian kepada anak-anak. Jangan teruskan kutuk ini berlaku di hidupmu. Belajar mendengarkan orangtuamu, dan terutama adalah mamamu. Belajar untuk mencintai dia, karena engkau sudah ada di dalam Kristus. Engkau memiliki Roh Kudus itu, engkau memiliki kemampuan itu. Pergunakan itu, karena Tuhan sudah memberikan anugerah itu di dalam hatimu.

Saudara-saudara, di dalam Alkitab, saudara akan menemukan orang-orang yang Roh Kudus itu ada dan bagaimana itu berlaku dan itu menjadi contoh bagi kita. Saudara-saudara, saya sangat-sangat tersentuh dengan Yusuf. Yusuf punya papa, namanya Yakub, dan kemudian mereka terpisah lama, dan Yusuf kemudian akhirnya menjadi perdana menteri di Mesir. Dan ketika dia menjadi perdana menteri di Mesir, dia adalah salah satu orang terkaya di dunia. Dan Yakub bersama dengan saudara-saudaranya datang menuju ke Mesir sebagai orang termiskin di dunia, karena sedang kekeringan, tidak ada apa-apa, sebentar lagi mati, dan Yakub itu datang ke Mesir supaya ada sesuatu pertolongan bagi keluarga besarnya. Saudara-saudara perhatikan baik-baik, pada zaman itu, orang miskin bertemu dengan orang kaya, orang miskinlah yang akan membungkuk, berlutut, membungkuk di depan orang kaya. Tetapi ketika Yusuf bertemu dengan Yakub yang miskin dan Yusuf yang kaya, dia lari menjumpai papanya yang miskin itu, yang kaya itu membungkuk di depan orangtuanya. Prinsip-prinsip seperti inilah yang sebenarnya Alkitab ajarkan kalau dunia ini mau ada keharmonisan. Saudara tidak perlu untuk bicara berkenaan dengan ritualnya harus membungkuk, tetapi prinsip rohani, spiritnya harus tetap ada di dalam hati kita. Ordo di dalam keluarga harus dihormati. Betapa banyak anak-anak yang tidak lagi menghormati orangtua mereka. Mereka bersikap sombong, kurang ajar terhadap orangtua, mereka berpikir bahwa mereka sebanding dengan orangtua. Terhadap hal orang-orang seperti ini, ayat Alkitab begitu jelas, Tuhan memang memberikan Firman ini. Dengarkan apa yang Tuhan katakan Ulangan 27:16 mengatakan; “terkutuklah orang yang menghina ayahnya atau ibunya.” Thomas Watson seorang puritan mengatakan demikian; “Jika orang-orang yang tidak menghormati orangtua mereka hidup sampai memiliki anak, anak-anak mereka akan menjadi duri dalam daging mereka.” Jadi kalau anak-anak tidak menghormati orangtua, anak-anak ini kemudian punya anak-anak. Anak-anaknya akan menjadi duri bagi mereka. Tetapi kalimat ini belum selesai, saudara-saudara perhatikan kalimat di belakangnya. Thomas Watson mengatakan, “Dan Tuhan akan membuat mereka membaca dosa-dosa mereka di dalam hukuman mereka.” Mereka akan melihat anak-anak mereka yang akan memberontak kepada mereka. Anak-anak yang memberontak ini akan membaca dosa-dosa mereka sendiri kepada anak-anak mereka.

Yesus sangat sulit waktu itu, begitu menderita, tetapi di tengah-tengah seperti itu Dia mengatakan, “Ibu, ini anakmu. Anak ini ibumu.” Dia menyatakan cinta-Nya, Dia menyatakan kasih-Nya dengan sesuatu tindakan, Dia mau mengajarkan kepada kita. Hai seluruh jemaat, perhatikan apa yang diajarkan Kepala Gereja kita. Kalau Dia sendiri menghormati mama-Nya, Dia adalah Kepala Gereja, bukankah kita seharusnya menghormati orangtua kita? Itu adalah pelajaran pertama yang besar, yang begitu sederhana sebenarnya, tetapi banyak dari antara kita tidak lagi melakukannya. Saya sudah berbicara kepada seluruh anak-anak di sini. Sekarang saya akan bicara kepada seluruhnya termasuk orangtua.

