19 May 2024
Pentakosta
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Kis 10:44-46; 11:15-18

Kis 10:44-46; 11:15-18

Hari ini kita memperingati Hari Pentakosta. 2000 tahun lebih yang lalu Yesus naik ke sorga dan dari sorga mengirimkan Roh Kudus, Roh-Nya sendiri di tengah-tengah manusia. Pertanyaannya adalah untuk apa Yesus mengirimkan Roh-Nya kepada gereja-Nya. Saudara-saudara, pekerjaan Mesias adalah dari inkarnasi dan kemudian Dia mati dan kemudian Dia bangkit dan Dia kemudian naik ke sorga duduk di sebelah kanan Allah. Apakah selesai sampai di situ? Jawabannya adalah tidak. Maka Alkitab mengatakan pekerjaan Mesias yang tidak pernah boleh kita lupakan adalah bukan saja Dia mati di atas kayu salib, tetapi mengutus daripada Roh Kudus-Nya. Sekali lagi seluruh kalimat yang saya katakan ini menjadi satu benang merah dan merupakan rantai yang tidak terputus dari pekerjaan Allah di dalam keselamatan kita. Kita diselamatkan karena Kristus Yesus mau memakai tubuh ini. Kita diselamatkan karena Dia rela mati bagi kita. Kita diselamatkan karena dia bangkit, Dia naik ke sorga, mengaplikasikan seluruh pekerjaan mesianiknya. Diterima oleh Bapa di sorga, duduk di sebelah kanan dan seluruh pekerjaan-Nya itu tidak mungkin akan kita ketahui kecuali dia memberikan Roh Kudus-Nya kepada seseorang. Itu adalah seluruhnya pekerjaan Mesias yang menjadi satu. Satu rantai saja terputus maka tidak ada keselamatan di dalam hidup kita. Kristus sekarang di sorga, duduk di sebelah kanan Allah. Alkitab menyatakan Dia di sana Dia mengutus Roh Kudus-Nya. Sekali lagi pertanyaannya adalah untuk apa? Saudara-saudara, berkali-kali dari mimbar ini saya memperdengarkan kembali suara ini dengan keras apa yang Alkitab nyatakan, apa isi hati Yesus ketika Dia ada di tengah-tengah dunia ini. Apa yang menjadi isi hati Yesus ketika Dia ada di tengah-tengah dunia ini? Apa yang menjadi inti dari seluruh pengajaran-Nya. Maka seluruhnya adalah bicara mengenai satu kalimat ini, Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah isi dari hati Yesus Kristus. Kerajaan Allah itu, Dia mau hadirkan di tengah-tengah dunia, di dalam hidup-Nya dan melalui hidup-Nya. Dan setelah Dia bangkit, Dia tidak langsung naik ke sorga, Dia menghubungi, Dia berelasi dengan satu persatu, menampakkan diri dengan satu persatu orang yang dipilih-Nya. Bicara mengenai satu tema saja, yaitu Kerajaan Allah. Sekarang Dia naik ke sorga dan kemudian mengutus Roh Kudus, untuk apa? Apa inti pekerjaan Roh Kudus yang paling utama? Saudara-saudara, jawabannya adalah memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini melalui gereja-Nya.

Kalau saudara dan saya meneliti Alkitab, saudara akan menemukan benang merah ini, kaitan ini, isi hati Kristus dan isi hati Roh Kudus adalah sama identik. Kristus menghadirkan Kerajaan Allah dan Kristus naik ke sorga. Sebelumnya Dia mengutus gereja-Nya untuk mengekspansi Kerajaan Allah itu di muka bumi ini, tetapi Dia mengatakan jangan gerak dulu, sampai engkau diperlengkapi dari kuasa tertinggi dan kemudian Roh Kudus itu turun dan Roh Kudus memakai gereja-Nya untuk mengekspansi Kerajaan Allah. Dan sekarang saya akan memberikan kepada saudara-saudara apa yang menjadi inti, kenapa kita bisa mengatakan Roh Kudus itu pekerjaan utamanya adalah mengekspansi Kerajaan Allah.

Saudara-saudara, di dalam Alkitab, saudara-saudara menemukan bahwa orang Israel itu adalah orang yang menunggu Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah itu hadir. Dan kalau saudara-saudara melihat daripada bangsa Israel saat ini, saudara juga tanya kepada mereka, apa yang mereka tunggu? Mereka akan mengatakan Kerajaan Sorga. Itulah sebabnya saudara-saudara ketika pertama kali nabi di dalam Perjanjian Baru yang muncul, saudara perhatikan, nabi sebenarnya ada di dalam Perjanjian Lama. Tetapi saudara-saudara, perhatikan ada satu nabi yaitu Yohanes Pembaptis yang muncul di Perjanjian Baru. Yohanes Pembaptis menjadi satu nabi terakhir dari Perjanjian Lama yang hidup di dalam Perjanjian Baru. Dan kemudian Yohanes Pembaptis itu berseru apa? “Bertobatlah, karena Kerajaan Sorga sudah dekat.” Saudara-saudara, kalimat itu adalah kalimat 400 tahun, sebelumnya itu tidak ada nabi. Begitu dia keluar, dia mengatakan “Bertobatlah, karena Kerajaan Sorga sudah dekat.” Kita sangat-sangat familiar dengan kalimat itu bukan?Tetapi kenapa kita tidak bertanya? Kenapa ya orang Israel pada waktu itu tidak bingung? Kalau saudara-saudara, ada orang di depan kita, di Sydney ini, di pasar di Sydney ini misalnya atau di Indonesia, lalu kemudian dia berteriak, “Bertobatlah, karena Kerajaan Sorga sudah dekat.”Maka saudara akan dekati orang itu, terus kemudian saudara bertanya, “Maksudmu apa? Aku tidak mengerti.” Tetapi buat orang Israel, dia tidak ada satu pun yang bertanya. Apa artinya? Artinya adalah pengertian atau doktrin Kerjaan Sorga atau Kerajaan Allah itu, mereka sudah mendarah daging mengerti. Tetapi kalau mereka mengerti, mereka kenapa tidak mengenal Kristus? Saudara-saudara di sini problem-nya, kalau saudara melihat buku Perjanjian Baru, ada kata misteri yang digunakan oleh Yesus maupun oleh Paulus. Misteri inilah yang menjadi batu sandungan. Misteri inilah yang menjadi satu tembok yang tidak bisa dilalui manusia dan misteri ini hanya bisa di mengerti kalau Roh Kudus itu bekerja kepada seseorang. Pada pagi hari ini, kita akan melihat dua misteri di dalam Kerajaan Allah ini apa. Dan kalau saudara dan saya hati-hati untuk memperhatikan, saudara dan saya akan mengerti pekerjaan Roh Kudus yang besar sekali dalam hidup kita dan saudara akan mengerti siknifikansi kenapa Roh Kudus harus dicurahkan di dunia ini. Yohanes Pembaptis mengatakan, “Bertobatlah, karena Kerajaan Sorga sudah dekat.” Kerajaan Sorga itu adalah sesuatu yang biasa buat orang Israel, buat kita tidak. Buat orang di Sydney tidak, buat orang di Amerika tidak. Tetapi buat orang Israel, itu adalah sesuatu yang sudah mereka mengerti. Tetapi meskipun begitu di dalam Alkitab, maka tulisan Alkitab adalah ada misteri. Lalu misterinya apa? Saudara-saudara, ada dua hal.

Pertama, misteri pertama adalah siapakah Mesiasnya? Di dalam Perjanjian Lama sampai sekarang juga orang-orang Israel itu memiliki doktrin Kerajaan Allah. Tadi saya sudah katakan. Dan di dalam pikiran mereka, Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah itu datang kalau satu pribadi ini datang, yaitu Mesias. Mesias adalah pribadi central yang menjadi pembebas. Yang akan menghadirkan pemerintahan Allah langsung di muka bumi ini. Maka orang-orang Israel dari generasi ke generasi menunggu. “Mesias datanglah.” Sampai sekarang saudara-saudara, orang Israel menunggu “Mesias datanglah.” Dan kita mengatakan kepada orang Israel, “Hai orang Israel dengarkan berita ini, Yesuslah Mesias itu.” Mesias nama lainnya adalah Christ. Kristus yang diurapi. Kita mengatakan Yesus Kristus, Yesus adalah Mesias. “Hai orang Israel, Yesuslah Mesias itu.” Tetapi mereka mengatakan, “Bukan, kamu salah orang Kristen.” “Lho, kenapa salah? Yesus benar-benar Mesias kok.” Dan orang Israel akan mengatakan demikian, “Kamu harus tahu orang Kristen, di dalam Perjanjian Lama, maka kalau Mesias itu datang atau Kristus itu datang, itu akan membuat hidup kami ada transformasi langsung. Membuat kami yang kalah itu sekarang menang. Membuat kami sekarang yang di hina itu menjadi makmur. Akan ada pemulihan hidup di dalam hidup kami, kalau Mesias itu benar-benar datang.” “Dan kamu apakah tahu, orang-orang Kristen, kalau Mesias itu benar-benar datang, musuh kami akan dihancurkan. Bahkan yang sakit itu akan menjadi sembuh.” “Kalau Mesias itu datang, akan ada perubahan besar dalam hidup kami dan perubahan yang menyeluruh bukan saja besar, menyeluruh.”“Dia akan membuat kami melompat bersukacita kegirangan.”“Intinya adalah orang Kristen, intinya engkau harus tahu orang Kristen, kalau Mesias itu datang maka Dia akan membalik kehidupan kami ini. Kami akan masuk ke dalam jaman yang baru, jaman yang gilang gemilang.” New age. The age to come. Yang sekarang akan diberikan. “Bukan jaman seperti ini. Engkau mengatakan Yesus adalah Kristus. Yesus adalah Mesias. Hai orang kristen, engkau salah, lihat kami, kami masih dalam penjajahan, musuh kami masih mengatakan dia yang menang. Berapa anak Israel yang dihancurkan hari ini, apakah engkau tahu orang Kristen, kenapa kami tidak bisa mempercayai Yesus adalah Kristus? Karena kalau engkau mengatakan Yesus adalah Kristus, jaman yang baru akan datang.” Ternyata tidak. Tetapi inilah yang menjadi misteri yang tersembunyi itu. Yesus sudah mengatakan, Matius 13:11 yang tadi kita baca. Lho apa misterinya? Dengarkan baik-baik murid-murid-Ku. Ada seorang yang menabur benih dan jatuh ke empat tanah yang berbeda. Dan benih itu adalah benih Kerajaan Sorga, Kerajaan Allah. Separuh benih itu jatuh ke pinggir jalan dan burung memakannya sampai habis. Separuh lagi jatuh ke tanah-tanah berbatu, tumbuh sebentar, tetapi tanahnya tipis lalu tanahnya kering. Lalu mati. Separuh lagi adalah jatuh ke semak-semak berduri, semak itu makin besar lalu menghimpitnya lalu mati. Lalu sebagian lagi jatuh di tanah yang baik, berbuah 30 kali lipat, 10 kali lipat, 60 kali lipat. Ini misterinya. Hah! Apa ini? Apa misterinya? Apa maksudmu Tuhan. Saudara-saudara, apa yang Yesus mau katakan dengan perumpaan itu, saudara perhatikan baik baik, Yesus mau mengatakan kalau Kerajaan Allah itu datang akan ada suatu progress. Itu tidak serta-merta langsung berhasil, ada pertentangan, ada perlawanan, ada kesulitan juga ada perkembangan. Berbeda dengan konsep orang-orang Yahudi kalau Kerajaan Allah itu datang maka langsung ada berkat-berkat masa depan yang didatangkan, ada perubahan hidup secara instant. Ada jaman baru yang hadir. Ada kemenangan, ada kesehatan, ada kemakmuran hidup langsung berubah kalau Kerajaan Allah, Mesias itu datang. Tetapi Aku mengajar kepadamu murid-murid-Ku, tidak seperti itu. Kalau Kerajaan Allah itu datang, ada pertentangan, ada kesulitan, ada penganiayaan dan tidak serta merta langsung berhasil. Lalu kita berpikir, lho kalau begitu apakah Mesias kalau Dia itu datang tidak akan ada jaman yang baru Tuhan? Alkitab mengatakan, ada. Ada jaman yang baru. Lalu sekarang, bagaimana saya bisa merelasikan pengajaran Yesus dengan konsep orang Yahudi ini. Kesalahan mereka ada di mana? dan misterinya di tempat kita apa? Saudara perhatikan baik-baik. Yesus mengajar Mesias datang dua kali. Kedatangan pertama dan kemudian nanti kedatangan kedua, baru nanti langit dan bumi yang baru. Kedatangan yang kedua, baru jaman yang baru sepenuhnya kita dapatkan. Itu misterinya, itu rahasianya. Dan perhatikan saudara-saudara, maka di sinilah signifikansi Roh Kudus bekerja. Kalau Roh Kudus tidak bekerja kepada diri orang-orang Israel atau manusia, sampai mati dia tidak pernah akan tahu bahwa Yesus adalah Kristus. Saudara-saudara sekali lagi, hanya Roh Kudus yang bisa mendobrak tembok yang besar ini. Hanya Roh Kudus yang bisa membuat seseorang dan orang-orang Yahudi sadar, Yesus adalah Kristus. Ada misteri di dalam Alkitab dikatakan yang tidak mungkin bisa ditembus oleh mata manusia karena Alkitab dengan jelas menyatakan Kristus datang dua kali. Ketika Yesus itu datang yang pertama kali, maka ada perubahan tetapi bukan sesuatu perubahan secara keseluruhan secara fundamental.Kerajaan Allah itu sudah datang, jawabannya, sudah dan belum. Already and not yet. Ini adalah sesuatu doktrin yang besar sekali, doktrin yang prinsip sekali. Sehingga sekali lagi, tanpa pekerja Roh Kudus tidak mungkin ada satu manusiapun bisa mengakui bahwa Yesus adalah Kristus, terutama orang-orang Israel.

Sekarang misteri yang kedua dan saya akan mengfokuskan pada yang ini. Ada misteri yang kedua bukan saja yang pertama. Misteri yang kedua ini menjadi stumbling block bagi seluruh murid Yesus yang adalah orang Yahudi. Padahal mereka sudah terima Yesus, padahal mereka sudah melihat Yesus bangkit. Tetapi tetap ada suatu tembok besar yang mereka tidak bisa tebus kecuali Roh Kudus bekerja. Saudara perhatikan misteri yang pertama yaitu adalah misteri bagi seluruh orang Yahudi dan seluruh orang-orang di dunia ini. Tidak mungkin orang bisa mengakui Yesus, anak dari Yusuf dan Maria itu Kristus, kecuali pekerjaan dari Roh Kudus, dan itu tertutup bagi semua bangsa. Itu tertutup bagi seluruh manusia yang hidup, apalagi untuk orang Israel. Maka saudara-saudara tahu bukan salah satu bangsa yang paling sulit dikabarkan Injil itu bukan Islam tetapi bangsa Yahudi. Kita sulit sekali dengan Islam karena banyak dari mereka yang radikal dan ingin untuk membunuh. Tidak semua, tapi banyak dari antara mereka. Tetapi kalau Injil diberitakan, saudara akan tahu bahwa tetap lebih mudah membuat orang Islam mengerti Injil daripada orang Yahudi. Kenapa Yahudi sulit? Karena sekali lagi, kalau you mengatakan Yesus adalah Mesias, saya mesti berubah hidup. Saya harus menemukan jaman yang baru itu. Saudara-saudara, itulah sebabnya pekerjaan Roh Kudus adalah memperlihatkan kemuliaan Kristus melalui penderitaan-Nya. The glory of Christ through His suffering.

