4 November 2018
Doa Bapa Kami (8)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Matius 6:9; Keluaran 3:13-15

Matius 6:9; Keluaran 3:13-15

Suatu hari murid Yesus datang kepada Dia dan berkata: “Guru, ajar kami untuk berdoa.” Kemudian Yesus mengatakan “Jikalau berdoa, berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.” Ini adalah permintaan yang pertama dari enam permintaan yang ada di dalam Doa Bapa Kami. Saya sudah mengatakan kepada saudara-saudara apa yang dikatakan oleh J.I. Packer. Doa itu pasti dikabulkan jika dan hanya jika kita berdoa seturut dengan prinsip Doa Bapa Kami. Itu tidak berarti pengulangan Doa Bapa Kami seperti mantra, melainkan apa yang diinginkan oleh Yesus Kristus dalam Doa Bapa Kami menjadi keinginan kita. Seluruh kehidupan Yesus Kristus adalah kehidupan Doa Bapa Kami di dalam kehidupan yang nyata.

Hari ini saya akan berbicara berkenaan dengan dua hal ini yang penting. Yang pertama adalah dikuduskan dan yang kedua adalah nama. Ketika Yesus berkata dikuduskanlah nama-Mu, di dalam bahasa aslinya adalah hagiastheto. Hagiastheto itu akar katanya hagios yang artinya suci. Suci itu artinya dipisahkan, berbeda dari yang lain. Hagiastheto itu artinya memperlakukan pribadi secara berbeda atau terpisah atau tersendiri, karena memiliki suatu kualitas yang lain dibandingkan dengan yang lain. Yesus mau mengatakan kepada para murid-Nya dan kita semua, Bapa di sorga itu memiliki kelas-Nya tersendiri, Dia adalah stand alone, berbeda, khusus, seluruh kepemilikan-Nya adalah milik Dia sendiri yang tidak pernah bagikan kepada siapapun saja di dunia ini. Dia adalah satu-satunya pencipta dan tidak ada yang lain, bahkan tidak ada yang bisa menyamai degree dengan Bapa di sorga. Seluruh ilah Yunani, seluruh ilah Mesir, seluruh ilah Asyur, bahkan seluruh ilah yang ada dari jaman ke jaman, raja-raja, panglima-panglima, pembesar-pembesar dan orang-orang pendiri agama. Tidak ada satupun yang bisa menyamai Allah Bapa di sorga. Dia memiliki kualitas-Nya tersendiri. Maka hagiastheto artinya sekali lagi, panggilan memperlakukan Bapa secara terpisah, secara berbeda, memiliki kualitas yang lain daripada kita. Perhatikan baik-baik, Yesus Kristus tidak mengajarkan dengan menggunakan kata dimuliakanlah nama-Mu. Sebenarnya ini tidak salah karena Allah itu mulia, tetapi ketika bicara dimuliakan nama-Mu, mulialah Engkau, maka saudara bisa berkata kepada orang lain, Raja engkau sungguh mulia, Panglima engkau sungguh mulia. Mulia adalah berbicara mengenai kebesaran, tetapi mulia tidak menunjukkan adanya perbedaan kualitatif. Ada satu kata yang menyatakan adanya perbedaan kualitatif, yaitu ‘kudus’! Sehingga di dalam kitab Keluaran, minggu yang lalu kita sudah berbicara, Allah itu mulia di dalam kekudusan-Nya. Apa yang membuat Allah itu mulia? Karena Dia sungguh-sungguh terpisah, Dia sungguh-sungguh berbeda, pada kelas-Nya tersendiri. Maka ketika kata “dikuduskanlah nama-Mu” maka itu artinya adalah Bapa di sorga harus dihormati, berbeda dari jenis penghormatan yang pernah diterima siapapun saja yang pernah ada di dunia ini, sepanjang jaman. Dia harus mendapatkan penghormatan yang berbeda, yang pernah dilakukan oleh siapapun saja di dunia ini dalam menyembah apapun saja. Manusia adalah makhluk yang menyembah. Di dalam hal ini Yesus bukan saja mengundang kita menyembah Bapa, tetapi mengundang kita mengenal keunikan Bapa di sorga yaitu kekudusan-Nya, perbedaan kualitas-Nya, sehingga kita sungguh-sungguh dapat mempermuliakan Dia.

Yesus Kristus mengatakan, “Dikuduskanlah nama-Mu.” Sekarang saya akan masuk ke dalam nama. Ketika berbicara mengenai nama di dalam Alkitab itu identik dengan keseluruhan pribadi. Keseluruhannya. Naturnya, sifatnya, sejarahnya. Misalnya saja ketika saudara melihat Musa. Musa itu artinya diangkat dari air. Misalnya kita bertemu dengan Musa dan bertanya, “Mengapa namamu diangkat dari air?” Lalu Musa menceritakan segalanya. Pada waktu itu Mesir sudah menjajah 400 tahun lebih dan semua anak laki-laki Israel dibuang di sungai Nil dan dibunuh, sebagian besar lagi dibunuh. Tetapi orangtuaku tidak rela, kemudian membuat satu basket yang dioleskan ter dan gala-gala. Kemudian saya dimasukkan ke dalamnya. Basket tersebut dialirkan di sungai Nil. Kakak saya mengikuti basket tersebut. Putri Firaun sedang mandi pada hari itu, dia melihat dan mengambil basket itu. Aku ada di dalamnya. Kemudian kakakku maju dan bertanya kepada putri Firaun, “Apakah engkau mau mencari seorang ibu yang bisa menyusui bayi ini?” Putri Firaun itu kemudian mengatakan, “Ya, aku mau.” Maka dengan cerdiknya kakakku memanggil mama. Demikianlah aku diambil dari air, diselamatkan dan aku menjadi anak putri Firaun. Itulah sebabnya aku bisa memerintah di Mesir. Musa artinya diambil dari air. Ketika nama itu disebutkan, itu berarti seluruhnya.

Berbeda dengan sekarang, orang mengatakan apa arti sebuah nama. Mungkin saudara-saudara juga tidak suka dengan nama saudara. Mungkin saudara juga tidak mengerti nama saudara. Suatu hari, anggap saja saya bertemu dengan Rasul Paulus. Paulus itu artinya yang kecil atau yang terakhir. Saya ketika membaca nama saya, saya malu, terlalu berat. Agus itu artinya adalah besar. Seluruh orangtua selalu memberikan nama-nama yang hebat, tetapi Paulus memilih nama sendiri adalah Paulus.

Aku adalah yang paling terakhir. Kenapa Paulus? Kemudian dia mengatakan. Engkau tahu Agus, saya adalah orang yang paling menyiksa kekristenan. Aku pergi ke mana-mana untuk mengambil orang-orang Kristen untuk dimasukkan ke dalam penjara lalu kemudian dibunuh. Tetapi di satu perjalanan, saya sedang naik kuda bersama dengan beberapa temanku dan tiba-tiba Yesus Kristus tampak, sinar-Nya menyinari aku dan aku terpelanting. Kemudian aku mendengarkan satu suara, “Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku?” Engkau tahu Agus, aku adalah orang yang menjadi musuh gereja. Aku tidak layak ada di sini. Bagaimana mungkin aku menjadi rasul? Bagaimana mungkin aku diurapi oleh Tuhan? Tempatku yang sesungguhnya adalah di nereka. Aku adalah seperti bayi yang lahir prematur. Aku adalah yang paling akhir. Ketika berbicara mengenai nama, segalanya. Ketika nama adalah segalanya. Pada zaman kuno, maka seorang bangsawan yang mengambil orang lain, akan diganti namanya. Misalnya melihat Daniel, diganti menjadi Beltsazar. Daniel itu artinya God is my Judge. Tetapi Beltsazar itu adalah dewa Bel adalah pujaanku. Ketika berbicara mengenai nama, maka itu berbicara mengenai keseluruhannya.

Yesus Kristus mengatakan, jikalau engkau mau berdoa, berdoalah demikian, “Bapa kami di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.” Maka di dalam hal ini, saya akan membawa saudara-saudara mengerti nama Allah di dalam 3 kategori besar ini. Pertama, nama adalah berbicara mengenai hakekat. Hakekat itu adalah being, ontological sense of being. Hal yang paling dasar yang membedakan Pribadi ini dengan seluruh pribadi yang lain. Misalnya saja ketika saudara mengerti ada benda cair, padat dan gas. Maka kemudian saudara tanya, “Apa hakekatnya cair? Apa hakekatnya gas? Apa hakekatnya padat?” Maka yang cair itu hakekatnya tidak dimiliki oleh padat dan gas. Demikian seterusnya. Jadi ketika berbicara berkenaan dengan nama Allah, itu adalah berbicara mengenai hakekat Allah yang sejati, being ontological, hakekat pribadi Allah yang tidak dimiliki oleh seluruh pribadi yang lain. Dan apakah itu? Secara cepat saya akan mengatakan itu adalah Tritunggal. Suatu hari, Musa di tengah-tengah padang belantara, Allah menemui dia dan Allah memberikan satu misi kepada dia. Engkau pergi kepada Firaun dan katakan kepada dia, “Let My people go!” Musa mengatakan saya tidak mau. Kemudian dia beralasan begitu banyak. Salah satu alasannya yaitu nanti orang Israel tanya kepadaku, “Siapa nama Allah yang mengirim engkau?” Pada hari itu, secara luar biasa terkejut, Allah menyatakan nama-Nya kepada Musa yang sebelumnya tidak pernah Dia nyatakan kepada siapapun saja. Dia mengatakan, “I AM WHO I AM.” YAHWEH. Di dalam Alkitab adalah TUHAN. Nama Allah ini tidak pernah muncul sebelumnya. Sebelumnya, seluruh orang Israel ketika memanggil nama Allah adalah selalu Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub. Tidak pernah nama Allah dinyatakan kepada manusia. Ini adalah prinsip Alkitab yang disebut sebagai progressive revelation. Revelation itu adalah sesuatu yang tertutup sekarang dibuka untuk dinyatakan, diketahui. Di dalam Alkitab dengan jelas Allah menyatakan, reveal diri-Nya secara progressive. Makin lama makin jelas. Ini tidak berarti bahwa pewahyuan yang awal kurang mutunya dibandingkan dengan yang akhir. Sebab setiap pewahyuan Tuhan itu sempurna pada diri-Nya sendiri. Tetapi yang disebut sebagai progressive revelation adalah pewahyuan selanjutnya akan melengkapi. Sehingga apa yang Tuhan maksudkan itu makin lama makin jelas.

Di dalam kitab Kejadian tertulis penciptaan manusia. Di situ dikatakan “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Di situ dikatakan Kita. Dan kemudian di dalam kitab Kejadian ketika Allah memimpin Abraham, ketika Allah memimpin Ishak, ketika Allah memimpin Yakub, Allah tidak pernah menyatakan nama-Nya. Bahkan ketika Yakub bergumul dengan Allah, maka Yakub bertanya kepada Allah, “Siapa nama-Mu?” Allah tidak menyebutkannya. Malah Allah bertanya, “Siapa namamu?” Sampai kepada Yakub, Allah tetap tidak membuka diri-Nya. Tetapi pada zaman Musa, Allah menyatakan nama-Ku yaitu Yahweh. Nama-Ku, I AM WHO I AM. Kalau saudara melihat lagi dalam Perjanjian Baru ada suatu kalimat yang luar biasa yang dikatakan Yesus Kristus, yang membuat seluruh orang Israel yang mendengarkannya marah kepada Yesus Kristus dan ingin membunuh Yesus Kristus di titik itu. Yesus mengatakan, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Dia menyatakan Dialah I AM yang bertemu dengan Musa. Dan di akhir dari pelayanan Yesus Kristus, Dia mengumpulkan murid-murid-Nya dan kemudian Dia mengutusnya, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama, in the name, Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Pertama di dalam kitab Kejadian, Kita. Kemudian di dalam kitab Kejadian lagi, Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Di dalam kitab Keluaran, I AM WHO I AM. Di dalam kitab Injil, sebelum Abraham jadi, I AM. Dan di akhir dari pelayanan Yesus Kristus, Dia membuka kepada kita siapa nama Allah itu, yaitu Allah Tritunggal, Bapa, Anak dan Roh Kudus. Itulah being, itulah ontological, itulah hakekat Allah yang sejati. Itulah sebabnya saudara-saudara akan melihat seluruh murid Yesus mempertahankan kesucian nama Allah Tritunggal itu dengan darahnya. Seluruh bapa gereja mempertahankan kesucian nama Allah Tritunggal itu dengan hidup dan darahnya sampai mati. Jikalau engkau mau berdoa, berdoalah, “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.”

Hal yangkedua, ketika berbicara berkenaan dengan nama Allah, maka itu selalu bersangkut paut dengan perbuatan Allah, karya Allah. Di dalam Alkitab, nama Allah selalu digabung dengan karya Allah. Sehingga ketika Yesus Kristus mengatakan “Dikuduskanlah nama-Mu.” Ini bersangkut paut dengan relation, pergaulan kita dengan Allah. Saya akan jelaskan ini. Suatu hari Allah berbicara kepada Abraham. “Abraham, persembahkanlah anakmu yang tunggal itu, Ishak, di gunung itu, di tanah Moria.” Ini sesuatu hal yang sulit sekali. Anak tunggal, satu-satunya yang dia impikan bertahun-tahun. Setelah dia menjadi seorang pemuda, remaja, Tuhan tiba-tiba meminta Abraham untuk mempersembahkan anak itu. Dia menyatakan, besok, di tempat itu. Ini adalah satu prinsip pelayanan yang penting. Tuhanlah yang menentukan jenis korban. Tuhanlah yang menentukan waktu berkorban. Tuhanlah yang menentukan tempat pengorbanan. Banyak dari kita melakukan pelayanan, tidak memikirkan prinsip ini. Kita melakukan pelayanan apa yang kita suka. Kita berkorban sesuai dengan apa yang aku mau. Berkali-kali saya berbicara kepada banyak orang di tempat ini, “Engkau jangan menentukan tempat pelayanan sendiri”. Tuhan yang menentukan korbannya. Tuhan yang menentukan waktunya. Tuhan yang menentukan tempatnya. “Abraham, korbankan Ishak, anakmu yang tunggal itu, besok pagi, di gunung itu.”

Saya yakin sekali Abraham akan bergumul. Di malam harinya dia berdoa terus-menerus untuk memohon Tuhan berbicara lagi kepada dia sesuatu yang lain. Mungkin sekali dia terus menampar pipi kanan-kirinya, berpikir mungkin dia salah mendengar. Tetapi ini adalah perintah Tuhan. Pagi-pagi benar maka dia pergi membawa dua bujangnya beserta Ishak, anaknya. Di dalam sepanjang perikop itu, sama sekali tidak muncul nama istrinya. Kata ‘Sara’ tidak muncul sekalipun. Abraham tahu, di dalam urusan seperti ini, penghalang utama ketaatannya adalah istrinya. Saudara-saudara, orang-orang laki-laki. Kalau saudara melihat penghalang kehendak Tuhan terjadi adalah istrimu, lebih baik diam. Saudara-saudara bisa bayangkan kalau Sara itu tahu? Dia akan melawan Abraham. “Enak saja engkau! Dia ini lahir dari perutku, bukan perut kamu. Engkau yang kemudian mempersembahkan. Engkau enak aja.” Tetapi Abraham diam. Dia membawa Ishak. Ishak seorang yang cermat, “Mau ke mana papa?” “Kita akan membuat pengorbanan bagi Tuhan”. Dia lihat, “Eh, papa bawa pisau, papa bawa kayu, papa bawa api, tetapi di mana dombanya?” Wah, Ishak bicara seperti itu, saya yakin Abraham hatinya remuk. Di dalam hatinya Abraham akan mengatakan, “Ya, kamu.” Saudara bisa tersenyum sekarang karena peristiwa ini saudara telah ketahui. Tetapi kalau saudara pada waktu itu ada, saya yakin sekali maka saudara tidak bisa menerima kenyataan ini.

 Søren Aabye Kierkegaard menuliskan komentari terhadap hal ini dan dia membayangkan berimajinasi kira-kira seperti apa. Meskipun kita tidak terlalu setuju, tetapi mungkin sekali hal ini terjadi. Dia mengatakan mungkin sekali Abraham akan berpura-pura gila di depan anaknya supaya anaknya tidak kehilangan iman. Dia akan bertingkah seperti orang gila dengan air liur di mana–mana dan dengan pisau mengejar-ngejar anak itu. Dan Abraham itu kemudian membawa Ishak di tempat dari persembahan itu. Ishak tidak tahu, Ishak meronta, tetapi Abraham dengan kekuatannya berusaha mengikat Ishak. Tentu dengan air mata. Dan kemudian pada waktunya, dia mengambil pisau itu dengan gemetar, dan kemudian hal yang terakhir yang dilakukan adalah menetapkan hatinya! Menetapkan hatinya untuk taat! Dan kemudian dia mau untuk membunuh Ishak, tiba-tiba malaikat Tuhan mengatakan, “Abraham! Lepaskan pisau itu.” Dan peristiwa itu kemudian, malaikat Tuhan membawa satu domba yang ada di sana. Abraham melihat itu dan kemudian Abraham membawa domba itu ke tempat di mana tadinya Ishak itu ada, mengikatnya dan kemudian mematikannya, dengan memandang sesuatu yang akan terjadi ribuan tahun kemudian. Bahwa aku tidak jadi mempersembahkan anakku, tetapi Tuhan tidak akan menahan pisaunya untuk mematikan Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus dan kemudian Abraham mengatakan, “Jehovah Jireh,” Tuhan yang menyediakan bagiku.Dikuduskanlah nama Tuhan. Ketika nama Jehovah itu muncul, maka karya Jehovah itu ditempelkan. Jehovah Jireh.

Di tempat yang lain, Musa. Suatu hari Musa itu keluar dari Mesir bersama dengan orang-orang Israel. Dua setengah juta orang yang tidak pernah berperang. Tiba-tiba sekarang dihadang dengan tentara-tentara Amalek. Ini adalah peperangan pertama orang-orang Israel yang keluar dari Mesir. Ini adalah peperangan yang sama sekali tidak seimbang. Dan kemungkinan besar seluruh orang Israel akan dibinasakan di jalan itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai pengalaman berperang, orang-orang yang sudah lama dijajah. Dan kemudian Musa mengatakan kepada Yosua, “Ambil orang-orang yang gagah, dan kemudian engkau berperang dengan orang-orang Amalek itu.” Lalu Musa cepat-cepat naik ke gunung yang terdekat. Dia mengerti, inti peperangan, bukan kekuatan Israel, tetapi apakah Allah berperang untuk dia atau tidak? Maka Alkitab menyatakan, Musa itu berdoa kepada Yahweh, dia berdoa terus-menerus berjam-jam. Alkitab mengatakan, ketika dia mengangkat tangannya, maka Yosua memenangkan, tetapi ketika dia kecapaian dan dia menurunkan tangannnya, maka Yosua itu kemudian kalah. Setelah Harun dan Hur mengetahui prinsip ini, maka kemudian Harun dan Hur menopang kanan dan kiri tangan Musa untuk terus membuat Musa berdoa kepada Allah. Sekali lagi ini bukan sinkritisme. Ini adalah suatu pelajaran bagi gereja Tuhan. Kemenangan peperangan kita ditentukan dari seberapa banyak kita mau membayar harganya di dalam doa! Dan kemudian Musa terus mengangkat tangannya sampai sore; kemudian seluruh tentara Amalek disapu dan dihancurkan. Dan kemudian setelah kemenangan itu, maka Musa membangun sebuah mezbah. Dan di mezbah itu, dia menyatakan Jehovah-Nissi,” Allah adalah panji-panji perang Israel.

Saudara lihat, setiap kali Alkitab menyatakan nama Allah, di belakangnya ada sebutan untuk karya-Nya. Yesaya menyatakan, Yahweh-Tsevaot,” Allah semesta alam. Gideon menyatakan, Yahweh-Shalom,” Tuhan adalah pendamaianku. Yeremia mengatakan, Jehovah-Tsidkenu,” Tuhan itu adalah kebenaranku. Yehezkiel suatu hari menubuatkan satu kota Allah yang akan hadir, Yerusalem yang baru, di mana sejak Perjanjian Lama, ribuan tahun, dia sudah melihat hal itu dan Yehezkiel menyatakan,”Yahweh hadir di sini, Jehovah-Shammah.”

Jikalau engkau mau berdoa, berdoalah demikian, “Bapa kami di surga, dikuduskanlah nama-Mu”. “Dikuduskanlah nama-Mu”. Bagaimana saudara bisa mengenal bahwa Allah itu Tritunggal itu adalah kudus, berbeda, Dia memiliki kelas pada diri-Nya sendiri? Jikalau kita memiliki pergaulan dengan Allah di dalam karya-Nya. Di dalam Kejadian 4:26, “Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set, dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN.” Itu bukan berbicara berkenaan, “Oh, Tuhan. Aku juga panggil nama-Nya Tuhan”. Tetapi kalau saudara-saudara melihat setelah ayat tersebut dan khususnya pada Kejadian 5, saudara akan menemukan 2 aliran yang berbeda, anak-anak kegelapan dan anak-anak terang. Anak-anak kegelapan memiliki ciri self-exaltation, peninggian diri sendiri. Sedangkan anak-anak yang memanggil nama TUHAN, disebut sebagai anak-anak terang. Saudara-saudara akan lihat, orang ini adalah orang yang bergaul dengan Allah. Henokh berjalan bersama dengan Tuhan. Ketika berbicara berkenaan dengan “Bapa kami di surga, dikuduskanlah nama-Mu”. Bagaimana kita bisa mengkuduskan nama Allah? Jikalau kita boleh mengenal bahwa Dia adalah Allah Tritunggal yang tidak ada kesamaan dengan seluruh allah di dunia ini. Dan kedua adalah jikalau kita memiliki pergaulan dengan Allah yang sejati. Ini adalah panggilan untuk mengenal pribadi Allah dan juga panggilan untuk berjalan bersama dengan Allah. Saudara dan saya tidak mungkin bisa untuk memuliakan nama Allah kecuali kita mengenal Dia dan kita bergaul dengan Dia.

Ketiga, terakhir, ketika kita berbicara berkenaan dengan nama, itu adalah bicara berkenaan dengan sifat. Musa bertanya kepada Allah, “Siapa nama-Mu?” Dan kemudian Allah menyatakan, “I AM WHO I AM”. YHWH. Ini adalah empat huruf yang tidak terkatakan, the four unspeakable letters. Allah menggunakan Bahasa Ibrani di dalam hal ini untuk mewahyukan diri-Nya. Saya sangat setuju sekali dengan satu lagu, dia mengatakan ini adalah nama yang terindah, nama yang tidak bisa terucapkan bahkan pada manusia. “I AM WHO I AM.” Dan dari ayat ini saja, saudara akan mendapatkan tiga sifat Allah yang tidak akan bisa tertandingi oleh siapapun saja. “I AM WHO I AM” itu artinya Dia self-eternal, kekal pada diri-Nya sendiri. Dia tidak memiliki past dan tidak ada future. “I AM WHO I AM” artinya adalah Dia self-exist, Dia tidak memerlukan siapa pun saja untuk Dia ada, dan segala sesuatu tidak ada kecuali Dia mengadakannya. Dan ketiga ketika berbicara tentang “I AM WHO I AM”, itu artinya adalah Dia adalah self-sufficient. Dia tidak memerlukan sesuatu di luar diri-Nya untuk mencukupi diri-Nya.

Saudara bandingkan Yahweh dengan seluruh pendiri agama. Saudara bandingkan Yahweh dengan agama-agama apa pun saja dengan konsep allahnya. Apakah itu Buddha? Hindu? Atau orang-orang Islam sekalipun. Saudara akan tahu Allah TrItunggal pada diri-Nya sendiri memiliki kelas yang berbeda. Seluruh allah ciptaan manusia, jikalau itu bukan Allah Tritunggal, saudara akan tahu ketiga hal ini pasti salah satunya tidak ada. Apakah dia itu tidak self-eternal, atau dia tidak self-exist, atau dia tidak self-sufficient? Itulah sebabnya Luther menyatakan, “Let God be God, let men be men”.

Dan apa yang menjadi lawan kata dari “dikuduskanlah nama-Mu”? Yaitu nama-Mu dinista, nama-Mu dihina. Siapa yang menista dan menghina nama Tuhan? Jawabannya adalah umat Allah sendiri. Saya akan menutup dengan satu ayat Alkitab, Yehezkiel 36:20-21. Mari kita membaca bersama-sama. “Di mana saja mereka datang di tengah bangsa-bangsa, mereka menajiskan nama-Ku yang kudus, dalam hal orang menyindir mereka: Katanya mereka umat TUHAN, tetapi mereka harus keluar dari tanah-Nya. Aku merasa sakit hati karena nama-Ku yang kudus yang dinajiskan oleh kaum Israel di tengah-tengah bangsa-bangsa, di mana mereka datang.” Oh, ini satu kalimat yang luar biasa tajam. Sejarah menyatakan, nama Allah dinajiskan bukan oleh orang Mesir, bukan oleh orang Babel, satu-satunya dari kalimat, nama Allah itu dinajiskan adalah oleh umat-Nya sendiri. Nama-Nya yang kudus itu dinista oleh mereka. Bagaimana nama-Nya yang suci itu dinista oleh mereka? Karena umat Allah tidak mau taat. Umat Allah tidak mau hidup suci. Umat Allah hatinya mendua. Umat Allah tidak berbuah. Seluruh bangsa lain bukan melihat Allah Tritunggal memiliki kelasnya sendiri, tetapi mereka menertawakan Allah Tritunggal itu. Yesus Kristus berkata kepada kita semua, “Biarlah hidup kita mempermuliakan, menguduskan nama Allah Tritunggal.” Biarlah nama Allah Tritunggal dikenal di seluruh dunia, dihormati dan disembah di seluruh dunia dengan penghormatan yang tidak pernah diberikan kepada seluruh ilah yang ada, dan itu adalah panggilan kita. “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu”.


Mazmur 84:1-12
 
 

Mazmur 51
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

21 October 2018
Mazmur 84
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Mazmur 84:1-12

Mazmur 84:1-12

Spurgeon menyatakan Mazmur pasal 23 adalah Mazmur yang paling terkenal. Mazmur pasal 51 adalah Mazmur yang tersedih. Dan Mazmur pasal 84 adalah mutiara dari seluruh Mazmur. Pada pagi hari ini kita akan meneliti mengenai Mazmur pasal 84 dan apa yang Tuhan ajarkan untuk hidup kita. Mazmur pasal 84 boleh dikatakan adalah satu Mazmur meratap. Pemazmur meratap karena apa? Karena menginginkan sesuatu yang sudah hilang untuk kembali kepada dia. Tetapi apa yang hilang? Yaitu Bait Allah atau kehadiran Allah. Di dalam Perjanjian Lama maka Mazmur ini bisa dengan tepat diterapkan di dalam beberapa keadaan. Yang pertama adalah pada saat Israel dibuang ke Babel, jauh dari gunung Allah, yaitu Sion, tempat Bait Suci itu berada. Kejadian kedua di dalam Alkitab yang sangat mengenaskan adalah Daud setelah dia berdosa. Ketika hukuman Allah datang, dia harus keluar dari kerajaannya, menjadi pelarian dan tidak bisa mengunjungi Bait Allah di Yerusalem. Ratapan demi ratapan setiap hari. Daud tidak meratap untuk kembali mendapatkan kerajaannya. Dia meratap untuk bisa kembali beribadah kepada Allah di tengah-tengah jemaat-Nya. Di dalam Perjanjian Baru maka Mazmur ini boleh di-extend, diaplikasikan kepada anak-anak Allah yang merindukan sorga. Jikalau kita benar-benar mengenal Kristus dan bertumbuh, maka akan ada satu kerinduan yang dalam. Sama seperti yang Paulus katakan, aku ingin meninggalkan tubuhku ini untuk berjumpa dengan Allah.