Perhatikan pelajaran paling sederhana yang ke-2 tetapi begitu besar, Yesus mengatakan; “Wanita, inilah anakmu. Anak, inilah ibumu.” Saudara-saudara perhatikan baik-baik. Di situ ada Yesus, di situ ada Maria, di situ ada wanita yang lain, di situ juga ada Yohanes. Saudara bayangkan saat itu, saya tanya kepada saudara-saudara, siapakah yang paling penting di dalam peristiwa ini? Yesus, Maria, perempuan-perempuan, Yohanes. Siapakah figur yang paling penting di dalam peristiwa ini? Jawabannya adalah, kehendak Allah Bapa. Saudara perhatikan poin yang ke-2. Yesus dan Maria mengasihi, menghormati, dan taat kepada kehendak Bapa. Yesus mengatakan kepada Maria, wanita bukan ibu. Saya tanya kenapa? Kurang ajarkah? Berani anak-anak bilang perempuan sama mamanya, kalau enggak diketok? Saudara-saudara, Yesus mengatakan kepada Maria bukan mama tetapi adalah perempuan. Saudara-saudara, biarlah kita boleh mengerti, di antara seluruh manusia yang hidup pada waktu itu, bahkan yang paling simpati dengan Yesus, Maria adalah yang paling hatinya itu remuk. Ini sudah pernah dinubuatkan beberapa puluh tahun sebelumnya. Nubuatan itu mengatakan, “Ada sebilah pedang akan menusuk tepat di engkau punya hati.” Saudara-saudara, melihat anak kita menderita, itu lebih menyakitkan daripada kita sendiri menderita bukan? Salah satu dari penderitaan manusia yang tertinggi derajatnya adalah kehilangan anak. Saudara-saudara, banyak sekali survey menyatakan kehilangan suami atau pasangan itu sangat menderita, tetapi kehilangan anak itu berlipat-lipat penderitaannya. Suatu hari ketika saya mengendara pergi untuk mengunjungi istri saya yang barusan keguguran, anak pertama dan ke-2 kami keguguran dan saya sedih, dan kemudian ada satu pikiran kenapa Tuhan itu mengungkapkan dirinya Bapak dan Anak, dan Anak itu harus dimatikan? Kenapa? Kenapa harus Anak? Ini mau menyatakan satu gambaran yang paling menyakitkan di dalam isi hati Bapa. Semua kita tahu, kehilangan anak itu lebih menyakitkan dari apa pun, dan itu dialami oleh Maria. Bukan saja kehilangan Anak, dia mesti melihat Anaknya, satu persatu darah itu mengalir sampai mati. Pedang itu masuk menembus hatinya, dan Yesus kemudian menghiburnya. Hah menghibur? Bagaimana Dia bisa menghibur? Dengan menyatakan, “Perempuan, ini anakmu, anak ini ibumu.”