Sekarang hal yang ke-2. Misteri yang ke-2 itu apa? Yaitu keanggotaan Kerajaan Allah itu terbuka bagi bangsa-bangsa lain. Saudara-saudara, kembali lagi ke dalam konsep Israel. Bagi orang Israel, kalau seseorang itu mau diselamatkan, artinya kalau saudara dan saya mau masuk ke dalam Kerajaan Surga, maka saudara dan saya harus masuk ke dalam agama Yahudi. Itu namanya proselyte. Kita harus disunat. Kita harus mengikuti seluruh ritual Jew. Karena bagi orang Yahudi, mereka mengakui bahwa mereka adalah bangsa pilihan. Anak emas Tuhan. Maka kalau seluruh bangsa yang lain mau mendekat kepada Allah harus melalui ritual Yahudi. Mereka berpikir tidak ada keselamatan bagi Gentile. Bangsa lain adalah Kafir. Bangsa lain adalah najis. Kalau engkau mau untuk diselamatkan, masuk dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi, masuklah menjadi proselyte. Disunat. Mengikuti ritual Yahudi dan hukum-hukum Yahudi. Tetapi, Alkitab menyatakan ada satu rahasia besar di sini. Di dalam Efesus 3:4-6 yang tadi kita baca, dikatakan misterinya itu adalah ‘bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.’ Saudara-saudara, ini adalah misteri yang ke-2 di dalam konsep Kerajaan Allah. Dan, ini tidak mungkin bisa ditembus bukan saja oleh orang Yahudi secara kebanyakan, ini tidak bisa ditembus oleh murid Yesus sendiri. Tidak mungkin Gentile itu, Allah itu langsung direct dengan mereka. Tidak mungkin membership of the Kingdom of God itu langsung kepada bangsa-bangsa Kafir. Harus melalui Yahudi!

Suatu hari Petrus sedang berdoa di rumahnya di Yope dan ketika dia berdoa, Allah itu memberikan penglihatan 3 kali. Intinya adalah di depan dia, ada berbagai macam binatang yang dia harus makan. Dan kemudian Allah mengatakan kepada Petrus, “Makan.” Maka, kemudian Petrus mengatakan, “Sepanjang hidupku aku tidak akan makan makanan yang haram.” Lalu kemudian Allah mengatakan, “Petrus, apa yang Aku anggap halal, jangan kamu anggap haram.” Maka, kemudian penglihatan itu hilang. Petrus tidak tahu apa yang sebenarnya Tuhan maksudkan. Tetapi, sebenarnya pada waktu yang hampir bersamaan Tuhan menyatakan diri kepada Kornelius di daerah Kaesaria. Dan Kornelius pada waktu itu sedang berdoa dan Tuhan bicara bahwa Kornelius harus mengutus orang menuju ke rumah Petrus. Kornelius bukan proselyte. Kornelius bukan beragama Yahudi. Dia adalah simpatisan. Dia baik dengan orang Yahudi. Dia adalah seorang Romawi. Dia takut kepada Tuhan, tapi sama sekali dia tidak termasuk dalam proselyte, maka kemudian Kornelius mengirimkan 3 utusannya kepada Petrus dan kemudian Petrus menerima mereka di Yope. Dan kemudian menginap satu malam, mereka pergi ke rumah Cornelius bersama-sama. Dan, Petrus bersama beberapa orang Yahudi. Mereka adalah orang Yahudi Kristen. Mereka sampai ke rumah Kornelius dan Petrus tanya. Tuhan bicara kepada saya dan saya disuruh di sini, sebenarnya ada apa? Dan Kornelius kemudian mengatakan saya berdoa dan Tuhan bicara untuk mengundang engkau, sekarang saya ada di sini bersama keluarga saya dan teman-teman saya ada di sini. Dan, kami siap untuk mendengarkan berita dari engkau. Petrus kemudian sadar, pasti Tuhan punya sesuatu rencana. Dan setelah dia merenungkan, kemudian dia baru memberitakan Injil. Dia memberitakan siapa Yesus Kristus yang sesungguhnya. Mati. Bangkit. Naik ke surga, dinyatakan, diberitakan oleh Petrus. Ketika Petrus masih berbicara, tiba-tiba terjadi seluruh keluarga Kornelius bersama dengan teman-temannya, mereka berbahasa roh persis seperti Pentakosta, di Kisah Para Rasul pasal 2. Petrus itu terkejut luar biasa. Hah?! Dan, seluruh orang-orang yang ada bersama dengan Petrus. Orang Kristen Yahudi itu semuanya terkejut. Loh, kok bisa begini? Kok bisa orang Kafir? Bukan orang Yahudi. Bukan orang Proselit. Bisa menerima karunia Roh Kudus persis seperti kita! Mata mereka terbelalak. Mereka hampir tidak bisa percaya. Sangat-sangat terkejut, dan kemudian mereka baru menyadari. Ternyata keselamatan Allah diberikan langsung kepada Yahudi di dalam Kristus dan juga langsung kepada Kafir melalui Kristus. Dan, di situlah orang-orang Yahudi Kristen itu menyadari the membership of the Kingdom of God itu sekarang dibuka bagi seluruh bangsa langsung.

Saudara sekarang perhatikan, itu adalah signifikansi dari bahasa Roh. Jadi saudara-saudara, ketika bicara mengenai bahasa Roh itu kenapa seperti itu? Kalau tidak ada bahasa Roh, sampai mati Petrus tetap tidak percaya bahwa Allah membuka keanggotaan Kerajaan Allah itu langsung kepada seluruh bangsa. Dan, kemudian Petrus membaptis mereka. Langsung. Tidak pakai proselyte. Langsung setelah selesai, petinggi gereja pada waktu itu ada di Yerusalem, murid-murid langsung semuanya panggil Petrus. Ayo, kita sidang. Kamu salah! Kamu sudah membaptis bangsa lain. Engkau tidak membawa mereka kepada proselyte. Engkau memasukkan mereka langsung menjadi Kristen. Engkau salah, Petrus. Lalu kemudian Petrus di dalam sidang pertama di Yerusalem itu, maka kemudian dia memberikan seluruh kesaksiannya apa yang tadi kita baca. Seluruh murid mendengar itu dan terbelalak. Hah?! Mereka mendapatkan apa yang di Hari Pentakosta kita dapatkan? Langsung? Mereka mengalami apa yang menjadi karya keselamatan Tuhan bagi kita? Langsung? Alkitab mengatakan, mereka lalu memuji Tuhan karena keselamatan itu dibuka bagi seluruh bangsa.

Saudara perhatikan, tanpa Roh Kudus maka murid tidak bisa melampaui stumbling block ini! Tanpa Roh Kudus, maka tidak mungkin mereka melampaui misteri ini bahwa keselamatan diberikan Allah langsung kepada bangsa-bangsa. Dan Roh Kudus bekerja langsung kepada Kornelius dan seluruh orang di rumahnya, tepat seperti Petrus berkhotbah di Kisah Para Rasul pasal 2 di Hari Pentakosta. Saudara-saudara, tulisan ini adalah tulisan pertama yang ada di dalam Alkitab berkenaan dengan misi ke bangsa-bangsa lain. Maka saudara dan saya sekarang bisa melihat, dari detik itu maka misi menjadi sesuatu tugas utama murid-murid-Nya dan mereka memiliki lingkup pekerjaan bukan saja kepada seluruh Israel tetapi kepada seluruh bangsa. Murid-murid terbuka matanya. Keanggotaan Kerajaan Allah diberikan ke seluruh bangsa.

Saudara-saudara perhatikan baik-baik. Tanpa Roh Kudus datang. Tanpa Roh Kudus itu bekerja di tengah-tengah kita. Tidak ada orang yang paling saleh pun bisa mengenal Yesus adalah Kristus. Ke-2, tanpa Roh Kudus bekerja di tengah-tengah kita, saudara-saudara dan saya pasti hatinya tertutup untuk misi. Pasti! Saudara-saudara tidak melihat itu pentingnya. Saudara melihat itu sesuatu yang membuang uang dan membuang waktu. Saudara akan melihat itu adalah suatu bagian, cuma dari berbagai kegiatan gereja. Tetapi, itu adalah isi hati Roh Kudus. Roh Kudus diberikan Yesus dari surga, untuk apa? Untuk menggerakkan Petrus untuk bicara, khotbah kepada bangsa-bangsa lain. Dan, setelah saat itu, maka saudara bisa melihat seluruh murid bergerak ke seluruh dunia karena berita Kerajaan Allah itu harus disebarkan. Karena Kerajaan Allah ini harus diekspansi. Karena gereja itu dibentuk untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Karena gereja mendapat tongkat estafet dari Kristus yang sudah naik ke surga. Ini adalah sesuatu yang menjadi isi hati Roh Kudus. Oh, saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang besar. Kalau saudara punya kemungkinan, saudara pulang, saudara teliti semua yang saya katakan di ayat-ayat ini. Alkitab dengan jelas mengatakan, ini misteri. Tidak banyak di dalam Alkitab menyatakan misteri. Ini sesuatu yang rahasia dan tidak mungkin terbuka kecuali pekerjaan Roh Kudus. Saudara-saudara, kalau saudara-saudara bisa tahu, bisa mengenal, bisa menyembah Yesus adalah Kristus. Saudara lihatlah berapa banyak orang yang tidak mempercayai hal itu. Itu adalah pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita. Misteri yang pertama itu sudah dibuka. Dan, kalau saudara dan saya bisa sebagai bangsa Kafir itu masuk ke dalam keanggotaan Kerajaan Allah. Sekali lagi, misteri yang ke-2 dibuka oleh Roh Kudus bagi kita. Ini pekerjaan Roh Kudus yang besar. Ini berkat yang besar. Oh, biarlah semua dari kita menyadari hal ini dan kalau saudara dan saya mengerti hal ini, saudara dibawa untuk mengerti isi hati Allah untuk mengembangkan Kerajaan Allah. Saudara-saudara, ini adalah sesuatu pembukaan akan pekerjaan Tuhan yang besar dalam hidup kita.

Berdoalah. Berdoalah untuk hidup yang satu kali. Bukan untuk menyukakan daging kita. Hidup yang satu kali bukan dihabiskan untuk urusan-urusan yang sifatnya kebutuhan dan hal-hal pribadi kita. Saudara, kalau saya mengatakan hal ini, saya tidak bermaksud untuk me-neglect, meng-ignore, seluruh kebutuhan kita. Sama sekali tidak! Kita adalah manusia yang hidup di dunia ini diletakan di dunia ini, pasti kita masih memiliki kebutuhan-kebutuhan di dunia ini. Kita adalah makhluk rohani, tetapi ada daging. Pasti kita memerlukan kebutuhan daging. Malaikat tidak memilikinya. Tetapi yang saya maksudkan adalah biarlah hidup kita yang satu kali, kembali kepada Alkitab. Yesus mengatakan, “Jangan khawatir. Jangan khawatir. Tetapi cari dulu Kerajaan Allah dan segala sesuatu akan ditambahkan kepadamu.” Oh, orang-orang Puritan mengatakan, “Mata kita selalu bicara mengenai ditambahkan kepada kamu, tetapi sesungguhnya berkat Tuhan yang besar itu adalah yang sudah diberikan.” Sekali lagi, berkat Tuhan yang besar adalah yang sudah diberikan. Kalau saudara-saudara, misalnya memiliki satu dari beras. Saudara beli beras. Beli berapa kilo? Beli 5 kilo. Lalu kemudian ditimbang beras itu. Lalu kemudian kita bilang sama penjualnya. “Pak, tambahin dong, masa begitu doang, tambahin. Lalu kemudian saudara ditambah-ditambah, misalnya 20 dari cangkir itu. Orang-orang Puritan mengatakan, “Engkau memikirkan yang 20 itu.” Tapi sebenarnya berkat terbesar adalah yang di dalam karung itu secara keseluruhan. Yang 20 cangkir itu cuma sedikit dibandingkan yang besar ini. Ada berkat Tuhan yang besar bagi kita. Dan berkat itu adalah berkat memasukkan hidup kita, memiliki meaning of life. Dan, kita memiliki meaning of life, hidup yang satu kali itu dipakai oleh Allah untuk menyebarkan Kerajaan-Nya. Dan, Allah berjanji kepada kita, cari dulu itu. Itu mata kita ada di sana, dan Aku akan menambahkan semuanya kepadamu. Kesehatan, keuangan, bisnis, segala hal, itu adalah janji Allah. Tetapi saudara-saudara, bukan beberapa cangkir yang ditambahkan itu mata kita. Bagi orang-orang yang ditebus, hidup yang dipakai oleh Allah, itu adalah berkat lebih besar daripada segala sesuatu hal yang lain. Dan, itu adalah doa Bapa kami. Berikan kepadaku makanan yang secukupnya. Berikan pengampunan kepadaku. Lepaskan aku daripada kecelakaan. Dan, semua itu akan diberikan ketika kita mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya hadir di tengah-tengah dunia ini. Latih jiwa kita. Didik hati kita. Untuk sinkron apa yang menjadi isi hati Kristus dan Roh Kudus. Mari kita berdoa.

 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

12 May 2024
Tiga Tanda Besar Iman Orang Kristen
Pdt. Dr. Stephen Tong · Yohanes 13:33-35; 15:8

Yohanes 13:33-35; 15:8

Tema yang akan saya sampaikan hari ini adalah tiga tanda besar bagi seorang Kristen. Setiap perusahaan ada logonya. Setiap sekolah ada slogannya. Sama halnya, setiap agama ada tandanya. Lalu dalam kekristenan, apakah orang yang percaya kepada Kristus itu ada tandanya? Apakah dari diri seseorang, saudara bisa tahu bahwa dia adalah seorang Kristen? Bagaimanakah kita bisa mengetahui bahwa orang ini mempunyai tanda untuk menyatakan imannya? Saudara mengatakan, tanda yang terpenting kekristenan adalah tanda salib. Saya percaya ini sangat benar karena kalau saudara melihat masjid itu tandanya adalah satu bulan dan bintang. Kalau melihat agama yang lain tandanya adalah bunga ataupun tanda yang lain tetapi kalau saudara melihat seorang Kristen kalau mereka bukan memakai kalung salib, mereka akan memasang tanda salib di atas gereja. Tetapi tanda salib ini, siapakah yang menentukannya? Siapakah yang memutuskan untuk memakai salib sebagai tanda iman kita? Apakah itu Alkitab? Alkitab tidak mengatakan demikian, meskipun dalam kitab Galatia pernah ada satu kalimat dari Paulus yang mengatakan, “Saya telah menaruh gambar salib Kristus di depanmu, mengapa kalian masih meninggalkan Dia?” Maka Katolik pun menghapuskan ayat itu. “Saya sudah menggambarkan salib di depanmu” – mereka mengira ‘menaruh salib di depanmu’ itu hanya dengan menandakan tanda salib di hadapan kita, maka saudara melihat orang Katolik memberikan tanda salib menggunakan tangan di hadapan mereka dan demikian juga agama Orthodox. Banyak orang Kristen memakai kalung yang ada salibnya tetapi Alkitab tidak mengatakan seperti itu. Di dalam Alkitab terdapat tiga ayat yang menyatakan tanda seorang Kristen yang diungkapkan oleh Yesus dan juga diungkapkan oleh seorang Rasul. Apakah tiga tanda orang Kristen itu?