Pada pagi hari ini saya akan mengeksposisi mazmur ini. Mazmur pasal 84 bisa dibagi menjadi empat bagian.

 Bagian pertama,Mazmur 84:1-5 (di dalam bahasa Indonesia). Pemazmur menyatakan ekspresi kerinduan yang dalam kepadatempat kediaman Allah. Tetapi ini bukan sekedar permanentbuilding, tetapi place of God’s presence.

 Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kita menemukan satu poin yang sama. Kehadiran Allah ada di dalam persekutuan orang percaya yang beribadah di dalam gereja yang sejati, true church. Merindukan tempat kediaman Allah adalah merindukan pribadi Allah sendiri. Alkitab mengatakan pemazmur merindukan kehadiran Allah di dalam persekutuan umat Allah di dalam gereja yang sejati, itu adalah God’s dwelling place. Di dalam ayat ini saya akan menegaskan mengenai dua hal.

 Hal yang pertama, Alkitab berkali-kali menekankan bahwa kehadiran Allah ada di dalam community. Persekutuan umat Allah di dalam gereja yang sejati adalah hal yang bernilai di mata Allah dan yang terindah di dalam dunia. Allah mengirim Musa untuk berbicara kepada Firaun, let my people go, untuk beribadah. Ini adalah panggilan agar sekelompok orang dikeluarkan. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus mengajarkan murid-murid-Nya berdoa. Doa Bapa kamibukan Bapaku. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus mengatakan dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka. Community, bukan solitude, bukan sendirian. Pemazmur merindukan kehadiran Allah dan kehadiran Allah di bumi ini, di dalam persekutuan umat Allah, di dalam gereja yang sejati. Bahkan ketika Allah memakai individu-individu tertentu seperti Abraham, Musa, Yesaya, Yehezkiel, seluruh nabi dan rasul, mereka dipakai oleh Tuhan karena concern Tuhan kepada umat-Nya

 Hal yang kedua, persekutuan umat Allah di dalam gereja yang sejati. Ini penting karena banyak gereja palsu. Di depannya ada nama gereja dan di dalamnya nama Kristus dikatakan tetapi pemerintahan Kristus tidak dijalankan di dalamnya. Ingat Mazmur 1 yang menjadi cara berpikir untuk 150 Mazmur yang lain, saya sudah menyatakan ada satu perbedaan antara orang fasik dan orang benar. Orang fasik suka akan Firman Tuhan yang berisi janji-janji Tuhan, tetapi orang benar menyukai seluruh Firman Tuhan, janji-Nya, perintah-Nya, teguran-Nya, hardikan-Nya. Apakah setiap gereja sama? Jawabannya adalah tidak. Pada zaman Yesus Kristus, ada Bait Allah tetapi juga ada mimbar yang lain yaitu Yohanes Pembaptis, di mana Allah yang hidup itu berada, di mana berada God’s dwelling place. Pemazmur tidak menyukai hanya persekutuannya, suasana gerejanya atau musiknya atau persekutuan rekan seiman saja. Bukan. Pemazmur tidak menyukai itu, pemazmur tidak merindukan itu. Pemazmur mencintai satu tempat di mana dia mengalami dan mengetahui Allah itu hidup.

Pada gereja yang sejatilah kita dapat mengalami dan mengatakan Allah itu hidup. Jikalau saudara-saudara mempelajari secara sistematik teologi berkenaan dengan doktrin Roh Kudus, maka saudara akan menemukan ada prinsip permanentand conditional dwelling of Holy Spirit. Roh Kudus itu hadir terus menerus pada orang percaya dan dia tidak akan meninggalkannya. Allah itu hadir di setiap tempat dan Roh Kudus hadir pada setiap gereja. Tetapi Alkitab juga menyatakan secara conditional dwelling of the Holy Spirit, ada tempat-tempat di mana Holy Spirit itu kemudian meninggalkan gereja. Ada tempat di mana Holy Spirit itu menyatakan pekerjaan-Nya secara specific kepada gereja-gereja tertentu. Ada aspek conditional dwelling dari Holy Spirit yang harus dipenuhi aspek-aspek-Nya oleh gereja tersebut. Pemazmur merindukan tempat di mana Holy Spirit itu dwelling. Terhadap tempat itu dia menyatakan bahwa jiwaku hancur. Ini seperti teriakan seorang bayi yang lapar, kelaparan rohani, penderitaan karena sesuatu yang tidak bisa dia dapatkan kembali. Di dalam Mazmur 84:4, jelas sekali ada kerinduan yang dalam dari Pemazmur. Dia membandingkan dirinya dan iri dengan burung pipit dan layang-layang. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus menyatakan burung pipit itu tidak ada nilainya dibandingkan kita, manusia. Tetapi di dalam bagian ini, pemazmur mengatakan burung pipit itu lebih beruntung daripada dia, karena burung pipit itu bisa dekat di rumah Tuhan tetapi dia tersingkir dari rumah Tuhan. Burung-burung ini keluar hanya untuk mencari makan lalu akan kembali lagi ke pelataran rumah Tuhan. Hidupnya ada di sana, di pelataran rumah Allah. Hidupnya, hatinya, keluarganya di dalam rumah Tuhan. Segala sesuatu yang lain adalah sampingan. Kalau kita adalah family man maka hati kita ada di dalam keluarga. Kita keluar sekali untuk mencari makan, mencari uang, kemudian kita kembali lagi ke dalam family. Kalau orang itu workaholic, hatinya ada pada pekerjaannya atau kantornya. Rumahnya itu hanya tempat singgah saja seperti hotel. Anggota keluarganya itu adalah sampingan, perhatiannya sangat sedikit kepada keluarganya. Tetapi kalau saudara-saudara melihat Mazmur 84 di dalam kacamata Mazmur 1, orang benar itu hatinya ada pada rumah Allah. Yang lain itu adalah sampingan. Hal ini adalah sesuatu yang asing pada zaman kita. Banyak orang pergi ke gereja hanya sebagai visitor saja. Tetapi apa yang ada pada saat ini adalah sesuatu yang asing di mata Allah. Kalau saudara-saudara mau melihat apa yang sesungguhnya ada di dalam gereja yang sejati, maka melihat pada gereja mula-mula. Seluruh aktivitas gereja mula-mula menggambarkan apa yang ada di dalam Mazmur pasal 84 ini, kumpulan orang yang hatinya ada pada rumah Allah.

Mari kita melihat satu bagian Alkitab, Kisah Para Rasul 2:42-47. Jelas sekali dari gereja awal adalah kumpulan orang yang memiliki hati seperti Mazmur pasal 84. Bagi orang yang sungguh-sungguh ditebus oleh Yesus Kristus, ada dua hal yang akan diperhatikan sepanjang hidupnya. Dua hal itu adalah Allah dan rumah-Nya, Kristus dan jemaat-Nya. Jikalau kita sungguh-sungguh mengasihi Allah, kita pasti mengasihi orang-orang yang ditebus oleh Allah. Bukan berarti bahwa orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak bekerja atau orang-orang yang tidak berkeluarga. Tetapi apapun saja yang dipunyainya, bahkan keluarganya akan dipakai untuk memuliakan Allah dan melebarkan pekerjaan pelayanan Allah di tengah-tengah dunia ini. Ayat yang kelima mengatakan berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela. Kumpulan umat percaya adalah kumpulan di mana takhta Tuhan berada. Kumpulan orang-orang yang berlindung kepada Tuhan. Tuhan menjadi pelindungnya satu-satunya. Tuhan menjadi pengharapan satu-satunya. Tuhan adalah masternya, tuannya. Mereka memanggil Allah, my Lord, my Master sehingga pemazmur mengatakan ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Kemudian pemazmur menutup seluruh uraian itu dengan satu kalimat. Orang yang bisa diam di rumah Tuhan, hadir di dalam persekutuan umat percaya dalam gereja yang sejati, yang memuji Tuhan setiap waktu adalah berbahagia. Pemazmur menuliskan Sela. Sela adalah sesuatu kata yang memang unik dan pemazmur menuliskan Sela itu. Ada dua kemungkinan yaitu pause, sesuatu yang sifatnya berhenti, hening. Atau yang kedua adalah sesuatu yang sifatnya keras seperti menyanyi ada crescendo. Ini mau menyatakan penekanan atau sesuatu refleksi yang dalam. Mungkin sekali dia memikirkan seluruh kalimatnya. Dengan seluruh air matanya merindukan satu tempat yang saat ini tidak dia jumpai lagi, tempat di mana persekutuan dengan umat Allah yang sejati di dalam gereja yang sejati.

 Saya akan memberikan sedikit aplikasi di sini. Gereja lokal harus sejati di hadapan Allah. Gereja haruslah menjadi tempat di mana manusia bertemu dengan Allah yang hidup, the living God. Orang-orang yang menemukan gereja tersebut serta berbagian di dalamnya, maka Mazmur ini menyatakan berbahagialah. Orang-orang yang bisa melihatnya, berbahagialah. Karena engkau adalah orang benar. Hanya orang benar yang bisa melihat gereja yang sejati. Hanya orang yang rendah hati mau berbagian di dalam gereja yang sejati. Dunia tidak akan bisa melihat tempat kehadiran Allah di bumi ini. Orang-orang sombong adalah orang-orang yang bisa melihat bahwa Allah itu hadir, tetapi dia tidak mau masuk di dalamnya. Ketika pergi ke gereja, apa yang menjadi fokus kita? Engkau datang untuk mencari apa? Alkitab mengatakan tetapkan hati pergi ke gereja untuk bertemu the living God, bertemu dengan Firman-Nya. Di situlah Allah yang hidup itu bertakhta di tengah-tengah kita.

Bagian yang kedua,Mazmur 84:6-8, tempat kediaman Allah adalah tempat yang dia tuju. Ini adalah ayat-ayat di mana pemazmur mengatakan kepada dirinya sendiri. Orang yang terbuang itu melihat tempat Bait Allah di Yerusalem. Dia berusaha dengan fisiknya, sekalipun seandainya tidak bisa, maka hatinya didekatkan kepada Yerusalem. Yang terbuang ini berusaha untuk menguatkan hatinya sendiri. Dia mengajarkan kepada kita dua hal.

Yang pertama dikatakandiberkatilah orang-orang yang berjalan menuju rumah Tuhan, pergi ke Sion. Sion adalah tempat Bait Suci, perwujudan kehadiran Allah di bumi. Pemazmur mengajarkan kepada kita berjalan, meskipun sambil menangis, terpisah, tetapi seluruh hati dan perjalanan hidup mendekati God’s dwelling place. Pemazmur mengatakan akan ada penyertaan Tuhan. Lembah Baka. Itu diperkirakan adalah suatu lembah yang selalu dilewati musafir yang akan ke Yerusalem. Lembah itu adalah lembah kering dan akan terisi air hanya jika ada hujan. Jadi lembah ini benar-benar hanya tergantung kepada berkat Allah. Lembah Baka di dalam bahasa kita sehari-hari boleh diartikan sebagai lembah airmata. Weeping valley – lembah airmata. Orang yang menetapkan langkahnya mendekat kepada bait Allah yang sejati itu tidak mudah, akan ada air mata. Karena orang lain akan berjalan berlawanan arah dengan dia. Tetapi kekuatan Tuhan akan menopangnya. Ada berkat yang membuat dia penuh menjadi mata air. Banyak orang yang menetapkan hatinya kepada tempat kehadiran Allah yang sejati akan diejek oleh dunia. Berkali-kali orang bersaksi kepada kami. Bagaimana dia “diolok-olok” oleh orang lain. Orang dunia tidak mungkin akan melihat keindahannya. Sesuatu yang tidak mudah, kita dianggap orang yang tidak normal. Tetapi tempat di mana Allah sungguh-sungguh hadir, kita tidak akan rugi untuk berjuang bersama-sama di dalamnya, memberikan hati kita di dalamnya, memberikan seluruh uang dan seluruh waktu kita di dalamnya. Ada keindahan karena tempat itu, bukan saja pemazmur yang menyukainya, Allah sendiri menyukainya.

Yang kedua adalah berbicara mengenai kekuatan atau strength. Perhatikan ayat yang keenam: Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau. Dan ayat yang kedelapan: Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion. Kekuatan berjalan sebagai musafir di bumi ini adalah kekuatan dari Allah dan kekuatannya itu akan bertambah dan bukan menurun. Kalau sungguh-sungguh menemukan gereja yang sejati, bahkan sejak hari Sabtu pun ada satu api di dalam hati kita.

Bagian yang ketiga, Mazmur 84:8-9, doa orang benar dihadapan Allah.O YAHWEH, God of Covenant, hear my prayer;give ear,O YAHWEH, God of Abraham, Isaac and Jacob. Sela. Dia mengeraskan suaranya dan kemudian dia pause. Mungkin saja dia berpikir apa hak dia didengar oleh Allah. Ada satu pribadi yang dimunculkan dari mulut Pemazmur, Pribadi yang paling penting. Dia mengatakan: Lihatlah perisai kami, ya Allah, pandanglah wajah orang yang Kauurapi! The Anointed One. Pribadi yang diurapi, yaitu Yesus Kristus. Allah oknum kedua yang hadir di tengah-tengah manusia. Alkitab mengatakan lihatlah perisai kami. Siapa perisai Pemazmur? Yesus Kristus. Mengapa dia mengatakan lihatlah perisai kami? Karena prinsip di dalam Alkitab, masalah utama kita adalah Allah yang suci itu murka kepada kita. Tidak pernah ada basis kita bisa berdamai dengan Allah kecuali ada pelindung kita yaitu Yesus Kristus.

Di dalam teologia sistematik. Di dalam doktrin penebusan – atonement, maka akan menemukan dua kata ini yang tidak bisa dipisahkan. Kata yang pertama adalah expiation, kata yang kedua adalah propitiation. Expiation harus terjadi dan kemudian propitiation terjadi. Apakah itu expiation?Expiation adalah satu penutup, menutup, melindungi. Dan propitiation itu adalah meredakan murka Allah. Jadi di sini, Yesus Kristus berada di tengah antara Allah yang murka dan manusia yang berdosa. Yesus Kristus meng-cover manusia yang berdosa dan seluruh murka Allah timpa kepada Yesus Kristus sehingga tidak menimpa manusia yang berdosa. Ketika murka Allah timpa kepada Yesus Kristus, maka murka Allah itu reda. Expiation harus mendahului propitiation. Itulah apa yang dikatakan oleh Alkitab berkenaan dengan “Pandanglah perisai kami, ya Allah”. Yesus Kristus itulah perisai kita. Apa dasar doa kita dijawab? Apa dasar bahwa doamu didengar? Apa dasar engkau dan saya berhadapan dengan Allah saat ini atau pada saat kekekalan nanti berada dalam pendamaian? Alkitab mengatakan tahta-Nya adalah tahta penghakiman. Dan kesucian-Nya seperti api yang menghanguskan. Apa yang bisa membuat kita bisa mendekat kepada Dia? Dia akan memancarkan seluruh panahnya untuk menembus dan mematikan kita. Jangankan berbicara berkenaan dengan permohonan kita didengar oleh Dia, bahkan hidup di depan Dia pun mustahil. Alkitab mengatakan Allah menyatakan: Aku muak kepadamu. Aku mau muntah. Tidak ada kemungkinan yang lain, kecuali engkau berada di dalam Kristus. Bukan di dalam gereja, bukan di dalam agama, bukan di dalam gerakan Reformed Injili, bukan di dalam setiap perbuatan manusia. Satu-satunya perisai kita adalah yang diurapi itu adalah Mesias Yesus Kristus. Dalam biografi Charles Spurgeon, dikatakan bahwa sebelum dia bertobat, dia masuk ke dalam suatu ruangan gereja. Pendetanya kemudian mengatakan kepada Spurgeon yang muda itu: Young man, you look very miserable. Apa yang menjadi remedy untuk engkau young man? Look upon Jesus Christ. Keselamatan itu apa? Dua hal ini akan terjadi pada orang yang diselamatkan. Orang yang berdosa – look upon Jesus Christ dan Allah disorga – look upon Jesus Christ. Hanya ketika Allah di sorga melihat Yesus Kristus dan kita ada di dalam Yesus Kristus, maka kita baru bisa diselamatkan dan teriakan kita di dengar. Dia adalah satu-satunya Juruselamat umat manusia.

Bagian terakhir,Mazmur 84:11-13. Di dalam bagian terakhir ini maka tempat kediaman Allah adalah tempat dibumi ini yang bersentuhan dengan kekekalan. Kata seribu dipakai di dalam Alkitab berbicara tentang multitude sesuatu yang besar. Kekekalan itu beyond time and space. Semua yang kita kerjakan di dunia ini adalah sia-sia demikian kata Pengkhotbah. Alkitab menyatakan persekutuan umat percaya di dalam gereja yang sejati mendapatkan kekekalan. Berjumpa dengan kekekalan di dalam kesementaraan. Di dalam kitab Pengkhotbah, Salomo mengatakan segala sesuatu adalah sia-sia. Tetapi di dalam kitab Korintus, Paulus mengatakan: segala sesuatu yang aku kerjakan di dalam Kristus tidak akan sia-sia, kekal adanya. Bukan itu saja, penulis mengatakan lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik. Di dalam bahasa Inggrisnya adalah doorkeeper tetapi dalam bahasa aslinya bukan penjaga pintu yang official. Tetapi adalah seseorang yang berdiri di pintu Bait Suci. Pada masa perayaan besar, dia berdiri di sana, dia tidak bisa masuk ke dalam Bait Suci karena sudah terlalu banyak orang berada di sana. Dia sebenarnya memiliki kemampuan untuk keluar dan tidak lagi berada di sana, tetapi dia tidak mau keluar. Dia bisa pergi ke rumah temannya di tenda-tenda orang fasik, orang yang simply tidak pergi beribadah kepada Allah, orang yang lebih suka tinggal di rumah. Terhadap orang-orang itu, dibandingkan dengan tempat yang sangat tidak nyaman itu, maka pemazmur menyatakan lebih baik aku ada di sini, karena aku bisa memandang Allah-ku dan aku bisa melihat Dia hadir. Dia adalah Allah yang hidup. Dan ayat 12-13, pemazmur memuji kebaikan Tuhan. Orang benar tidak akan kekurangan sesuatu yang baik dari Allah. Allah akan mencerahkan dia. Allah akan melindungi dia. Allah adalah matahari dan perisai. Mereka akan menjadi milik-Nya seutuhnya. Mereka akan mengalami perkenanan dan akan diberikan kehormatan dari Allah. Mereka adalah orang-orang yang mengandalkan Allah, yang tempat berlindungnya adalah Allah. Tidak seperti orang fasik, dia akan seperti sekam yang ditiup angin dan tidak akan kuat dalam penghakiman.

Saya akan akhiri semua ini dengan merefleksikan beberapa hal ini. Yang pertama adalah ratapan ini tidak dimiliki oleh dunia. Apakah engkau sungguh-sungguh sudah takluk di dalam Yesus Kristus atau tidak? Adakah Roh Kudus di dalam hatimu? Hanya orang-orang yang dilahirbarukan yang memiliki ratapan ini, yang mengenal the beauty of the Lord and the beauty of the Lord’s church. Hanya Roh Kudus saja yang bisa membuat kita jeli akan keindahan gereja, kehormatan gereja dan harga sebuah gereja. Gereja adalah isi hati Tuhan, rumah Tuhan, mempelai wanita Kristus. Orang Puritan mengatakan gereja disebut sebagai rumah Tuhan karena itulah tempat yang paling disenangi Tuhan dan tempat Tuhan hadir di atas bumi ini. Ada beberapa jenis orang berespon terhadap rumah Allah. Minimal 4 hal ini. Orang dunia tidak melihat dan mengalami kehadiran Allah dalam gerejanya. Kedua, Orang Kristen yang sombong melihat Allah hadir tetapi dia tidak merendahkan diri dan pergi ke sana. Dia hanya akan mau pergi ke tempat di mana dia dihargai, mukanya tidak pernah dicoreng, hatinya tidak pernah dilukai, di mana dia bisa mendapatkan tempat untuk dia dihormati. Kesombonganmu akan menghancurkan hidupmu. Orang yang ketiga adalah orang Kristen yang buta dan ignorant. Hanya pergi ke Bait Suci karena tugas, karena hari ini hari Minggu. Hanya untuk mengisi sense of divinity saja. Tetapi ada orang Kristen yang keempat. Meskipun orang ini mungkin tidak banyak jumlahnya. Orang yang sungguh-sungguh mengetahui Allah ada di mana. Dia mau merendahkan dirinya untuk pergi ke sana. Orang-orang ini adalah orang-orang pergi ke tempat Yohanes Pembaptis berkhotbah. Meskipun sulit, tidak ada uang, di padang belantara, khotbahnya sulit dan sangat keras menegur dosa tetapi Roh Kudus ada di sana. Dia mengetahuinya, menghargainya dan mau bersama-sama berjuang di sana.

Hal yang kedua. Apakah kita sudah kehilangan kerinduan seperti Mazmur 84 ini? Kehilangan sense ketakjuban akan gereja Tuhan sehingga tidak bisa lagi mengasihi dan memuji keindahan gereja Tuhan? Apakah hatimu mulai flat? Tidak ada kegairahan pergi ke rumah Tuhan? Jikalau itu terjadi, masalah utamanya adalah diri kita pribadi. Dosa yang ada di dalam diri kita pribadi. Pemazmur mengatakan hal terpenting yang menjadi kegairahan kita seharusnya adalah Allah dan bait Allah. Yang terakhir yang ketiga. Mazmur 84 ini mengingatkan kita tempat solemn kehadiran Allah di bumi ini. Mengantisipasi waktu di depan kita, di mana kita tidak lagi bisa bergerak, tidak bisa lagi pergi ke tempat Allah bertahta dan hadir di muka bumi ini. Hal ini akan terjadi. Mungkin kita sakit, mungkin kita tua, mungkin kita dibuang oleh Tuhan, mungkin saja tempat itu sudah dirusak oleh musuh-musuh Tuhan, mungkin kita berdosa dan kemudian pergi dari rumah Tuhan dan tidak bisa kembali. Mazmur 84 ini kita hanya akan baca dari kejauhan. Ketika ini belum terjadi, bertobatlah, datanglah, buka hatimu dan biarlah Tuhan Yesus Kristus menjadi rajamu, takluklah. Sehingga kita boleh menyatakan kepada Tuhan: Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, Ya TUHAN semesta alam. Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Hargailah Allah yang ada di tengah-tengah kita dan seluruh pekerjaan-Nya di dalam gereja-Nya. Kiranya Tuhan menaklukan hati kita. Jangan keraskan hati. Takluklah dan lihat bagaimana Tuhan memberkati. Mari kita berdoa.

 
 

Matius 6:9; Keluaran 3:13-15
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

21 October 2018
Doa Bapa Kami (7)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Matius 6:9

Matius 6:9

Minggu yang lalu saya sudah berbicara berkenaan dengan patron doa Bapa kami. J.I. Packer menyatakan doa itu dikabulkan jika dan hanya jika memiliki prinsip patron doa Bapa kami. Itu tidak berarti bahwa doa Bapa kami kita sebut-sebut seperti mantra. Itu tidak berarti bahwa setiap kali kita berdoa harus persis satu kalimat demi satu kalimat seperti doa Bapa kami. Tetapi apa yang dimaksudkan oleh J.I. Packer? Yaitu ketika kita berdoa, doa Bapa kami, seluruh hidup kita, seluruh keinginan kita, seluruh hati kita mengikuti patron dari empat patron doa Bapa kami. Maka kita akan melihat bagaimana penyediaan Allah itu diberikan kepada kita. Empat hal itu adalah: Bapa kami yang di sorga; hidup yang selalu berfokus kepada pribadi Allah. Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu; hidup yang selalu meninggikan nama-Nya, mencari kerajaan-Nya, dan kehendak-Nya jadi. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan; hidup yang selalu bergantung kepada seluruh anugerah Allah di dalam kebutuhan kita. Seluruh kebutuhan kita, masa lalu, masa kini dan masa depan sungguh-sungguh bergantung kepada Allah. Dan karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaansampai selama-lamanya; hidup untuk mengembalikan seluruh kemuliaan kepada Allah Tritunggal.

Tanamkan di dalam hati. Hidup berfokus kepada Bapa. Hidup berkeinginan agar seluruh kehendak Allah itu jadi. Hidup yang bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam setiap kebutuhan. Dan yang keempat adalah hidup untuk mengembalikan seluruh kemuliaan hanya untuk Allah Tritunggal. Jikalau saudara-saudara menetapkan empat hal ini di dalam hati kita, di dalam hidup kita, di dalam keluarga kita, di dalam seluruh planning hidup kita, maka kita akan melihat bagaimana Allah itu hidup di tengah-tengah kita. Ini bukan sekedar kalimat-kalimat kosong. Kalimat Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh kenyataan. Yesus tidak mungkin memberikan satu doa yang tidak didengar oleh Bapa di sorga. Yesus tidak mungkin mengajarkan kalimat-kalimat yang tidak terjadi di dunia. Bahkan sebelumnya Yesus mengatakan ada doa-doa yang tidak akan dijawab oleh Allah. Maka setelah itu Yesus mengatakan demikianlah engkau harus berdoa.

Hari ini saya akan meneruskan pembahasan ini. Mari kita melihat Matius 6:9. Hari ini saya akan berbicara berkenaan dengan satu kalimat ini saja. Dan saya akan mengeksposisinya. Yesus mengatakan apabila kamu berdoa, berdoalah demikian. Bapa kami yang di sorga. Apa artinya Bapa kami yang di sorga? Hari ini saya akan berbicara mengenai tiga hal penting di dalam kalimat ini.

Hal yang pertama, ini adalah panggilan pribadi Yesus, Allah oknum kedua kepada pribadi Bapa-Nya sendiri, Allah oknum pertama, yang diberikan kepada kita. Ini adalah suatu rahasia, yang sebelumnya tidak diketahui oleh manusia. Allah oknum pertama, kedua dan ketiga itu hadir di dalam kekekalan. Tidak ada malaikat sebelumnya, tidak ada tua-tua sebelumnya, tidak ada manusia sebelumnya. Tidak ada satu makhluk sebelumnya. Mereka memiliki satu persekutuan yang sangat erat di dalam satu hakekat. Alkitab menyatakan bahwa yang mengenal Allah oknum pertama adalah Allah oknum kedua, bukan malaikat, bukan manusia. Bagaimana mungkin manusia bisa mengetahui? Apakah pendiri agama bisa mengajarkan siapa Allah yang sejati? Apakah seorang doktor bisa mengajarkan siapa Allah yang sejati? Seluruh manusia hanya berbicara mengenai satu being yang tertinggi yang ultimate dan mereka mengatakan Allah. Tetapi Alkitab menyatakan tidak seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. Dialah yang hadir di dunia. Dialah yang menyatakan pribadi Allah. Tanpa kehadiran Yesus Kristus, tanpa mulut Kristus mengajarkan kepada murid-murid-Nya, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa taat kepada Allah Bapa.