Saudara-saudara, kalimat ini mau menyatakan beberapa hal ini. Pertama, ini mau menyatakan keilahian Kristus. Maria harus menyadari bahwa apa yang menjadi karya Kristus itu, semua tatanan karya Kristus itu di atas emosi manusia. Engkau memiliki emosi, engkau memiliki perasaan, engkau memiliki kehancuran hati, tetapi Aku dan karya-Ku bukan di bawah perasaanmu. Aku dan karya-Ku berdiri sendiri, bukan sejajar dengan perasaanmu. Ini mau menyatakan keilahian Kristus, tetapi bukan itu saja. Kalau Yesus Kristus mengatakan, “Ibu, lihatlah Anakmu.” Maka Maria itu akan makin sakit hati di tengah-tengah kesakitan yang sudah terjadi. Jikalau Kristus mengatakan ‘ibu’, maka Dia akan menusukkan pedang itu lebih lagi ke dalam jiwa Maria. Tetapi sebaliknya Kristus Yesus mau memberikan kekuatan kepada Maria. Saudara-saudara, Maria harus mengerti bahwa ini adalah kehendak Allah dan sukacita Kristus sendiri. Maria harus mengerti, bahwa seluruhnya ini ada di dalam tatanan kehendak Allah yang jadi pada Dia. Ini bukan kemalangan, ini adalah kemuliaan. Dengan kalimat itu, Yesus mau membalik mata Maria kepada diri Maria sendiri menjadi kepada kekuatan penebusan ilahi. Yesus di sana bukan untuk mati saja, tetapi untuk melakukan kehendak Allah. Begitu kehendak Allah ada di atas segala-galanya dan kita manusia menyadarinya dan mau takluk kepada-Nya, maka itu menjadi penghiburan bagi kita. Maka di dalam ayat ini, saudara perhatikan baik-baik. Yesus mengasihi dan hormat kepada Maria, dan Yesus membawa Maria untuk menghormat dan taat kepada Bapa di Surga. Maka saudara sekarang bisa mengerti ordonya; Bapa, Yesus Kristus, Maria. Allah Bapa, dan orangtua dan anak. Itulah sebabnya saya katakan pada saudara-saudara, sesuatu ke sesuatu hal yang sederhana tetapi mengandung kebenaran yang dalamnya luar biasa. Di peristiwa itu, saudara bisa melihat sukacita Kristus di tengah-tengah salib Dia itu taat kepada Bapa-Nya. Dan di saat itu juga saudara bisa melihat kelembutan hati Maria menerima seluruh kehendak Allah yang terjadi kepada anaknya. Seluruh tatanan itu sekarang pada tempatnya, dan keselamatan terjadi, dan penebusan itu terjadi. Maria sakit, tetapi ketika Kristus membawanya untuk melihat siapa dia sebenarnya yang adalah seorang hamba, “perempuan”, bukan ibu. Yesus membawa dia secara existential tahu posisinya, saya seorang hamba yang taat. 

Kita ingin sekali anak kita dipakai sama Tuhan, tetapi cinta kita bisa berubah menjadi ilah kita. Ketika itu terjadi ternyata kita tidak rela, kita tidak rela untuk anak kita itu mengalami kehidupan sendiri bersama dengan Tuhan dan dipakai oleh Tuhan. kita berpikir bahwa dia anakku, dia milikku. Tapi Yesus mengatakan, “perempuan.” Dia langsung memisahkan kita. Seluruh perempuan, seluruh ibu di sini, saudara-saudara, perhatikan. Ya, itu anakmu yang harus mengasihi engkau dan kau mengasihi dia, tetapi Allah Bapa di Surga dengan seluruh kehendak-Nya ada di atas kita. Di titik ini begitu banyak orangtua yang tidak taat. Berapa banyak orangtua yang berusaha untuk terus-menerus melindungi anaknya? Tetapi sebenarnya begitu egois, tidak memikirkan apa pun saja untuk pekerjaan Tuhan. Saudara-saudara, saya tahu ini menyakitkan. Tidak ada orangtua yang suka dengan hal ini. Kalau ditanya anakmu nanti ingin jadi apa? Boleh enggak Bu? Boleh enggak Pak anakmu jadi hamba Tuhan? Nah, ini saya sudah berkali-kali tanya sama orang, nanti kemudian mengatakan, “Oh, boleh-boleh.” Saudara-saudara dalam pikiran dia boleh itu supaya jadi Stephen Tong. Nah, Saudara-saudara, satu orang pintar di terus kemudian bisa dihormati sama orang di dunia dan di Indonesia. Saudara-saudara tidak tahu ada air mata apa di sana. Tapi kalau dia menjadi satu seorang guru terpencil di satu daerah yang terpencil, saudara rela? Kalau, saudara-saudara dia dijadikan seorang misionaris yang mengabarkan Injil di hutan, saudara rela? Saudara-saudara, itu artinya dipakai oleh Tuhan. Kita, orangtua sulit untuk melihat anak kita dipakai oleh Tuhan, tetapi inilah yang diajarkan di atas kayu salib.