Tanda yang pertama tercatat pada injil Yohanes 13:33-35, “Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Ini adalah tanda yang pertama. Yesus mengatakan: ‘Bagaimanakah orang tahu bahwa Anda adalah murid-Ku?’ Yesus bukan mengatakan bahwa kalian harus memakai salib di dadamu. Tetapi Yesus mengatakan bahwa: ‘Dari satu hal orang-orang bisa melihat bahwa kalian adalah murid-murid-Ku, yaitu jika kalian saling mengasihi.’ Hanya kekristenan yang menyebut Allah itu sebagai kasih. Apakah dalam Islam disampaikan tentang kasih? Apakah dalam Budha disampaikan tentang kasih? Hanya kekristenan yang membicarakan tentang kasih Allah yang paling lengkap dan paling tinggi tingkatannya. Dalam Islam yang paling penting adalah dua kata: Tuhan itu rahmani dan rahimi. Apakah artinya kata rahmani dan rahimi? Artinya adalah allah itu penuh belas kasihan dan penuh cinta kasih. Tetapi tidak demikian dalam kekristenan. Dalam kekristenan dikatakan bahwa Allah itu kasih. Tidak ada agama lain yang mengatakan seperti ini. Karena dalam kekristenan disebut Allah itulah kasih – Allah dan kasih itu bergabung menjadi satu. Dalam bahasa inggris: l-o-v-e. Selain ini, di dalam Alkitab masih ada dua terminologi yang lain yaitu Allah itu hidup dan Allah itu terang.Dalam bahasa Inggris, terang adalah light, hidup adalah live, dan kasih adalah love. Jadi Allah adalah kasih, Allah adalah hidup dan Allah adalah terang. Dalam bahasa Inggris, semua dimulai dengan huruf l. Allah itu kasih, bukan Allah penuh kasih. Penuh kasih tidak berarti kasih. Tetapi Allah adalah kasih. Sudah tentu saudara tidak bisa mengatakan kasih itu adalah Allah. ‘Allah adalah kasih’ dengan ‘kasih adalah Allah’ itu berbeda. Sama halnya saudara mengatakan manusia mempunyai dua kaki, tetapi saudara tidak bisa mengatakan yang mempunyai dua kaki pastilah manusia. Yang punya dua kaki mungkin adalah ayam, belum tentu adalah manusia.

Ketika kita meneliti filsafat kasih dari Plato, Aristotle sampai ke Konghucu, Mencius, Sakyamuni dan Lao Tzu, kita menemukan bahwa kasih yang mereka sampaikan dan kasih Allah perbedaannya terlalu besar. Di dalam Yunani, ada tiga kata yang membicarakan tentang kasih. Yang lebih rendah itu bernama eros. Saudara mencintai seseorang sedemikian akhirnya saudara tidak bisa tidak bersama dia, saudara mau tidur dengan dia, saudara mau menguasai dia, saudara mau memeluk dia karena saudara mencintai dia dan kata itu dalam bahasa Yunani disebut sebagai eros. Tetapi kalau tidak ada hubungan seksual apakah boleh? Kalau tidak ada pernikahan laki-laki dan perempuan, tidak perlu ada hubungan seksual. Jikalau seseorang mencintai seseorang sampai sedemikian rupa, tetapi tidak ada hubungan seksual apakah percintaan yang mereka miliki itu? Meskipun saudara sangat mencintai seorang pelukis saudara bukan ingin bersetubuh dengan dia, tetapi saudara mau memiliki hubungan perasaan di dalam hidup saudara dengan lukisan dia. Saudara jatuh cinta karena lukisannya. Gurumu memiliki pengetahuan yang sangat hebat, saudara sangat kagum kepada dia. Saudara mencintai/ mengasihi gurumu tidak berarti saudara mau bersetubuh dengan dia. Misalnya dalam persaudaraan itu sangat saling mengasihi, tetapi hubungan perasaan di antaranya bukan hubungan laki-laki dan perempuan. Dan kata ini dalam bahasa Yunani disebut filia; yaitu cinta kasih diantara sifat kemanusian, cinta kasih di antara saudara, cinta kasih di antara teman atau antara guru dan murid. Ini bukan sifat yang berkaitan dengan seksualitas ataupun dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Cinta kasih ini sangat suci, tidak ada nafsu birahi secara pribadi. Tidak ada unsur diantaranya ketika seseorang ingin menguasai yang lain. Ini yang disebut filia. Dan kasih atau cinta yang disampaikan Plato bahkan termasuk eros, itu adalah cinta atau kasih di antara manusia. Misalnya Plato mengatakan kita hanya menyukai yang baik, kita hanya menyukai yang indah. Ketika saudara melihat seorang anak yang sangat cantik saudara mencintai/mengasihi dia, tidak berarti saudara ingin berhubungan dengan dia – ini yang disebut sebagai eros. Lalu apakah manusia bisa menyukai yang jelek? Tidak. Maka jikalau seorang anak tampangnya itu sangat cantik, saudara akan sangat menyukainya. Jikalau seorang anak itu tampangnya sangat jelek, ketika melihat dia, saudara langsung menghindar. Maka Plato mengatakan cinta itu pasti mengarah ke atas, yang lebih baik dari saya, yang lebih pintar dari saya, yang lebih bersih dari saya, yang lebih cantik dari saya, yang lebih gagah dari saya, yang lebih berwibawa dari saya. Kita semua akan menyukai/mencintai terhadap keadaan yang lebih tinggi daripada kita. Ketika saudara mengejar pengetahuan itu karena pengetahuan saudara kurang. Saudara ingin mengejar dan menuntut yang lebih tinggi, maka saudara mencintai pengetahuan di dalam buku. Karena itu, eros daripada Plato adalah cinta yang mengarah ke atas.

300 tahun setelah Plato, Yesus dilahirkan di dalam dunia. Allah mewahyukan perjanjian baru dan mewahyukan kasih-Nya kepada kita. Waktu itu timbullah arah yang sama sekali berbeda: kasih yang sesungguhnya itu datang dari Tuhan. Tidak ada yang lebih tinggi daripada Allah, maka kasih Allah pasti bukan kasih yang mengarah ke atas. Karena Allah itu sudah di tempat yang tertinggi, maka Dia tidak mungkin akan mengasihi/mencintai yang lebih tinggi daripada-Nya. Allah mengasihi yang lebih rendah, yang lebih berdosa, yang lebih najis dan yang lebih kotor daripada-Nya. Maka sejak munculnya Alkitab, kasih atau cinta yang dibicarakan oleh orang Yunani arahnya itu sudah berubah. Ketika saudara membicarakan ‘Allah mengasihi dunia’ ini berbeda dengan ‘manusia mengasihi Tuhan’. Manusia suka mengasihi yang indah, manusia suka yang sempurna, manusia suka yang suci karena ini semua lebih tinggi dari manusia yang berdosa. Tetapi ketika Alkitab mengatakan kepada kita ‘Allah mengasihi dunia’ – semua manusia lebih rendah dari Allah. Maka di dalam sejarah kasih itu memutar satu arah yang besar. Ketika seseorang mengerti kasih Allah, maka kerinduannya kepada yang di atas akan berhenti dan di dalam dirinya akan timbul kasih kepada orang-orang yang lebih rendah daripada dia. Allah mengasihi orang berdosa, Allah mengasihi orang yang najis dan kotor karena kasih Allah itu mengarah ke bawah. 2420 tahun kemudian, seorang filsuf Swedia bernama Andres Nygren mengatakan: ‘Ketika saudara mengerti akan kasih Tuhan di dalam Alkitab, saudara tidak lagi egois dan tidak lagi memikirkan untuk kenikmatan diri, tetapi kasihmu adalah untuk mengobarkan diri, untuk merendahkan diri, untuk membagikan diri, maka di dalam diri saudara akan timbul kasih dari atas ke bawah.’

Itu sebabnya di dalam injil Yohanes 13:34, Tuhan Yesus tidak mengatakan ‘Bagaimana kalian mengasihi-Ku?’, tetapi Yesus mengatakan ‘Kalian harus saling mengasihi’. Sepertinya sama. Bukankah itu baik, apakah saudara mengasihi Tuhan? Apakah saudara cinta Tuhan? Mungkin saudara tidak berani menjawab karena memang kurang cinta Tuhan. Jikalau dengan kasih saudara kepada Tuhan, saudara mengasihi pendetamu, Pdt. Agus apakah itu baik? Dengan kasihmu kepada Tuhan, engkau mengasihi saudaramu, apakah itu baik? Tidak baik. Mengapa tidak baik? Karena kasihmu kepada Tuhan itu bisa berubah, kasihmu kepada Tuhan itu bisa kecewa. Dan ketika engkau, dengan kasihmu kepada Tuhan yang bisa berubah itu, engkau pakai untuk mengasihi saudaramu, maka kasihan sekali saudaramu itu karena setiap hari kasihmu terus berubah, setiap hari kasihmu itu dalam keadaan yang tidak puas. Maka yang Yesus sampaikan adalah kebenaran yang sangat unik dan tepat. Yesus mengatakan: sebagaimana Aku mengasihi kamu, hendaklah dengan kasih ini kamu mengasihi saudaramu. Kalian hendaklah saling mengasihi, apakah itu baik? Memakai kasih yang Yesus berikan kepada kita yang tidak berubah, yang tidak ada motivasi, yang tidak akan mengecewakan, yang kekal sampai selamanya. Oh Tuhan, kasih-Mu kepadaku itu kekal. Oh Tuhan, kasih-Mu kepadaku itu tidak berubah. Oh Tuhan, kasih-Mu kepadaku itu sempurna. Dan Engkau mau aku memakai kasih seperti ini untuk mengasihi saudaraku. Bagaimanakah Tuhan mengasihiku, aku juga mengasihi saudara. Kasih Tuhan itu sempurna, maka kasihku kepadamu juga sempurna. Kasih Tuhan itu tidak berubah, maka kasihku kepadamu juga tidak berubah. Maka orang dunia akan melihat demikianlah orang Kristen – saling mengasihi. Mereka pun menjadi tahu, orang-orang ini pastilah orang Kristen. Mengapa demikian? Karena mereka sudah memiliki tanda yang pertama. Apakah tanda yang pertama yang membuktikan kita adalah orang Kristen? Yaitu kita harus saling mengasihi dengan kasih dari Kristus, dengan kasih yang tidak berubah, dengan kasih yang abadi, dengan kasih yang tanpa syarat. Kita membuktikan kasih dalam Kristus itu di dalam hati kita, sehingga kita boleh mengatakan kepada orang lain; “Saya adalah orang Kristen.” Injil Yohanes 13:34-35; ini adalah tanda pertama seorang Kristen yang disebutkan di dalam Alkitab.

Lalu apakah tanda yang kedua? Dalam hal apakah orang bisa melihat kita adalah orang Kristen? Ini tercatat dalam Kisah Para Rasul. Dalam Kisah Para Rasul, ada satu kalimat: “Karena murid-murid berani mengabarkan Injil, banyak orang mengatakan; orang-orang ini adalah orang yang mengikut Yesus.”Lalu apakah tanda yang kedua daripada seorang Kristen? Mengabarkan Injil, menjadi saksi, membawa jiwa kepada Tuhan. Mengapa orang-orang ini begitu bersemangat dan aktif? Mengapa ke mana-mana mereka memberitakan Firman Tuhan? Dari hal ini, orang-orang pun bisa melihat bahwa saudara mempunyai tanda seorang Kristen; saudara dari menjadi saksi, membawa jiwa kepada Tuhan. Itulah tanda yang kedua dalam hidup kita. Kita bersyukur kepada Tuhan, dalam dunia tidak ada seorangpun yang sama seperti seorang Kristen; dia dengan begitu giat mengabarkan Injil dan dia suka sekali untuk mengabarkan Injil. Kita bersyukur kepada Tuhan.