Ini bukan saja bicara mengenai the Fatherhood of God, ini bicara mengenai nama Allah oknum pertama, nama-Nya adalah Bapa. Ini adalah sebutan yang intim dari Yesus Kristus kepada Allah di sorga. Selain Yesus Kristus, tidak ada satu makhlukpun yang mengenal Dia. Maka di dalam gereja-Nya, Yesus Kristus menyatakan nama itu kepada kita. Oh, ini adalah sesuatu misteri yang dibukakan kepada kita. Ini adalah the greatest revelation. Allah yang tersembunyi, yang tidak bisa dikenal, yang tidak bisa kita lihat dengan mata, yang tidak mungkin kita berbicara dengan-Nya, tidak mungkin kita bisa mengenal-Nya; tetapi Alkitab menyatakan Yesus Kristus datang ke dunia menyatakan kepada kita, Allah itu nama-Nya, Bapa.

Sesuatu yang tertutup sekarang dibukakan. Mari kita melihat ayat-ayat penting. Yohanes 1:14. Saudara-saudara di dalam Yohanes 1:14, dalam bahasa aslinya adalah the only begotten Son. The only begotten Son itu artinya apa? Bahwa Yesus adalah satu-satunya Anak, tidak ada yang lain dan Yesus memiliki hubungan yang khusus dengan Allah. Yesus memiliki sifat, hakekat, natur yang sama dengan Allah. Perhatikan ayat yang ke-18. Tidak ada yang kenal sebelumnya, tidak ada yang melihat sebelumnya, tidak ada manusia yang bisa menduga sebelumnya. Maka jika saudara dan saya bisa mengenal Allah, nama-Nya adalah Bapa, itu adalah wahyu dari Yesus Kristus kepada kita, gereja-Nya. Ini adalah sesuatu yang sangat esensial di dalam kehidupan manusia. Hanya manusia yang mengerti nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus adalah yang diselamatkan. Ini berbicara berkenaan dengan Allah Tritunggal. Yesus menyatakan bahwa inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3). Tetapi perhatikan Yohanes 17:1, maka saudara-saudara akan tahu bahwa Allah itu adalah Bapa.

Mari kita melihat Yohanes 17:1-3. Apa arti hidup kekal? Hidup kekal adalah mengenal Allah itu Bapa, Allah oknum pertama dari Tritunggal. Di dalam Alkitab kita akan mendapatkan satu prinsip ini. Allah itu ingin didekati, dikenal, dan disembah sebagai Allah Tritunggal. Di luar Allah Tritunggal tidak ada keselamatan. Ketika Yesus datang ke dunia, maka dia menyatakan pribadi Allah. Tidak ada satu manusiapun yang mengetahui sebelumnya, maka di dunia Dia menyatakan Allah. Siapa itu Allah? Allah itu Bapa, sehingga di dalam Alkitab dikatakan hidup kekal itu mengenal Allah yang adalah Bapa dan mengenal Yesus Kristus. Saudara-saudara, mari kita melihat signifikansi pengenalan ini. Matius 11:27. Dalam ayat ini Bapa dan Anak memiliki satu ikatan yang khusus. Tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak. Tidak ada satu pendiri agama, tidak ada satu nabi, tidak ada satu rasul, tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Jikalau saudara dan saya bisa mempercayai bahwa Allah itu Tritunggal, Allah yang tidak dilihat oleh mata, Nama-Nya adalah Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Jika sungguh-sungguh terjadi di dalam hati kita, sungguh-sungguh ada di dalam kepercayaan kita, bukan dari orang-tua kita, bukan karena biasa pergi ke gereja, tetapi percaya di dalam hati karena Roh Kudus mengirimkan kalimat Yesus itu kepada kita, maka itulah keselamatan. Itulah keajaiban. Itu adalah the greatest revelation. Ini adalah panggilan kedekatan antara Allah oknum kedua kepada Allah oknum pertama sendiri. Suatu hari Paulus pergi ke Athena, dan kemudian dia melihat ada patung dewa-dewa, dan dia melihat allah-allah di sini dan di sana. Kemudian ada satu mezbah, pada mezbah itu tertulis, kepada Allah yang tidak di kenal. Tetapi di sini Yesus Kristus menyatakan itu Bapa! Revelation dari Allah oknum kedua, tentang Allah oknum pertama kepada kita. Dalam sebuah keluarga, kadang-kadang ada sebutan-sebutan kedekatan, sebutan-sebutan sayang. Sebutan-sebutan sayang itu adalah sesuatu yang sangat secret, sangat personal. Hanya suami yang berbicara kepada istri, dan istri berbicara kepada suami tentang sebutan itu. Dalam kasus ini, saudara adalah tetangga orang itu, atau mungkin orang lain yang begitu jauh dari keluarga ini, tetapi dinyatakan apa yang menjadi sebutan kesayangan dari suami istri tersebut. Ketika itu terjadi, saudara mendapatkan rahasia yang paling dalam di antara suami istri itu. Jikalau itu terjadi, artinya saudara dimasukkan di dalam satu keintiman, atau suatu relasi yang dekat dengan keluarga itu. Tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak. Tetapi pada hari itu, murid-murid-Nya mengatakan Tuhan, ajarlah kami berdoa. Apabila kamu berdoa, berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga. Apa Tuhan Yesus? Bapa kami yang di sorga? Setiap kali Yesus menyendiri, Dia berlutut. Pagi-pagi atau malam-malam sendirian. Tidak ada orang yang mendengar, tidak ada orang yang tahu, dan Dia berdoa dengan intim, Dia menengadah ke langit, Dia mengucapkan satu kalimat, satu nama yang di seluruh muka bumi ini hanya Dia yang tahu. Bapa. Kemudian Dia mengutarakan seluruh isi hati-Nya. Nama yang tersembunyi itu, nama yang paling Dia kasihi, nama yang paling rahasia, sekarang diberikan kepada engkau dan saya. Diberikan kepada kita. Bapa kami yang di sorga.

Hal yang kedua, ketika Yesus mengatakan apabila kamu berdoa, berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga. Ini adalah pewahyuan tentang Allah yang jauh sekaligus dekat. Allah yang jauh dan dekat. Ini berbicara berkenaan dengan the Fatherhood of God. Kebapaan Allah. Seperti apakah Allah? Seperti apakah Allah yang kita kenal sebagai manusia yang berdosa? Seluruh agama, seluruh pikiran kita sekalipun, ketika berbicara berkenaan dengan Allah, adalah Allah yang jauh, Allah yang perkasa, Allah yang ada di sana, Allah yang tidak mungkin kita hampiri. Oh, kalau saudara-saudara melihat doa orang Islam, dan kalau saudara perhatikan apa yang ada di Mekkah, maka saudara akan gemetar karena memang seharusnya manusia yang berhadapan dengan Allah adalah seperti itu. Jutaan orang ada di tengah-tengah lapangan di Mekkah. Seorang pemimpin agama menyerukan Allahu Akbar dan seluruh lutut bertelut. Jutaan orang bertelut. Kalau melihat dari TV, saudara merasa biasa, tetapi coba saudara bayangkan jika saudara berada di sana. Saudara ada di tengah-tengah jutaan orang yang berkumpul itu, kemudian ada satu pengeras suara menyatakan Allahu Akbar. Maka saudara akan lihat kanan-kiri, depan-belakang saudara, seluruhnya berlutut. Saya yakin lutut kita tak mungkin berdiri di situ. Seluruhnya akan gemetar, kita mau tak mau akan berlutut. Jutaan orang berlutut. Allah, siapakah Allah itu? Allah yang besar. Allah yang agung. Allah yang harus ditakuti. Allah yang harus disembah. Ada satu gambaran yang pernah diceritakan kepada saya. Kita tahu, semua orang Hindu melihat kebesaran Allah ada di dalam gunung. Ada satu hal yang sangat membuat hati remuk. Ada satu gambaran seorang Hindu, ketika gunung berapi itu meletus dan seluruh tanah bergetar dan kemudian lahar yang panas dimuntahkan, orang Hindu ini, dalam konsep allahnya, menyadari bahwa Allah itu besar dan mungkin sekali Allah itu marah, maka dia itu bukan lari ke belakang, dia lari ke gunung itu, berlutut dan kemudian lahar datang dan menyapu dia. Allah itu besar. Tapi suatu hari Yesus mengatakan engkau mau berdoa kepada Allah yang besar? Engkau mau berdoa kepada Allah yang agung? Aku ajarkan kepada kamu berdoalah demikian: “Bapa kami yang di sorga.” Dia Allah, bagaimana mungkin saya bisa mengatakan Bapa? Dia Allah, Dia besar, Dia ditakuti oleh semua orang. Orang Islam takut kepada Dia. Orang Hindu takut kepada Dia. Tetapi Engkau mengatakan kepada kami, Allah itu Bapa? Yesus Kristus membawa Allah yang jauh menjadi Allah yang dekat. Allah yang jauh, yang besar, yang mulia, Allah itu kemudian menjadi dekat, menjadi mengasihi, menyayangi kita. Allah yang transcendent, jauh, sekarang menjadi Allah yang dekat yang immanent. Maka, di dalam kekristenan, ketika menyembah Allah yang sejati di dalam Yesus Kristus maka selalu ada paradoks perasaan ini, yaitu takut dan gentar, serta kasih dan sayang. Selalu menjadi satu di dalam paradoks yang Yesus ajarkan kepada kita. Engkau dan saya tidak lagi melihat Allah menjadi satu Pribadi yang jauh dan menakutkan, Yesus membawa-Nya dekat kepada kita. Yesus membawa-Nya menjadi sahabat kita. Yesus membawa-Nya menjadi Bapa kita dan kita adalah anak-anak-Nya. Roh Kudus mengajari kita ketika kita menghadap Allah yang besar itu, Allah yang jauh itu. Roh Kudus mengajar kita ketika kita berdoa, kita menyebut Dia, memanggil Dia, di manapun saja, kapanpun saja kita menyebut Allah yang besar itu ya Abba ya Bapa. Luar biasa. This is Christianity.

Saya akan membawa saudara-saudara melihat seperti apa Allah yang besar itu di dalam Alkitab. Mari kita membaca Yesaya 40:12-26. Kiranya Allah Roh Kudus membawa mata hati kita melihat ayat-ayat seperti ini. Allah itu Allah yang mulia. Allah itu Allah yang besar. Dia menanam orang-orang di dunia, baru bertumbuh sebentar saja, Dia kirimkan angin badai dan mereka tidak ada lagi. Dia mengatakan jika seluruh pohon di dunia ini ditebang menjadi kayu api dan seluruh binatang di dunia ini dikorbankan pun itu tidak pernah akan cukup bagi Dia. Banyak orang Kristen kurang ajar kepada Tuhan, tidak mau memberikan uang di dalam pekerjaan Tuhan, luar biasa kikirnya. Apalagi orang-orang yang mengatakan bahwa aku tidak mau memberikan persembahan. Saya katakan kepada saudara-saudara, gereja tidak memerlukannya. Allah tidak memerlukannya. Dia adalah Allah yang besar. Saudara harus bertobat. Kita tidak mungkin bisa membantu Allah. Banyak orang Kristen sudah mempermainkan Allah. Adalah benar bahwa Yesus Kristus mengajarkan Allah yang jauh itu sekarang dekat. Tetapi Dia adalah Allah yang jauh. Dia bukan hanya Allah yang dekat. Dia adalah Allah yang jauh dan dekat. Kita tidak bisa mempermainkan Dia. Kita sungguh-sungguh harus hormat kepada Dia. Banyak orang Kristen mempermainkan Allah. Banyak orang Islam tidak berani mempermainkan Allah. Banyak orang Kristen bermain-main dengan Allah. Banyak orang-orang Hindu dan orang-orang Ibrani, Yahudi itu takut kepada Dia. Kita harus bertobat. Dia adalah Allah yang besar. Dia tidak pernah menjadi kecil. Dia adalah Allah yang besar. Lihatlah Yesaya ini, maka saudara-saudara akan mengerti siapa Dia. Tuhan, ajarlah kami berdoa. Apabila engkau berdoa, berdoalah demikian: “Bapa kami yang di sorga.” Siapa? Bapa? Itu adalah sebutan yang Aku sendiri katakan kepada Allah oknum pertama. Setiap pagi sebelum engkau bangun, Aku sudah bangun dan menghampiri Dia. Setiap malam setelah engkau tidur, Aku itu masih terjaga dan engkau masih tidur. Aku mengatakannya kepada Dia, panggilan yang Aku kenal di dalam kekekalan. Dia mengenal Aku dan Aku mengenal Dia. Hanya Kami. Bapa. Hal yang kedua berbicara berkenaan dengan Allah yang jauh dan Allah yang dekat. Mengerti hal yang kedua ini, maka kita akan mengerti identitas kita. Alkitab mengatakan kita adalah anak-anak Allah. Alkitab menyatakan kita memanggil Allah itu Bapa. Dan siapa Bapa itu? Dia adalah Allah yang besar itu. Saya pernah mengenal satu keluarga yang papanya adalah seorang narapidana. Ketika hukuman itu dijatuhkan, maka foto papanya itu ada di dalam surat kabar. Anak itu kemudian melihat foto papanya sebagai narapidana ada di dalam surat kabar dan itu menghancurkan hatinya. Kemanapun dia pergi, dia malu, dan jiwanya terguncang, identitasnya itu kemudian runtuh. Tetapi Bapa kita adalah Allah yang besar.

Terakhir yang ketiga, Tuhan, ajarlah kami berdoa. Apabila engkau berdoa, berdoalah demikian: “Bapa kami yang di sorga.” Saya sudah menyatakan bahwa doa harus memiliki sasaran, fokus seperti seorang yang mengirim surat, ada alamat yang dituju dan fokusnya adalah Bapa di sorga. Ketika kita berdoa Bapa kami yang di sorga, kita harus sadar bahwa kita berdoa kepada Allah yang menciptakan, menguasai dan menopang seluruh bumi ini. Ada perbedaan kualitatif antara Dia dan saya. Ada sesuatu yang tidak terseberangi kecuali di dalam Yesus Kristus. Dia adalah Allah Pencipta itu. Dan Allah Pencipta itu adalah Allah yang memiliki hak untuk memerintah ciptaan-Nya. Ketika kita berdoa Bapa kami yang di sorga, maka doa ini artinya mengakui kedaulatan Allah terhadap kita. Itulah sebabnya Yesus Kristus ketika di taman Getsemani menghampiri Bapa-Nya di sorga sendirian. Dia mengatakan, Bapa. Sebutan yang Dia kenal sejak dalam kekekalan. “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Ketika kita berdoa berkenaan dengan Bapa kami yang di sorga, maka kita ingat Dia adalah Allah yang berdaulat. Dia Bapa yang berdaulat. Di dalam ancient near east culture, maka seorang raja yang berdaulat, rakyatnya datang kepada raja dan menyebut raja itu dengan sebutan my father. Itu artinya my master, my lord. Tuanku, perintahkanlah kepadaku. Ketika berbicara berkenaan Bapa itu adalah Allah oknum pertama. Ketika berbicara mengenai Bapa itu adalah the Fatherhood of God. Dan berbicara mengenai Bapa itu adalah berbicara mengenai kedaulatan, my Master. Maka ketika kita berdoa Bapa kami yang di sorga, di dalam hati kita, kita tetapkan ketaatan. Ini adalah ajaran Yesus kepada gereja. Sungguh sangat mengagumkan. Melampaui seluruh pikiran yang ada pada waktu itu. Membukakan sesuatu yang tertutup pada waktu itu.

Saya akan akhiri dengan menceritakan satu ilustrasi ini. Seorang pengkhotbah bernama John Huffman menceritakan seorang anak kecil yang merangkak melewati semua keajaiban di dalam Wahyu 4. Dia menyeberangi lautan kaca, melewati ke-24 tua-tua, naik ke atas takhta dan sampai di depan altar itu, dia bersuara dengan lirih kepada satu Pribadi yang duduk di atas takhta itu, Father. Dan itu akan mencerminkan semua yang akan kita kerjakan. Di sorga ada lautan kaca, di sorga ada 24 tua-tua, di sorga ada takhta yang menjulang, di sorga ada malaikat-malaikat yang bernyanyi, dan satu per satu orang-orang yang ditebus akan menghadap takhta kasih karunia itu, melewati seluruh yang ada. Melewati lautan kaca, melewati seluruh tua-tua, melewati seluruh malaikat-malaikat yang besar di sana, dan kita akan masuk ke dalam satu takhta yang tinggi menjulang, yang putih dan begitu agung, yang bersinar, kita merangkak satu per satu anak tangganya, dan ketika kita berada di tengah-tengah tempat di atas takhta itu, di mana satu Pribadi itu ada dan kemudian kita berlutut dan kemudian kita mengatakan, Father, Bapa. Karena Kristus sudah mengajarkan kepada kita, membuat Allah yang menakutkan itu menjadi Bapa kita. Oh, ini pewahyuan yang luar biasa. Tidak mungkin bisa dibeli dengan uang. Hanya yang dari atas, yang ada di pangkuan Allah Bapa itu, yang menyatakan nama-Nya kepada kita. Bersukacitalah jemaat. Bersukacitalah. Ini melebihi daripada mendapatkan uang. Ini melebihi daripada mendapatkan seluruh isi dunia. Mendapatkan Allah yang mengasihi kita. Kiranya hati kita makin takut kepada Dia. Mari kita berdoa. 


Mazmur 2
 
 

Mazmur 84:1-12
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

14 October 2018
Mazmur 2
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Mazmur 2

Mazmur 2

Mazmur pasal 2 dinyanyikan pada waktu pentahtaan Daud sebagai raja. Tetapi sebenarnya, Mazmur pasal 2 bukan saja berbicara mengenai Daud, melainkan berbicara mengenai satu Pribadi yang diurapi, yaitu Yesus Kristus. Jikalau saudara-saudara melihat Mazmur pasal 2 ini, maka Mazmur ini bisa dibagi menjadi empat bagian dan kita akan melihat pengajaran apa yang Allah berikan kepada kita gereja-Nya dan bagi seluruh umat manusia.

(1) Ayat 1-3. Narator di dalam ayat 1-3 itu melihat kepada kumpulan orang banyak yaitu bangsa-bangsa, dari tahta yang tertinggi sampai rakyat jelata. Mereka semua bermufakat merancangkan satu rencana yang sangat mengejutkan dan sangat berani, yaitu melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya. Mereka mau terlepas dari pemerintahan Tuhan dan yang diurapi-Nya. Ini adalah pemberontakan yang ultimate, yang tertinggi, melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya. Di dalam ayat 1-3 ini, ada dua penekanan besar di bagian ini.

Penekanan yang pertama ada di dalam Mazmur pasal 1. Sebenarnya di dalam bahasa aslinya, Ibrani, maka Mazmur pasal 1 dan pasal 2 adalah satu kesatuan. Minggu yang lalu saya sudah berbicara mengenai Mazmur pasal 1. Bagaimana ada suatu progresifitas dari dosa. Daud menuliskannya, orang yang jahat itu adalah orang yang berjalan menurut nasihat orang fasik, orang yang berdiri di jalan orang berdosa, orang yang duduk di dalam kumpulan pencemooh. Daud menyatakan orang ini adalah orang yang makin lama makin bertambah jahat. Dosa akan selalu bergerak, selalu akan mengembang, meluas, menjalar, dosa selalu akan masuk ke dalam hati kita makin lama makin dalam. Tetapi bukan itu semuanya, dosa pada akhirnya adalah melawan pribadi Allah secara terbuka. Jikalau manusia bisa, manusia akan membunuh Tuhan. Kalimat dari buku yang dituliskan oleh NietzscheThe Death of God”, itu menyatakan bahwa manusia memiliki satu ambisi, yaitu melawan Tuhan, untuk mematikan Tuhan, untuk menyamai Tuhan, dosa yang sama di dalam Kejadian pasal 3. Mungkin saudara mengatakan saya tidak seperti itu, saya tidak mungkin melawan Tuhan, saya tidak mungkin akan mematikan Tuhan, tetapi Alkitab menyatakan Tuhan di surga itu memerintah manusia melalui Firman-Nya dan kehendak-Nya, ketika kita melawan Firman-Nya, sebenarnya kita melawan Pribadi-Nya Allah. Tetapi bukan itu saja, bagian pertama ini menekankan hal yang kedua. Tuhan menyatakan pemerintahan-Nya di dunia melalui orang khusus-Nya, yang dipilih-Nya, singular, not people dan ini adalah satu Pribadi yang dinyatakan sebagai wakil Allah di dunia ini yaitu Yesus Kristus. Dialah yang diurapi oleh Allah, untuk satu tugas yang khusus, menyatakan pribadi Allah itu, menyatakan kehendak-Nya. Di dalam Perjanjian Baru ada kalimat-kalimat Yesus seperti ini, “Barangsiapa mengenal Aku dia mengenal Bapa, barangsiapa percaya kepada-Ku dia percaya kepada Bapa, barangsiapa menerima Aku dia akan menerima Bapa, barangsiapa melihat Aku dia akan melihat Bapa, barangsiapa mengasihi Aku dia mengasihi Bapa, barangsiapa membenci Kristus dia membenci Bapa.” Seluruhnya mau menyatakan apa yang menjadi respons kita kepada Yesus Kristus adalah respons direct kita kepada Allah. Kristus adalah satu-satunya Pribadi yang mewakili Allah dan manusia. Pemerintahan-Nya di dunia ini terjadi melalui perkataan-Nya itu kita taati atau tidak. Di dalam ayat yang ke-3 dinyatakan bangsa-bangsa itu, orang-orang yang jahat itu yang pertamanya hanya berdosa yang kecil dan kemudian dia menikmati dosa itu dan kemudian dia merancangkan dosa itu dan dia akan menjadi sama dengan evil itu dan kemudian dia akan menantang Tuhan dengan tepat di depan wajah-Nya, maka mereka mengatakan, “aku akan memutuskan belenggu-Mu ya Allah, aku tidak mau diatur oleh-Mu, aku tidak mau mentaati Engkau, aku tidak mau mengenal Engkau.” Ini adalah gerakan rebellion kepada Pribadi Allah, melalui Anak-Nya.

(2) Ayat 4-6. Bagian kedua ini menyatakan Pribadi Allah Bapa. Apa yang menjadi respons Pribadi Allah Bapa melihat seluruh bangsa berkumpul dan menentang Dia? Alkitab mengatakan secara ironi bahwa Allah itu tertawa cynical, Allah tidak gentar ketika bangsa-bangsa melawan Dia. Allah tidak mempersiapkan tentara-Nya, Allah tidak menghitung berapa banyak musuhnya. Allah tertawa, di dalam bahasa aslinya, tertawa dalam kejijikan. Ini kalimat yang benar-benar merendahkan, Allah mengolok-olok mereka. Ada suatu paradoksikal di sini. Bagian ini, sebenarnya dikutip di dalam Kisah Para Rasul 4:24-27. Oh, saya sangat bersyukur sekali untuk ayat-ayat ini. Ada sesuatu yang tersembunyi di sini, suatu paradoks dan itu menjadi penghiburan besar bagi gereja yang dianiaya. Secara fenomena, secara penglihatan mata, Yesus-lah yang sedang diolok-olok, gerejalah yang sedang dianiaya, gereja yang sedang ditertawakan oleh dunia, tetapi para Rasul mengerti bahwa secara kosmik drama maka sebenarnya pada saat manusia mengolok-olok Yesus Kristus, Allah sedang mengolok-olok mereka. Allah meninggalkan manusia pada saat manusia meninggalkan kebenaran. Kita berpikir saya yang akan keluar dari gereja, saya yang tidak peduli dengan gereja ini, saya tidak peduli dengan Firman-Nya, saya akan keluar dari tempat ini, pada saat yang sama sebenarnya Allah yang melepaskan mereka.

Saya sering sekali melihat hal-hal seperti ini di dalam kehidupan orang-orang. Mengambil keputusannya sendiri berdasarkan kesukaannya sendiri, tidak berani masuk lebih dalam untuk memikul salib dan berjuang, memikirkan diri sendiri dan memikirkan seluruh muka sendiri dan ketika diri itu disinggung, ketika diri itu direndahkan, maka pada saat itu dia berpikir diri lebih tinggi daripada apapun saja yang ada. Oh, saya akan keluar dari pelayanan. Oh, saya akan keluar dari gereja. Pada saat seperti itu dia berpikir bahwa dia boleh memilih, padahal di dalam Alkitab, setiap kali pilihan yang sifatnya untuk diri adalah dosa. Dia mulai mentertawakan sesuatu yang clear adalah kebenaran dan dia berpikir bahwa Allah bisa memakainya di tempat yang lain. Tidak! Allah itu menentukan siapa yang diurapi-Nya dan di dalam kasus ini secara universal yaitu Yesus Kristus. Mengolok-olok Yesus Kristus, pada saat yang sama, Allah mengolok-olok mereka. Mereka marah kepada Yesus Kristus, pada saat yang sama, sebenarnya Allah marah kepada mereka. Allah marah! Allah murka! Alkitab menyatakan Allah itu murka dan kita tidak bisa bermain-main dengan Dia karena Dia mudah untuk marah. Alkitab menyatakan kepada kita ada satu Pribadi yang saudara dan saya harus takuti, dan Pribadi itu adalah Yesus Kristus. Takut kepada-Nya bukan takut sebagai budak, tetapi menghormati Dia dengan menjalankan Firman-Nya. Satu pembahasan yang paling kita jarang untuk mendengarkan adalah bicara mengenai Allah yang murka, tetapi di dalam Alkitab, pembahasan mengenai Allah yang murka jauh lebih banyak daripada pembahasan mengenai Allah yang penuh kasih. Allah yang murka adalah karena kesucian-Nya tidak pernah bisa dikompromikan, minggu yang lalu saya sudah mengatakan “Let God be God, let men be men.

Sekali lagi, gereja kita harus belajar mengenai kesucian Allah, ini adalah pokok yang penting sekali. Seluruh rasul dan nabi selalu belajar mengenai kesucian Allah di dalam seluruh bagian hidupnya dan jikalau kesucian itu dilanggar maka Allah itu murka adanya. Beberapa ratus tahun yang lalu ada seorang Reformed Puritan yang sangat diurapi oleh Tuhan namanya adalah Jonathan Edwards dan orang ini mengkotbahkan dalam satu kebaktian yaitu kotbah yang berjudul “Orang berdosa di tangan Allah yang murka”. Ini adalah kotbah yang sangat-sangat powerful dan membangunkan pada waktu itu. Umat Allah yang mendengarkan kotbah itu, mereka semuanya meratap. Jonathan Edwards adalah orang yang sungguh mengenal Allah. Seluruh orang di dalam sejarah yang dipakai oleh Tuhan, selalu berbicara mengenai kesucian Allah dan kemurkaan Allah, bukan bicara mengenai kasih Allah dan kebaikan Allah. Ketika kesucian Allah dan kemurkaan Allah diberitakan dan kemudian jemaat itu bertobat, dengan sendirinya jemaat akan mengerti ada kebaikan dan kasih Allah di situ. Perhatikan apa yang dikotbahkan oleh Jonathan Edwards dan saya akan membacakan satu bagian kecil dari seluruh uraian kotbahnya. Dia berbicara seperti ini kepada jemaatnya:

“Renungkanlah baik-baik hal ini, anda yang hadir di sini yang masih tetap belum bertobat. Tuhan akan melaksanakan kehangatan murka-Nya, artinya bahwa Ia akan melampiaskan murka-Nya tanpa belas kasihan sedikitpun. Ketika Allah melihat penderitaan anda yang luar biasa dan melihat penderitaan anda sangat tidak sebanding dengan kekuatan yang anda miliki dan melihat betapa jiwa anda yang malang diremukkan dan binasa seperti yang seharusnya ke dalam kegelapan abadi. Ia tidak akan merasa kasihan kepada anda. Ia tidak akan menunda atau menahan pelaksanaan murka-Nya, Dia juga tidak sedikitpun meringankan hukuman-Nya, tidak akan ada belas kasihan atau kemurahan dan Ia sama sekali tidak akan menahan badai murka-Nya yang mengamuk, Ia tidak akan mempedulikan keselamatan anda.”