Dan saya akan akhiri ini dengan satu cerita yang sungguh-sungguh terjadi, Hudson Taylor. Dia adalah seorang yang Tuhan pakai untuk mengabarkan Injil di China. Tuhan memakai dia dengan luar biasa besar, dan kalau saudara-saudara tahu sekarang ada satu organisasi namanya OMF International ini adalah pendirinya. Dari sejak kecil, maka Hudson Taylor itu dari kecil itu selalu didoakan sama papa mamanya untuk dipakai sama Tuhan, dan kemudian selalu ada peta China itu di dinding kamarnya. Jadi Tuhan sendiri sudah menggerakkan papa mama Hudson Taylor sebelum Hudson Talyor itu sendiri tahu. Oh, kalau saudara-saudara membaca Hudson Taylor, saudara akan tahu bagaimana Tuhan itu bekerja dalam satu keluarga yang sederhana. Doa, sampai Hudson Taylor makin lama makin bertumbuh sebagai seorang anak muda. Dan suatu hari kemudian dia bicara kepada mama papanya, “Aku akan pergi memberitakan Injil ke China.” Saudara-saudara, kalimat seperti ini adalah kalimat yang memang sudah papa mamanya antisipasi. Tetapi zaman itu, saudara-saudara, dia mengatakan itu, itu artinya one way tiket, pakai kapal. Saudara-saudara, itu tidak akan tanda kutip secara by default orangtuanya harus pikir dia tidak mungkin kembali, dan mereka mempersiapkan diri, mempersiapkan diri untuk hari perpisahan itu.

Setelah hari itu, maka Hudson Taylor bersama dengan mama dan papanya naik kereta, dan kemudian dari satu tempat ke satu kota menuju ke tempatnya kota yang ada pelabuhan, dan kemudian mereka tinggal beberapa hari di kota itu. Tetapi kemudian papanya harus kembali cepat ke kampung halamannya, tidak bisa menghantar Hudson Taylor itu untuk naik kapal. Pagi itu, ketika papanya itu mau meninggalkan Hudson Taylor, mereka berpelukan, mereka berpikir mereka tidak akan bisa melihat lagi untuk selamanya. Papanya sudah merelakan anaknya dipakai oleh Tuhan. Papanya naik kereta, bergantungan di depan pintu, dan kereta itu mulai untuk berjalan lambat, dan Hudson Taylor pegang tangan papanya, dan kereta itu jalan perlahan-lahan, dan kemudian dia lari, Hudson Taylor lari sebelahnya. Dan kereta itu makin lama makin cepat, dan Hudson Taylor lari seperti mau memburu kereta itu. Tapi, tidak mungkin bisa tersusul, sampai kemudian dia melambaikan tangan, “Selamat tinggal Papa.” Dia di kota itu menunggu beberapa hari sampai kapal itu datang, dan ketika kapal itu datang dia kemudian pergi ke atas, masuk dalam kapal itu. Ketika jangkar itu kemudian ditarik, pintu itu ditutup. Dan Hudson Taylor ada di anjungan kapal itu melihat mamanya. Sirene itu dibunyikan dan kemudian Hudson Taylor tahu sebentar lagi dia akan kehilangan mamanya, dan kemudian Hudson Taylor melambaikan tangannya dan mamanya kemudian melambaikan tangan kepada dia. Kemudian Hudson Taylor ingat sesuatu, dia cepat lari masuk ke kamarnya lagi. Dia ambil dari catatannya, dia tulis sesuatu kalimat yang besar kemudian lempar buku itu dan mamanya kemudian ambil dan kemudian dibuka dan tulisannya adalah “I love you mum” dan kapal itu menuju ke China. Anak, papa dan mama itu tahu hidupnya cuma satu, kehendak-Mu jadi, ya Tuhan, kehendak-Mu jadi. Tatanan ordo itu terjadi. Bapa di Surga, orangtua, dan anak, dan itulah yang dinyatakan di atas kayu salib. Tuhan mengasihi engkau para ibu. Tuhan akan menguatkan engkau, dan Dia akan menyediakan seluruh apa yang menjadi kebutuhan kita. Terpujilah nama-Nya. Mari kita berdoa.

 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more