Ketika saya berusia 17 tahun, saya bertobat, saya menangis, saya mohon Tuhan mengampuni dosa saya, saya mohon Tuhan menyelamatkan jiwa saya. Setelah saya selesai menangis, saya mendapatkan damai sejahtera karena Tuhan sudah ampuni dosa saya. Kemudian saya kembali lagi kepada Tuhan, saya berkata kepada Tuhan, “Saya tidak boleh egois. Mulai hari ini, saya mau mengabarkan Injil kepada orang lain, menasihati orang untuk juga percaya kepada Yesus, menasehati orang untuk meninggalkan dosa, menasehati orang untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Oh Tuhan, bagaimanakah saya harus melakukannya?” Tuhan-pun menggerakkan saya, “Belilah traktat, bagikan di jalan.” “Bagi di jalan, bagi kepada siapa? Saya tidak kenal.” Tuhan mengatakan, “Bagikan kepada orang yang tidak engkau kenal.” “Bagaimanakah saya membuka mulut saya? Saya begitu malu mengungkapkan kata-kata seperti ini.” Tuhan mengatakan, “Janganlah engkau malu terhadap Injil, engkau harus meneladani Paulus: ‘Aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kuasa besar dari Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.’” Saya mengatakan, “Oh Tuhan, lalu berapa banyak uang yang harus saya pakai? berapa banyak traktat yang harus saya beli?” Tuhan menggerakkan saya, satu tahun membeli 5000 traktat, kemudian membagikan 5000 traktat ini, satu lembar demi satu lembar kepada orang yang di jalanan. Saya tidak kenal, saya mengatakan, “Datanglah kepada Yesus.” “Apa ini?” “Ini adalah traktat.” “Untuk apakah traktat? Apa yang mau kamu jual?” Saya mengatakan, “Saya bukan mau menjual, saya menghadiahkan dan memberikan kepadamu, di dalamnya ada Injil dari Tuhan, silahkan dibaca, silahkan merenungkan dengan baik, dan saya mengharapkan anda juga bisa percaya kepada Yesus.” Lalu ketika saya melakukan hal ini, awalnya saya begitu takut, tetapi saya berlutut dan berdoa, “Oh Tuhan, saya bersyukur, Engkau telah menyelamatkan saya, engkau telah menggerakkan saya, sekarang Engkau mengutus aku untuk mengabarkan Injil, Tuhan berikan keberanian kepadaku, berikanlah hikmat kepadaku, berikanlah kepadaku daya tahan, berikanlah cinta kasih kepadaku.” Maka saya mulai membawa satu tumpuk yang tebal traktat. Saya berjalan di jalanan, melihat satu orang yang datang, “Tuan, bolehkah saya memberikan satu traktat kepadamu?” “Saya tidak ada waktu.” Dia kira saya sedang menawarkan barang dan mau cari uang. Saya sama sekali bukan sedang menawarkan sesuatu, tetapi saya mau memberikan kepada dia. Dia bertanya, “Apa itu ya?” Saya katakan, “Kalau saudara lihat, saudara akan tahu.” Ada orang yang menerimanya, ada orang yang sudah mengambil langsung membuang. Ada orang yang sesudah mengambil, dia taruh ke dalam kantongnya. Hari ini banyak orang Kristen, selamanya tidak mengabarkan Injil. Waktu itu saya baru berusia 17 tahun, demikianlah saya membagikan traktat di jalanan. Satu demi satu saya bagikan. Yang saudara bagikan mungkin adalah brosur KKR, “Silahkan datang ke Townhall, dengar Stephen Tong khotbah.” Tetapi tidak demikian dengan saya, waktu itu saya katakan kepada mereka, “Silahkan datang, percaya kepada Allah yang ada di Surga, percayalah kepada Yesus yang disalibkan untukmu.” Ada orang yang memarahi saya dengan hebat. Ada orang yang menghina saya. Ada orang yang mengoyakkan traktat itu dan membuangnya di jalanan. Saya tidak peduli, saya mengatakan, “Oh Tuhan, bagaimanakah perlakuan mereka kepadaku, aku taat kepada Engkau, mereka menghina aku, aku akan sabar dan menahannya.” Lalu di manakah dibagikan? Dibagikan di dalam kota saya. Suatu hari Tuhan menggerakkan saya, “Bisakah engkau pergi ke kota yang lain?” “Tuhan, ke kota manakah itu? Bagaimanakah saya pergi?” “Naik kereta ke sana.” Maka saya berjanji kepada Tuhan, dalam tahun itu sebelum bulan Desember, saya membagi 5000 traktat. Saya mengabarkan Injil kepada orang yang tidak percaya, mengundang mereka untuk percaya kepada Yesus. Maka saya membeli tiket kereta. Dari Surabaya saya naik kereta sampai ke Pasuruan, itu jaraknya 60 km. Sampai ke Pasuruan, saya turun dari kereta, saya membawa traktat itu, membagi satu lembar demi satu lembar di jalan. Orang melihat, ini pemuda usia 17 tahun (waktu saya berumur 17 tahun itu, saya sangat ganteng). Di tengah jalan, orang ganteng membawa kertas untuk dikasihkan kepada orang. Orang melihat apakah yang dilakukan orang ini? Saya mengatakan, “Silahkan percaya kepada Yesus, silahkan datang percaya kepada Yesus.” Tahun 1957, sebelum tanggal 31 Desember, saya mengabarkan Injil kepada 5000 orang. Tahun berikutnya, beli lagi traktat, dari manakah uang untuk membeli traktat itu? Saya keluarkan dari kantong saya sendiri. Waktu itu saya sudah menjadi seorang guru dan honor saya sangat tinggi, honor saya ketika saya menjadi guru (usia 17 tahun itu) dua kali lipat lebih besar daripada pendeta di gereja di Surabaya waktu itu. Umur 17, honornya besar, saya ambil 20% pergi beli ribuan traktat, ratusan kitab suci, dan membagikannya ke orang, mengabarkan Injil. Orang mengatakan, “Itu orang gila ya, membagi kertas di tengah jalan? Dia minta duit, ya? Dia jual barang, ya? Dia mau untung, ya?” Sama sekali tidak. Sudah diambil, orangnya pergi. Saya berdoa, “Tuhan, supaya dia boleh percaya kepada-Mu, berkati dia, kiranya dia membaca dan mengerti.” Kadang kala saya membawa traktat itu ke sekolah. Saya tidak boleh masuk ke dalam sekolah, saya harus menanti di pintu sekolah ketika murid-murid pulang. Satu persatu murid itu keluar sekolah, satu persatu saya bagikan traktat kepada mereka. Kadang kala saya membawa traktat ke rumah sakit, sepertinya saya mau membesuk orang yang sakit. Satu kamar demi satu kamar, saya masuk membagikan traktat. Ada yang menanyakan, “Bapak mau cari siapa?” “Cari Bapak.” “Kamu kenal saya tidak?” “Tidak kenal.” “Tidak kenal, tidak usah datang.” Diusir, bagaimana? Saya pergi lagi ke kamar berikutnya. Ada orang yang mengusir saya. Ada orang yang bahkan melarang saya membagi di pintu sekolah sekalipun. Saya tidak apa-apa, karena anda menentang dan menolak saya adalah kebebasan anda, tetapi ketika saya mambagikan traktat adalah cinta kasihku kepada Tuhan. Ada satu orang, orang ini kira-kira 40 tahun, dia melihat saya di jalanan, dia mengatakan: “Oh, ini Stephen Tong yang saya kenal, mengapa dia membagi traktat di jalanan?” Ada orang memberitahukan kepada dia, “Karena dia sedang mengabarkan Injil.” “Ha, ada orang mengabarkan Injil seperti itukah?” Maka orang Kristen inipun mengeluarkan beberapa puluh ribu uang Indonesia, membawa orang untuk menyampaikan uang itu kepada saya; “Saya sendiri begitu malu tidak berani mengabarkan Injil, sekarang anda begitu berani, usia 17 tahun begitu berani mengabarkan Injil di jalanan, saya mempersembahkan uang ini kepada anda, dan pakailah uang ini u ntuk membeli lagi traktat, membeli lagi Alkitab, untuk dibagikan dan mengabarkan Injil.” Kemudian saya beli lagi tiket ke Probolinggo. Ketika saya mengabarkan Injil di Probolinggo, saya masuk ke dalam satu toko demi satu toko. Ketika saya masuk ke dalam salah satu toko, dan ketika saya keluar, saya berjalan di sisi jalan yang ini. Di sisi jalan yang lain, ada seorang pejabat komunisme yang mangatakan, “Jangan terima traktat dari orang itu.” Saya tahu dia sedang memarahi saya, lalu saya mendengarkan lagi, apa yang dia katakan, “Itu orang adalah antek-antek imperialisme, orang itu bekerja untuk Amerika, dia membiuskan kebudayaan orang Timur, dia datang supaya kita percaya Yesus, kita jangan kena siasat dia, kita harus tolak dia.” Maka saya di sini mengabarkan Injil, di sana dia memarahi saya, lalu saya harus bagaimana? Saya berdoa, “Oh Tuhan berikanlah kesabaran kepadaku. Oh Tuhan, biarlah saya bisa tahan, saya menderita demi Tuhan.” Tuhan menyertai saya, maka hari ini saya sebagai seorang hamba Tuhan, karena dulu saya demikianlah mengabarkan Injil. Ini seperti yang disampaikan di dalam Kisah Rasul: ‘Mereka dengan giat bersaksi, maka banyak orang mengatakan, orang ini pastilah yang percaya kepada Yesus.’ Ini tanda yang kedua. Saya mau tanya, sekarang ini di GRII Sydney ini siapakah orang yang mempunyai dua tanda ini? Apakah orang-orang melihat hati saudara yang saling mengasihi itu? Apakah orang-orang melihat hati saudara yang mengasihi jiwa-jiwa, mengabarkan Injil kepada mereka?

Tanda ketiga seorang Kristen ada di dalam Injil Yohanes 15:8; “Kamu berbuah banyak, dengan buah ini, orang tahu kamu murid-murid-Ku.” Kita bersyukur kepada Tuhan, orang Kristen harus berbuah, buah apakah yang harus kita hasilkan? 30 tahun yang lalu, saya pernah berkhotbah di GRII tentang kehidupan seorang Kristen yang berbuah. Ada banyak macam buah (ada 8-9 macam buah). Kita mempunyai buah tingkah laku kita, kita mempunyai buah kebajikan, kita mempunyai buah Injil, kita mempunyai buah dari bibir kita, kita mempunyai buah dari kehidupan kita. Kita bukan saja mengatakan, “Saya percaya kepada Yesus.” Setelah kita mengatakan saya percaya kepada Kristus, kelakuan kita harus bisa menyatakannya. Yang pertama ada buah kejujuran, kita mempunyai buah kebajikan, saudara mempunyai buah keadilan; kebenaran, saudara mempunyai buah dari mulut bibirmu, saudara mempunyai buah penginjilan. Maka orang-orang bisa melihatnya dengan jelas, orang ini bukan saja mempunyai hidupnya sendiri, orang ini juga mempunyai buah dari hidupnya. Sama seperti kalau ada satu pohon yang tumbuh, bagaimana mengetahui pohon itu masih hidup? Jikalau pohon itu masih berbuah. Apakah di antara kalian menanam pohon di rumah? Ketika saudara menanam pohon pepaya, akan menghasilkan buah pepaya. Kalau saudara menanam pohon pisang, akan menghasilkan buah pisang. Suatu kali ketika saya makan mangga di rumah, biji mangga itu saya buang di taman. Tiga tahun kemudian, tumbuhlah satu pohon mangga; “Wah, ini pohon apa?” “Itu pohon mangga.” “Kapan rumah saya ada pohon mangga?” “Karena tiga tahun lalu kamu makan mangga, buahnya kamu buang di situ, sekarang jadi pohon mangga.” Kemudian dia semakin besar, semakin bertumbuh. Saya katakan pohon mangga di rumah saya itu, buahnya sangat manis, lebih manis dari yang dibeli di pasar. Sampai sekarang, pohon itu masih ada. Kalau saudara datang ke rumah saya, saya akan memberikan mangga itu, mangga yang sangat manis. Ketika pohon itu masih berbuah, itu membuktikan bahwa pohon itu hidup. Saudara perhatikan dengan baik; jikalau orang Kristen masih berbuah, ini berarti membuktikan orang Kristen ini adalah orang Kristen yang mempunyai hidup.

Kita bersyukur kepada Tuhan. Apakah saudara adalah seorang Kristen? Apakah saudara menunjukkan naturmu sebagai seorang Kristen? Bisakah orang di sampingmu mengenali engkau adalah seorang Kristen? Tanda apakah yang engkau nyatakan? Alkitab mengatakan, ada tiga tanda; pertama tanda saling mengasihi, kedua tanda berani untuk mengabarkan Injil, dan ketiga tanda berbuah banyak. Saya akan mengakhiri khotbah saya. Kiranya kita setiap orang Kristen, dengan cinta kasih kita menyatakan iman kepercayaan kita, dengan giat dan semangat mengabarkan Injil untuk menyatakan hidup kita, dengan buah yang dihasilkan dari hidup kita itu, kita menyatakan iman kepercayaan kita. Kiranya Tuhan memberkati kita, supaya kita semua menjadi murid Tuhan. Semua menjadi tanda dari kasih. Menjadi orang yang mengabarkan Injil dan orang yang bersaksi. Kita berbuah dan memuliakan nama Tuhan. Yesus mengatakan, “Jikalau kalian berbuah banyak, maka Bapa-Ku pun akan dipermuliakan, dan kalianpun dengan demikian menunjukkan kamu adalah murid-murid-Ku.” Maukah saudara menjadi seorang Kristen yang mempunyai tanda? Bukan menjadi seorang yang membuka cheque kosong saja, bukan menjadi seorang Kristen yang hanya kelihatan dari luar saja, tetapi menjadi orang Kristen yang buahnya sungguh-sungguh, yang hidupnya nyata, yang betul-betul memberikan tanda, bahwa kita pengikut Tuhan Yesus yang sejati. Mari kita berdoa.

 

Kis 10:44-46; 11:15-18
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

5 May 2024
Kebangkitan dan Kenaikan Kristus ke Surga
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Yoh 20:17

Yoh 20:17

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mengeksposisi perikop Yohanes 20 ketika Yesus pertama kali bicara kepada Maria Magdalena pada waktu kebangkitan. Tetapi waktu saya pelajari lagi, ternyata perikop ini memberikan begitu banyak doktrin penting dan begitu indah, khususnya di dalam ayat yang ke 17 ini. Ayat ini menggabungkan antara peristiwa kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus dan apa dampaknya di dalam kehidupan kita. Yesus berkata kepada Maria Magdalena pada waktu kebangkitan-Nya di pagi hari. Perikop ini adalah peristiwa yang pertama kali ketika Yesus menampakkan diri setelah kebangkitan. Jadi, kalau saudara-saudara melihat kehidupan Yesus Kristus,akan ada 2 tahapan di dalamnya. Tahapan yang pertama adalah bicara mengenai perendahan diri dari Yesus Kristus atau Yesus direndahkan.Dia dari pribadi kedua Tritunggal turun ke dunia, mengenakan tubuh, inkarnasi di Bethlehem (di kandang domba), kemudian terus sampai Dia disalib, dan dikubur. Itu adalah tahapan dari perendahan diri Yesus Kristus. Tetapi ada tahapan yang ke-2 yaitu Dia ditinggikan, exaltation of Christ, dari kebangkitan sampai naik ke surga, duduk di sebelah kanan dan mengirimkan Roh Kudus turun. Itu disebut sebagai exaltation of Christ. Dan peristiwa Yesus bertemu dengan Maria Magdalena adalah peristiwa pertama kali di dalam state of exaltation.

Di dalam momen pertama ketika Dia ditinggikan, Dia bicara kepada Maria Magdalena, kalimat yang pertama adalah: “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa.” Ini adalah poin yang pertama yang kita akan pelajari pada pagi hari ini. Kalimat ini kalimat tentang apa? Oh ini bicara berkenaan dengan sesuatu doktrin yang penting sekali mengenai karya Mesias, karya Kristus. Yesus mau mengajarkan kepada kita bahwa pekerjaan-Nya itu belum selesai, Dia belum dimuliakan, Dia belum datang kepada Bapa. Pada waktu itu Maria Magdalena sedang mencari Yesus. Maria Magdalena penuh dengan kesedihan, dia masuk ke kubur itu tidak ada, kemudian dia pergi ke luar dan dia berpikir bahwa ada seseorang yang mengambil mayat Yesus. Sampai kemudian dia bertemu dengan seorang bapak-bapak. Maria berpikir bahwa ini adalah penjaga taman, penjaga kubur. Dia tanya kepada bapak ini, “Bapak, di mana engkau ambil mayat Yesus ini?” Oh, kesedihan menutup pintu hati dan mata Maria Magdalena. Tetapi penjaga taman itu mengatakan, “Maria …” Oh, itu kalimat yang menyentuh hati saya. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku. Suatu hari, saudara dan saya, entah pernah, entah suatu hari pasti terjadi, di dalam seluruh kebingunganmu, di dalam seluruh duka kita, di dalam seluruh teriakan kita, kita gugup, kita takut, kita khawatir, tapi Gembala Agung kita akan memanggil kita dan saudara dan saya pasti akan mengerti, mengenal suara-Nya. “Maria …” Dia langsung tahu ini suara Yesus. Dia berbalik, dia lihat Yesus. Sukacita luar biasa, kemudian memegang Yesus, dia memeluk Yesus, tetapi Yesus mengatakan, “Jangan memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa.” Kenapa tidak boleh pegang terus? Oh, orang berpikir karena laki-laki dengan perempuan tidak boleh pegang terus. Bukan itu saudara. Kenapa tidak boleh pegang terus? Yesus memberikan satu jawabannya, karena Aku belum naik kepada Bapa. Kenapa kalau belum naik kepada Bapa? Yesus mau mengajarkan satu hal ini. Kebangkitan itu bukan akhir, kebangkitan bukan final untuk kita celebrate. Kebangkitan bukan akhir tugas Mesias. Duduk di sebelah kanan Bapa itulah akhir dan ketika Yesus duduk di sebelah kanan Bapa maka bukan saja Maria akan merayakan, seluruh orang-orang tebusan akan merayakan hari itu. Kita sebagai orang Kristen selalu berpikir bahwa kematian dan kebangkitan Yesus adalah segala-galanya. Tidak! Di dalam Alkitab, Yesus sendiri menyatakan kepada kita bahwa Dia belum pergi kepada Bapa, jangan celebrate hal ini Maria. Maka saudara-saudara bisa mengerti satu hubungan rantai yang kuat, kokoh dari pekerjaan Mesias yang tidak bisa dipisahkan. Kita diselamatkan bukan karena kematian dan kebangkitan Yesus saja. Kita diselamatkan karena inkarnasi dari Yesus, kita diselamatkan juga karena kematian Kristus, kebangkitan Kristus, naiknya Kristus di surga, dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, dan mengutus dari Roh Kudus. Seluruh poin yang saya katakan seluruhnya adalah tugas Mesias, pekerjaan Mesias, dan ini tidak bisa diputuskan. Karena dari pertama sampai terakhir inilah maka keselamatan hadir di dalam hidup kita. Kalau tanpa ada satu rantai itu saja, kita tidak mungkin bisa diselamatkan, itu sebabnya kita melihat bagaimana Yesus di awal kebangkitan-Nya memberikan satu prinsip doktrin yang penting berkenaan dengan pekerjaan Mesias. Dalam Perjanjian Lama, pekerjaan Mesias ada dalam bayang-bayang bagaimana imam besar mempersembahkan korban. Ada satu domba yang tidak bercacat cela, kemudian dipotong, dan darahnya tercurah, dan imam besar itu masuk ke ruang maha suci dan mengaplikasikan darah domba tersebut. Apakah mungkin ada pengampunan dosa tanpa aplikasi dari darah domba itu di ruang maha suci? Tidak mungkin. Apakah ada pengampunan dosa hanya dengan domba yang disembelih? Tidak mungkin. Itulah sebabnya Yesus pun kalau mati di atas kayu salib, kalau Dia tidak bangkit, kalau Dia tidak naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa untuk mengaplikasikan korbannya, maka tidak ada keselamatan. Sekali lagi, kalimat Yesus ini secara tidak terduga menyatakan sesuatu doktrin yang kokoh sekali berkenaan dengan pekerjaan Mesias yang tidak bisa diputuskan.