Di tempat yang lain Jonathan Edwards berkotbah seperti ini:

“Sekarang Tuhan masih mengasihani anda, ini adalah hari kemurahan, anda boleh menangis sekarang dengan ratapan untuk memperolah belas kasihan. Tetapi waktu hari kemurahan ini berlalu, tangisan dan ratapan anda yang paling menyayat hati dan memilukan akan menjadi sia-sia belaka. Anda akan sepenuhnya terhilang dan dibuang dari hadapan Allah, tidak sedikit pun Ia memperdulikan keselamatan anda. Tidak ada tempat yang pantas bagi anda, di mana Tuhan dapat memakai anda kecuali untuk menderita sengsara. Anda akan terus menerus dalam keadaan demikian tanpa akhir karena Anda akan menjadi sebuah bejana murka Allah yang pantas dihancurkan dan tidak ada kegunaan lain bagi bejana ini selain diisi penuh dengan murka Allah. Tuhan tidak akan memberikan belas kasihan kepada anda saat anda menangis kepada Dia. Dia hanya akan tertawa dan mengolok-olok.”

Apakah saudara mengerti hal ini? Satu hal yang menjadi isi hati saya terdalam adalah saya menginginkan kita semua mengenal pribadi Allah yang sejati. Banyak sekali pengajaran yang sudah kita dengar tetapi pengajaran itu adalah pengajaran yang bukan menjelaskan berkenaan dengan Allah yang sejati. Pengajaran yang menyatakan Allah yang memberikan kelancaran dan Allah yang mengasihi aku dan menerima aku apa adanya. Jawabnya adalah tidak! Allah tidak pernah menerima kita apa adanya di dalam state of sin. Kita tidak mungkin bisa diterima oleh Allah di dalam perdamaian jikalau kita tetap di dalam dosa. Allah itu sungguh-sungguh marah, Allah sungguh-sungguh marah kepada orang fasik, orang-orang fasik Alkitab mengatakan tidak akan tahan di dalam penghakiman-Nya. Saudara-saudara kita harus mengerti, kita harus sadar. Bayangkan penghakiman Allah yang paling kejam, bayangkan penghakiman Allah yang paling menakutkan, saya berikan jaminan kepadamu jikalau engkau masuk ke dalam penghakiman itu, penghakiman itu jauh lebih kejam daripada apa yang engkau bisa pikirkan, maka bertobatlah sekarang, jangan bermain-main dengan agama, jangan engkau pikir boleh pergi hari minggu dan kemudian mendengarkan Firman dan kembali dan melupakannya. Ambil serius Firman ini, Allah di surga mengolok-olok mereka dan manusia yang berdosa dengan dosa yang kecil akan makin lama makin ultimate, yang akan melawan Allah. Jangan menyembunyikan dosa, jangan bermain-main dengan agama, kita tidak bisa bermain-main lagi dengan Tuhan. Saudara tidak lagi bisa pakai topeng beragama dan saudara-saudara berpikir bahwa kita lebih baik daripada orang lain dan kemudian kita boleh menghakimi orang lain. Atau saudara memakai kata kasih sebenarnya saudara mentolerir sesuatu hal yang akarnya adalah dosa. Kita harus bertobat! Kita harus sungguh-sungguh serius kepada Tuhan. Kita bukan cuma hanya menempelkan agama Kristen dalam hidup kita. Kita sungguh-sungguh harus di dalam Yesus Kristus. Dan kemudian Allah Bapa di surga berbicara, “Aku akan melantik rajaku di gunung Sion.” Saudara-saudara, sekarang kita akan masuk bagian yang ketiga.

(3) Ayat 7-9. Ayat-ayat ini berbicara mengenai satu Pribadi yang diunggulkan. Allah Bapa sendiri berbicara tentang satu Pribadi yaitu Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan di dalam bagian ini maka ayat ke-7 mengatakan, “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Ku-peranakkan pada hari ini!” Apa artinya? Itu adalah Aku peranakkan di dalam kekekalan. Apakah Allah itu beranak? Jawabannya adalah tidak! Kata “Aku peranakkan Engkau pada hari ini” bicara berkenaan bahwa Yesus Kristus bukan dicipta. Anak itu adalah satu figur yang menyatakan sifat-Nya, esensi-Nya sama dengan Bapa. Itu bicara berkenaan dengan Kristus yang kekal di dalam kekekalan, Kristus itu bukan ciptaan. Kristus itu adalah satu Pribadi yang memiliki sifat yang sama dengan Bapa-Nya. Kalimat ini menyatakan Pribadi Kristus yang tidak tertandingi dibandingkan siapapun saja. Yesus Kristus lebih tinggi daripada seluruh malaikat, Musa, Harun, Yosua, dan seluruh pendiri agama. Dan prinsip ini ada di dalam Ibrani 1:5.

Saudara-saudara, di dalam ayat ke-7, saya tadi sudah katakan berbicara tentang Kristus yang tidak tertandingi tetapi di dalam ayat ke-8 ini berbicara mengenai Kristus yang adalah Raja melalui penebusan. Bagaimana mungkin Yesus Kristus akan mendapatkan bangsa-bangsa? Bagaimana mungkin seluruh ujung bumi manusianya menjadi kepunyaan Yesus Kristus? Kalimat-kalimat ini berbicara mengenai Yesus menjadi Raja. Tetapi bagaimana Yesus Kristus itu menjadi Raja? Jawabannya adalah melalui penebusan. Kalau saudara-saudara melihat di dalam kitab nabi, ada satu kalimat yang kemudian nanti akan terjadi dalam kitab Wahyu dan kalimat itu adalah Christ is the desired of all nations. Bangsa-bangsa akan berduyun-duyun kepada Dia. Bangsa-bangsa akan membawa persembahan yang terbaik kepada Dia dan kalimat ini kemudian terjadi pada waktu akhir jaman. Dan di dalam kitab Wahyu dikatakan bahwa bangsa-bangsa akan datang kepada Dia membawa persembahan. Tetapi ada sesuatu yang unik di dalam kitab Wahyu, bahwa mereka akan membawa persembahan kepada Anak Domba. Mari kita melihat Wahyu 21:23-24, 26. Yesus akan memiliki hati seluruh bangsa. Kalau kita adalah orang-orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan, maka kita adalah orang-orang yang bisa melihat kemuliaan dan keindahan Kristus. Dan ketika kemuliaan dan keindahan itu kita lihat, hati kita menjadi milik-Nya dan jikalau hati kita menjadi milik-Nya, seluruh property di dalam hidup kita menjadi milik-Nya. Kadang kalau kita seringkali mengeluh, atau tidak rela untuk memberikan, maka saya tahu masalahnya. Masalahnya bukan karena hitung-hitungan uang yang masuk dan yang keluar, tetapi masalahnya adalah kita kurang melihat kemuliaan Kristus lebih dari segalanya. Kita tidak melihat kemuliaan Kristus. Kita tidak bertumbuh melihat kemuliaan Kristus. Alkitab mengatakan, “Christ is the desired of all nations”. Jikalau itu bukan menjadi desire kita, jikalau wahyu itu bukan menjadi hidup kita, jikalau kita tidak rela untuk memberikan seluruh property kita kepada Dia, maka ada sesuatu yang salah. Bukan orang lain, bukan gereja, bukan Kristus, tetapi diri! Diri tidak lagi melihat kemuliaan Kristus. Orang yang melihat kemuliaan Kristus, dia akan memberikan apa pun saja kepada Kristus melalui seluruh konteks kehidupan. Dia tidak akan melihat manusia, dia tidak akan melihat musuh bahkan, dia tidak melihat organisasi, Dia melampaui itu semua.

Perhatikan, ayat 7 bicara mengenai Kristus yang tidak tertandingi, ayat 8 bicara mengenai Kristus yang menebus, ayat 9 bicara mengenai Kristus yang menang. Saudara-saudara, ayat ini dikutip di dalam Wahyu 2:27. Ayat ini bicara berkenaan dengan kemenangan Kristus di akhir zaman. Ini adalah ayat-ayat inti dari seluruh Mazmur ini. Itulah sebabnya Mazmur pasal 2 disebut sebagai Messianic Psalm. Karena Mazmur pasal 2 secara khusus berbicara mengenai Pribadi Yesus Kristus yang akan datang itu. Meskipun Mazmur pasal 2 dinyanyikan waktu pentahtaan Daud, tetapi sebenarnya Mazmur pasal 2 mau menyatakan ada satu pentahtaan yang jauh lebih tinggi daripada Daud, yaitu Pentahtaan Kristus. Dia adalah satu-satunya Pribadi yang tak terandingi. Dia adalah satu-satunya Pribadi yang menebus. Dia adalah satu-satunya Pribadi yang menang. Dan ketiga hal itu adalah karena Kristus ditahtakan menjadi Raja.

(4) Ayat 10-12. Bagian ini bicara berkenaan dengan Roh Kudus. Ada keindahan di dalam seluruh Mazmur ini. Pertama narator melihat seluruh bangsa yang maju bergerak untuk melawan Allah. Kemudian narator melihat Allah Bapa di surga dan bagaimana Dia mengolok-olok mereka. Kemudian Allah Bapa di surga menetapkan Kristus Yesus, dan seluruh mata sekarang menuju kepada Kristus Yesus. Dia tidak tertandingi. Dia yang menebus. Dia yang menang. Dia adalah Raja. Dan sekarang seluruh bangsa harus berhadapan dengan Kristus dan Bapa di surga. Apa yang menjadi keinginan dari bangsa-bangsa, itu diwujudkan oleh Bapa di surga. Engkau mau melawan Aku? Baik, Aku akan tertawa kepadamu. Aku akan mengurapi Raja. Engkau melawan dan mengolok-olok Dia, Aku melawan dan mengolok-olok engkau. Ini adalah peperangan terbuka. Dan saudara-saudara lihat bagaimana kemarahan dari seluruh bangsa. Mazmur pasal 2 dimulai dari seluruh bangsa, Allah membiarkan kita untuk berbicara, Allah membiarkan orang-orang itu jahat berlaku semau-maunya, sampai pada waktunya, Allah-lah yang akan berbicara pada akhir. Engkau mau berbicara untuk melawan Allah? Engkau mungkin tidak berani berbicara melawan Allah, tetapi kita tidak mau menaati Firman-Nya. Saya katakan kepadamu, kalimat terakhir dari seluruh bumi ini bukan di tangan manusia, itu adalah kalimatnya Allah. Kalimat terakhir bukan sesuka-sukanya kita, tetapi Allah yang akan berbicara pada akhirnya. Tetapi ada sesuatu paradoks yang besar di sini. Setelah semua bangsa itu berbicara dan Allah itu mengolok-olok dan Kristus itu ditahtakan, ayat yang 10-12, saudara bisa mendengarkan suara dari Holy Spirit yang gentle. Bukan suatu penghakiman, tetapi suatu penghiburan. Bukan suatu final, tetapi sesuatu dorongan. Allah di dalam kelembutannya sekali lagi berbicara, Roh Kudus berbicara dengan kalimat-kalimat yang mendorong kita untuk mendekat kepada Allah dan bertobat. Tetapi kita jangan pernah merendahkan kalimat itu. Karena di dalam kalimat itu dikatakan, dengan gentle, dengan lembut, Roh Kudus mengatakan supaya jangan Allah itu murka dan kamu binasa di jalan. Mudah sekali murkanya itu menyala. Bertindaklah bijaksana, hai bangsa-bangsa. Bertindaklah untuk menerima pengajaran, hai para hakim dunia. Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut. Ciumlah kaki-Nya dengan gemetar. Oh, ini paradoks di dalam paradoks. Suara Roh Kudus yang gentle dibandingkan dengan suara Allah Bapa yang murka, berarti masih ada kesempatan, ada kesempatan sama seperti Jonathan Edwards tadi mengatakan, “Ketika masa kasih karunia itu diberikan kepada saudara dan saya, masih ada kesempatan untuk meratap, sekarang merataplah.” Sekarang bertobatlah, take it seriously hidup di hadapan Allah. Tanggalkan seluruh kemunafikan itu. Jangan engkau meninggalkan kasih karunia Allah, sehingga ada akar pahit di dalam hatimu. Jangan engkau seperti Esau. Dia menjual hak kesulungannya dan kemudian setelah itu, dia menginginkannya kembali, dia tidak pernah bisa mendapatkannya. Banyak orang Kristen meninggalkan sarana anugerah dari Allah, dan karena dia meninggalkan sarana anugerah itu, dia menghidupi kepahitan itu. Dan Alkitab mengatakan, itu adalah seperti Esau. Engkau menjual hak kesulunganmu, menjual Firman yang sampai kepada kita dengan begitu jelas dengan lust, sesuatu yang aku inginkan. Alkitab mengatakan, persis seperti Esau. Tetapi hari ini, Mazmur pasal 2 mengatakan, “Bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, beribadahlah kepada TUHAN dengan takut, dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan.”

Di dalam ayat-ayat ini, saya mau menyoroti ayat yang ke-11. Di dalam bahasa aslinya adalah serve the LORD with fear dan kedua adalah rejoice, love the LORD with trembling. Dan ini adalah berbicara tentang orang yang ditebus. Saudara-saudara, perhatikan baik-baik. Jikalau kita tidak mengenal Allah, jikalau kita tidak mengerti seberapa dalamnya dosa, saudara akan pergi ke gereja dan bersukacita di gereja, saudara-saudara akan merasa dikasihi dan mengasihi Tuhan, tetapi sebenarnya hanya kamuflase; dan kita akan merasa diterima oleh Allah apa adanya. Kita bahkan nanti pada sampai satu titik, kita bisa sesuka-sukanya untuk berhadapan dengan Allah. Karena saya adalah anak Tuhan, anak Raja, maka tidak akan ada fear and trembling. Tetapi kalau saudara tidak pernah mengenal Kristus dan di dalam hidup kita hanya ada fear and trembling, saudara akan terpaksa. Persis seperti orang-orang munafik itu, ahli Taurat dan orang Farisi mengikuti seluruh hukum Allah dengan fear and trembling, tetapi tidak ada love and rejoice. Dan ini adalah orang-orang Farisi, orang-orang Legalism. Orang-orang yang tidak mengenal Allah, hanya akan bisa masuk dalam dua hal ini, kalau dia tidak Legalism, dia akan menjadi Anti Nomianism. Anti-nomian, anti hukum. Oh, saya sudah diterima, sudah diselamatkan oleh Yesus. Allah itu baik, Allah itu Bapa saya. Saya tidak apa, boleh pergi ke gereja, boleh tidak. Tuhan itu mengasihi saya, Tuhan tahu kesulitan saya, Tuhan tahu pergumulan saya, Tuhan tahu saya tidak punya waktu. Baiklah, Tuhan itu begitu baik pada saya. Saya katakan kepada saudara-saudara, saudara tidak mengenal Allah! Engkau pasti masuk ke dalam penghakiman-Nya.

Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh mengenal Kristus Yesus, melihat kemuliaan-Nya, melihat kesuciaan-Nya, melihat murka-Nya, dan kemudian dia meratap karena dosanya, dan Kristus kemudian mengampuni kita di atas kayu salib. Visi Kalvari itu akan membentuk dalam hati kita, dua hal yang tidak bisa dibentuk oleh dunia, yang tidak bisa dibentuk oleh agama, rejoice and love, fear and trembling, bersama-sama di dalam hatiku. Sudah berapa lama saudara menjadi orang Kristen? Sudah berapa lama saudara mendengarkan kotbah? Saya menyatakan apa yang Alkitab nyatakan. Saya jujur kepada engkau, saya sungguh-sungguh terbuka di hadapanmu. Bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya! Kiranya Tuhan boleh dipermuliakan. Mari kita berdoa!


Matius 6:9-13
 
 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

14 October 2018
Doa Bapa Kami (6)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Matius 6:9-13

Matius 6:9-13

Saudara-saudara kita sudah berbicara berkenaan dengan doa, suatu hari murid Yesus berkata kepada Yesus Kristus, Tuhan ajar aku untuk berdoa dan Yesus Kristus mengajarkan doa Bapa kami. Perhatikan baik-baik, ada doa-doa yang pasti tidak dikabulkan, tetapi ada doa yang pasti dikabulkan. Apakah saudara mau untuk doa saudara selalu dikabulkan? J.I. Packer menyatakan doa itu dikabulkan oleh Tuhan jika dan hanya jika memiliki prinsip, sikap, pengertian seperti doa Bapa kami. Doa Bapa kami adalah sebuah pola untuk semua doa orang Kristen yang sudah ditebus. Intinya, setiap doa kita haruslah sebuah Doa Bapa kami di dalam segala model, bentuk dan kalimatnya. Saya tidak mengatakan bahwa saudara-saudara berdoa dengan terus menerus seperti doa Bapa kami seperti mantera. Saya tidak mengatakan saudara mesti mengalimatkan kalimat-kalimat yang sama seperti doa Bapa kami baru itu didengar oleh Tuhan, bukan itu maksudnya, bukan itu maksud dari J.I.Packer, bukan itu juga maksud dari Yesus Kristus. Tetapi di dalam doa Bapa kami, Yesus memberikan suatu patron dan seluruh hati kita harus di-set seturut dengan patron tersebut. Perhatikanlah patron tersebut ada fokus, ada yang utama dan yang belakang, di dalam patron tersebut ada motivasi. Bentuk hati saudara, didik hati kita dengan patron tersebut dan hiduplah di dalam patron tersebut. Saya sekarang akan masuk di dalam patronnya. Kalau saudara-saudara melihat di dalam Doa Bapa kami, saudara-saudara akan bisa membaginya di dalam empat bagian yang besar.

Patron pertama adalah Bapa kami yang di Surga, ini adalah alamat doa. Sama seperti saudara-saudara menuliskan surat kemudian menuliskan alamat surat, sesederhana itu. Kalo alamat surat itu ternyata salah, saudara tulis saudara menuliskan apapun saja di dalam surat itu tidak berguna dan apa alamat surat itu? Apa fokus doa itu? Memiliki satu fokus saja dan fokus itu adalah pribadi Allah oknum pertama Tritunggal, ini adalah pribadi Bapa. Kita berdoa, Bapa kami di Surga ini adalah sesuatu hal yang penting, saudara-saudara tidak bisa berdoa kepada orang kepada pribadi-pribadi yang lain.

Saudara-saudara harus berdoa kepada Bapa tetapi saudara-saudara berdoa kepada Bapa itu bukan sekedar berbicara Bapa. Ini adalah berbicara berkenaan dengan satu pribadi yaitu Bapa, sebutan Allah oknum pertama, yang juga disebut oleh Yesus Kristus ketika Dia berdoa, Bapa. Ini adalah pribadi oknum pertama yang dikenal oleh pribadi Allah oknum kedua. Suatu hari dalam Yohanes 17 Yesus itu berdoa, Dia melihat ke langit sebentar lagi Dia akan masuk ke dalam Getsemani, dan kemudian Dia berkata Bapa, the time has come. Sebutan Bapa adalah sebutan personal dari Allah oknum kedua kepada Allah oknum pertama. Ini bukan sekedar asal bicara Bapa, ini adalah satu relasi khusus antara Allah oknum pertama dan Allah oknum kedua dan pertanyaannya adalah apakah kita mengenal Allah oknum pertama itu? Apakah kita memiliki relasi dengan Allah oknum pertama itu? Alkitab mengajarkan kepada kita relasi kita dengan Allah oknum pertama terjadi jika dan hanya jika Allah oknum kedua menebus hidup kita, jikalau kita boleh mengenal Allah oknum kedua, jikalau kita boleh menerima penebusan Yesus Kristus, Alkitab mengatakan itu adalah proses adopsi.

Suatu hari Yesus berbicara kepada Petrus menurut engkau siapakah Aku ini? Maka Petrus mengatakan You are the Messiah the Son of the living God. Yesus mengatakan berbahagialah engkau Petrus karena bukan dari padamu, pengertian ini bukan dari manusia tetapi dari Bapa-Ku di Surga. Tidak ada doa yang dijawab jikalau saudara di luar Yesus Kristus. Patron yang pertama adalah bicara ketika kita berdoa maka kita berfokus kepada Bapa di Surga dan di dalam kehidupan sehari-hari, fokus hidup kita haruslah Bapa di Surga. Kalau fokus hidup kita bukan hanya kepada Bapa, tetapi untuk diri, untuk orang yang disayangi, untuk keluarga, perhatikan baik-baik, itulah sebabnya doa kita tidak dikabulkan oleh Allah.

Doa dikabulkan jika dan hanya jika patron doa kita, patron hati kita, patron dari seluruh jiwa kita seturut dengan patron doa Bapa kami. Fokusnya harus kepada pribadi Allah Bapa. Ketika saya berbicara berkenaan dengan fokus kalau saudara melihat jarum kompas dia terus akan bergerak sampai ke tempat arah yang tepat yaitu arah utara baru jarum itu akan berhenti itu adalah fokusnya. Saya mau tanya kepada saudara-saudara, fokus hidup saudara-saudara tetapkan ada di mana? Itulah sebabnya kalau saudara-saudara melihat sejarah gereja, saudara akan melihat orang-orang yang pernah maju ke mimbar atau di dalam doanya sendiri dan dia berlutut dan dia berdoa kepada Bapa, berbicara kepada Dia dan mengatakan Tuhan ini adalah hidupku satu kali aku persembahkan kepada-Mu dan aku tidak akan menariknya kembali, gunakan semuanya seturut dengan kehendak-Mu, lihatlah kehidupannya, Allah itu hidup benar dalam orang tersebut. Tetapkan hatimu, fokuskan kepada Bapa di Surga bukan kepada kebahagiaan kita, bukan kepada kebahagiaan anak kita, bukan kebahagiaan kepada suami kita, istri kita. Kadang-kadang kita itu mengelabui diri kita sendiri, kita berdoa supaya suami kita itu boleh bertobat sebenarnya fokusnya bukan kepada Bapa, atau supaya suami bertobat untuk bisa menjadi lebih baik, melainkan supaya dia bisa bertobat dan berbuat lebih baik kepada saya. Maka seluruh doamu itu sebenarnya fokusnya adalah kepada dirimu. Apa fokus dari doa kita dan hidup kita?

Saudara sekarang masuk ke dalam patron yang kedua, di dalam kelompok yang kedua saudara-saudara melihat ada tiga permohonan dikuduskan nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Surga. Nama Tuhan yang suci, kerajaan Tuhan yang dihadirkan, kehendak Allah yang jadi. Ketika bicara dikuduskan nama-Mu, ini bukan berarti bahwa Allah itu tadinya tidak kudus menjadi kudus, Allah tetap kudus. Ketika bicara berkenaan dengan kudus, itu berbicara mengenai qualitative difference, mengenai degree dari kualifikasi Allah itu pada kelasnya tersendiri dan seluruh ilah yang lain ada di bawahnya dan semua ilah tidak bisa menandingi Yahweh dan seluruh ilah tidak bisa menandingi Allah Bapa. Tidak ada yang bisa menandingi Dia, ilah-ilah tidak, uang tidak, orang-orang yang kita kasihi tidak, diri kitapun tidak, ini artinya seluruh keinginanku adalah bahwa Engkaulah satu-satunya dan paling utama dan ini bukan slogan. Keinginanku adalah apapun saja di dalam diriku maupun di luar diriku, Engkau dikenal berbeda daripada yang lain, Engkau dikenal tidak sama dengan yang lain, nama-Mu dikuduskan dan bagaimana nama Allah itu dikuduskan? Nama Allah dikuduskan adalah jika dan hanya jika kerajaan-Nya dihadirkanyaitujika dan hanya jika kehendak-Nya jadi. Saudara perhatikan sekali lagi patronnya dan ini bukan saja patron dari doa saja, itu adalah patron dari hati kita, itu adalah patron dari keinginan kita, itu adalah patron dari ambisi kita. Saya mau tanya kepada saudara-saudara apakah engkau sudah menetapkan di dalam hatimu engkau menginginkan nama Allah lebih dari segala-galanya? Engkau berambisi bahwa kerajaan-Nya itu dihadirkan dan kehendak-Nya jadi di tengah-tengah hidup kita, apakah itu menjadi ambisi kita? Apakah itu menjadi sel yang terdalam di tiap DNA kita? Apakah itu menjadi kegairahan kita hidup? Apakah sungguh-sungguh Allah itu dipermuliakan? Dan kerajaan-Nya mengatur seluruh dunia ini? Dan kehendak-Nya jadi di dalam hidup kita, apakah sungguh-sungguh itu menjadi keinginan terdalam dari hati kita? Saudara perhatikan baik-baik, kalau men-set hati kita seperti itu, saya katakan sekali lagi apa yang dikatakan oleh J.I. Packer itu tepat adanya engkau akan lihat bahwa Allah itu nyata memenuhi seluruh permohonan kita.

Saya akan berikan contohnya di dalam beberapa bagian Alkitab, suatu hari ketika Musa sudah mengeluarkan bangsa Israel kemudian dia mau masuk ke dalam tanah perjanjian, tetapi di tengah-tengah sebelum dia masuk kemudian Allah itu marah dan Allah berbicara kepada Musa, Musa masuklah ke dalam tanah itu, tanah yang berlimpah susu dan madunya Aku sudah berjanji kepada Abraham, Ishak dan Yakub dan hari ini Aku akan memenuhkan janji-Ku kepadamu, kepada seluruh orang Israel engkau pergi masuk bersama dengan seluruh umat-Ku, tetapi Aku tidak akan menyertai engkau karena bangsa ini adalah bangsa yang tegar tengkuk, bangsa ini adalah bangsa yang terus melawan diri-Ku dan Aku tidak akan menyertai engkau tetapi malaikat-Ku akan Aku utus menyertai engkau dan kemudian Musa mengerti apa yang dikatakan oleh Tuhan. Bukankah pada waktu itu Musa bisa berdoa kepada Tuhan, oh Tuhan terima kasih aku bersyukur kepada-Mu, Engkau adalah Allah yang setia dan aku akan mentaati Engkau, aku akan masuk ke dalam tanah itu? Tetapi tidak bagi Musa, Musa mengucapkan dua kalimat yang ketika saya membacanya setiap kali hati saya remuk. Dia mengatakan jikalau Engkau tidak memimpin kami jangan biarkan aku melangkah satu langkahpun dari tempat ini, jikalau Engkau tidak memimpin aku jangan biarkan aku melangkah satu langkah dari tempat ini. Aku tidak perduli dengan kemakmuran, aku tidak perduli dengan umur panjang, aku tidak perduli dengan kemenangan, aku tidak perduli dengan susu dan madu, aku tidak perduli dengan ketenaran Tuhan. Mataku hanya satu, fokusku hanya satu yaitu Engkau sendiri Bapa kami di Surga. Tetapi bukan itu saja diucapkan kalimat yang kedua, show me Thy glory nyatakan kemuliaan-Mu kepadaku dan apa inti kemuliaan Allah? Kesucian. Tuhan mengatakan kepada Musa, engkau mau tahu kemuliaan-Ku? Tidak ada orang yang bisa berdiri tetap hidup ketika melihat kemuliaan-Ku. Tetapi Aku memberikan kasih karunia kepadamu, engkau bersembunyi di dalam lekukan gunung itu dan Aku akan berjalan tepat di depan matamu dan engkau akan melihat kemuliaan-Ku lewat. Tetapi Musa, engkau tidak akan melihat seluruh kemuliaan-Ku, engkau hanya melihat belakang-Ku, punggung-Ku, Musa tidak pernah melihat kemuliaan Allah, Musa hanya melihat berkas kemuliaan Allah lewat, kemudian Dia lewat dan Musa kemudian tersungkur. Apa yang diminta oleh Musa di dalam dua permohonan ini? Aku tidak mau yang lain, aku mau Engkau menyertai. Kalau Engkau berhenti di sini saya akan berhenti. Kalau Engkau suruh aku masuk dan begitu banyak mujizat tetapi Engkau tidak menyertai, saya lebih baik di sini. Saya tidak akan masuk, itu adalah janji-Mu kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Aku menghormatinya Tuhan, tetapi itu bukan bagianku. Apa yang menjadi bagianku, my portion adalah Engkau sendiri. Aku menginginkan Engkau lebih dari seluruh berkat-Mu. Dan apa yang menjadi permintaan kedua? Dikuduskanlah Nama-Mu Tuhan. Dikuduskanlah Nama-Mu.