Hal yang kedua, perhatikan ada satu kalimat sekali lagi yang sangat mengagumkan di sini. Janganlah engkau memegang Aku terus sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku. Wow, perhatikan baik-baik. Ini merupakan satu-satunya saat dalam Injil Yohanes, Yesus menyebut para murid-Nya sebagai saudara-saudara-Nya, secara spesifik. Yesus pernah menyebut orang-orang secara umum itu adalah saudara-saudara. Dalam Markus 3:35 Dia mengatakan, “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku, dan dialah saudara-Ku laki-laki, dan dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Tetapi ini di dalam kaitan umum. Tetapi di dalam ayat di Yohanes ini tidak. Yesus secara spesifik menyebut murid-murid-Nya sekarang bukan murid-murid, tetapi saudara-saudara-Ku. Dan perhatikan setelah itu Dia terus menyebut murid-murid-Nya itu saudara-saudara-Nya. Misalnya Matius 28:10 (Maka kata Yesus kepada mereka, “Jangan takut, pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”) Apa yang terjadi? Maka setelah kebangkitan ini, posisi murid-murid Yesus berubah secara radikal, mereka sekarang menjadi anggota keluarga-Nya Yesus. Ini adalah doktrin adopsi. Dan kapan itu terjadi? Setelah kebangkitan. Ini tidak terjadi sebelumnya. Ketika Yesus mati bagi kita, dan Dia bangkit, dan kebangkitan-Nya itu adalah bukti bahwa Allah menerima korban-Nya, maka barulah Yesus mengatakan kepada para murid, engkaulah saudara-saudara-Ku. Sekali lagi, karena kematian Kristus dan kebangkitan-Nya, dan kebangkitan itu adalah bukti bahwa Bapa di surga itu menerima seluruh korban-Nya, maka hanya baru dari titik itulah maka prinsip adopsi itu diterapkan. Dari titik itulah baru Yesus mengatakan, “Saudara-saudara-Ku.” Dan lebih dari itu, kalimat ini pun mengatakan bagaimana Yesus mengasihi murid-murid-Nya. Saya tersenyum ketika melihat bagaimana John Flavel menyatakan ayat ini. Lihatlah, kalimat itu adalah sebutan yang di dalamnya mengandung kepenuhan penerimaan, kepenuhan cinta. Yesus katakan kepada Maria, “Pergi kepada saudara-saudara-Ku.” Dia tidak mengatakan pergi kepada saudara-saudara-Ku yang sudah menyangkal Aku, yang sudah meninggalkan Aku. Dia tidak ada embel-embel di baliknya. Yesus tidak menyebut apapun yang menjadi kesalahan murid-murid-Nya. Kalau saudara-saudara melihat Kejadian 45:4, bagaimana Yusuf bertemu kembali dengan saudara-saudaranya. Yusuf mengatakan demikian, “Hai, saudara-saudaraku, mendekatlah kepadaku. Aku Yusuf, saudaramu, yang engkau jual ke Mesir.” Siapa yang berani untuk mendekat Yusuf? Saudara melihat cinta Tuhan itu seperti ini. Yesus tidak melakukan hal itu. Tanpa sedikit pun Yesus mengungkit apa yang sudah dilakukan kepada-Nya di masa lalu. Dia mengampuni dan melepaskan mereka dari kesalahan masa lalu.

Bagian ke-3, terakhir. Juga di dalam doktrin adopsi; saudara-saudara perhatikan, Yesus kemudian mengatakan, “Maria pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakan kepada mereka bahwa sekarang Aku naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Sekali lagi, ini kalimat yang menyatakan doktrin adopsi. Saya sebelumnya belum pernah merenungkan ayat ini sampai detail seperti ini. Beberapa waktu yang lalu saya menemukannya, saya sangat-sangat kaget karena Yesus memberikan prinsip-prinsip doktrinal yang penting sekali bahkan di kalimat pertama ketika Dia bicara kepada Maria Magdalena. Saudara-saudara, sekali lagi, “Pergi Maria. Pergi, katakan kepada saudara-saudara-Ku, Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, dan Allah-Ku dan Allahmu.” Perhatikan ada sesuatu yang unik di sini. Yesus mengatakan: Bapa-Ku dan Bapamu, Allah-Ku dan Allahmu.” Berarti sama Bapanya, sama Allahnya? Ini adalah sama Bapanya, kan? Dan juga sama Allahnya, kan? Tetapi anehnya Yesus tidak mengatakan, “Aku akan pergi kepada Bapa kita dan Allah kita.” Makaperhatikan di sini ada sebutan yang sama, tetapi di dalamnya ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang sama; menyebutnya sama-sama Bapa atau menyebutnya sama-sama Allah, tetapi Dia tidak mau pakai Bapa kita dan Allah kita. Bapa-Ku dan Bapamu. Allah-Ku dan Allahmu. Maka sekali lagi, ini mau bicara mengenai sebutan yang sama tetapi ada sesuatu di dalamnya yang berbeda. Saya akan jelaskan. Yesus menyebut Allah di Surga adalah Allah-Ku. Kenapa? Karena dalam covenant of redemption, Kristus Yesus ditunjuk sebagai mediator antara Allah dan manusia. Ketika Dia mengenakan tubuh menjadi manusia, di dalam covenant yang khusus ini, Yesus di dalam kemanusiaan-Nya sebagai mediator memanggil Allah di Surga adalah ‘Allah-Ku.’ Di atas kayu salib Dia mengatakan, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dia mengatakan demikian bukan karena Allah menciptakan Yesus, tetapi kalimat Allah-Ku berbicara berkenaan dengan suatu sebutan karena Yesus di dalam kemanusiaan-Nya melakukan panggilan di dalam covenant of redemption. Tetapi bagi para murid-Nya dan juga bagi kita semua, kita memanggil Allah di Surga sebagai ‘Allahku’ itu artinya bahwa Allah yang di Surgalah yang menciptakan aku. Allah yang memiliki hak untuk mengatur hidupku. Kalau saudara-saudara berdoa; Allahku yang di Surga. Maka di dalam pengertian kita adalah Dia yang ada di atas aku. Dia yang menciptakan aku. Dia yang berhak untuk memegang dan mengatur hidupku. Tetapi ketika Yesus Kristus mengatakan, ‘Allah-Ku.’ Itu bukan berarti bahwa Dia mengatakan ‘Allah menciptakan Aku.’ Bukan. Ketika Dia menyatakan itu adalah di dalam status kemanusiaan-Nya sebagai mediator, untuk menjadi wakil dari manusia, maka Dia memanggil Allah di Surga sebagai ‘Allah-Ku.’

Sekarang saya akan jelaskan berkenaan dengan panggilan Bapa-Ku dan Bapamu. Saudara-saudara, seorang penafsir mengatakan demikian: “108 kali dalam Injil Yohanes, Yesus menyebut Allah sebagai Bapa. 27 kali Dia berseru Bapa-Ku. 71 kali Dia menyebut Bapa. Dan hanya satu kali Dia menyebut Allah sebagai Bapa para murid.” Sekali lagi, hanya satu kali Yesus menyebut Allah sebagai Bapa bagi para murid. Ini adalah sesuatu keunikan ayat ini. Sekali lagi, ayat ini luar biasa dalam. Ini mengajarkan doktrin-doktrin yang penting. Ada perubahan posisi. Perubahan posisi dari Yesus adalah Guru dari para murid, sekarang Yesus adalah saudara. Dan Allah itu bukan saja Allah tetapi boleh dipanggil Bapa setelah Yesus bangkit dari kematian. Tetapi saudara-saudara perhatikan, sebelum saya jelaskan mengenai ‘Bapa’ sedikit. Saudara perhatikan. “Dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Di dalam bahasa Indonesia ada sesuatu kesalahan, karena ditulis ‘Aku akan’, berarti adalah bicara mengenai future. Tetapi saudara perhatikan dalam bahasa Inggris itu adalah tepat karena dalam bahasa Yunaninya adalah bicara mengenai present tense. Apa artinya saudara-saudara? Perhatikan baik-baik, jadi Yesus ketika bicara ini, Yesus itu berpikir bahwa Dia sudah naik ke Surga. Karena di dalam seluruh prinsip ini adalah Yesus mati, Yesus bangkit, Yesus naik ke Surga, baru tempat itu tersedia bagi kita. Yesus sendiri pernah mengatakan, “Jangan gelisah hatimu, di Surga banyak tempat tinggal. Aku pergi ke sana untuk mempersiapkan tempat bagimu.” Sepanjang Yesus itu tidak naik ke Surga maka tidak mungkin ada doktrin adopsi. Tetapi kenapa ketika Yesus masih ada di dunia, ketika Dia sudah bangkit, belum naik ke Surga, Dia menyatakan doktrin adopsi ini? Karena bagi Yesus, Yesus mau mengajarkan kepada kita; ketika kebangkitan terjadi, naik ke Surga pasti akan terjadi. Ini adalah cara berpikir Yesus kepada murid-murid-Nya. Di dalam pengajaran-Nya, Yesus berkali-kali menggabungkan antara doktrin kematian-Nya dan doktrin kebangkitan-Nya langsung menjadi satu. Aku akan pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak siksaan dan Aku akan mati di sana, dan Aku akan bangkit pada hari ke-3. Itu artinya adalah jikalau kematian terjadi, maka kebangkitan pasti terjadi. Dan di dalam ayat ini, itu artinya adalah kalau engkau melihat Aku bangkit, engkau akan melihat Aku naik. Ini menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Maka itulah sebabnya ketika Yesus itu belum naik, meski ketika belum naik, seharusnya tidak boleh ada doktrin adopsi, tetapi Yesus sudah menyatakan adopsi itu. Engkau sekarang saudara-saudara-Ku dan Aku akan naik ke Surga yang adalah Allah-Ku dan Allahmu, Bapa-Ku dan Bapamu.

Sekali lagi, kenapa bukan Bapa kita? Karena ini adalah sebutan yang sama tetapi ada sesuatu yang intrinsik yang berbeda. Yesus memanggil Bapa di Surga adalah ‘Bapa-Ku,’ sebagaimana karena Yesus adalah Allah pribadi ke-2 melalui eternal generation. Perhatikan, ini adalah sesuatu doktrin Trinity yang penting sekali. Saya tidak akan mengelaborasi karena ini memiliki satu prinsip dalam kelas tertentu. Tetapi ketika bicara berkenaan dengan Bapa, bagi Yesus Kristus itu adalah bukan bicara berkenaan dengan seperti ayah, tetapi ini adalah sebutan pribadi pertama. Saudara-saudara, ketika pribadi ke-2 mau menyebut pribadi pertama itu memakai nama Bapa. Dan Yesus sebagai pribadi yang ke-2, disebut sebagai Anak di dalam pengertiannya adalah di dalam eternal generation. Tetapi bagi para murid dan bagi kita, ketika kita mengatakan, “Bapa di Surga.” Itu bukan karena eternal generation. Kita adalah manusia yang dicipta dan kemudian kita dilahirbarukan. Kita bisa memanggil Allah Bapa di Surga, Allah adalah Bapa karena karunia adopsi. Karena kelahiran kembali secara rohani.

Secara summary, apa yang Yesus katakan kepada Maria Magdalena untuk Maria Magdelana mengabarkan Injil. Maka Yesus mengatakan, “Hiburkan seluruh murid-murid-Ku yang berduka. Hiburkan orang-orang yang sudah meninggalkan Aku dan merasa guilty feeling di dalam kamarnya masing-masing. Mereka adalah saudara-saudara-Ku, dan mereka adalah anak-anak Allah di Surga. Mereka adalah saudara-saudara-Ku.” Saudara-saudara, inilah yang disebut sebagai hiburan. Ini adalah penerimaan, ini adalah pengangkatan, bagi orang-orang yang sudah berdosa dan itu tersedia bagi saudara dan saya, hanya di dalam Yesus Kristus. Kiranya kasihan Tuhan menyertai kita. Mari kita berdoa.

 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

21 April 2024
Kebangkitan Kristus Adalah Kunci Iman Kristen
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Fil 3:10-14

Fil 3:10-14

Kekristenan dibangun di atas pribadi dan karya Kristus. Pribadi Kristus yang Dwi Natur, Allah sepenuhnya dan manusia sepenuhnya tidak mungkin terlepas dari karya-Nya. Dan di dalam karya-Nya dari inkarnasi, mati, bangkit, naik ke sorga, dan di atas tahta Dia mencurahkan Roh Kudus, ini menjadi suatu pekerjaan mata rantai yang kokoh untuk keselamatan kita yang tidak mungkin bisa dilepaskan satu dengan yang lain, dan di antara karya Kristus, maka Alkitab, rasul-rasul, mengajarkan kematian dan kebangkitan Kristus adalah fokus iman kita. Begitu pentingnya peristiwa ini sampai-sampai Paulus menyatakan di dalam ayat ini, “Tujuan hidupku adalah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan bersekutu bersama-sama di dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia di dalam kematian-Nya, supaya pada akhirnya aku beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”Ini adalah satu tujuan di dalam seluruh kehidupan Paulus. Bukan membuat gereja, bukan belajar teologia, bukan mengabarkan Injil, bukan membangun sebuah gedung gereja, bukan membangun jemaat, bukan mati martir. Semuanya tadi yang saya katakan, seluruhnya dikerjakan oleh Paulus, tetapi biarlah kita boleh tahu apa yang menjadi nomena dan bukan fenomena. Apa yang sesungguhnya membuat dia begitu perkasa di dalam seluruh tubuhnya yang sangat lemah. Paulus, apa yang engkau inginkan? Apa tujuan hidupmu? Maka di dalam bahasa aslinya, my aim, saya punya tujuan adalah aku mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan Persekutuan di dalam penderitaan-Nya. Aku menjadi serupa dengan kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Dan kemudian, ‘titik’? Tidak! Dia mengatakan aku berjuang untuk itu, aku mengejar itu. Aku tidak menganggap bahwa aku sudah menemukannya, aku berjuang untuk itu. Aku melupakan segala sesuatu yang di belakangku, aku menetapkan tujuan dan aku berjuang untuk tujuan itu. Maka prinsipnya ada di sini saudara-saudara, orang-orang kudus sepanjang masa mengerti mata air kehidupan dia adalah kalau dia bisa menimba lebih dalam, lebih dalam lagi akan kematian dan kebangkitan Kristus. Kalau Roh Kudus bekerja membuat kematian dan kebangkitan Kristus itu kita lebih mengenal, lebih mengerti, lebih dalam apa artinya, di situ maka kekuatan rohani itu muncul. Saudara-saudara, siapa yang tidak tahu apalagi kalau kita adalah orang Kristen, Yesus mati, Yesus bangkit, semua juga tahu. Kemudian saudara pikir, ya sudah tidak usah pikir lagi. Kalau seperti itu, maka tidak perlu Alkitab ini ditulis panjang lebar. Saudara-saudara, Alkitab ini ditulis panjang lebar adalah setiap kali kita membaca dan setiap kali Roh Kudus ini mengiluminasi, saudara dan saya akan dibawa makin lama makin dalam mengerti apa itu kebangkitan dan penderitaan Kristus. Yang membedakan kita dengan Paulus, Paulus memiliki satu ketetapan hati, “Aku akan mengejar, mengejar dan mengejar!” Saudara-saudara, itu yang menumbuhkan kerohaniannya, itu yang membuat dia makin dewasa iman, itu yang membuat dia bisa memiliki kuasa untuk menaklukkan dosa dan juga untuk bersaksi. Saudara-saudara, kita harus terus memikirkan kematian dan kebangkitan Kristus itu makin lama makin dalam dalam seluruh aspek.