Sekarang adalah Nehemia. Saat itu seluruh Israel berada di dalam kesulitan yang besar. Seluruh tembok Yerusalem sudah menjadi puing. Dan Nehemia pada waktu di dalam istana raja Artahsasta, seorang Media Persia. Suatu hari saudaranya datang dan memberitahu kepada Nehemia bahwa tembok Yerusalem sudah hancur dan orang-orang Israel berada dalam malu yang besar. Setelah Nehemia itu mendengarkan kalimat-kalimatnya, maka Alkitab mengatakan dia berlutut dan menangis siang dan malam meminta satu hal: Allah bekerja sekali lagi memulihkan tembok Yerusalem. Dia berdoa berpuasa kurang lebih empat bulan. Dan Alkitab mengatakan bahwa dia menguatkan hatinya untuk berbicara kepada raja. Ada kemungkinan sekali raja menjadi tidak suka dan kemudian memenggal kepalanya. Tetapi dia tidak peduli untuk hal itu karena seluruh hatinya menginginkan satu, fokus kepada satu: Yahweh, Allah di surga, Bapa kami yang di surga. Tidak ada sesuatu yang dia pedulikan, bukan keluarganya, bukan orang-orang yang dikasihinya, bukan orang-orang yang menjadi kenalannya, bahkan bukan dirinya sendiri. Satu tujuan hidupnya, fokusnya adalah Bapa di surga, bukan raja Artahsasta. Yang ditakuti olehnya ialah Bapa di surga dan bukan raja Media Persia. Maka dari itu dia berani untuk menghadap raja Artahsasta. Dia mengatakan Israel semuanya sudah berada di dalam reruntuhan, berikan aku ijin untuk membangun tembok Yerusalem. Di dalam anugerah Tuhan maka Nehemia diberikan ijin. Pertanyaannya adalah apa arti teologis dari tembok itu berdiri? Kenapa? Kenapa harus dengan nyawa mempertaruhkan tembok Yerusalem? Di dalam Perjanjian Lama ada satu pengertian seperti ini, jikalau bangsa melawan bangsa yang lain dan bangsa tertentu bisa mengalahkan bangsa ini maka itu artinya Allah bangsa ini menaklukkan Allah bangsa yang ini. Itu artinya Yahweh dikalahkan. Itu artinya Allah Israel itu dibuat malu. Dalam hati Nehemia ada api. Di dalam setiap selnya itu seluruhnya bangkit. Tidak bisa seperti ini, tidak bisa seperti ini. Bapa kami yang di surga, Engkau harus dikuduskan. Engkau harus dikuduskan sampai seluruh dunia dari Israel sampai Moab, sampai Sidon, sampai Babel, sampai Media Persia, seluruh dunia harus tahu Bapa kami di surga dikuduskanlah Nama-Mu. Itu adalah ambisi dari Nehemia. Saudara mengerti patron ini? Maka di dalam hatimu memiliki patron ini.

Saudara lihat dalam Perjanjian Baru, Maria. Bukan seorang yang hebat, hanya seorang budak perempuan kecil. Hanya seorang yang masih muda. Hanya umur mungkin 12 atau 13 tahun. Dan suatu hari ketika dia berdoa, Allah mengirimkan malaikat-Nya. Dan malaikat itu menyatakan kepada Maria engkau akan mengandung. Bagaimana aku bisa mengandung? Aku tidak punya suami bagaimana mengandung? Maka Roh Kudus yang akan menaungi engkau. Oh Maria tidak mengerti apa yang dikatakan oleh malaikat. Bahkan kata Holy Spirit pun itu sesuatu yang jarang pada waktu itu. Tetapi Maria tahu ini adalah kehendak Allah, dan tanpa banyak bicara dia mengucapkan satu kalimat yang menyatakan keindahan jiwanya: “Aku ini hamba Tuhan dan jadilah pada-Mu menurut apa yang Engkau kehendaki.” Kerajaan Allah datanglah, kehendak-Mu jadilah di dalam diriku di dunia ini seperti di surga.

Apakah saudara mengerti bahwa semua orang sucinya Allah mendoakan patron Doa Bapa Kami? Dan hidupnya seluruhnya berada di dalam jalur patron Doa Bapa Kami. Dan yang paling utama adalah Yesus sendiri. Dia bukan hanya sekedar mengajar, Dia menghidupinya. Seluruh kehidupan-Nya hanya untuk satu, yaitu Pribadi Allah Bapa. Suatu hari Dia berkata kepada semua murid-murid-Nya: Aku memiliki makanan yang engkau tidak ketahui. Dan apa makanan-Mu, hai Tuhan Yesus? Jawabannya yaitu makanan-Ku adalah melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa-Ku. Seluruh fokus-Ku adalah hidup untuk kemuliaan Bapa. Dia tidak mempedulikan apapun saja. Hanya mempedulikan satu, yaitu Bapa di surga. Itu yang diperhitungkan dalam seluruh hidup-Nya. Suatu hari di taman Getsemani maka Dia menyatakan doa yang menjadi doa bagi seluruh orang-orang yang akan berdoa Bapa Kami. Bapa jikalau mungkin, jikalau mungkin biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku tetapi jikalau tidak, jikalau itu kehendak-Mu jadilah kehendak-Mu. Jadilah kehendak-Mu. Bapa kami di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu. Patron Doa Bapa Kami di taman Getsemani. Sekali lagi saudara-saudara, doa itu dijawab oleh Tuhan jika dan hanya jika seluruh hati kita patronnya adalah Doa Bapa Kami.

Dan sekarang saya akan masuk ke dalam patron yang ketiga. Patron ketiga adalah berbicara berkenaan berikan kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, ampunilah kesalahan kami dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. Saudara-saudara perhatikan tiga permohonan ini. Ini adalah permohonan yang bersifat menyeluruh di dalam kehidupan kita. Ini adalah seluruh kebutuhan kita. Dan ini bersifat horizontal. Dan ini bicara berkenaan di dunia ini, di dalam seluruh keinginan dan seluruh kebutuhanku. Perhatikan tiga permohonan terakhir ini, adalah permohonan setelah permohonan pertama. Seluruh permohonan ini untuk kebutuhan jiwa dan tubuh kita adalah untuk menunjang patron kedua di atas itu terjadi atas hidup kita. Kita meminta seluruh kebutuhan kita seluruhnya dengan bebas, dengan sukacita hanya untuk patron yang pertama dan yang kedua digenapi.

Perhatikan di dalam patron yang ketiga ini, maka ini bicara mengenai tiga hal, segala sesuatu yang kita perlukan masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Saudara perhatikan segala sesuatu untuk jiwa dan tubuh, masa lalu masa sekarang dan masa depan. Saudara-saudara bicara berkenaan dengan makanan hari ini, present. Ampuni kami akan kesalahan kami, itu sesuatu yang sudah masa lampau. Jangan masukkan kami ke dalam pencobaan itu adalah bicara mengenai dengan masa depan. Dan ini bicara mengenai tiga hal ini: pemeliharaan, pengampunan, perlindungan. Sekali lagi: pemeliharaan, pengampunan, pengampunan. Apa lagi yang saudara dan saya cari? Setiap kali kita memerlukan makan, ada. Setiap kali kita menginginkan anak kita disekolahkan, ada. Saudara-saudara, pemeliharaan Tuhan. Apa lagi yang kita perlukan? Pengampunan. Banyak orang kaya hatinya tidak pernah bisa mengampuni dirinya sendiri atau tidak bisa mengampuni orang lain. Ada kepahitan di dalam dirinya atau dikejar dengan perasaan bersalah. Selalu ada konflik di dalam hidupnya. Dia sulit untuk mengampuni dan sulit untuk diampuni. Masa lalunya mengikat dia, masa lalunya tidak membuat dia bisa berkembang. Masa sekarang dan masa depan diikat dengan kesalahan masa lalu, pengampunan dan perlindungan. Masa depan, bukankah kita kuatir akan apa yang terjadi masa depan? Hidup manusia itu menjadi tidak stabil karena ada kekuatiran dan juga ketakutan. Dan apa yang kita cari? Hanya tiga itu untuk jiwa dan tubuh kita: pemeliharaan, pengampunan, dan perlindungan. Dan ini yang Tuhan berikan kepada kita asal kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya ini akan diberikan kepada kita. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepadamu. Pemazmur mengatakan aku sudah berjalan berpuluh-puluh tahun dan aku mendapati bahwa Allah itu pasti setia adanya. Dia bisa dipercaya oleh hidupku. Saudara-saudara lihat hamba-hamba Tuhan yang Tuhan pakai, dia menyerahkan hatinya untuk Bapa di surga saja. Memang kehidupannya sulit, dan banyak sekali orang yang mungkin salah paham dan menyerang hidupnya. Tetapi lihat bagaimana pemeliharaan Tuhan itu cukup untuk dia, begitu nyata dalam hidup dia. Dan dia menjadi orang yang berbuah dan orang bernilai di dalam hidupnya di tengah-tengah dunia. Mereka tidak memiliki siapa-siapa kecuali perlindungan mereka adalah Allah sebagai benteng yang teguh. Dan sungguh-sungguh itu real. Camkan hidup kita. Tetapkan di dalam hatimu, fokuskan hidup hanya satu kepada Bapa di surga. Dan milikilah hati, minta kepada Allah Bapa di surga api dan visi, aku hanya ingin nama-Mu dipermuliakan, dikuduskan. Engkau pada kelas-Mu tersendiri, Engkau tidak tertandingi di tengah-tengah dunia ini. Bapa kami di surga dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu jadilah kehendak-Mu. Saudara-saudara, seluruh kebutuhan tubuh dan jiwa masa ini, masa depan dan masa lalu Tuhan akan sediakan.

Patron yang keempat, terakhir: karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Dan ketika seluruhnya sudah terjadi, patron pertama, kedua dan ketiga sudah terjadi, maka apa yang ada dalam hati kita? Siapakah yang berjasa? Aku atau Allah? Siapakah yang mendapatkan kemuliaan? Aku atau Allah? Ketika gereja ini ada dan gereja ini menetapkan hanya untuk kemuliaan Allah Triitunggal dan Tuhan itu kemudian memberikan mujizat demi mujizat. Baik itu mujizat secara spiritual maupun mujizat secara physical. Pertanyaannya adalah apakah saya yang menjadi utama atau Allah yang dipermuliakan? Apakah manusia yang membuat seluruh hidupnya itu menjadi berhasil? Apakah doanya? Apakah kesalehannya? Apakah dedikasinya? Apakah seluruh pengorbanannya menjadikan seluruh hidupku itu diberkati? Jawabannya adalah tidak. Bukan aku, tetapi Dia Allah. Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, bagi Dia kemuliaan hanya untuk Dia selama-lamanya. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Seluruh kemuliaan itu adalah bagi Allah. Kalau hidupku itu diberkati, kalau hidupku itu dipakai, kalau aku bisa menentukan hal-hal yang tepat di dalam kerohanianku, kalau semua orang mengerti bahwa Allah menyertai adalah bukan karena aku. Alkitab menyatakan bukan karena engkau, Israel tetapi Aku menyatakan kepadamu, Aku memulihkan engkau, Aku membela engkau karena Aku meninggikan nama-Ku. Hanya untuk Aku, nama-Ku Yahweh. Bahwa seluruh berkat itu ada setelah seluruh hidup kita dipandang oleh dunia, khususnya oleh Allah itu benar adanya. Pertanyaannya, mengapa aku benar? Mengapa aku bisa menentukan hatiku hanya untuk Engkau? Adalah bukan karena aku, Tuhan. Itu adalah pekerjaan-Mu di dalam hidupku. Engkaulah Tuhan yang memiliki Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Seluruh hidup yang kita jalani, seluruh keputusan yang tepat di dalam hidup kita, jikalau kita boleh hidup diberi anugerah untuk menghadirkan kemuliaan bagi Bapa di surga, kalau hidup kita dikenal oleh orang lain hidup yang disertai oleh Bapa di surga, maka semua itu harus kembali kepada kemuliaan Allah saja. Kita tidak mengambil satu kemuliaan untuk diri kita sendiri. Kita mau untuk seluruhnya hanya untuk kemuliaan Allah saja. Dan jikalau kita menetapkan di dalam hati kita patron ini saudara akan mengerti hidup yang diberkati oleh Tuhan. Sungguh. Bukan saya mengatakannya, Yesus Kristus. Tuhan ajar aku berdoa. Yesus tidak mungkin mengajar seseorang berdoa suatu doa yang sia-sia atau tidak dijawab. Apakah itu menjadi satu kompas dalam hati kita? Apakah patron ini ada di dalam set hati kita? Kiranya Tuhan menciptakannya di dalam hati kita semua tidak ada yang terkecuali pada malam hari ini. Kiranya kita boleh melihat kemuliaan-Nya. Dan setelah seluruhnya terjadi biarlah Dia dipermuliakan. Mari kita berdoa.


Mazmur 1
 
 

Mazmur 2
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

7 October 2018
Mazmur 1
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Mazmur 1

Mazmur 1

Mazmur 1 adalah pembuka bagi keseluruhan Mazmur yang lain. Mazmur 1 berbicara mengenai inti untuk membaca Mazmur yang lain. James Montgomery Boice menyatakan Mazmur 1 adalah the father of all wisdom of Psalms. St Jerome menyatakan Mazmur 1 adalah the preface of the Holy Spirit. The great baptist preacher, Charles Spurgeon menyatakan Mazmur 1 adalah pengantar seluruh Mazmur yang mana mazmur-mazmur selanjutnya dibangun di atas dasar Mazmur 1 ini. Apa yang menyebabkan Mazmur 1 itu menjadi pintu gerbang untuk membaca seluruh Mazmur? Karena di dalam Mazmur 1 ini Allah menyatakan dengan begitu jelas, Dia melihat manusia hanya di dalam dua kategori. Dan dua kategori ini akan dapat dilihat di dalam setiap Mazmur yang lain. Allah melihat dua kategori yaitu orang benar dan satu lagi adalah orang fasik, godly and ungodly. Keduanya itu berbeda kesukaannya, berbeda jalannya, berbeda gaya hidupnya, dan akhirnya akan berbeda pula. Kedua-duanya memiliki karakter yang berbeda sama sekali. Mazmur 1 menyatakan bagaimana orang benar itu memiliki karakter. Matthew Henry menyatakan Tuhan mengetahui nama orang-orang yang dipilih-Nya, tetapi kita mengetahui dari karakternya. Kita tidak bisa dengan tepat mengetahui siapa orang yang dilahirbarukan atau tidak, tetapi dari keinginannya, dari karakternya, kita dapat menduganya. Dan di dalam Mazmur 1, orang benar memiliki dua karakter yang penting sekali. Ini adalah sesuatu yang sangat sederhana tetapi ini adalah sesuatu yang pasti untuk melihat segala sesuatu.

(1) Karakter yang pertama adalah orang benar akan menjauhi kejahatan. Di dalam Mazmur 1:1 dikatakan, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut jalan orang fasik.” Di dalam bahasa aslinya, berbahagia ini bersifat plural. Artinya kebahagiaan di dalam segala aspek. Kebahagiaan yang sifatnya menyeluruh dan berlipat ganda. Di dalam ayat 1-2, terlihat bagaimana orang benar itu dibedakan dengan orang fasik. Orang fasik memiliki tiga hal ini: berjalan menurut nasihat orang fasik, dia berdiri di jalan orang berdosa, dan dia duduk di dalam kumpulan pencemooh. Ketika Alkitab menyatakan tiga hal ini: berjalan, berdiri, duduk; maka ini adalah bicara berkenaan dengan suatu progesifitas yang makin meningkat. Pertama adalah berjalan menurut nasihat orang fasik. Maka orang ini sebenarnya sedang berjalan dengan nasihat orang fasik, dan nasihat itu menjadi prinsip tindakannya. Tetapi bukan itu saja, yang kedua dia berdiri di jalan orang yang berdosa. Orang ini menjadi satu society dengan orang fasik. Menjadi satu dengan budaya-budayanya, dengan lifestyle-nya, dengan pilihan-pilihan terbuka dalam hidupnya. Misalnya, kalau saudara-saudara di Australia, ada dua parties, Labor party atau Liberal party, mana pilihanmu? Tetapi bukan itu saja, maka Alkitab mengatakan dia akan duduk di tengah-tengah seluruh pencemooh. Artinya menjadi sama seperti mereka, pencemooh. Yang pertama dia berjalan adalah practical, ketika dia berdiri itu adalah habitual, tetapi ini adalah sesuatu yang sifatnya dia sudah menjadi teacher, menjadi guru. Dia menjadi pembuat-pembuat keputusan yang evil, merancangkan hal-hal yang jahat. Dia bukan ikut-ikut lagi, tetapi dia mencurahkan seluruh pikiran dan hatinya menjadi sama dengan orang yang jahat itu. Ada sesuatu progresifitas di sini. Yang pertama itu adalah sesuatu yang sifatnya hanya practical. Yang kedua sudah bersifat cultivate, budaya. Dan yang ketiga adalah sudah menjadi permanent, sama. Spurgeon menyatakan when men are living in sin, they go from bad to worse.

Perhatikan baik-baik, saya sedang membicarakan sesuatu yang penting, konsep dalam Alkitab. Saudara lihatlah Alkitab, saudara pelajarilah dalam, maka saudara akan mengerti bahwa Alkitab tidak pernah mengajarkan dosa itu suatu tindakan. Dosa adalah suatu kuasa yang mengikat. Ketika saya mencuri, saya berbuat zinah, saya mengatakan sesuatu yang kurang ajar, saya membunuh, itu seluruhnya adalah tindakan-tindakan saja, tetapi intinya bukan di tindakan itu. Intinya adalah di dalam hati yang berdosa. Hati dikuasai oleh dosa maka seluruh tindakan saya adalah tindakan-tindakan yang berdosa. Apa yang saya pikirkan itu berdosa karena hati saya berdosa. Karena hati saya berdosa, maka tangan saya akan bergerak menuju kepada tindakan dosa. Karena hati saya berdosa, maka mulut saya akan mengeluarkan apa yang ada di dalam hati saya yang berdosa. Karena hati saya berdosa, maka mata saya menginginkan sesuatu yang saya inginkan dalam hati saya yang berdosa. Alkitab menyatakan ketika kita berdosa itu bukan tindakan-tindakan di luar, bukan panca indera kita, tetapi ketika bicara mengenai dosa, adalah kuasa yang mengikat di dalam hati, dan kuasa itu adalah kuasa yang bergerak dan kuasa itu adalah kuasa yang menggerakkan hidup kita. Dosa tidak pernah bisa berhenti. Dosa tidak pernah saudara bisa hentikan karena dosa kuasanya lebih besar daripada kuasa kita sebagai manusia. Dosa itu selalu menang. Jangan bermain-main dengan dosa! Dosa kalah dengan kuasa yang lebih tinggi, dan kuasa yang lebih tinggi adalah kuasa kebangkitan dari Kristus. Dosa juga tidak bisa dikalahkan dengan saudara dan saya beragama. Dan apa yang menjadi masalah utama dari seluruh umat manusia sampai membuat kehidupan manusia itu menderita, sorrow? Jawabannya adalah karena ada dosa. Tetapi jikalau dosa itu sesuatu yang masa lampau itu mudah. Tetapi dosa itu terus bergerak mengikuti kita dan makin lama makin expand. Dosa ketika bergerak di dalam hati makin tertanam. Dosa itu makin kita inginkan. Seseorang itu makin terpesona akan dosanya. Dan makin delight, makin bersuka dan menikmati dosa itu. Dan dosa itu bukan saja tertanam di dalam, dosa itu juga keluar dari inward menjadi outward. Dari motivasi, dari pikiran yang tidak terlihat menjadi tindakan keluar. Dan bukan itu saja, dosa itu bergerak pada seluruh aspek kehidupan. Saudara sembunyikan satu dosa dalam aspek kehidupanmu di sini, saudara akan menyadari saudara harus berdosa di aspek yang lain. Saya ambil contoh, ketika saudara-saudara menonton video porno, lalu kemudian seseorang datang dan kemudian ditutup. Mungkin itu adalah mama, papa, lalu kemudian mengatakan, “Kamu sedang melihat apa? Lihat yang tidak baik ya?” “Tidak, tadi sedang lihat untuk pelajaran.” Tadinya saudara dengan mata saudara berdosa, sekarang dengan mulut, saudara harus berdosa. Saudara tidak bisa untuk menyetop dosa dalam satu area, itu akan gradual ke tempat yang lain. Dan secara philosophical, secara pikiran maka dosa itu awalnya akan melemahkan pikiran kita. Pertamanya kita sadar ini berdosa, ada sesuatu hati nurani yang tidak bisa terima, ada satu kegentaran dalam hati, tetapi kemudian setelah beberapa lama kita melakukan dosa itu, maka pikiran kita mulai dilemahkan, dan akan terus menerus bergerak sampai kita akhirnya menyetujui dosa. Bukan itu saja, suatu hari kita akan bersaksi bahwa ini benar. Dari pertama tahu salah, lalu kemudian menyetujuinya, menerimanya, dan kemudian bersaksi bahwa ini benar. Alkitab mengatakan, itulah orang fasik, orang yang berjalan menurut nasehat orang fasik yang lain, orang yang berdiri di jalan orang berdosa, dan kemudian duduk di tengah-tengah seluruh pencemooh. Lihatlah progress dari orang-orang berdosa ini. Dan apakah saudara ada di tempat ini? Apakah saudara-saudara menikmati dosa? Saya mau mengatakan pada saudara-saudara, saudara tidak akan pernah bisa menyetop kuasanya. Kita akan dihabisi oleh dosa tersebut. Saudara-saudara tidak mungkin akan bisa kembali dan kemudian mengatakan stop, kecuali saudara berteriak kepada pencipta langit dan bumi yang memiliki kuasa itu, dan akan menunjukkan jalan hidup kita melalui Firman-Nya, baru kuasa dosa itu dihancurkan.

(2) Orang benar itu kesukaannya merenungkan Firman TUHAN siang dan malam. Mazmur 1 menyatakan, “Berbahagialah orang yang kesukaannya merenungkan Firman TUHAN siang dan malam.” Ketika Mazmur berbicara mengenai “yang kesukaannya adalah Taurat TUHAN”, itu artinya keseluruhan dari Firman TUHAN. Jikalau saudara-saudara melihat Mazmur 119 memakai begitu banyak macam kata untuk menggambarkan Firman ini. Kadang bicara mengenai Taurat TUHAN, ketetapan TUHAN, perintah TUHAN, hukum-hukum TUHAN, perjanjian-Nya, jalan-jalan TUHAN. Di dalam seluruh kitab Mazmur ada tiga pasal yang meninggikan mengenai Firman TUHAN: Mazmur 1, Mazmur 19, dan Mazmur 119. Di dalam bahasa Indonesia maka itu adalah TUHAN, dan itu adalah bicara berkenaan dengan YHWH, the God of Covenant. Ini bukan bicara berkenaan dengan Allah saja, bukan saja berkenaan dengan Elohim, tetapi ketika berbicara mengenai YHWH, Allah yang mengikatkan perjanjian dengan Israel, Allah yang mengikatkan perjanjian-Nya dengan gereja-Nya di dalam Yesus Kristus. Ini bukan saja bicara mengenai Allah sebagai being yang tertinggi, tetapi ini bicara berkenaan dengan pemazmur menyatakan nama Allah yang spesifik yaitu YHWH. Dan tidak ada satu manusiapun yang bisa mengenal nama Allah yang spesifik ini kecuali Allah menyatakan diri-Nya melalui wahyu khusus. Maka ini adalah berkenaan dengan orang-orang yang sudah dilahirbarukan. Kalau saudara-saudara belum lahir baru, maka kalimat-kalimat ini menjadi sesuatu impian. Kalau engkau belum dilahirbarukan, kalau engkau belum pernah mengenal YHWH di dalam Yesus Kristus maka engkau tidak akan menemukan kata delight itu di dalam hatimu. Engkau akan mengerti di dalam Mazmur 1 ini engkau bukan delight kepada Firman, tetapi engkau sedang berjalan menurut nasihat orang fasik, berdiri menjadi kumpulan orang berdosa dan duduk di antara seluruh pencemooh. Engkau menyadari bahwa kuasa dosa itu progresif di dalam seluruh aspek hidupmu. Maka pada pagi hari ini saya katakan kepadamu, bertobatlah, buka hatimu, dan terimalah Kristus, dan tahtakan Dia di dalam hatimu dan hidupmu. Maka seluruh kalimat ini menjadi kalimat-kalimat kita. Ada orang bertanya, apa artinya orang lahir baru? Maka sebenarnya lahir baru itu adalah mentahtakan (enthrone) Kristus di dalam hidup kita.

Calvin menyatakan orang yang berbahagia itu bukan sekedar orang yang lahir baru, tetapi orang lahir baru yang merenungkan Firman itu siang dan malam. Ketika Alkitab menyatakan kelahiran baru, di dalam relasinya dengan Taurat TUHAN, maka di dalam Yeremia 32 dikatakan Taurat itu tertanam kepada orang yang dilahirbarukan. Artinya ada pengubahan hati. Orang-orang yang dilahirkanbarukan akan berusaha untuk mematuhi Taurat Tuhan itu. Taurat Tuhan itu menjadi sesuatu yang kita inginkan. Meskipun itu tidak mudah, tetapi orang ini menyadari bahwa hidup yang hanya satu kali adalah hidup yang berusaha untuk menyukakan hati Allah yang menciptakan dan menebus dia. Calvin menyatakan orang-orang ini adalah orang-orang yang berpikir, “nothing more worthwhile than meditate and apply the Words of God.” Orang-orang seperti ini melihat bahwa hal yang paling layak di dalam hidup itu adalah Alkitab, Firman Tuhan. Firman itu menjadi berharga. Firman itu menjadi kesenangannya. Firman itu menjadi bagian dia meneliti dan mentaatinya. Filipi 3 menyatakan, segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalanku akan Kristus. His delight is in The Law of God. Bagaimana mungkin seseorang itu delight in The Law of God? Adalah jikalau saudara dan saya dilahirbarukan. Ada sesuatu yang baru yang tertanam dalam hati kita. Tetapi lebih jauh lagi, orang yang dilahirbarukan suka akan Firman Tuhan, keseluruhannya. Saya katakan sekali lagi, delight in The Law of God bukan bicara mengenai bagian-bagian dari Alkitab saja, tetapi berbicara tentang Firman Tuhan secara keseluruhan. Orang ini bukan saja menyukai janji-janji Tuhan, tetapi orang ini juga menyukai perintah-perintah Allah. Perhatikan baik-baik, orang fasik menyukai janji Tuhan, tetapi orang benar menyukai seluruh Firman-Nya. Orang benar menyukai seluruh perintah Allah. Ketika orang fasik mendengarkan ketetapan Allah, maka dia tidak menyukainya. Dia menyukai bagian-bagian Alkitab yang memberkati dia tetapi dia tidak suka akan teguran. Tetapi sebaliknya, orang benar ketika ditegur dengan Firman begitu keras, maka dia mau untuk bertobat.

Semakin kita bertumbuh, saudara akan menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang keras. Dia sungguh-sungguh mengasihi kita tetapi Dia akan keras kepada kita dan Dia tidak akan mau mundur. Dia akan menyatakan Firman-Nya dan Firman-Nya akan tetap untuk selama-lamanya. Suatu hari, Petrus bersama dengan murid-murid-Nya berada di dalam satu kebaktian besar yang dilakukan oleh Yesus, 5000 orang lebih ada di sana. Kemudian orang-orang itu mendengarkan Firman Yesus Kristus dan makin lama Yesus berbicara makin keras dan sulit untuk dimengerti. Ketika Yesus berbicara, satu per satu orang mulai keluar dari tempat itu. Kemudian, satu per satu keluar dan akhirnya kebaktian itu menjadi nol, tidak ada orang yang datang. Saudara bisa bayangkan, satu kebaktian, 5000 orang dan kemudian satu per satu itu keluar. Perhatikan baik-baik, ada sesuatu hal yang penting di sini. Perkataan Yesus bukan perkataan yang mudah. Ini adalah sesuatu yang sangat tajam di dalam hati mereka. Ketika mereka seluruhnya pergi, maka kemudian murid-murid Yesus datang kepada Dia. Seakan-akan murid-murid Yesus itu mau menghibur Yesus, “Oh Tuhan, jangan sedih, oh Tuhan, meskipun semua meninggalkan Engkau, saya tidak akan meninggalkan Engkau.” Tetapi sebelum mereka mengucapkan kalimat itu, sebelum mereka menghibur Yesus yang sudah kehilangan seluruh massa-Nya, maka kemudian Yesus menatap mereka dan mengatakan kepada mereka, “Apakah engkau tidak mau pergi juga?”

Saudara-saudara perhatikan, Firman Tuhan tidak pernah mundur dari hidup kita. Dia akan menantang kita sampai sedalam-dalamnya. Engkau dan saya harus tunduk di bawah otoritas Firman-Nya. Segala sesuatu akan musnah, akan hilang lenyap kecuali Firman Tuhan. Segala sesuatu akan dibuktikan pasti salah, kecuali Firman Tuhan akan tetap benar. Setiap kalimat di dalam Alkitab tidak akan berlalu. Langit dan bumi dan kita semua akan berlalu tetapi Firman-Nya akan tetap tinggal dalam dunia ini. Jikalau engkau dan saya mau untuk tidak berlalu, Alkitab mengatakan orang yang melakukan kehendak Allah akan tetap untuk selama-lamanya. Firman itu tidak pernah mundur. Firman Tuhan itu akan terus menatap kita dan menantang kita sampai kita takluk atau kita binasa. Kemudian Yesus bicara kepada Petrus, “Engkau tidak mau pergi juga?” Saudara perhatikan, Petrus adalah orang yang lahir baru. Petrus kemudian mengatakan, “Tuhan, Firman-Mu itu kehidupan, kepada siapa kami harus pergi?” Firman-Mu itu adalah kehidupan, kalimat-kalimat-Mu itu adalah kehidupan, kepada siapa kami harus pergi? Menyakitkan bagiku, tetapi ini kebenaran, ini kehidupanku. Sama seperti perempuan Siro-Fenesia datang kepada Kristus dan terus minta tolong dan Yesus kemudian terdiam. Perempuan ini tahu hidupnya ditentukan dengan kalimat Yesus. Kemudian kalimat pertama dari Yesus kepada dia adalah, “Tidak baik memberikan roti kepada anjing.” Saudara-saudara perhatikan perempuan ini, betapa hatinya hancur, anaknya sakit, sebentar lagi mati. Dia datang kepada Tuhan, minta tolong kepada Dia dan kemudian Tuhan mengatakan tidak baik memberikan roti kepada anjing. Perhatikan perempuan ini, apakah dia mundur? Apakah dia menantang Yesus? Apakah dia tersinggung kepada kalimat Yesus? Tidak semuanya. Dia mengatakan satu kalimat, “Engkau katakan itu benar, aku anjing. Tetapi anjing boleh dapat remah-remahnya kan, Tuhan?” Berapa banyak dari engkau yang mundur karena Firman itu datang kepadamu dan engkau tidak mau taat? Berapa banyak darimu tidak bisa lagi mendengar Firman-Nya yang keras? Saya katakan kepadamu, jikalau engkau belum pernah mendengarkan Firman yang keras, engkau belum pernah mengenal Kristus. Jikalau Firman-Nya itu lembut, saya tanya kepadamu, kenapa di atas kayu salib, seluruhnya meninggalkan Dia? Dia sungguh adalah kasih, tetapi Dia adalah kebenaran yang tidak pernah akan mundur dari kita.

Orang benar akan terus maju untuk mengikuti Firman-Nya. Orang benar menyukai keseluruhan Firman-Nya, janji-janji-Nya dan perintah-perintah-Nya. Tetapi orang fasik tidak. Orang fasik hanya mencari berkat-berkat-Nya. Orang fasik hanya mencari sesuatu yang menyukakan hatinya. Itulah sebabnya Mazmur 50 menyatakan, “Tetapi kepada orang fasik, ALLAH berfirman, ‘Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu padahal engkaulah yang membenci teguran dan mengesampingkan Firman-Ku?’” Alkitab mengatakan orang benar ini merenungkan keseluruhan Firman ini siang dan malam. Kata ‘meditate’, kata ‘merenungkan’ adalah menjadi satu kesatuan, yaitu keseriusan, kedalaman di dalam pemikiran, memikirkan Firman dan mengaplikasikan di dalam ketaatan. Sekali lagi, kata ‘meditate’ di dalam Alkitab ini, adalah sesuatu metonymy, yang sifatnya keseluruhan, bukan cuma study. Ini berbicara mengenai keseriusan seseorang, kedalaman untuk mengertinya, berpikir dalam untuk mengertinya dan kemudian bicara berkenaan dengan aplikasi atau ketaatan. Ketika bicara berkenaan dengan meditasi, ini adalah bicara mengenai keseluruhan diri dealing dengan keseluruhan Firman. Siang dan malam menyatakan kerajinan, terus menerus, continue merenungkan Taurat siang dan malam, bukan seperti orang-orang munafik pada umumnya yang hanya sambil lalu.

Alkitab menyatakan destiny yang sama sekali berbeda antara orang benar dan orang fasik. Orang yang benar seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, tetapi orang fasik seperti sekam. Pada waktu itu, orang-orang Israel itu memiliki sungai-sungai yang besar, kemudian kalau mereka mau menanam sesuatu di tempat ini, maka mereka membuat satu kanal atau aliran air yang kecil, dan dialirkan ke sini sebelum biji itu ditanam, lalu kemudian dialirkan lagi dan lagi ke sini sehingga aliran air itu terus pasti akan ada di sana, dikembalikan lagi ke sungainya dan biji itu kemudian ditanam di tepi aliran air. Ini menjamin bahwa biji tersebut tidak pernah akan mati. Ini menjamin bahwa hasilnya pasti berhasil dan tidak mengecewakan. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan akan berbuah pada musimnya. Alkitab menyatakan orang benar itu hidupnya akan berbobot, hidupnya ada kehormatan karena ketaatan. Hidupnya berguna dan memberi dampak. Perhatikan 3 kata ini bagi orang benar, (1) berbuah, (2) berguna dan (3) bernilai. Tetapi Alkitab menyatakan orang fasik itu adalah seperti sekam. Apakah saudara pernah mendapatkan kegunaan dari sekam? Bahkan saudara tidak memperhatikan dia ada atau tidak ada. Kalau ada pohon, saudara naik mobil dan saudara tidak memperhatikan, maka saudara yang akan celaka. Orang benar pasti akan diperhatikan oleh orang lain untuk ditaati. Ini adalah sesuatu hal yang benar. Tetapi sekam itu boleh ada, boleh tidak ada. Orang fasik itu sia-sia hidupnya, kosong hidupnya, tidak berharga hidupnya.

Perhatikan di dalam ayat yang keenam. Orang benar itu dikenal jalannya oleh TUHAN. Dari seluruh berkat yang tadi TUHAN berikan kepada orang benar, maka ini adalah berkat yang terbesar. Kata mengenal di dalam bahasa Ibrani adalah yada. Kata ini adalah kata yang sama dipakai di dalam berhubungan intim suami istri. Maka dikatakan bahwa orang yang merenungkan Firman Tuhan siang dan malam itu, Allah Bapa di Surga mengenal jalan orang ini. Allah di Surga mengenal kehidupan orang ini. Allah di Surga bergaul intim dengan orang ini. Merenungkan Firman Tuhan itu adalah bergaul intim dengan Tuhan. Apa yang sesungguhnya menjadi warisan bagi orang yang merenungkan Firman Tuhan siang dan malam adalah kehadiran pribadi Allah sendiri. Ini adalah suatu penggenapan Firman Tuhan kepada siapapun saja yang menaatinya. Hal yang paling nikmat di dunia ini, hal yang paling berbahagia di dunia ini, hal yang paling indah di dalam hidup ini adalah jikalau saudara dan saya menyadari di dalam hidup yang sementara ini, sadar bahwa Allah itu memperhatikan kita, sadar bahwa Allah itu memimpin di depan begitu jelas, sadar bahwa Dia itu mengasihi kita dengan kasih sayang-Nya setia untuk selama-lamanya. Saudara menyadari itu, mengalami itu di dalam suatu pengalaman, bukan sesuatu hanya pikiran saja bahwa Allah itu kasih. Bukan satu pikiran saja bahwa Allah itu satu pribadi. Tetapi adalah suatu pengalaman di dalam hidup dipeluk oleh Tuhan, dipimpin oleh Tuhan, dihibur oleh Tuhan. Pemazmur ini di tempat yang lain mengatakan my portion is You, LORD. Mengatakan bahwa bagianku itu adalah Engkau, TUHAN. Ini adalah sukacita yang tertinggi. Oh, saya akan mengatakan satu kalimat yang persis seperti D.L. Moody pernah mengatakan, dengan sesuatu direction yang lain, “Jikalau engkau sungguh-sungguh orang yang paling egois, memikirkan diri sendiri, memikirkan kebahagiaan dirimu sendiri, saya tantang engkau, baca Firman, selidiki Firman, maka engkau akan mengalami Allah yang hidup dalam hidup kita.” Taat kepada Firman, maka engkau akan mengalami kebahagiaan yang paling tinggi dalam hidupmu. Kalau engkau sungguh-sungguh mencintai dirimu sendiri, sungguh-sungguh ingin berbahagia, taat kepada Firman, selidiki Firman, taat kepada Firman dan engkau akan mengalami kebahagiaan yang paling tinggi di seluruh dunia dan kestabilan yang paling tidak tergoncangkan di seluruh dunia. Firman Tuhan mengatakan, orang yang mentaati Firman-Nya akan tetap untuk selama-lamanya. Itu adalah warisan yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang meneliti Firman-Nya siang dan malam.


Matius 6:8-9
 
 

Matius 6:9-13
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

7 October 2018
Doa Bapa Kami (5)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Matius 6:8-9

Matius 6:8-9

Suatu hari murid Yesus datang kepada Yesus dan berkata, “Ajar kami berdoa!” Dan kemudian Yesus mengatakan, “Jikalau engkau mau berdoa, berdoalah demikian, ‘Bapa kami yang di sorga.’” Tetapi sebelum Yesus mengatakan hal tersebut Yesus mengatakan janganlah kamu sama dengan mereka, sama seperti orang-orang kafir yang tidak mengenal Allah, yang berdoa dengan bertele-tele. Karena Bapamu di sorga mengetahui sebelum engkau memintanya. Tetapi kalimat Yesus ini bukankah sesuatu yang unik? Mengapa saya harus berdoa jikalau Tuhan sudah tahu apa yang saya minta? Mengapa saya harus berdoa, jikalau Tuhan tahu apa yang saya butuhkan? Lebih lanjut lagi, mengapa saya harus berdoa, jikalau Tuhan sudah menetapkan sesuatu? Mengapa saya harus berdoa, jikalau Allah itu berdaulat? Hari ini saya akan berbicara mengenai kedaulatan Allah di dalam relasinya di dalam doa kita. Tetapi sebelum saya masuk lebih lanjut, saya mesti mengatakan pada saudara-saudara, saya tentu tidak bisa menyelesaikan seluruh pergumulan antara kedaulatan Allah dan kebebasan manusia ini tuntas dalam satu kali khotbah. Dan lebih lanjut lagi, sebenarnya kalau saudara-saudara mengetahui pergumulan mengenai kedaulatan Allah dan kebebasan manusia itu adalah salah satu dari dua masalah teologia yang paling sulit yang ada. Para scholar mengatakan ada 2 masalah teologi yang paling rumit. Yang pertama adalah bagaimana kita menyelaraskan kedaulatan Allah dan kebebasan manusia. Apakah saya memiliki kebebasan? Jikalau aku memiliki kebebasan apakah Allah berkehendak dan berdaulat? Jikalau Allah berdaulat apakah saya bebas? Jikalau Allah berdaulat apakah saya harus bekerja keras? Apakah pekerjaan keras saya itu akan mengubah nasib saya? Jikalau Allah sudah berdaulat apakah saya tidak bisa mengubah nasib saya? Akan banyak sekali pertanyaan yang terjadi. Di dalamnya ada misteri, di dalamnya ada paradoxical. Dan masalah kedua di dalam teologia adalah problem of evil. Dari mana evil? Jikalau pertama kali hanya ada Allah yang suci dan baik, dari manakah kejahatan? Jikalau Allah yang baik itu menciptakan semua yang baik termasuk malaikat, kenapa malaikat bisa menjadi setan? Siapa yang menipu dia? Dari mana dosa itu berasal? Dan juga dalam kasus Ayub kenapa orang benar itu menderita? Seluruh kalimat ini membutuhkan jawaban berbulan-bulan, tetapi tetap akan ada misteri dari Alkitab. Saya tidak bisa secara tuntas membereskannya di dalam khotbah. Meskipun saya menjelaskannya, tetap di dalamnya ada hal-hal yang misteri dan paradox. Tetapi di dalam urusan berdoa sebenarnya kedaulatan Allah tidak menghambat kerajinan dan ketekunan kita berdoa. Jikalau kita tidak rajin dan tidak tekun berdoa karena kita menganggap bahwa Allah itu berdaulat pasti ada sesuatu yang salah di dalam konsep kedaulatan kita.

Saudara-saudara, perhatikanlah sejarah. Bapak-bapak Reformasi dan orang-orang Puritan adalah orang-orang yang memiliki teologi kedaulatan Allah yang ketat. Tetapi mereka adalah orang-orang yang tekun berdoa. Martin Luther dikatakan bahwa dia memimpin seluruh gerakan reformasi dengan lututnya. John Calvin disebut sebagai man in fellowship of God. Jika saudara-saudara memperhatikan kehidupan John Knox, Bapak Reformasi dari Skotlandia. Lawan dari John Knox adalah Ratu Mary dari Skotlandia. Ratu Mary menyatakan saya lebih takut dengan doanya John Knox jika dibandingkan seluruh tentara Eropa bersatu menyerang saya. Kalau saudara-saudara melihat dari orang-orang Puritan yang lain, mereka adalah orang-orang yang terus menerus menjadi pendoa-pendoa yang ketat, yang tangguh. Anthony Birch misalnya mengkhotbahkan 145 kali khotbah mengenai doa Yohanes 17. Matthew Henry misalnya, dia mengkhotbahkan A Method of Prayer, bagaimana seorang Kristen berdoa. Belum lagi John Bunyan, belum lagi dari William Perkins dan John Owen. Suatu hari John Owen berlutut, dia mengambil kapur dan kemudian melingkari tempat berlututnya. Dan kemudian dia mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan berikan kebangunan rohani mulai dari lingkaran ini. Aku tidak akan berdiri sebelum Engkau memberikan api kepadaku.” Semua orang Reformed adalah orang-orang seperti ini. Mereka memegang kedaulatan Allah, tetapi mereka memiliki api untuk berdoa. Jikalau kita tidak berdoa, dan kita tidak tekun berdoa, dan dalam pikiran kita adalah karena Allah berdaulat, pasti ada sesuatu yang salah dalam pikiran kita. Suatu hari, ada seorang yang datang kepada Thomas Shepard, seorang scholar puritan yang ada di Amerika, meminta petunjuk untuk menggambar denah rumah. Thomas Shepard kemudian melihat dari gambar yang dibawa oleh orang tersebut dan kemudian dia bertanya, “Tuan, di mana kamar doanya di denah rumah ini?” Dan orang ini mengatakan, “Aku bisa berdoa di mana saja di dalam rumah ini. Dan Thomas Shepard orang puritan itu mengatakan, “Hari, di mana rumah di Amerika tidak ada kamar doa secara khusus, hari itulah permulaan kejatuhan dari Amerika.” Orang-orang besarnya Tuhan adalah orang-orang berdoa. Di mana orang-orang Reformed yang berdoa? Di mana orang Reformed yang melihat kedaulatan Allah, Allah yang duduk di atas tahta dan memiliki api di dalam doanya? Kita mewarisi teologia. Ketika saudara datang ke gereja Reformed, dan mengatakan khotbahnya bagus, itu bukan hal yang penting. Ketaatan kita itulah hal yang penting. Dan kalau saudara-saudara melihat di dalam Alkitab, siapakah yang mengajar kita konsep tentang kedaulatan Allah? Abraham adalah seorang pendoa. Musa adalah seorang pendoa. Nehemia adalah seorang pendoa. Mereka semua mengajarkan kepada kita bahwa Allah itu berdaulat. Dan bukan itu saja, Yesus yang menyatakan kedaulatan Allah dan Dia adalah pemimpin/kepala dari gereja. Minggu yang lalu kita sudah melihat Dia adalah seorang yang di dalam segala keadaan berdoa. Kalau kita tidak berdoa, maka ada sesuatu kesalahan teologia di dalam diri kita. Hari ini saya akan membicarakan kedaulatan Allah, tentang apa yang diajarkan di dalam Alkitab. Dan saya berharap Roh Kudus mengajarkan kita dan mengoreksi kita ketika kita berbicara tentang kedaulatan Allah. Ada beberapa hal yang saya akan tegaskan dalam hal ini.

(1) Ketika Alkitab mengajarkan kita tentang bagaimana kedaulatan Allah maka itu sebenarnya adalah penghiburan bagi umat pilihan. Ketika Alkitab menyatakan tentang kedaulatan Allah, maka itu bukan sesuatu yang negatif, bukan sesuatu yang menyerang kita umat pilihan-Nya. Ketika kita berbicara tentang kedaulatan Allah maka itu adalah artinya penghiburan bagi kita umat pilihan. Saudara-saudara perhatikan satu kalimat di bawah ini, tempat yang paling aman bagi kita, umat pilihan Allah adalah ke dalam kedaulatan-Nya. Roma 8:28, ini adalah satu ayat Alkitab yang penting sekali. Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu bagi mereka yang mengasihi Dia. Benarkah segala sesuatu, Paulus? Bahkan sesuatu yang evil? Bahkan sesuatu yang aku tidak suka? Paulus mengatakan iya. Karena hidup kita ada di dalam kedaulatan-Nya. Di dalam kedaulatan Alah, sejahat apapun akan dibuat menjadi kebaikan bagi kita umat pilihan. Ketika saudara-saudara bukan umat pilihan, saudara tidak bisa mengatakan akan janji ini. Jikalau engkau tidak bertobat akan dosamu, jikalau engkau tidak berada di bawah ke-Tuhanan dari Yesus Kristus, jikalau engkau hanya pergi ke gereja tetapi tidak menundukkan dirimu kepada keTuhanan-Nya, maka janji ini bukan menjadi milikmu. Tetapi jikalau seluruh hidup kita ada di bawah kedaulatan-Nya, di bawah kepimpinan-Nya, Alkitab mengatakan segala sesuatu, mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang berada di dalam pilihan.

Mari kita melihat dari satu peristiwa yang sebenarnya sangat tidak mengenakkan di dalam Alkitab, Lukas 2:1-7. Suatu hari Kaisar Agustus dari Roma membuat suatu sensus yang akhirnya membawa semua manusia di bawah pemerintahannya kembali ke kampung halamannya, termasuk Yusuf dan Maria. Saudara-saudara coba pikirkan, siapakah Yusuf dan Maria? Orang kecil. Kalau kita tidak membacanya di dalam Alkitab mereka bukan siapa-siapa. Tetapi siapakah Kaisar Agustus? Penguasa Roma. Dan Roma pada waktu itu adalah penguasa dunia. Kekuatan Roma lebih besar daripada Amerika pada saat ini. Kalau saudara-saudara melihat dalam sejarah, saudara-saudara akan memiliki enam kerajaan yang paling besar melebihi daripada kerajaan-kerajaan masa kini: Mesir, Asyur, Babilonia, Media Persia, Yunani, dan Roma. Dan pada saat itu Roma yang berkuasa. Dan suatu hari Kaisar Agustus mau mengadakan sensus. Ini bukan sekedar hanya mendaftarkan saja, ini adalah gerakan kesombongan. Dia mau menyatakan berapa banyak jiwa yang aku kuasai. Satu perintah keluar dari mulutnya, jutaan orang bergerak. Luar biasa kekuatannya. Dan pada akhirnya, Yusuf dan Maria harus bergerak ke Betlehem dari Nazaret. Berhari-hari jalan, tidak ada mobil, tidak ada pesawat. Tetapi yang lebih bermasalah adalah Maria sedang hamil tua. Ini cari perkara. Maria sedang hamil tua dan jalan dari kota Nazaret ke Betlehem. Jalan kaki, tidak ada rencana sebelumnya. Dipaksa oleh orang yang jahat. Dan kemudian dia masuk ke kota itu. Alkitab mengatakan kota itu sudah penuh dengan penduduk yang lain. Dia kemudian ketuk satu pintu demi satu pintu, bertanya apakah ada tempat untuk istrinya melahirkan? Tidak ada. Maria dan Yusuf saling berpandangan, kenapa hidup seperti ini? Kenapa kita harus diatur oleh orang yang tidak kita kenal? Kalau ini keguguran bagaimana? Dia ketok tempat lain lagi, dan orang tersebut mengatakan, “Tidak ada, kalau mau ya kandang sapi itu.” Kemudian Yusuf berpikir kenapa tidak? Istriku sudah mulai keluar air ketubannya. Dibawa istrinya cepat-cepat. Dia bersihkan semuanya sebisa mungkin, sebersih mungkin. Lalu Maria menengaduh, dia teriak, dan kemudian bayi itu keluar di Betlehem, di kandang sapi, di tempat yang bau. Apakah ini akibat Kaisar Agustus? Tidak, karena Alkitab mengatakan Allah berdaulat. Apakah engkau tahu Kaisar Agustus, engkau merancangkan yang jahat kepada umat-Ku tetapi Aku sudah merancangkan yang baik untuk dia? 600 tahun sebelumnya, aku sudah berkata-kata kepada nabi-nabi-Ku, “Hai Betlehem, kota yang kecil itu. Engkau tidak lagi kecil, karena Mesias akan lahir di kotamu.” Aku sudah merancangkan dan itulah kedaulatan Allah. Saudara bisa bayangkan jikalau Allah tidak berdaulat, Yusuf dan Maria akan menjadi permainan orang-orang di dunia ini. Hidup mereka akan diatur, diperintah sesuka-sukanya oleh pembesar dunia ini. Kedaulatan Allah membuat apapun yang terjadi pada Yusuf dan Maria sekalipun dilakukan oleh orang yang jahat akan memiliki nilai kekal. Dan itu adalah penghiburan kita.All things, segala sesuatu, bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan untuk umat pilihan-Nya

Sekarang saya membawa saudara-saudara kepada Kejadian 50:20. Dan saudara bisa melihat sekali lagi kedaulatan Allah begitu jelas. Ini adalah satu ayat yang menghibur. Yusuf di akhir dari seluruh kitab Kejadian ini menyatakan kepada saudara-saudaranya bahwa memang kamu merancangkan yang jahat bagi aku. Saudara -saudara bisa melihat, pasal demi pasal Yusuf dijahati oleh keluarganya. Dan dia begitu sangat menderita hidupnya. Dia terlepas dari orang yang dikasihinya, yaitu Yakub, papanya. Tetapi Tuhan memakai seluruh rancangan yang jahat untuk membawa Yusuf menuju ke Mesir. Sehingga seluruh anak-anak Yakub (Israel) diselamatkan dari kelaparan yang besar. Dan Yusuf mengatakan, “Engkau merekakan sesuatu yang jahat kepadaku. Tetapi Allah bekerja dan dengan tangan yang tidak terlihat.” Dengan kedaulatan-Nya membuat segala sesuatu yang jahat itu menjadi kebaikan. Perhatikan baik-baik, ketika saudara dan saya berbicara mengenai kedaulatan Allah, kita mesti bertobat. Kita berpikir Allah berdaulat sesuka-suka-Nya. Tetapi saudara-saudara lupa bahwa Allah yang berdaulat adalah Allah yang suci, yang baik, dan yang benar. Ketika Alkitab menyatakan Allah itu berdaulat, ini adalah penghiburan bagi kita di dalam Kristus Yesus.

(2) Ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah itu berdaulat maka itu menyatakan Allah yang baik, yang suci dan penuh kasih setia itu memegang sejarah. Dan pada saatnya, pada waktunya, maka orang-orang fasik tidak akan dapat terus bertahan. Ada satu bagian Alkitab yang begitu jelas sekali berbicara mengenai kedaulatan dan kefasikan itu kemudian dihancurkan. Di dalam Daniel 7, Daniel memiliki suatu penglihatan yang berbicara mengenai empat binatang yang buas. Dan empat binatang yang buas itu: binatang yang pertama rupanya seperti singa, yang kedua adalah beruang, yang ketiga adalah macan tutul, dan yang keempat itu tidak terkatakan, Alkitab mengatakan binatang yang sangat menakutkan. Dan keempat itu adalah mewakili sekali lagi: Babel, Media Persia, Yunani, dan Romawi. Tetapi Daniel tidak menutup mimpinya dengan empat binatang yang menakutkan itu. Alkitab mengatakan keempat binatang itu akan dihancurkan oleh satu Pribadi yang rupanya seperti Anak Manusia, yang ada di awan-awan. Daniel pasal yang ketujuh ini, menyatakan bahwa satu Pribadi itu adalah Yesus Kristus. Dialah yang menjadi pemenang dari seluruh pertempuran dengan dunia ini. Mereka semua adalah orang-orang yang jahat, pemimpin-pemimpin dunia yang begitu jahat, mereka sudah menghancurkan dan sudah mengalirkan darah jutaan manusia. Tetapi Alkitab mengatakan, “Engkau bukan akhirnya, hai orang-orang yang jahat. Anak manusia itu yang berdaulat dan bukan engkau. Dan pada waktunya, Dia akan menunjukkan kedaulatan-Nya dan siapapun saja yang ada di singgasana, engkau harus turun.”