Pada pagi hari ini saya akan membawa saudara-saudara memikirkan mengenai kebangkitan Yesus itu pentingnya bagi iman kristiani. Apa artinya kebangkitan Kristus bagi aku, imanku? Apa sesungguhnya yang Tuhan berikan kepadaku melalui kebangkitan-Nya? Saudara-saudara, kebangkitan Yesus Kristus adalah kunci iman Kristen. Mengapa? Pagi ini kalau Tuhan pimpin maka kita akan bicara mengenai 5 hal ini. 

Yang pertama adalah, karena sesuai dengan janji Kristus, Yesus bangkit dari kematian-Nya. Oleh karena itu kita dapat yakin bahwa Dia mewujudkan seluruh janji dan perkataan-Nya kepada kita. Saudara-saudara, kita harus mengerti bahwa Yesus adalah pribadi yang tidak pernah tergantikan di dalam dunia ini. Tidak ada duanya. Dia bukan saja pendiri agama, Dia bukan saja nabi, Dia bukan saja seorang revolutionnaire, Dia adalah pribadi ke-2 dari Tritunggal yang turun ke dunia, yang mengenakan tubuh, yang mati dan bangkit untuk menebus manusia dari kebinasaan. Saudara perhatikan kalimat di bawah ini: tidak ada satu manusia pun yang pernah bisa memprediksi dengan cara bagaimana dia mati dan menyatakan bangkit pada hari ke-3 dan sungguh-sungguh tergenapi. Kebangkitan itu menyatakan, bukti bahwa apa yang dibicarakan itu benar. Kebangkitan itu menyatakan bahwa Dia itu jujur, Dia bukan nabi palsu. Kebangkitan itu membuktikan bahwa Dia bisa dipercaya. Kebangkitan itu membuktikan bahwa Dia adalah pribadi yang benar. Kebangkitan itu membuktikan bahwa kalimat-kalimat yang diucapkan dengan bibir mulut-Nya itu bisa kita pegang menjadi sandaran hidup kita. Dari satu peristiwa kebangkitan itu, di mana kebangkitan itu sendiri Dia sudah katakan sebelumnya, dan Dia membuktikan perkataan-Nya benar, dari titik itu saudara lihat kembali seluruh kalimat-kalimat-Nya dalam hidup kita. Kalaupun itu belum terjadi, pasti akan terjadi. Bahkan Dia mengatakan satu claim seperti ini, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi engkau akan lihat perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Oh, ini kalimat yang luar biasa berani. Kita bicara sehari berapa puluh ribu kalimat, saudara. Yesus di dalam hidup 33 ½ tahun itu, Dia bicara berapa ribu kalimat? Jutaan. Satu pun tidak akan ada yang gagal. Oh Pak Agus, kita bicara seperti itu kan harap. Pak Agus, anda bicara seperti itu kan mudah-mudahan. Pak Agus, anda bicara seperti itu kan menduga. Tidak! Karena Dia bicara bahwa Dia mati dan bangkit dan Dia bangkit! Saya tanya sekarang, apakah ada pendiri agama yang seperti ini? Apakah ada satu orang yang sangat baik, filsuf di dalam dunia yang berpikir sangat-sangat pelik pun yang bisa mengatakan ini dan bisa membuktikan kalimatnya pasti tidak ada satu pun yang salah? Kematian dan kebangkitan Yesus menyatakan bahwa apa yang dinyatakan itu tidak berdusta, itu sungguh-sungguh terjadi.

Hal yang ke-2. Kebangkitan Yesus di dalam tubuh menunjukkan kepada kita bahwa Kristus itu penguasa Kerajaan Allah yang kekal. Sekali lagi, kebangkitan Yesus di dalam tubuh menyatakan bahwa Dialah penguasa Kerajaan Allah yang kekal. Mari kita melihat Roma 1:4. Ini adalah salah satu ayat Alkitab yang menjelaskan pentingnya kebangkitan tubuh Yesus dan implikasinya di dalam pemerintahan Kristus akan Kerajaan Allah yang kekal itu ada di tempat ini. Roma 1:4. Saudara bisa melihat bahwa kalimat ini menyatakan kebangkitan Yesus dari kematian itu menunjukkan kuasa dan otoritas-Nya sebagai Anak Allah. Ini menandakan kemenangan-Nya atas dosa dan kematian dan mengukuhkan Dia sebagai penguasa kerajaan Allah yang kekal. Saudara-saudara, ayat yang lain yang dengan prinsip teologi yang sama, 1 Korintus 15:20-28. Saya akan bacakan seluruhnya. Saudara-saudara, Yesus bangkit dengan tubuh-Nya bukan tidak ada artinya. Maka Paulus menyatakan kebangkitan Yesus dengan tubuh-Nya menyatakan sebagai manusia yang sejati dan Allah sejati, Dia memerintah Kerajaan Allah di muka bumi ini. Ini menggambarkan pemerintahan Yesus yang berkelanjutan sampai seluruh musuh-musuhnya dikalahkan, termasuk kematian itu sendiri dan menegaskan otoritas dan kemenangan tertinggi-Nya. Yesus bangkit dari kematian dengan tubuh yang baru dan Allah Bapa di sorga menyatakan Dia adalah pemerintah itu. 

Saudara, ada ayat yang unik. Mari kita melihat Matius 28. Kita tahu semua Matius pasal 28:18-20 adalah bicara berkenaan dengan amanat agung. Saudara-saudara perhatikan ayat 16: ‘Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.’ Ayat 17 dan 18: ‘Ketika melihat Dia, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”’ Saudara dan saya menjadi orang Kristen zaman sekarang, saudara dan saya menyembah Kristus, saudara pasti tidak ragu-ragu bukan? Tetapi saudara perhatikan ada ayat yang aneh di sini, “Kenapa murid-murid-Nya itu sebagian ragu-ragu?” Perhatikan baik-baik. Orang Yahudi diajarkan tidak boleh menyembah allah yang lain selain Allah di sorga, apalagi menyembah manusia. Mereka melayani bersama Yesus, okay. Mereka menjadikan Yesus guru, baik, tetapi mereka menyembah hanya satu yaitu Allah di sorga. Mereka bisa melihat Yesus menyembuhkan orang, membereskan angin ribut, mereka terpesona, mereka mengatakan Tuhan. Tuhan itu artinya tuan, tetapi bicara mengenai menyembah itu adalah Allah. Sebagian dari mereka itu ragu-ragu. 

Saudara, ini adalah masalah teologis yang besar bahkan sampai sekarang. Kalau saudara-saudara bicara berkenaan dengan orang-orang di luar kekristenan, mereka selalu akan bertanya kepada kita, “Mengapa orang Kristen itu menduakan Tuhan? Pertama adalah mengapa engkau mengatakan Yesus itu Tuhan? Seandainya engkau mengatakan Yesus Tuhan, tetapi kemudian juga engkau mengatakan Yesus manusia, saya lebih tanya lagi kenapa engkau menyembah manusia?” Saudara-saudara ini menjadi masalah teologis yang luar biasa besar. Bahkan kalau kita orang Kristen, kita mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi ke-2 Tritunggal dan kemudian kita menyembah, kita pasti akan okay, tetapi kemudian saudara-saudara tahu bahwa di sorga kita menyembah Yesus yang adalah Allah yang sejati sekaligus manusia yang sejati. Tetapi inilah yang Allah nyatakan melalui Alkitab: Yesus Kristus yang adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Dia ditentukan sebagai penguasa kerajaan Allah yang kekal. 

Hal yang ke-3adalah kita dapat yakin akan kebangkitan kita karena Kristus telah dibangkitkan. Kebangkitan Yesus di dalam sejarah membuat kita bisa mendapatkan satu kepastian bahwa adanya kehidupan setelah kematian. Saudara, sekali lagi kita sudah terbiasa dengan seluruh kalimat Kristen, kita tidak rasa ini menjadi suatu yang spesial. Tetapi sesungguhnya kalau saudara bayangkan sekarang, kalau Yesus tidak bangkit, apa yang terjadi setelah kematian tidak ada yang bisa memastikan. Ya, saudara bisa mengajarkan doktrin tentang hal itu, saudara bisa mengajarkan teori yang hebat tentang hal itu, tetapi tidak ada bukti. Saudara-saudara, bahkan sebelum Yesus bangkit, begitu banyak teori, begitu banyak spekulasi, banyak perdebatan, tetapi tetap tidak ada bukti bahwa ada kehidupan setelah kematian. Tetapi kebangkitan Yesus menyatakan kepastian bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Kematian bukan akhir, kematian adalah pintu masuk di dalam kekekalan, dan yang mana di dalam kekekalan itu kita menerima penghakiman, dan apakah dari penghakiman itu kita menerima kehidupan kekal atau kematian kekal. Saudara mari kita melihat Kisah Para Rasul 17:31. Saudara bisa melihat bahwa Allah memberikan kepastian akan penghakiman itu dengan bukti kebangkitan Yesus. Kisah Para Rasul 17:31, “Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Tuhan menyatakan, “Kau lihat kebangkitan Yesus. Hai seluruh dunia, kau lihat kebangkitan Yesus. Ini adalah jaminan-Ku. Perhatikan baik-baik. Ini adalah bukti-Ku bahwa pasti akan ada penghakiman. Hidupmu tidak akan berakhir di dalam kematian. Aku akan membangkitkanmu kembali dan Aku akan menghakimi engkau. Dan buktinya adalah Aku membangkitkan Yesus.” 

Hal yang ke-4. Kebangkitan Yesus menyatakan kuasa yang membangkitkan Yesus itu tersedia bagi kita untuk menghidupkan diri kita, tubuh kita yang mati rohani itu, sekarang menjadi hidup dan masuk di dalam pengudusan. Sekali lagi mari kita membaca Roma 8:11 yang beberapa minggu lalu saya eksposisi. Di sini dikatakan, “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Sekali lagi, ini adalah kalimat bukan bicara berkenaan dengan kebangkitan tubuh ketika setelah kematian, tetapi ini adalah bicara bagaimana Roh Kudus akan membuat seluruh tubuh kita yang sebelumnya tanpa Kristus selalu mengerjakan pekerjaan kegelapan, sekarang menghidupkan kita untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan terang. Dengan kata lain, kalimat ini menyatakan kita diberikan kuasa untuk hidup kudus. 

Kebangkitan Yesus itu membuat kita di dalam Dia memiliki Roh yang sama. Kebangkitan Yesus itu menjadi titik awal Tuhan memberikan Roh-Nya masuk dalam hati orang-orang yang dipilih-Nya. Kalau Yesus tidak bangkit maka dunia akan makin lama makin gelap, dunia makin lama makin jahat. Tetapi Kristus itu bangkit, Dia memberikan kuasa kebangkitan kepada para pengikut-Nya, membuat suatu dunia di tengah-tengah arus kegelapan itu ada sinar yang makin lama makin bersinar. Saudara perhatikan kalimat di bawah ini: di dalam Kristus kita akan makin kudus, di luar Kristus maka orang itu akan makin jahat. Ada dimana? Wahyu 22:11. Mari kita lihat Wahyu 22:11, mari kita membaca bersama-sama: “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!” Saudara-saudara, ini bukan sesuatu statis tetapi sesuatu progressive

Yang terakhir ke-5. Kebangkitan Yesus Kristus adalah dasar kesaksian gereja kita kepada dunia. Seorang theolog dari Scotland, Alexander Maclaren menyatakan demikian, “Anda tidak dapat membangun gereja dari Kristus yang mati. Anda tidak dapat membangun gereja dari rumor gosip dan cerita-cerita kebangkitan. Anda hanya dapat membangun gereja dari kenyataan bahwa Dia itu bangkit.” Penampakan Yesus yang bangkit secara fisik adalah keperluan mutlak bagi iman dan kesaksian kita. Iman yang sejati harus berlandaskan kepada fakta, dan fakta sejarah yang sejati itu menyatakan dan membuktikan bahwa Yesus Kristus bangkit. Dan saksi itu bukan cuma satu. Yesus sepanjang 40 hari menyatakan kebangkitan-Nya. Di dalam 1 Korintus 15:14 Paulus menyatakan demikian: “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” Saudara perhatikan baik-baik satu kalimat penting di bawah ini: Gereja meletakkan tumpuan kesaksiannya pada pondasi tunggal yaitu kebangkitan. Kenapa engkau memberitakan Injil Pak Agus? Karena Kristus bangkit. Kenapa engkau mau berjuang habis-habisan Pak Agus? Karena Kristus itu bangkit. 

Saya tidak sedang mengabarkan seorang pendiri agama yang baik yang mati, saya mengabarkan satu pribadi yang tidak ada duanya di dunia ini. Tidak saja baik, tidak saja tulus, tidak saja berani, tidak saja suci, tidak saja benar, tetapi Dia menaklukkan dosa dan setan. Siapa yang seperti Dia? Siapa orang yang pernah hidup seperti Dia? Siapa malaikat seperti Dia? Siapa tua-tua di surga seperti Dia? Dia bangkit! Itulah dasar kenapa gereja itu berdiri. Dan itu dasar saudara dan saya harus mengabarkan ini ke seluruh dunia. Kebangkitan Kristus. Itulah sebabnya maka Paulus menyatakan sekali lagi. Engkau ingin apa Paulus? Memberitakan injil? Iya, tapi bukan itu. Engkau ingin apa, membangun gereja? Iya, tapi bukan itu. Jadi misionaris? Iya, tapi bukan itu. Jadi martir? Kalau Tuhan kehendaki, tapi bukan itu. Lalu kemudian kamu ingin apa? Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dalam kematian-Nya, supaya akhirnya aku beroleh kebangkitan dari antara orang mati dan aku mengejarnya. Apa yang engkau dan saya kejar? Kiranya kita boleh mengenal Dia. Kiranya kita boleh mengalami kuasa kebangkitan-Nya. Mari kita berdoa.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

14 April 2024
Kebangkitan Kristus dan Kuasa Mematikan Dosa (2)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Luk 24:13-35

Luk 24:13-35

Peristiwa yang ditulis Lukas ini adalah peristiwa yang signifikan indah dan menakutkan. Signifikan karena Lukas adalah seorang dokter, dia adalah seorang scientist. Dia menulis kisah ini bukan saja untuk membuat kita beriman, tetapi dia mau melihat fakta sesungguhnya yang menjadi dasar imannya. Saudara-saudara, iman yang sejati harus berdasar pada fakta kehidupan yang real. Iman bukan berdasarkan pada harapan yang kosong atau imajinasi yang liar. Ketika di dalam iman ada harapan, tetapi harapan itu harus real adanya. Ini adalah sesuatu yang penting. Ini adalah sesuatu yang signifikan. Ketika Lukas menuliskan hal ini, dia menggabungkan antara peristiwa kebangkitan Yesus dengan saksi. Dia mau menyodorkan kepada kita, ini adalah sesuatu fakta. Ini adalah sesuatu yang real terjadi. Ketika engkau dan saya mempercayai Yesus, engkau bukan mempercayai sesuatu peristiwa yang kosong. Engkau tidak berharap kepada sesuatu yang ‘mudah-mudahan,’ tetapi ini adalah sesuatu pengharapan berjangkar kepada sejarah yang mutlak, benar-benar terjadi. 