Ada satu bagian dalam Alkitab yang jelas sekali menunjukkan dua hal ini lagi. Mari kita melihat Yesaya pasal yang keenam. Dan saudara bisa melihat bagaimana Yesaya itu menyatakan kepada kita kedaulatan Allah, dan kesia-siaan manusia, raja sekalipun. Yesaya 6:1. Ada satu permainan kalimat di sini. Saudara apakah tidak terpesona dengan penglihatan ini? Yesaya dengan jelas sekali menyatakan kedaulatan Allah. Tetapi bukan itu saja, dia membandingkan dengan manusia. Dia mengatakan pada tahun raja itu mati, aku melihat Tuhan di atas tahta. Apakah artinya kedaulatan Allah yang diajarkan oleh Alkitab? Artinya adalah let God be God and let man be man. Hai semua orang fasik, hai semua orang berdosa, engkau bersenang-senang saat ini. Engkau berpikir bahwa engkau bisa mempermainkan sejarah. Engkau berpikir bahwa engkau dapat mempermainkan kehidupan. Hidupmu bukan milikmu. Allah itu berdaulat. Akan ada satu hari maka Allah yang berdaulat itu mengatakan cukup. Dan engkau akan melihat bagaimana seluruh jenderal dan penguasa dunia akan hancur pada hari mereka mati. Aku melihat Allah itu tetap di atas tahta tidak bergoncang. Itulah kedaulatan Allah. Itulah yang menjadi kekuatan seluruh hamba Tuhan. Itulah yang menjadi kekuatan seluruh misionaris. Itulah yang menjadi kekuatan hamba-hamba Tuhan yang diutus ke mana pun saja, ke tempat yang paling berbahaya sekalipun. Mereka mengalami kesulitan. Mereka mengalami air mata. Mereka mengalami kemiskinan. Mereka mengalami aniaya. Tetapi engkau akan melihat bahwa mereka tetap kuat. Kenapa mereka tetap kuat? Karena intinya rahasianya adalah satu, mereka melihat satu Pribadi di atas sana, duduk di atas tahta yang tidak bergoncang. Allah yang berdaulat. Itulah yang dilihat oleh Stefanus. “Aku melihat Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah Bapa” dan Stefanus tidak takut sama sekali menerima seluruh batu yang sampai ke kepalanya sampai dia mati. Saya sangat hancur hati ketika melihat satu tulisan ini. Orang Puritan adalah orang yang pernah memandang wajah Allah. Dan orang yang pernah memandang wajah Allah tidak akan peduli dengan wajah siapapun saja di dunia. Engkau mau sombong? Engkau ingin dihargai? Engkau berpikir bahwa engkau harus diperhitungkan? Jikalau engkau bertemu dengan hamba Tuhan yang palsu engkau bisa mengatakan itu. Dia akan takut kalau engkau pergi dari gereja. Tetapi hamba Tuhan itu sejati, dia pernah melihat wajah Allah. Dia tidak mempedulikan apapun saja. Yang dia pedulikan hanya satu. Apakah Allah itu berkenan atau tidak. Dimana orang-orang jahat itu? Mereka semua mempermainkan dunia ini. Mereka melakukan kejahatan dan kemudian menyiksa manusia. Alkitab mengatakan hanya satu Pribadi yang bisa mengatakan, “I am the Alpha and I am the Omega.” Dan itu adalah Yesus Kristus yang berdaulat. Ketika saudara dan saya membaca kedaulatan Allah. Itu artinya adalah Allah yang memegang sejarah. Allah yang akan menundukkan orang-orang fasik pada waktunya.

(3) Ketika Alkitab berbicara mengenai kedaulatan Allah itu tidak berarti bahwa itu adalah sesuatu yang sempit, sesuatu yang fatalism. Banyak orang-orang Kristen yang melihat kedaulatan Allah seperti konsep takdir di dalam agama Islam. Tidak, bukan itu. Bahkan saudara-saudara sering sekali salah paham. Salah satu doktrin daripada Alkitab yang sulit dimengerti adalah predestinasi. Bahwa Allah itu memilih sebagian orang sebelum dunia dijadikan. Kemudian kita berpikir kalau Allah sudah memilih berarti ini seperti takdir. Tetapi Alkitab menyatakan Allah memilih untuk kita dikasihi oleh Dia. Kita dipilih untuk dikasihi. Kita dipilih untuk menjadi suci. Di dalam Roma 9, Alkitab menyatakan pilihan-Nya adalah berdasarkan kemurahan hati-Nya. Alkitab tidak mengatakan bahwa pilihan-Nya berdasarkan kesuka-sukaan-Nya Dia. Tetapi bukan itu saja. Ketika kita berpikir mengenai kedaulatan Allah, Alkitab mengajarkan kepada kita Allah itu berdaulat dan di dalam kedaulatan-Nya Dia memberikan kebebasan kepada manusia. Allah itu berdaulat dan di dalam kedaulatan-Nya Dia menentukan bahwa berkat-berkat-Nya diberikan kepada kita hanya dengan jalan berdoa, diberikan kepada orang-orang yang bertobat. Allah itu berdaulat dan dalam kedaulatan-Nya Dia menentukan bahwa orang yang mencari Dia dengan sepenuh hatilah yang akan dikasihi oleh Dia.

Sekali lagi, Allah itu berdaulat dan di dalam kedaulatan-Nya Dia menentukan bahwa berkat-berkat-Nya diberikan melalui sarana umat-Nya itu berdoa. Jadi mengapa kita harus berdoa? Jikalau Allah berdaulat mengapa saya harus berdoa? Kalau Allah berdaulat saya tidak perlu berdoa. Bukankah kalau Allah berdaulat maka saya pesimis dan pasif saja? Saya tidak perlu melakukan apa saja. Tetapi tidak. Alkitab mengatakan ketoklah, mintalah, carilah, dengan tekun. Jikalau orang-orang di dunia yang jahat itu saja tahu memberikan yang baik bagi anak-anaknya, apalagi Bapamu di sorga tahu memberikan yang baik bagi kita. Tekunlah berdoa. Kenapa Tuhan? Kenapa saya mesti berdoa? Yesus Kristus mengatakan, “Berdoalah karena Bapamu di sorga itu mengerti apa yang engkau perlukan.” Jikalau Engkau sudah mengerti, jikalau Engkau sudah menetapkan, dan jikalau Engkau sudah berdaulat, kenapa saya mesti berdoa? Karena Allah yang berdaulat itu sudah menetapkan bahwa berkat-berkat-Nya bisa diterima oleh kita yang sungguh hati mencari Dia. Itulah sebabnya semua orang-orang Reformed yang mengerti kedaulatan Allah ini mereka rajin berdoa.

Dan saya akan akhiri khotbah ini dengan satu pemikiran ini. Jikalau Allah berdaulat, kenapa aku berdoa? Maka jawabannya adalah karena doa itu sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekedar meminta. Karena doa itu adalah sesuatu relation. Doa melebihi daripada permintaan. Banyak dari orang Kristen memberlakukan Allah seperti tukang listrik. Jikalau listrik itu tidak mati, saudara tidak pernah akan kepikir untuk mengundang tukang listrik itu. Saudara bahkan tidak tahu namanya siapa. Saudara tidak peduli dengan dia. Saudara tidak pernah berpikir tentang dia. Sampai kemudian listrik di rumah saudara mati. Banyak dari kita itu memperalat Allah. Ketika kebutuhan itu sudah mendesak maka kemudian baru kita itu berdoa. Jikalau itu belum dijawab, maka kemudian kita berdoa lagi. Saudara dan saya tidak pernah peduli dengan Allah kalau seluruh dari kehidupan kita lancar. Kita harus bertobat. Let God be God, let men be men. Alkitab mengajarkan kepada kita berdoa itu bukan cuma sarana meminta. Berdoa itu intinya adalah menjalin relasi yang intim dengan Bapa kita di sorga. Adalah tidak salah tentu kalau kita itu memiliki permintaan, kebutuhan dan kemudian kita meminta. Biasanya kita datang kepada Allah dengan permintaan sama seperti seorang anak kita meminta kepada kita bapanya. Dan kadang bapanya memberikan kepada dia, kadang menunda, kadang bapanya menolak memberikan, kadang bapanya itu men-setup kondisi yang lain untuk anaknya. Di dalam relasi anak dan bapa di mana anak itu meminta, ayahnya mungkin menolak permintaan anak itu karena itu bukan yang terbaik baginya, suatu hari anaknya bakal mengetahui bahwa permintaannya adalah permintaan yang konyol. Di lain pihak ayahnya mungkin menunda permintaan anaknya karena permintaan anak itu adalah sesuatu yang sebenarnya temporary, suatu hari dia tidak akan meminta itu lagi. Kadang bapanya menunda permintaan anaknya sehingga anak itu bisa belajar significancy apa yang dia minta. Atau mungkin papanya akan menahan sampai anaknya itu tahu bagaimana meminta secara appropriate. Tetapi lebih daripada itu sebenarnya, anak itu datang kepada bapanya dan tidak meminta apa-apa. Tetapi hanya terdiam dan hanya ingin berjalan berdua bersama dengan bapanya. Saudara-saudara, datanglah kepada Allah Bapa di sorga tanpa meminta. Katakan kepada Dia, “Bapa aku datang di hadapan-Mu. Hari ini aku tidak meminta apa-apa. Aku datang karena hanya ingin bersama-Mu. Aku datang karena aku ingin menikmati Engkau. Aku datang hanya ingin mengucapkan terima kasih. Karena dari seluruh berkat-berkat-Mu, Engkau sendirilah berkat terbesar itu.” Dan kemudian kita terdiam. Masuk di dalam the presence of God. Menghormati Dia, belajar akan kesucian-Nya dan disegarkan oleh kehadiran-Nya. Doa lebih dari sekedar meminta. Doa itu adalah sarana yang dipakai oleh Allah untuk kita menghampiri Dia untuk intim dengan Dia. Masuklah lebih intim kepada Bapa kita di sorga, melampaui seluruh daripada kebutuhan kita. Dan kiranya Dia menjadi penghiburan bagi kita.


Matius 6:9, Lukas 11:1-2
 
 

Mazmur 1
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

23 September 2018
Doa Bapa Kami (4)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Matius 6:9, Lukas 11:1-2

Matius 6:9, Lukas 11:1-2

Suatu hari murid Yesus datang kepada Yesus dan berkata,”Tuhan, ajar kami berdoa.” Dan Yesus Kristus mengatakan jikalau engkau mau berdoa, berdoalah demikian: “Bapa kami yang ada di surga.” Dan Lukas menyatakan konteks saat itu adalah Yesus baru saja selesai berdoa. Jadi, apa yang seharusnya membuat kita berdoa? Adalah karena Kristus sendiri berdoa.

Di dalam Perjanjian Baru ada satu kata yang disandangkan kepada Yesus Kristus yaitu archegos. Archegos adalah seseorang yang memimpin dan dengan kepemimpinannya orang itu menggerakkan orang-orang yang lain masuk di dalam tindakan dan keadaan yang sama yang dia alami. Kata archegos ini banyak disandangkan kepada pahlawan-pahlawan klasik dari Yunani. Jadi pahlawan-pahlawan Yunani kuno itu berjuang sekuat tenaga mendirikan sebuah kota, membayar harganya kadang dengan air mata, keringat atau kehilangan orang-orang yang dikasihi untuk mendirikan kota itu. Tetapi bukan itu saja, karena pengorbanannya, dia menggerakkan orang-orang lain untuk membayar harganya juga untuk mendirikan kota itu. Jadi, archegos adalah orang yang bukan saja sebagai permulaan tetapi juga orang yang melayani sebagai model, sebagai stimulus menggerakkan orang-orang lain di dalam generasi-generasi berikutnya; dia adalah author, dan dia adalah pioneer untuk orang-orang selanjutnya. Di dalam Kisah Para Rasul 3:15 Yesus adalah archegos of life/the author of life.Karena pekerjaan Kristus, maka Kristus memberikan kepada kita hidup. Tetapi bukan itu saja, Dia ada di depan, Dia adalah pioneer dan kita semua di belakang yang menjalani hal-hal yang sama yang telah Dia jalani. Di dalam Kisah Para Rasul 5:31 dikatakan Yesus adalah leader/archegos. Di dalam Ibrani 2:10, Yesus adalah the author of salvation-archegos of salvation. Di dalam Ibrani 12:2 Yesus adalah archegos, pioneer iman. Saudara-saudara, ini sama seperti jendral perang yang membawa anak buahnya, lalu di dalam sebuah medan perang gerilya, dia berjalan terlebih dahulu di depan menghadapi bahaya, memimpin anak buahnya keluar dari bahaya sampai ke tempat yang aman. Halangan dan ujian bagi dia terlebih dahulu ada dan semua orang di belakangnya mengikutinya. Sekali lagi. Yesus adalah archegos. Dia adalah sumber. Dia adalah pioneer. Dia adalah model. Dia adalah stimulus dari seluruh kehidupan rohani kita. Sehingga ketika kita melihat Alkitab maka kita melihat bahwa Yesus adalah sumber dari semua kehidupan rohani. Di dalam Yesus Kristus sajalah semua kehidupan rohani kita ada.

Tetapi bukan itu saja, Yesus adalah tujuan akhir kerohanian kita.Seluruh kehidupan rohani kita harus bertumbuh dan Alkitab mengatakan bertumbuh serupa dengan Kristus. Tetapi bukan itu saja Kristus juga adalah model atau contoh pertumbuhan rohani. Alkitab mengatakan Yesus menghadapi pencobaan, Yesus melayani, Yesus bertumbuh dalam hikmat dan kasih karunia Allah, Yesus adalah satu-satunya manusia yang hidupnya tidak terpecah, Dia adalah model dan contoh dari seluruh kehidupan kita. Tetapi bukan itu saja, Alkitab mengatakan Dia adalah stimulus kehidupan rohani kita. Dia yang membuat kita itu memiliki ketahanan karena Dia bertahan. Ibarani 12 mengatakan: Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa. Yesus adalah archegos.

Demikian juga dengan doa, Yesus adalah archegos kita. Kepada Kristus kita berdoa, melalui Kristus kita berdoa, di dalam Kristus kita berdoa, seperti Kristus kita berdoa. Di dalam Doa Bapa Kami hanya ada nama Bapa saja yang ada di situ: Bapa kami yang ada di surga. Tetapi secara prinsip alkitabiah ketika nama dari Allah Tritunggal oknum pertama ini muncul, maka di dalam Matius 28 menyatakan baptislah mereka “in the name”; bukan in the names. Dan ketika in the name, maka bicara mengenai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ini mau menyatakan bahwa meskipun hanya nama Bapa saja yang muncul tapi objek doa itu adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Yesus adalah objek doa kita. Tetapi Yesus juga adalah pengantara doa kita. Bapa di surga hanya mau mendengarkan doa-doa yang dinyatakan di dalam Kristus. Hanya di dalam Kristus maka takhta Allah adalah takhta kasih karunia. Maka kita boleh datang dan menyebut-Nya sebagai Bapa. Di luar Kristus maka takhta Allah adalah menjadi takhta penghakiman umat manusia. Bukan itu saja, Alkitab mengatakan Roh Kudus, Roh Kristus-lah yang membuat kita berseru ya Abba, ya Bapa. Theology of prayer selalu adalah berdasar theology of adoption. Ini adalah Roh Kristus yang mengajar kita dan juga mendorong kita. Alkitab mengatakan karena kita tidak tahu bagaimana caranya berdoa. Dan bukan itu saja, doa Yesus adalah menjadi contoh, model bagi kita. Apa yang Dia doakan? Isinya? Sikap-Nya? Kapan Dia berdoa? Dalam hal-hal apa saja Dia berdoa? Itu menjadi contoh hidup kita. Apakah saudara mengerti apa yang saya katakan? Yesus adalah archegos. Dia bukan saja contoh, tetapi Dia juga adalah stimulus untuk kita berdoa. Dia bukan saja stimulan, tetapi Roh-Nya itu mendorong kita untuk berdoa. Tetapi Dia bukan saja pendorong, Dia adalah pengantara doa itu. Tetapi bukan saja pengantara, Dia adalah objek doa itu. Yesus adalah segala-galanya. Maka ketika saudara-saudara mengerti ini, saudara akan mengerti kenapa kita harus melihat kapan dan dalam keadaan seperti apa Yesus berdoa. Murid-Nya datang kepada Dia dan mengatakan: Tuhan, ajar kami berdoa. Dan bukan tanpa kebetulan, maka Lukas menyatakan Yesus ditanya itu adalah pada waktu Dia selesai berdoa. Ketika saudara-saudara melihat tentang doa, maka saudara-saudara melihat ada satu orang yang menjadi Man of prayer yang menjadi fokus seluruh Alkitab dan itu adalah bukan Abraham, Nehemia, atau Yeremia; saya mengatakan itu karena seluruh buku-buku selalu akan bicara mengenai mereka adalah men of prayer. Mereka adalah orang-orang yang sungguh-sungguh berdoa, tetapi Guru Agung kita adalah satu, adalah Yesus Kristus. Dia berdoa. Saudara-saudara kenapa kita harus berdoa? Saya bisa menyatakan begitu banyak alasannya tetapi satu hal saja pada malam hari ini karena Kristus sendiri adalah satu Pribadi yang berdoa kepada Bapa-Nya. Dan saudara-saudara bisa melihat bahwa seluruh kehidupan Kristus ditopang oleh doa-Nya. Kristus mengajarkan kita berdoa dengan Dia sendiri berdoa.

Dan beberapa hal yang Yesus ajarkan di dalam doa-doa ini:

Hal yang pertama, Kristus mengajarkan doa adalah saluran atau sarana Allah memimpin kita. Sekali lagi, yang pertama. Kristus mengajarkan; doa adalah sarana Allah memimpin kita. Di dalam doa, Allah di surga memberikan hikmat-Nya kepada kita sehingga kita bisa menjalani hidup ini dengan hikmat Allah. Mari kita melihat apa yang Yesus lakukan. Mari kita melihat Markus 1:35-39. Saudara-saudara, pada pagi-pagi benar Yesus Kristus berdoa menghampiri Bapa di surga. Dan pada waktu Dia berdoa, Simon dan para murid-murid-Nya datang kepada Dia dan kemudian mendesak Dia untuk melayani karena banyak orang-orang yang sudah berkumpul mendekat kepada mereka. “Guru, banyak orang yang datang mencari Engkau”. Tetapi apa yang menjadi jawaban Yesus? Yesus tidak melayani permintaan Simon. Dia tidak melayani orang-orang yang datang kepada Dia. Perhatikan baik-baik, Dia pergi ke tempat yang lain. Apakah Yesus kurang cinta kasih? Apakah Yesus kurang perhatian dengan semua orang yang datang kepada Dia? Saudara bisa melihat di dalam tempat-tempat yang lain Yesus sering sekali melayani orang-orang yang datang ke tempat Dia. Tetapi kenapa di tempat ini tidak? Ada rencana Bapa di surga bagi Dia hari itu untuk Dia lakukan. Ini adalah sesuatu yang begitu jelas bagaimana doa menjadi saluran Bapa di surga untuk memimpin kehidupan Yesus Kristus. Alkitab menyatakan jikalau kita kekurangan hikmat, berdoalah. Jikalau kita kekurangan hikmat, mintalah kepada Tuhan. Hikmat adalah kehendak Allah yang kita aplikasikan di tengah-tengah dunia ini dengan tepat. Saudara-saudara, hidup kita hanya satu kali. Resources kita hanya ada satu. Kita punya umur hanya satu kali. Seluruh keuangan, perhatian, dan hati kita, apapun saja yang kita miliki, hanya satu. Seluruh hidup ini akan menuntut kita dan akan memecah kita kemanapun saja seluruh arah tujuan. Dan saudara-saudara kita harus mengerti Tuhan menginginkan kita melakukan apa. Kalau saudara-saudara berada di dalam kehidupan yang begitu sibuk, jangan lupa kita harus berdoa. Kita bekerja terlalu banyak tanpa hasil yang berarti. Kenapa? Karena kita tidak memiliki pimpinan Tuhan. Karena kita tidak membawa jam-jam kita di pagi hari untuk bertemu dengan Tuhan. Saudara-saudara perhatikan baik-baik kalimat encouragement di bawah ini: sesibuk-sibuknya hari kita, tetapkan hati untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan di pagi hari. Sekali lagi saya mengatakan kepadamu jemaat: Sesibuk-sibuknya kita, tetapkan setiap pagi berdoa dan membaca Firman Tuhan. Datang ke takhta kasih karunia-Nya dan meminta Firman-Nya. Minta hikmat dari Dia untuk kita boleh hidup. Kita sungguh-sungguh manusia yang sangat terbatas. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi kehendak Tuhan bagi kita. Tetapi kita hidup menjadi orang yang sangat sombong, kita berpikir kita memiliki kepandaian untuk menyelesaikan seluruh masalah kita di depan. Maka saudara-saudara harus kembali kepada Firman. Minta tolong kepada Tuhan, datang ke tempat kasih karunia-Nya dan berdoa membaca Firman untuk seluruh hari itu. Ada satu kutipan yang luar biasa, dia mengatakan seperti ini: setiap orang Kristen harus minimal berdoa 30 menit setiap pagi kecuali ketika dia sangat sibuk. Kalau dia sangat sibuk, maka dia harus berdoa 1 jam setiap hari. Berdoalah 30 menit itu minimal kalau engkau tidak sibuk. Tetapi kalau engkau sangat sibuk, maka berdoalah 1 jam. Martin Luther menyatakan; Saya memiliki begitu banyak pekerjaan yang harus saya lakukan sehingga saya harus berdoa di dalam 3 jam pertama di pagi hari saya. Saudara-saudara, ini adalah sesuatu hal yang Yesus Kristus itu sendiri kerjakan. Hal yang pertama Kristus mengajarkan doa adalah saluran berkat Allah memimpin kita. Doa merupakan sarana, alat yang Tuhan memberikan kepada kita hikmat-Nya.

Hal yang kedua, Kristus mengajarkan doa adalah sarana untuk memulihkan kekuatan dan menyegarkan jiwa. Dalam Markus 1 yang tadi kita baca, di atasnya ada satu perikop mengatakan bahwa Yesus berada di Kapernaum. Siang harinya Dia mengajar di synagogue seharian. Setelah itu ada seseorang yang kerasukan setan dan kemudian Dia mengusir setan tersebut di synagogue. Lalu Dia pergi ke rumah Simon dan Andreas melayani ibu mertua Simon yang sakit dan setelah selesai, menjelang malam, sesudah matahari terbenam maka orang itu berduyun-duyun; orang yang sakit dan kerasukan setan datang kepada Yesus dan Yesus melayani lagi di sana. Alkitab mengatakan bahkan penduduk itu berkumpul di depan pintu di mana Yesus ada di situ. Lalu kemudian perikop itu disambung, “Pada pagi-pagi benar, Yesus bangun, pergi ke tempat sunyi dan berdoa.” Saudara lihatlah, satu harian dari pagi sampai malam Dia bekerja. Dan kemudian besok pagi-paginya Dia bangun dan berdoa.

Saudara akan menemukan perikop yang sama di dalam Markus 6:30-46. Ini adalah satu narasi yang begitu jelas. Saudara bisa melihat kehidupan dan kesibukan Yesus dan murid-murid-Nya. Waktu itu Yesus mengutus murid-murid-Nya, Yesus melayani, dan murid-murid-Nya juga melayani di tempat lain dan kemudian setelah itu mereka berkumpul kembali. Kemudian Yesus mengatakan untuk pergi ke tempat yang lain dan mereka beristirahat karena itu sangat melelahkan bagi mereka. Ketika sudah menentukan tempat tujuan untuk beristirahat dan mereka naik perahu menuju ke sana. Ternyata rencana mereka bocor di tengah orang-orang yang lain, dan mereka segera menuju ke sana. Dan ketika Yesus sampai di sana, Dia melihat begitu banyak orang berkumpul. Maka Yesus melupakan istirahatnya. Murid-murid-Nya tidak bisa beristirahat dan harus melayani lagi. Itulah saatnya Yesus memberi makan 5000 orang. Saat itu, menjelang malam, dan setelah 5000 orang itu pulang, maka Yesus mengutus murid-murid-Nya naik perahu. Dan Alkitab mengatakan, pada ujung hari itu dengan kecapaian yang luar biasa, apa yang Yesus kerjakan? Dia menghampiri Bapa-Nya di Surga sendirian. Itu adalah tempat kekuatan-Nya diberikan Bapa-Nya di Surga. Itu adalah satu kesegaran in the presence of God. Saya mau bertanya kepada saudara-saudara, kisah ini adalah sesuatu yang familiar bukan bagi saudara dan saya? Semua dari kita adalah orang-orang sibuk. Dari pagi sampai malam. Begitu melelahkan.

Saya tanya kepadamu, apa yang menjadi tempat atau menjadi satu peristiwa di mana engkau mendapatkan kesegaran/refreshment? Kekuatan kita darimana? Aah sekarang ini adalah waktuku sendiri! “Me time”! Apa isi “me time”? Handphone? Facebook? Youtube? Berjam-jam. Itukah kekuatan kita? Bukankah itu menghancurkan kerohanian hidup kita? Setelah begitu capainya luar biasa. Maka Yesus kemudian menyendiri dan berdoa. Saudara, di dalam hadirat Tuhan ada kesegaran. Di dalam hadirat Allah, saudara akan menemukan kekuatannya kembali. Banyak orang yang mengasihi kami mengatakan, banyak istirahat, jangan kerja terlalu banyak. Mesti seimbang antara kerja keras dan istirahat. Kita berharap bisa seimbang, tetapi kalau tuntutan pekerjaan banyak, maka mau tidak mau kita harus bekerja keras. Tetapi perhatikan point ini, masalahnya bukan terlalu banyak bekerja, tetapi terlalu sedikit berdoa, sehingga kita tidak memiliki kekuatan rohani kita. Kita makin lama makin jenuh, makin lama makin tidak memiliki gairah di dalam kehidupan. Saudara-saudara, kesibukan akan begitu banyak, ribuan case di dalam hidup kita. Jangan berharap bahwa tidak ada kesibukan di dalam dunia ini, tetapi Alkitab memberikan kepada kita jalan keluarnya. Bukan kesibukan itu yang mematikan kita, tetapi yang mematikan kita adalah karena kita tidak terhubung dengan penggerak kehidupan sesungguhnya yaitu Allah di dalam doa. Saudara-saudara, kita terlalu banyak bekerja tetapi sedikit berdoa.

Hal yang ketiga, Kristus mengajar kita berdoa sebagai awal untuk menentukan langkah-langkah kehidupan yang penting. Mari kita melihat Lukas 6:12. Apa yang Yesus lakukan ketika Dia itu mau memilih rasul. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Dia berdoa terlebih dahulu. Ini adalah moment penting di dalam kehidupan Yesus Kristus. Ini adalah sesuatu yang akan menentukan masa depan-Nya, masa depan gereja. Dan Dia harus berdoa sebelum Dia memilih murid-murid-Nya agar seluruh kehendak-Nya jadi. Mungkin saudara-saudara berkata, tetapi mungkin Dia salah memilih, karena ada Yudas di dalamnya. Tetapi sebaliknya, itu adalah kehendak Allah untuk digenapi. Hal yang lain, Lukas 9:18. Ini adalah suatu moment yang penting, setelah pembicaraan ini, maka Yesus Kristus melalui mulut Petrus menyatakan, You are theMessiah the Son of the living God. Dan kemudian setelah itu Yesus mengatakan bahwa Dia akan pergi ke Yerusalem dan akan menanggung banyak penderitaan. Ini akan membagi kehidupan Kristus sebelum dan mendekati kepada Salib. Ada pewahyuan yang penting setelah ini. Yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Mesias Anak Allah yang hidup dan Yesus Kristus harus menanggung banyak penderitaan. Sebelum Dia menyatakan hal itu, maka Dia berdoa. Ini adalah awal menentukan langkah-langkah kehidupan yang penting. Saudara-saudara, dalam hidup kita ini ada hal-hal yang menjadi batu sentuhan yang penting untuk ke depan. Satu batu sentuhan untuk saudara melangkah lagi ke depan. Misalnya saja, engkau akan sekolah di mana? Menikah dengan siapa? Pergi ke kota apa? Bekerja seperti apa? Membeli rumah di mana? Dan banyak hal lagi. Saya mau tanya kepadamu. Apakah engkau menentukan terlebih dahulu keinginanmu? Atau engkau berdoa terlebih dahulu? Perhatikan baik-baik apa yang Kristus kerjakan. Kristus mengajar kita berdoa sebagai awal untuk menentukan langkah-langkah kehidupan di depan yang penting. Banyak orang menentukan dulu mau ke mana, hidup dengan siapa, bekerja apa, pergi ke kota apa, baru setelah itu datang kepada Tuhan dan minta berkat-Nya. Itu terbalik! Itu dosa! Engkau harus tanya kehendak Allah, datang kepada Tuhan dulu, jangan mengambil keputusan dulu. Jikalau kita ada keinginan, kita mengatakan kepada Tuhan dulu. Tunggu jawaban Tuhan dulu, tunggu konfirmasinya terlebih dahulu. Baru apa yang Tuhan tetapkan, kita tetapkan di dalam hati kita. Berapa banyak kita yang salah di dalam hal ini. Saudara tidak membawa Tuhan di depan di dalam perencanaan. Engkau sudah menentukan dan kemudian minta Tuhan untuk tanda tangan, untuk menyetujuinya. Itu dosa! Apakah tidak boleh ada keinginan? Pasti boleh, tetapi jangan tetapkan hati. Saudara katakan kepada Tuhan saya suka dengan orang itu, saya suka dengan rumah itu, saya suka dengan pekerjaan itu, aku datang kepada-Mu Tuhan, apakah itu menjadi kehendak-Mu, jikalau itu kehendak-Mu aku bersyukur, jikalau itu bukan kehendak-Mu aku juga bersyukur. Karena Engkau tahu apa yang terbaik bagi hidupku.

Hal yang keempat, Kristus mengajarkan kita bahwa kemuliaan seseorang tidak terlepas dari kehidupan doanya. Saya akan bawa saudara-saudara ke dalam dua tempat di mana Kristus berdoa. Pertama adalah Lukas 3:21-22. Sesuatu yang indah ada di sini. Yesus sedang berdoa, Dia dibaptis dan berdoa, kemudian Roh Kudus hadir dan kemudian Allah Bapa itu meneguhkan Dia. Ini adalah satu-satunya tempat Allah Tri Tunggal hadir bersama-sama secara kasat mata. Alkitab mengatakan bahwa Bapa di sorga mengkonfirmasi ini adalah Anak-Ku yang Aku kasihi. Adalah bukan tanpa alasan, Lukas menuliskan ketika Yesus dibaptis dan berdoa.

Sekarang mari kita lihat Lukas 9:29. Ini adalah narasi tentang transfigurasi, Lukas menyatakan bahwa Yesus the Son of God itu dinyatakan kemuliaan-Nya di tengah murid-murid-Nya. Tetapi secara khusus saya mau menyoroti bagaimana kemuliaan itu dinyatakan, bukan ketika Yesus berada di singgasana, tetapi ketika Yesus berdoa. Dan dalam keadaan Dia berdoa, sekali lagi Bapa di sorga mengkonfirmasi Dia. Itulah kemuliaan Kristus. Dan kemuliaan Kristus itu pada saat apa? Kemuliaan Kristus itu ada ketika Yesus bergantung, bersekutu dan taat kepada Bapa-Nya. Jangan melihat nilai/bobot diri sendiri atau orang lain berdasarkan kekayaannya, kesuksesannya, atau kepandaiannya, tetapi saudara-saudara, perhatikan prinsip ini, sesungguhnya di hadapan Allah, nilai/bobot seseorang itu tidak lebih daripada seberapa dia bergantung kepada Allah di sorga. Kemuliaan kita hanya pada ketergantungan kita kepada Bapa di Sorga.

Hal yang kelima, terakhir, adalah Kristus mengajarkan rahasia kekuatan hidup manusia di dalam menanggung semua penderitaan terletak kepada kehidupan doa-Nya. Sekali lagi Kristus mengajarkan rahasia kekuatan hidup manusia di dalam hidup ini untuk menanggung semua penderitaan terletak kepada doanya. Lihatlah Kristus di Getsemani, bagaimana Dia berdoa takluk kepada seluruh kehendak Allah dan itu adalah diri-Nya, itu adalah hati-Nya di sana, maka itu adalah kekuatan di sana, saudara-saudara lihat setelah dari tempat Getsemani itu Dia tidak pernah goyah, Dia tidak pernah takut, Dia berjalan terus melewati seluruh kerumunan masa, melewati seluruh perwira Romawi, melewati seluruh imam besar dan semua orang yang begitu jahat kepada Dia, melewati Herodes, melewati Pontius Pilatus, dan semua cambukan itu, mahkota itu, dan seluruh hinaan yang sampai kepad-Nya. Darimana kekuatan-Nya? Dari Getsemani.

Saudara-saudara, dunia ini sudah jatuh di dalam dosa, dan ini adalah dunia yang jahat. Dunia ini akan mempesona kita. Jikalau tidak berhasil, maka dia akan memikat kita. Jikalau tidak berhasil, maka dia akan menipu kita. Jikalau tidak berhasil, dia akan membenci kita. Jikalau tidak berhasil, dia akan menghina kita. Jikalau tidak berhasil, dia akan menyiksa dan membunuh kita. Darimana kekuatan kita? Yesus mengatakan berjaga-jaga dan berdoalah. Roh memang penurut tetapi daging lemah. Bagaimana kita bisa menaklukkan dunia ini, bagaimana kita bisa menaklukkan daging, menaklukkan dosa yang ada di dalam daging kita. Yesus mengatakan, satu-satunya jalan, adalah bergantung sepenuhnya kepada kekuatan sorga dan itu hanya melalui sarana doa. Hanya doa, tidak ada yang lain.

Saudara-saudara, melihat pembahasan semuanya ini, hidup kita sebenarnya ditentukan hanya oleh belas kasihan Allah. Dan belas kasihan Allah itu kita minta di dalam doa. Belas kasihan Allah itu diberikan kepada kita di dalam doa. Orang yang tidak mau berdoa adalah orang yang sombong. Karena orang tersebut tidak memerlukan belas kasihan Allah, kita harus bertobat. Kita harus banyak berdoa. Hari ini, malam hari ini, semua kalimat saya tidak akan berhasil, kecuali anugerah Tuhan hadir di dalam hidup kita dan seluruh kebaktian ini akan sia-sia, kalau Tuhan tidak memberikan kepada kita satu gerakan untuk berdoa. Sebagai hamba Tuhan saya begging kepada engkau, saya meminta kepadamu jemaat, berdoa! Berdoa! Berdoa! Saya begging bukan untuk diri saya, saya begging untuk Kerajaan Allah, saya begging untuk jiwamu, jikalau engkau mencintai jiwamu, jikalau engkau mencintai hidupmu, berdoa! Berdoalah jemaat. Minta belas kasihan-Nya untuk kita. Semua ini Kristus kerjakan dan Kristus ajarkan untuk engkau dan saya. Milikilah hati seperti murid itu, “Tuhan, ajar aku untuk berdoa.” Dan sebelum Ia mengajarkan kita untuk isi doa, Lukas mengajarkan bahwa Dia adalah Man of Prayer. Berdoalah saudara-saudara. Berdoalah dengan kekuatan sebisa mungkin kita lama di hadirat Allah. Berdoalah juga setiap hari Sabtu engkau berdoa di gereja ini. Ini adalah sesuatu yang penting. Ini sungguh-sungguh penting di dalam seluruh gereja kita. Dan seluruhnya penting bagi setiap keluarga kita masing-masing. Saudara-saudara berdoalah, karena ini adalah kehendak Allah. Kenapa kita harus berdoa? Karena Kristus sendiri berdoa. Kiranya Tuhan mengasihani kita.


Matius 6:5-9
 
 

Matius 6:8-9
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

9 September 2018
Doa Bapa Kami (3)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Matius 6:5-9

Matius 6:5-9

Matius 5-7 berbicara mengenai khotbah Yesus di bukit. Dan ini adalah kalimat-kalimat Yesus untuk menyerang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ketika kalimat kebenaran itu dinyatakan maka pada saat yang sama maka kesalahan itu akan terbongkar. Maka sebaik apapun, sehalus apapun maka seluruh kesalahan itu akan diungkapkan. Dan ketika Yesus Kristus menyatakan di dalam doa, maka Dia mengajarkan sesuatu melampaui ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dan bukan saja sesuatu yang melampaui, pertama-tamanya Dia menegur murid-murid-Nya, jangan kamu seperti mereka. Ini bukan bersifat oikoumene, menjangkau seluruhnya. Ini adalah kalimat yang tidak disukai pada saat ini, seakan-akan menyalahkan orang lain. Tetapi sekali lagi, ketika kebenaran itu dinyatakan, maka ini sekaligus akan menyerang segala kesalahan. Yesus Kristus dengan jelas sekali menyatakan jangan engkau seperti mereka. Di tempat yang lain Yesus Kristus mengatakan engkau sudah mendengarkan Firman mengenai hal ini, tetapi Aku mengatakan sesungguhnya yang benar adalah yang ini. Saudara-saudara kita harus selalu membuka jiwa kita untuk mengerti Firman yang benar. Saudara kita jangan pernah punya kenaifan kekristenan seluruh pengajaran benar. Ada yang benar, dan ada yang salah. Ada yang sehat, ada yang pengajarannya seperti racun. Ada yang pengajarannya itu luas, ada yang pengajarannya begitu sempit. Tidak semua gereja sama. Tidak semua teologia sama. Tidak semua interpretasi sama. Jangan kamu seperti mereka demikian kata Yesus. Maka ini adalah pengajaran Yesus Kristus mau menyatakan jangan engkau berdoa seperti ini. Dan di dalam beberapa minggu ini, sampai saat ini, saya membuka kalimat Yesus itu, mengelaborasi apa yang Alkitab katakan.

Beberapa waktu yang lalu saya sudah berbicara mengenai empat hal Tuhan tidak menjawab doa. Yang pertama jikalau kita berdoa tidak di dalam nama Kristus. Yang kedua adalah ketika kita berdoa dengan pikiran yang liar dan tidak terkontrol. Hal yang ketiga adalah jikalau hati kita jahat dan dosa yang tidak kita akui maka Allah pasti tidak mendengar. Alkitab mengatakan apakah yang membuat Aku tidak mendengarkan doamu? Apakah terlinga-Ku tertutup? Apakah tangan-Ku itu kurang panjang untuk menolong engkau? Allah menyatakan Aku tidak menolong engkau, Aku tidak menjawab doamu, karena engkau berdosa di hadapan-Ku. Hal yang keempat. Kalau kita itu berdoa tetapi doa itu lahir dari jiwa yang sinkritis. Di dalam ayat ini Alkitab mengatakan di dalam doamu jangan kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Jangan engkau seperti pagan. Jangan engkau seperti orang penyembah berhala. Apa itu? Apa kebiasaan mereka? Mereka itu berdoa dengan kalimat-kalimat yang panjang bertele-tele. Diulang-ulang terus. Bukan karena ketekunan. Bukan karena kerendahan hati. Tetapi adalah karena mereka berpikir itu adalah mantra untuk bisa dikabulkan. Banyak sekali orang Kristen melakukan hal-hal ritual agama Kristen yang sebenarnya bukan ada di dalam Alkitab. Saudara menggabungkan sesuatu yang bukan Kristen ke dalam ibadah Kristen. Maka ini adalah disebut sebagai sinkritisme. Dan itu mendukakan hati Allah. Alkitab dengan jelas menyatakan. Berdoa kepada Allah jangan seperti pagan. Dan saya akan lanjutkan hari ini. Apa di dalam prinsip apa di dalam Alkitab dimana seseorang berdoa dan Allah itu tidak mengabulkan.

Hal yang kelima. Jikalau kita berdoa dan doa itu lahir dari kasih yang hambar dan tradisi yang kosong. Mari kita melihat Hosea 6:4-6. Apa yang terjadi pada orang-orang Israel pada waktu itu? Kenapa ritual mereka menjadi sesuatu kebencian bagi Allah? Mereka tetap melakukan perpuluhan. Mereka tetap melakukan doa. Mereka tetap melakukan puasa. Mereka tetap pergi ke perkumpulan-perkumpulan untuk menyembah Allah. Mereka tekun melakukan hal itu. Tetapi kenapa seluruh ibadah mereka itu menjadi kekejian bagi Allah? Jawabannya adalah karena Allah melihat ibadah mereka adalah sebuah rutinitas tanpa sesuatu kasih. Tidak ada api lagi. Tidak ada kesegaran lagi. Tidak ada kerendahan hati lagi. Sesuatu yang sifatnya mekanis terus menerus terjadi. Mereka mengikuti tradisi demi tradisi. Dan tradisi itu kosong adanya. Dan Alkitab menyatakan Aku tidak menyukai semua itu. Aku menyukai pengenalan akan Allah lebih daripada korban-korbanmu hai Israel. Aku menyukai kasih setia lebih daripada korban sembelihanmu hai Israel. Di tempat yang lain, Allah pernah menyatakan apakah engkau pikir bukan Aku yang memiliki seluruh binatang itu? Bukankan Aku yang memiliki seluruh hutan itu? Aku yang memilikinya. Dan engkau mempersembahkannya pada-Ku? Seakan-akan Allah itu membutuhkannya. Engkau mempersembahkannya kepada Allah atau karena Allah perintahkan. Tetapi itu tidak lahir dari cinta kasih. Berapa banyak ritual kita seperti itu? Berapa banyak orang yang malam hari ini pergi ke gereja ini dengan satu sukacita, satu kehausan akan Allah? Ataukah engkau datang karena engkau diabsen? Mama, papa, saudara-saudara, yang ada di Indonesia memonitor engkau sehingga engkau hadir? Atau sebagian engkau hadir karena ini hari Minggu? Engkau mau membereskan sense of divinity di dalam hatimu, kalau tidak pergi ke gereja tidak enak rasanya. Tetapi tanpa ada sesuatu kehausan. Tanpa ada sesuatu cinta kasih. Tanpa ada sesuatu kobaran api. Tanpa ada sesuatu kerinduan. Dan seluruhnya adalah ritual yang kosong. Kasih yang hambar. Dan Allah tidak menghendaki. Dan Allah tidak akan menjawab doa seperti ini. Orang-orang Puritan mengatakan Roh Kudus akan mengajarkan kita content doa. Tetapi bukan saja content doa, bentuk hati kita ketika kita itu menghadap Allah. Tidak ada hati yang dingin yang bisa untuk datang ke tahta Allah. Setiap orang yang mau datang ke tahta Allah dan kemudian didengar oleh Dia. Dan dikabulkan doanya. Adalah dengan kerinduan yang besar dan itu tidak bisa dia-adakan. Itu hanya bisa kalau Allah itu menganugerahkan pengenalan akan Dia.

Saudara-saudara, di dalam Alkitab maka saudara-saudara akan menemukan prinsip ini. Kita diminta untuk berdoa dengan disiplin terus menerus tekun. Sama seperti seorang janda yang mengetuk pintu rumah hakim. Mengetuk lagi. Ketuk lagi. Sampai hakim itu membukakannya. Pada hari terakhir demikian kata Yesus Kristus. Apakah anak manusia mendapatkan iman di bumi ini? Ada ketekunan. Tetapi ketekunan itu bukan ketekunan yang hambar. Ketekunan itu adalah ketekunan yang bersemangat. Ketekunan itu adalah ketekunan yang penuh dengan api. Ketekunan yang penuh dengan kerinduan. Ketekunan dengan kesegaran setiap hari. Itulah sebabnya Yesus Kristus mengatakan. Jangan engkau tahan anak kecil itu datang kepada-Ku karena dialah yang memiliki Kerajaan Sorga. Apa yang anak kecil itu miliki? Kesegaran. Sense of wonder, ketertakjuban, setiap hari, walaupun itu diulang-ulang. Saya mengerti Firman ini adalah dari pengalaman hidup saya. Saya masih ingat beberapa puluh tahun yang lalu. Anak saya yang pertama masih kecil kurang lebih umur ±3 tahun. Ketika saya itu bekerja dan saya pulang kerja sekitar jam 6 sore. Setelah saya memasukkan mobil saya ke garasi rumah dan memasuki pintu rumah, anak saya yang masih kecil itu selalu bersembunyi di balik pintu itu, dan memberikan surprise kepada saya. Dia meloncat dengan seluruh mimik yang takjub dan kemudian dia mengatakan “dor!” Dan saya kemudian berkata, “Papa kaget!” Dan itu diulang berbulan-bulan. Mungkin buat kita sesuatu yang lucu. Tetapi buat anak kecil hal yang sama setiap hari tetapi segar. Apakah kita masih punya hati seperti itu setiap hari bertemu dengan Tuhan di dalam doa atau tidak? Ketertakjuban. Kesegaran. Bukan tradisi yang diulang-ulang yang kosong. Kebanyakan dari kita bahkan berdoa itu dengan pikiran yang kosong, dengan afeksi yang hambar. Kita sudah kehilangan hal-hal seperti ini. Dan Alkitab mengatakan Aku menyukai pengenalan akan Allah lebih daripada korban-korban bakaran. Menyukai kasihmu hai Israel bukan korban sembelihan. Engkau memberikan korban itu kepada-Ku tetapi di mana hatimu? Apakah engkau mau jikalau istrimu itu menyiapkan makanan kepadamu karena itu adalah pekerjaannya? Apakah engkau mau untuk orang-orang di dalam kepengurusan GRII Sydney melakukan segala sesuatunya hanya karena responsible-nya saja tetapi tanpa hati. Allah menghendaki hati. Kedisiplinan dan kesegaran menjadi satu dan dua ini ada jika dan hanya jika saudara dan saya bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah. Kalau saudara dan saya tidak bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah, ketika kita berdoa saudara tahu itu adalah keluar dari legalism. Kiranya Tuhan mengasihani kita.

Hal yang keenam, terakhir. Yaitu kita berdoa dengan ambisi permintaan yang keliru, ambisi motivasi yang salah. Di dalam ayat ini, di dalam Matius 6, Yesus Kristus mengatakan jangan engkau berdoa seperti orang Farisi, mereka mengucapkan doanya dengan motivasi satu, dipuji oleh manusia, seluruh isi hatinya, arahnya adalah kepada manusia dan bukan kepada Allah. Arah dari hati itu penting sekali. Saudara dan saya tidak bisa menilai orang Farisi itu, ada dua orang Farisi berdoa hal yang sama, berdoa juga di depan jalan, orang Farisi atau orang Israel kebanyakan kalau berdoa dengan berdiri dan juga dengan mata terbuka ke langit. Tidak berarti bahwa mereka itu selalu akan menginginkan pujian manusia, tetapi Yesus Kristus mengatakan ada orang-orang yang berdoa demikian untuk pujian manusia. Orang-orang seperti ini jangan engkau ikuti, perhatikan hatimu, perhatikan motivasimu dan juga perhatikan apa ambisi engkau meminta. Mari kita melihat Yakobus 4:1-4. Meminta dengan motivasi yang keliru. Oh, aku berdoa supaya di lihat oleh orang. Oh, aku berdoa ngotot, aku tekun, adalah untuk mendapatkan apa yang aku minta. Engkau meminta, engkau tidak mendapat apa-apa karena engkau salah meminta dan yang kamu minta itu untuk engkau habiskan dengan hawa nafsumu.

Perhatikan baik-baik, kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh, katakan di dalam doa apa yang kita inginkan, tetapi jagailah hati kita. Ketika kita menyadari Allah mengatakan “stop” maka berhentilah untuk meminta dan bersyukurlah kepada Tuhan karena Dia memiliki rencana yang lebih tinggi daripada apa yang kita pikirkan. Calvin menyatakan kita harus berdoa tidak lebih dari yang Tuhan perbolehkan. Kita tidak bisa meminta sesuatu yang di luar janji Tuhan. Kita tidak bisa menuntut sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Hati-hati dengan kebutuhan kita. Karena kebutuhan jikalau kita tekan akan menjadi keinginan, tetapi kalau keinginan kita tekan akan menjadi hawa nafsu. Alkitab dengan jelas mengatakan, Allah akan memenuhi seluruh kebutuhanmu, tetapi tidak pernah ada janji Allah akan memenuhi seluruh keinginanmu dan ingatlah jikalau sudah sampai kepada nafsu, maka kita berada di dalam bahaya, apalagi jikalau itu diberikan, apalagi jikalau doa berdasarkan nafsu itu ada hasilnya. Jangan berfikir bahwa setiap doa yang dijawab pasti dijawab karena kebaikan Allah. Perhatikan baik-baik prinsip Alkitab, saudara-saudara tidak diperbolehkan menilai bahwa memperoleh atau tidak memperoleh menjadi tolak ukur kebenaran doa kita. Di dalam Alkitab ada doa-doa yang jelas dikabulkan tetapi dikabulkan karena kemarahan Allah.

Di dalam Alkitab dengan jelas ada doa-doa yang dikabulkan tetapi Allah memberikan setan yang mengabulkannya. Matius 4:11 menyatakan bahwa Yesus dicobai. Kenapa Yesus dicobai? Yesus itu memerlukan sesuatu hal untuk kehidupan-Nya karena Dia adalah Allah oknum ke-2 yang berinkarnasi (kenosis). Maka Dia adalah seperti saudara dan saya, dan setan kemudian datang dan setan datang 3 kali mencobai Dia dengan segala sesuatu yang Dia perlukan. Engkau Anak Allah? Maka ubah batu menjadi roti. Yesus memerlukan makanan karena Dia manusia biasa seperti engkau dan saya, dan ketika hal itu terjadi setan menyatakan. Apa yang Alkitab mau ajarkan implikasinya adalah setan bisa memberikan kepada kita apa yang kita inginkan. Saudara jangan pernah berpikir kalau saudara dan saya dikabulkan pasti itu dari kebaikan Allah. Sering sekali jikalau kita itu meminta dengan ngotot karena hawa nafsu kita, Allah akan memberikan tetapi bukan karena kebaikan-Nya tetapi Dia akan memberikan dalam murka atau memperbolehkan setan memberikannya. Matius pasal 19 menyatakan Tuhan bilang jangan berzinah, tetapi Musa itu mengijinkannya karena kekerasan hatimu. Apa artinya? Artinya bahwa orang itu akhirnya berhasil menceraikan isterinya, orang itu akhirnya mendapatkan perempuan yang diinginkannya, tetapi itu bukan karena kebaikan Allah kepada dia, tetapi Allah menyerahkan kepada nafsunya. Saudara perhatikan hal yang pertama adalah setan bisa memberikan apa yang kita minta. Hal yang kedua adalah Tuhan memberikan itu karena Dia melepaskan kita dengan seluruh nafsu kita sehingga kita mendapatkannya. Kemudian terakhir saudara lihat Mazmur pasal 78:29-31. Mari kita melihat Mazmur pasal 106 :13-15. Saudara saya akan berikan konteknya, pada waktu itu orang Israel berada bersama-sama dengan Musa di padang gurun, tetapi mereka tidak bersyukur atas pelepasan Allah dari Mesir, tetapi mereka itu berkeluh kesah, mereka mengatakan kami di sini tidak dapat apa-apa, kami hanya makan manna dan juga minum air, tidak ada sayuran, tidak ada buah-buahan, tidak ada daging, kami menginginkan kembali hal-hal yang ada di Mesir. Dan kemudian mereka itu berteriak-teriak kepada Tuhan, mereka berdoa kepada Tuhan, mereka terus-menerus meminta kepada Tuhan, berikan daging itu, berikan daging itu, kami tidak suka dengan hal-hal seperti ini, hanya manna, hanya sesuatu roti yang tidak beragi dan kemudian orang-orang Israel berteriak-teriak dan kemudian Allah mengirimkan burung puyuh. Wah, Puji Tuhan! Doaku terkabul dan burung puyuh itu jatuh di depan mereka. Mereka mengambilnya, mereka memasaknya. Alkitab mengatakan ketika mereka memakannya, murka Allah timpa kepada mereka, seluruh pengabulan doa adalah dikabulkan karena kemurkaan Allah. Jangan kita berpikir setiap kali doa dikabulkan itu adalah karena kebaikan Allah. Hati-hatilah dengan kebutuhan. Kebutuhan yang kita tekan akan menghasilkan keinginan, dan keinginan yang kita tekan akan menghasilkan lust, tetapi biarlah hati kita memiliki simplicity of heart.

Bersyukur untuk segala sesuatu yang Tuhan berikan atau tidak berikan. Berdoalah jika kita memerlukan sesuatu dan serahkan kepada Tuhan seluruh jawabannya, kadang Dia mengabulkan, kadang Dia menunda, kadang Dia mengajarkan hal-hal yang lain. Perhatikan mata kita kepada pribadi Allah dan kehendak-Nya dan bukan kepada kebutuhan kita. Allah Bapa di surga lebih mengerti apa yang kita perlukan daripada diri kita sendiri dan kemudian ketika kita meminta kepada Bapa di surga di dalam nama Yesus Kristus dan biarlah kita boleh bersyukur tentang apa saja yang Dia akan perbuat kepada kita. Milikilah simplicity of heart maka kita akan bisa bersyukur dengan segala sesuatu kebaikan Allah, sekecil apapun dan sebenarnya tidak ada berkat yang kecil, yang ada adalah jiwa kita yang penuh dengan lust. Dan jikalau Allah tidak mengabulkan doa kita, apa yang harus kita kerjakan? Bersyukurlah, karena tetap doa yang tidak dikabulkan itu adalah bentuk cinta kasihnya. Dan saya akan akhiri dengan satu tokoh, seorang bernama Ruth dan orang itu berdoa untuk teman hidup dan setelah beberapa lama, dia kemudian menginginkan untuk mendapatkan satu orang yang dikenalnya, tetapi kemudian Tuhan jelas sekali menyatakan tidak. Apakah dia kecewa? Ya, dia kecewa, tetapi beberapa tahun setelah itu dia menuliskan sukacita dan syukur kepada Tuhan karena doa yang tidak dijawab itu. Kenapa? Karena Tuhan memberikan seorang suami yang begitu baik dan siapakah suaminya? Nama belakang Ruth itu Ruth Graham, dia adalah isteri Billy Graham. Ruth mengatakan saya tidak bisa membayangkan hidup saya jikalau Tuhan mengabulkan doa saya. Dia mengatakan tidak, Dia memberikan kepadaku yang terbaik dalam hidupku. Bersyukurlah kepada Dia, karena Tuhan itu baik adanya, tenangkan hati kita dan lihatlah kebaikan-Nya.


Matius 6:5-9
 
 

Matius 6:9, Lukas 11:1-2
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more