Di dalam iman, kita mempercayai sesuatu. Di dalam iman, kita bersandar kepada sesuatu. Tetapi apakah kita mempercayai sesuatu itu real atau tidak? Apakah kita bersandar kepada sesuatu yang layak kita sandari atau tidak? Maka di dalam kekristenan, iman kita bersandar kepada sesuatu realitas fakta sejarah. Yesus sungguh-sungguh bangkit! Yesus sungguh-sungguh bangkit dan ada saksinya. Dan khususnya di dalam agama Yahudi, maka kitab Ulangan, Tuhan sudah menyatakan melalui Musa kepada orang Israel, “Engkau jangan percaya kepada kesaksian yang hanya satu orang.” Oh, ini mungkin tidak terlalu populer buat kita, tidak terlalu penting bagi kita. Tapi kalau saudara dan saya masuk ke dalam persidangan; ini adalah sesuatu yang mutlak, absolut, mutlak perlu. Tidak bisa kebenaran itu dibangun atas satu saksi, maka saudara melihat di dalam Alkitab kita, Lukas khususnya, maka dia menekankan mengenai kesaksian-kesaksian orang yang berjumpa dengan Yesus yang bangkit. Sekali lagi, iman yang sejati tidak bisa bersandar kepada pengharapan yang palsu. Tidak bisa bersandar kepada sesuatu yang bukan kenyataan. Harus sungguh-sungguh real

Ada sungguh-sungguh satu cerita, dan cerita ini cerita yang sangat menggelikan sebenarnya: Ada satu gedung, dan gedung itu adalah gedung yang indah dikunjungi banyak turis, di London, dan kemudian gedung itu kebakaran. Pada saat itu tidak ada fire extinguisher yang ada di atas gedung tersebut, maka gedung tersebut kemudian setengahnya roboh. Gedung itu kemudian dibangun kembali, sekarang dengan seluruh sistem pemadam kebakaran; ada sprinkle-sprinkle di atas itu dan di bawah yang siap untuk menyemprotkan air seandainya ada kebakaran. Gedung itu dibuka kembali untuk turis dan kemudian tour guides mengatakan kepada turis-turis tentang keindahan gedung itu dan bagaimana sistem keamanan terhadap kebakaran itu sekarang ada. Gedung itu beroperasi 1 tahun, 2 tahun, sampai 10 tahun, dengan terus menerus mereka menyatakan keindahan gedung dan bagaimana sistem anti kebakaran itu ada. Lalu pemilik gedung melakukan pengecekan terhadap seluruh sistem kebakaran, ternyata gedung itu setelah dibangun, tidak ada saluran air ke tempatnya nozzles setiap sprinkle itu, 10 tahun. Itu adalah iman bukan berdasar kepada fakta. 

Tetapi kekristenan tidak. Kekristenan itu berjangkar kepada kematian Yesus yang real dan kebangkitannya yang real. Injil Lukas ini signifikan di dalam tulisan ini, menyatakan bahwa iman kita itu bukan iman yang sia-sia. Tetapi ini bukan saja signifikan; tulisan ini begitu indah dan keindahannya ada terjadi sepanjang jalan Emaus, dari Yerusalem ke Emaus; 12 km ini. Saudara-saudara, Alkitab mengatakan di dalam ayat 13, ‘ada hari itu juga dua orang dari murid-muridnya, Yesus pergi ke sebuah kampung yang letaknya 11 atau 12 km dari Yerusalem.’ ‘Pada hari itu juga,’ itu hari apa? Itu adalah tepat hari kebangkitan Yesus. Pagi-pagi benar, maka Yesus bangkit. Di saat pagi hari di mana Yesus bangkit, maka Dia itu mengunjungi beberapa orang ini. Pertama, dia mengunjungi Maria Magdalena. Ke-2, Dia mengunjungi beberapa wanita yang pergi ke kubur itu. Dan juga pada saat ini, di sini, maka Dia mengunjungi 2 orang ini: Kleopas dan satu rekannya. Saudara-saudara, Yesus bangkit pada waktu itu adalah suatu kebangkitan yang tersembunyi. Oh, apakah yang sebenarnya dipikirkan oleh Tuhan kita, saya sungguh-sungguh tidak tahu. Setiap kali saya membaca apa yang dilakukan-Nya pada waktu kebangkitan-Nya, saya menyadari bahwa Dia itu terlalu rendah hati. Kenapa Yesus bangkit pagi-pagi dan tidak memberitahukannya kepada banyak orang? Sedangkan ketika Dia tersalib, Dia membiarkan diri-Nya dipermalukan di depan ribuan orang. Kenapa Kristus tidak menunjukkan kekuatan kebangkitan-Nya di depan orang-orang? Kenapa Dia bertindak diam-diam, secara tersembunyi, tidak banyak bicara dan hanya mengunjungi beberapa orang saja? Kerendahan hati-Nya itu indah tetapi juga menakutkan. Kerendahan hati-Nya itu menyisihkan semua orang-orang yang tidak didatangi-Nya. Saudara-saudara, perhatikan baik-baik; kalau Dia mau mengunjungi seseorang, orang itu pasti bertobat. Pasti bertobat! Kalau dia mau datang kepada Pilatus, Pilatus pasti bertobat. Dia mau mendatangi Kayafas, Hanas, orang yang paling keras sekalipun, kalau Dia mau datang di depannya, pasti mereka bertobat. Tetapi tidak, Dia tidak mau mengunjungi mereka. Dan kalau Dia mempertontonkan kebangkitan-Nya di depan ribuan orang, ribuan orang juga akan pasti bertobat. Tetapi Dia menyembunyikan diri-Nya, Dia begitu rendah hati. Itulah sebabnya saya mengatakan kepada saudara-saudara; kerendahan hati-Nya begitu indah tetapi sangat menakutkan. 

Sepanjang 40 hari di bumi sebelum kenaikan-Nya. Alkitab mengatakan; Dia hanya menjumpai lebih dari 500 orang saja. Dia tidak memberikan kesempatan kepada Pilatus, Hanas, Kayafas, orang-orang Israel yang mengejek-Nya untuk bertobat. Saudara-saudara mari kita kembali memikirkan, apa artinya anugerah? Apa artinya itu Yesus mencintai? Sekali lagi, kita sering salah mengerti kata ‘anugerah’ itu dan ‘cinta’ itu. Kita berpikir bahwa Allah yang mengasihi dan Allah yang beranugerah itu, Dia menyamaratakan seluruh manusia; sama sekali tidak. Dia memilih orang-orang yang ingin dibuat-Nya bertobat, dan pemilihan-Nya itu adalah dengan kerendahan hati. Oh, ini sesuatu yang luar biasa penting dan luar biasa menakutkan, tetapi Dia menunjukkan kasih sayangnya kepada dua orang murid-Nya di jalan Emaus. Dua orang murid-Nya ini tidak tergabung di dalam sebelas murid-Nya. Juga mungkin tidak tergabung di dalam tujuh puluh orang yang pernah Dia kirim. Pada saat itu kedua murid-Nya ini meninggalkan Yerusalem dengan sedih dan dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang berkecamuk berkenaan dengan apa yang terjadi sesungguhnya dengan Yesus. Pengharapan mereka sudah pudar, seperti sebuah kapal yang karam. Dan mungkin saja mereka terpecah dari murid-murid yang lain. Kita tahu bukan saudara-saudara, kalau di dalam sebuah persekutuan, tujuannya itu sudah gagal, biasanya maka mereka saling menyalahkan satu dengan yang lain. Mereka biasanya sudah tawar satu dengan yang lain. Mereka disatukan dengan pengharapan, dan pengharapan itu adalah Yesus, adalah sang Mesias tetapi sekarang Mesias itu sudah dibunuh. Saya yakin, satu dengan yang lain, saling beradu, dan mereka saling menyalahkan. Adalah mudah untuk mencari kesalahan ketika semua berjalan tidak baik. Sangat mungkin dua orang ini meninggalkan Yerusalem untuk satu keperluan, tetapi mereka juga tidak ada lagi attachment dengan murid-murid yang lain. 

Saudara-saudara, ketika mereka berjalan dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang sedang terjadi; yang mereka tidak bisa menggabungkan; seperti puzzle yang terpisah. Saudara-saudara, tanpa sepengetahuan mereka, Yesus mendekati mereka dan berjalan bersama mereka. Ketika saya membaca tulisan ini, hati saya tersentuh. Yesus tanpa sepengetahuan mereka, Yesus mendekati mereka dan berjalan bersama dengan mereka dan masuk di dalam conversation mereka. Oh, lihatlah kelembutan hati Yesus yang mencari domba-domba-Nya, satu persatu yang hilang ketika iman mereka itu pudar. Saudara-saudara, tapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. Saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang begitu nyata di dalam perikop ini. Saudara-saudara perhatikan baik-baik; apa yang Yesus itu kerjakan? Apa artinya anugerah? Apa artinya cinta? Saudara-saudara perhatikan ayat 16. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, dan kemudian Yesus itu masuk dan Dia mengerjakan anugerah-Nya satu demi satu (nanti kita lihat). Mari kita melihat ayat yang ke-31. Hasil akhir ada pada ayat yang ke-31. Saudara perhatikan; tadinya mata mereka tidak bisa melihat, dan kemudian Yesus masuk, dan Yesus berinteraksi. Yesus menyatakan cinta dan juga belas kasihan-Nya. Yesus memberikan apa yang disebut sebagai anugerah. Dan kemudian saudara bisa melihat ayat 31, apa hasil akhirnya? yaitu mata mereka terbuka. 

Saudara-saudara, ini adalah sesuatu hal yang luar biasa penting. Sekali lagi, ketika saudara dan saya bicara berkenaan dengan kasih karunia, anugerah, cinta Allah, saya mau tanya apa yang ada di dalam pikiran kita? Uang, kelancaran, kemakmuran, kesehatan? Tapi Alkitab kita menyatakan, salah satu bentuk anugerah yang besar adalah kalau mata hati kita itu bisa lihat. Mata hati kita bisa lihat. Untuk bisa terjadi seperti itu, maka diperlukan pekerjaan Allah Tritunggal. Masalah dua murid ini bukan masalah intelektual saudara. Masalahnya itu adalah masalah rohani. Mereka membaca Alkitab Perjanjian Lama, tetapi mereka kehilangan titik berat, centre of the gospel itu apa. Dan (nanti saudara-saudara melihat di dalam ayat yang ke-25) maka Yesus mengatakan, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” Saudara lihat bagaimana cinta Yesus itu sekarang dinyatakan di dalam ekspresi luar. Saudara-saudara, dengan apa? Bukan dengan pujian. Dengan apa? Dengan hardikan, dengan teguran. Saudara-saudara, ada satu prinsip di sini: Orang yang dikasihi oleh Tuhan akan ditegur oleh Tuhan, tetapi orang-orang fasik akan dibiarkan oleh Tuhan. Saudara-saudara apakah kita tidak takut dengan hal-hal prinsip ini? Kalau saudara melihat ada satu orang yang jahat, dan dibiarkan untuk bicara apapun saja sampai hari kematiannya dan membunyikan seluruh kebohongannya kepada publik dan Tuhan membiarkannya, tidak ada hajaran apapun saja; saudara-saudara, orang itu persis seperti Hanas, Kayafas, Pilatus dan semua orang-orang Israel yang memakukan Yesus. Orang-orang ini adalah orang-orang yang dibiarkan Tuhan dan sama sekali tidak dipukul oleh Tuhan. Tetapi dua murid Yesus ini dihardik oleh Tuhan, dikatakan: “Kamu itu bodoh, engkau lambat percaya.” 

Saudara-saudara, ada satu bagian Alkitab di dalam Mazmur, saya akan membawa saudara-saudara untuk mengerti satu ayat ini, ayat yang penting untuk kerohanian kita; Mazmur 50:16-17. Saudara lihat pentingnya hardikan, dan bagaimana respon seseorang terhadap hardikan itu menentukan kerohaniannya sesungguhnya. Saudara-saudara, ayat 16-17 bersama-sama: ‘Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: “Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran dan mengesampingkan Firman-Ku.”’ Saudara-saudara, orang fasik bukanlah orang yang tidak tahu Alkitab. Orang fasik bukanlah orang yang tidak bisa mengajar. Tetapi di sini dikatakan: orang fasik adalah orang yang menyebut-nyebut Firman Tuhan, tetapi tidak pernah menerima untuk setiap kali hardikan itu datang kepada dirinya. Saudara perhatikan bahwa dua murid ini tidak mengetahui siapa sesungguhnya Yesus. Yesus adalah orang asing bagi dia. Seorang asing yang tiba-tiba masuk berintervensi dengan kalimat-kalimat mereka, dan kemudian menghardik mereka. Saudara, saya menyadari satu hal; mereka memiliki kerendahan hati. Sedikit saja mereka sombong mereka akan bilang, “Kamu itu siapa? Siapa kamu? Kita kenal saja tidak pernah, kok kamu bilang aku bodoh.” Tetapi orang benar akan menerima seluruh penghakiman itu. Orang benar akan menerima seluruh hardikan itu. Kita sering sekali mengatakan: Jangan menghakimi, tetapi saudara melihat di dalam Alkitab, orang-orang benar selalu respon terhadap penghakiman itu; selalu menerima. Saudara-saudara, lihatlah apa yang ada di dalam Daud, lihatlah apa yang ada di dalam Musa, lihatlah kepada orang-orang seperti 2 murid ini. Saudara akan melihat bahwa mereka menerima seluruh penghakiman itu, saat ini, dan sifat yang menerima itulah, malah sifat itu yang menyatakan mereka adalah orang benar. 

Yesus mendekati mereka, dan mengikut percakapan mereka, dan Yesus tanya, “Apa yang kamu bicarakan?” Lalu mereka berhenti dan mukanya muram. Saya yakin karena dua hal ini: Pertama, karena mereka sedih, kedua, karena mereka juga sedih dengan pertanyaan Yesus. Kleopas kemudian bertanya, “Kamu ini satu-satunya orang asing yang tidak tahu apa yang terjadi ya?” Kalau saudara melihat di dalam bahasa Yunaninya, maka kata ini memakai nada bicara yang menyindir, setengah menghina, “Kamu tidak tahu?” Karena apa yang terjadi pada Yesus Kristus di salib itu adalah pada hari Paskah. Seluruh orang Yahudi dari berbagai macam daerah datang. Tapi sekali lagi bahwa; Tuhan kita itu adalah Tuhan yang rendah hati dan Dia memiliki selera humor. Bukannya Dia menjawab, Dia malah tanya, “Oh, hal apa ya?” Lalu mereka menjawab, “Tentang Yesus seorang Nazaret, Dia nabi yang sangat berkuasa, Dia melayani di depan Allah dan manusia (Itu artinya mereka menghormat daripada Yesus Kristus), namun para pemimpin agama kami mengkhianati Dia, menyerahkan Dia untuk dihukum mati. Mereka menyalibkan Dia, padahal kami mengharapkan Dia menjadi pembebas bangsa kami.” 

Saudara-saudara, kalimat ini sebenarnya adalah kalimat yang sangat strong, sangat kuat. Kita bukan orang yang memiliki pengharapan. Ya kalau ditanya, setiap orang pasti punya pengharapan. Saudara, coba sebutkan satu pengharapan saudara di dalam hidup yang berpuluh-puluh tahun ini, dan seberapa kuat pengharapan itu. Ada orang: “Kamu harapannya apa?” “Supaya anakku berhasil, anakku jadi orang kaya (atau apa saudara-saudara)” “Apa pengharapanmu?” Ada orang di kampung, “Supaya saya bisa pergi ke tempatnya Amerika.” Saudara-saudara, maka orang tersebut pasti punya pengharapan. Tetapi orang Israel, saudara-saudara; mereka adalah orang yang mati hidup dengan satu pengharapan yaitu: ‘Mesias datanglah!’ Kalau saudara-saudara melihat sekarang Israel ini terlibat perang, ndak ada habis-habisnya. Tadi pagi kita mendengarkan news, bahwa Iran sekarang meluncurkan rudalnya ke tempatnya Israel. Saudara-saudara, ini akan menjadi perang yang besar sekali mungkin. Israel dari dulu sampai sekarang isinya perang terus. Tetapi mereka menyadari, mereka tidak akan bisa menang tuntas, sampai Mesias itu datang. Maka mereka terus mengharapkan Mesias kapan datang karena di dalam Perjanjian Lama, Mesias itu kalau datang akan menghancurkan musuh-musuh Israel di kaki-Nya. Pada zaman murid-murid ini hidup, sekali lagi mereka berada di dalam penjajahan Romawi. Saudara-saudara, ini adalah sesuatu hal yang luar biasa menyakitkan terus-menerus, bertahun-tahun, puluhan tahun, ratusan tahun di dalam orang Israel dan mereka mengharapkan kedatangan Mesias dan mereka kira itu adalah Yesus Kristus. Kita sendiri mengatakan Yesus Kristus, Kristus artinya “yang diurapi”, saudara-saudara, itu artinya adalah seorang yang akan membebaskan umatnya, tetapi mereka mengharapkan Yesus menjadi Kristus, tetapi ternyata Yesus itu mati maka kalimat ini adalah bukan dikatakan dengan enteng, kalimat ini adalah kalimat yang dikatakan dengan hancur hati. Mereka menceritakan kepada Yesus berkenaan dengan Yesus yang mati, tetapi kemudian perempuan-perempuan itu yang datang ke kubur membuat mereka bingung karena mayat Yesus tidak ada lagi di situ. Yesus sudah mati, tetapi kubur-Nya kosong; dan ini menjadi suatu teka-teki, ini menjadi puzzle yang tidak bisa mereka hubungkan satu dengan yang lain. Oh, kalau saudara-saudara baik-baik mengerti apa yang terjadi, dan bagaimana keadaan ini hanya di dalam beberapa jam saja, dan apa yang menjadi latar belakang mereka, saudara akan melihat bahwa orang-orang ini adalah orang-orang yang sungguh sulit untuk berdiri dengan kokoh, mereka sangat-sangat kebingungan untuk apa yang terjadi. Tetapi yang jelas, kebangkitan tidak ada dalam pikiran mereka. 

Saudara-saudara, saya akan memberikan note di sini. Ada orang-orang di luar kekristenan yang mengatakan bahwa kebangkitan Yesus sebenarnya tidak pernah terjadi. Mereka mengatakan bahwa kebangkitan Yesus adalah cerita karangan dari murid-murid abad pertama. Saya mau katakan pada saudara-saudara, Alkitab mencatat, bahkan murid-murid pertama-Nya pun saja tidak percaya kebangkitan Yesus. Sekali lagi, murid-murid pertama-Nya saja tidak ada yang percaya bahwa Yesus itu bangkit. Sekarang bayangkan bagaimana puluhan murid pertama, belasan murid pertama yang tidak mempercayai kebangkitan itu bersekongkol membuat suatu teori bahwa gurunya Yesus itu bangkit dan mempertahankan teori itu sampai mati satu per satu dibunuh. Dan kedua murid ini sama dengan murid yang lain, sampai kapan pun mereka tidak bisa menghubungkan penderitaan dan kemuliaan Kristus. Melalui kalimat-kalimatnya, saudara akan menemukan bahwa mereka tidak bisa melihat penolakan, penghinaan dan kematian Yesus sebagai bagian integral dari karya keselamatan Allah yang mulia. Teologia penderitaan dan teologia kemuliaan itu dua kutub yang terpisah, dan tidak mungkin bergabung. Kalau menderita, maka tidak mungkin mulia. Kalau seseorang mulia, maka tidak mungkin menderita. Tetapi kematian dan kebangkitan Yesus mengajarkan bahwa kemuliaan itu ada setelah penderitaan. Penderitaan akan mendahului kemuliaan. Kematian dan kebangkitan Yesus mengajarkan kehidupan yang sejati itu dimulai ketika seseorang itu mati. Ini seluruhnya tersembunyi bagi mereka. Dan mungkin kalimat ini tidak tersembunyi bagi saudara dan saya pada Perjanjian Baru dan zaman gereja ini, tetapi jikalau kita tidak sadar setelah kita mendengarkan kalimat ini, kita tetap tertutup mata rohani kita.

Dan sekarang, lihatlah bagaimana mereka dituntun oleh Yesus. Ada sesuatu yang indah di sini. Yesus mendatangi dan mengikuti mereka, masuk di dalam pembicaraan mereka. Pertama-tama, Yesus adalah tamu, tetapi tanpa mereka sadari, Yesus kemudian yang memimpin pembicaraan itu. Yesus kemudian menjadi tuan rumah bahkan, ketika nanti mereka mengundang Yesus, Yesuslah yang mengambil roti dan memecah-mecahkannya. Oh, lihatlah apa yang dilakukan oleh Yesus. Sekali lagi, dari mata yang tertutup dan kemudian mata yang terbuka. Pertama-tama, yang dilakukan Yesus adalah: Yesus membawa mereka mengingat kembali Firman yang telah mereka baca. Saudara-saudara, ayat 27 mengatakan, ‘Yesus menjelaskan kepada mereka, apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.’ Kitab Musa adalah 5 Kitab Taurat, Kitab Nabi adalah bicara berkenaan dengan keseluruhan Perjanjian Lama, selain Taurat. Ini adalah bicara mengenai seluruh Perjanjian Lama. Kadang-kadang penulis kitab Perjanjian Baru mengatakan Perjanjian Lama itu adalah Tanakh. Tanakh itu adalah 3, adalah bicara mengenai Taurat, Kitab Nabi, dan juga Mazmur (orang Islam mengatakan Zabur).

Saudara-saudara, lihatlah bagaimana Yesus itu menghargai Firman. Dia mau membuka hati orang tersebut dengan Firman. Lihatlah bagaimana iman itu dibangun berdasarkan Firman. Saudara-saudara, iman Kristiani sekali lagi adalah iman yang berdasarkan fakta sejarah yang dinyatakan oleh Kitab Suci. Apa yang terjadi saat ini, kematian dan kebangkitan Mesias, Yesus mau menunjukkan apa yang terjadi saat ini, sudah dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Kematian dan kebangkitan itu real di dalam sejarah, tetapi kematian dan kebangkitan itu juga real di dalam Firman. Seorang penulis mengatakan demikian, “Kuburan itu terbuka dan kosong, sesungguhnya Alkitab itu dibuka dan tergenapi.” Sekali lagi saudara-saudara, ketika melihat kuburan itu terbuka dan kosong, Yesus menunjukkan hal itu, tetapi Yesus menunjukkan kepada dua murid-Nya, Firman itu. Ketika mereka membuka Firman, Firman itu tergenapi. Saudara-saudara, apa yang Yesus kerjakan untuk mata yang tertutup itu sekarang terbuka. Pertama adalah membawanya untuk mengerti Firman. Tetapi yang ke-2 saudara-saudara, lebih dari pada itu, maka pengetahuan Alkitab saja tidak mencukupi, perlu anugerah Allah untuk mencelikkan hati kedua murid itu. Inilah yang disebut oleh Calvin atau orang-orang Puritan yang disebut sebagai double light. Ketika Allah berurusan dengan seseorang untuk menyelamatkan, Allah akan memberikan sinar-Nya, pengertian-Nya, mencerahkan isi Alkitab, tetapi juga Allah mencerahkan hati kita. Ini disebut sebagai double light. Ini pekerjaan spiritual. Kalau saudara-saudara mengerti prinsip ini, lihatlah bagaimana kita itu benar-benar tergantung kepada kemurahan hati Yesus Kristus untuk kita mengerti suatu kebenaran. Kebenaran saja tidak cukup untuk mengubah hidup kita. Sepanjang hidup-Nya, Yesus mengatakan kebenaran, karena Dia adalah Sang Kebenaran itu. Ketika Dia menyatakan kebenaran, ketika kita membaca kebenaran, tetapi Dia tidak berkasih karunia membuka mata hati kita, maka yang terjadi adalah kita seperti Pilatus. Suatu hari dalam Yohanes 18:37-38, saudara-saudara, bukankah Yesus itu menyatakan kebenaran? Didengar langsung oleh telinga Pilatus, bukan melalui nabi, bukan melalui pendeta, bukan melalui rasul, bukan melalui malaikat, Dia menyatakan kebenaran dan kebenaran itu adalah real, itu adalah suatu yang objective. Apakah Pilatus itu bertobat? Tidak. Apa yang salah? Bukankah dia powerful sekali? Kenapa dia tidak bisa bertobat? Karena Dia tidak memberikan pencerahan di dalam hati Pilatus; tidak ada double light, hanya ada satu light, yaitu kebenaran itu. 

Saudara perhatikan baik-baik, inilah yang disebut sebagai, ‘Firman itu tidak pernah kembali dengan sia-sia.” Saudara-saudara, Firman sudah diberitakan, pertama, Firman itu akan menghasilkan penghakiman, yang kedua, Firman tersebut akan menghasilkan keselamatan, itu tidak pernah kembali dengan sia-sia. Jadi ketika saudara dan saya mendengarkan sesuatu kebenaran, ada 2 kemungkinan; yang pertama adalah menjadi penghakiman bagi kita, atau yang kedua, Tuhan memberikan juga sinar di dalam hati kita, sehingga kita mengerti kebenaran, kita bertobat. Tetapi dari apa pun saja, ketika Firman diberitakan, dia tidak mungkin akan kembali dengan sia-sia. Itulah sebabnya kita terus perlu meminta kepada Tuhan, “Tuhan, berikan kepada aku sinar-Mu, Tuhan selamatkan aku, aku tahu Firman ini benar, aku tahu Firman ini kokoh, bumi dan langit akan berlalu, Firman ini akan tinggal tetap, aku mempercayainya Tuhan. Aku bisa berkhotbah, aku bisa mengajar, aku bisa berdebat teologia, tetapi itu tidak akan mengubah aku, kecuali Engkau memberikan anugerah itu kepadaku; terang yang kedua, double light.”

Tetapi perhatikan, ada hal yang penting yang Lukas catat di sini antara yang pertama dan yang kedua. Yang pertama, sekali lagi adalah bicara berkenaan dengan Yesus menyatakan Firman, itu adalah terang yang pertama. Yang kedua adalah kemudian Yesus itu mencelikkan mereka, ketika dengan satu simbol, Dia itu memecahkan roti. Sebelum Tuhan memberkati mereka dengan berkat yang besar, yaitu mencelikkan mata mereka, sekali lagi Tuhan sudah bicara mengenai Alkitab, Tuhan sudah menjelaskan semuanya mengenai Alkitab. Saudara-saudara, ada sesuatu yang Lukas itu perhatikan dalam diri mereka. Yesus kemudian jalan sama mereka, dan Yesus mau seakan-akan meninggalkan mereka terus berjalan. Namun Alkitab mengatakan kedua orang ini mendesak-Nya, mereka minta, “Engkau tetap tinggal di sini,” mereka tidak katakan “Yesus” karena mereka tidak tahu nama-Nya: “Tinggallah bersama dengan kami, ini sudah mau menjelang malam, matahari sudah mulai terbenam.” Saudara-saudara, perhatikan ada satu hal yang penting di sini, Yesus tidak pernah memaksakan diri-Nya dan karunia-Nya mengganggu kita. Dia menginginkan jiwa kita bangkit untuk menginginkan Dia. Saudara-saudara, kedua murid ini mengatakan, “Tinggallah bersama dengan kami,” Implikasinya adalah jikalau mereka tidak menyediakan waktu untuk-Nya, maka Yesus akan terus pergi, Yesus tidak mengganggu mereka, mereka kedua murid ini harus mendesak-Nya, “Silakan masuk, silakan masuk, ini sudah larut malam, jangan lanjutkan perjalanan-Mu, kami ingin menghabiskan sisa waktu kami bersama-Mu.” Di dalam Wahyu 3:20, Yesus pernah mengatakan demikian, “Lihatlah Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk, jika ada yang mendengarkan suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk.” Saudara-saudara, perhatikan baik-baik, ‘Kita harus memaksa Dia untuk masuk di dalam hidup kita.’ 

Seorang pengkhotbah mengatakan demikian, “Saya sarankan anda meluangkan waktu setiap hari, 15-30 menit, hanya untuk mengatakan, “Tuhan saya menyisihkan waktu ini, aku memaksa-Mu Tuhan untuk datang dan menghabiskan waktu bersamaku. Tuhan aku menyisihkan waktu ini untuk Engkau. Aku sungguh-sungguh ingin untuk Engkau datang dan menghabiskan waktuku bersama-Mu.” Jikalau tidak, maka Dia akan melanjutkan perjalanan-Nya tanpa mengganggu kita karena Dia tidak pernah memaksa kita.” Saudara-saudara perhatikan, saya mau tanya kepada saudara-saudara, bagaimana dengan waktu teduh kita? Apakah kita mengharapkan Dia datang? Atau saudara dan saya malah menganggap waktu teduh itu adalah sesuatu yang mengganggu kita? “Kau jangan ganggu aku Tuhan, Engkau tahu aku banyak sekali assignment harus dikerjakan, Engkau tahu aku banyak rapat ini, rapat itu, Engkau jangan mengganggu waktuku Tuhan.” Saudara-saudara perhatikan, ini berbeda dengan apa yang ada dalam jiwa daripada murid-murid-Nya. “Tuhan silakan masuk, jangan pergi lagi, silakan masuk, aku memaksa-Mu untuk masuk menyediakan waktu-Mu bagiku.” J.C. Ryle,Anglican Bishop itu mengatakan bahwa, “Kristus tidak selalu memaksakan karunia-karunia-Nya pada kita tanpa kita cari dan minta. Dia suka mengeluarkan hasrat kita dan mendorong kita untuk menggunakan kasih sayang rohani kita dan menunggu doa-doa kita.” BishopJ.C. Ryle mengatakan, “Dengan kata lain Tuhan suka dicari dan diinginkan dan Dia mengeluarkan dan membentuk hal seperti ini dalam jiwa murid-murid-Nya. Mungkin itu sebabnya Dia tidak datang kepada kita dengan begitu cepat dan mudah pada saat kita berdoa dan membaca Alkitab. Dia menarik hasrat ini keluar dari dalam diri kita, hasrat yang sejati dan mendalam terhadap Dia.” 

Firman sudah diberitakan oleh Yesus, tetapi Tuhan tidak membukakan mata hati mereka, tetapi mereka mendesak-Nya, “Jangan pergi Yesus, sama kami di sini.” Dan ketika hasrat dari Kristus bertemu dengan hasrat dari jiwa yang diciptakan ini, dan Kristus kemudian mengambil roti dan kemudian memecahkannya, dan dengan means of grace ini, Dia membukakan mata dari murid-murid ini. Langsung mereka tahu ini Yesus, dan langsung Yesus hilang. Dan kemudian setelah itu apa yang dilakukan oleh mereka? Alkitab mengatakan; mereka berapi-api, berkobar, mereka berapi-api berkobar. Oh saudara-saudara, pertanyaannya kenapa mereka berapi-api dan berkobar? Karena kebangkitan itu bukan saja menjadikan surprise dalam hidup mereka, tetapi kebangkitan itu adalah sesuatu yang mengubah, memutar cara pandang. Saya akan jelaskan sedikit dan kemudian saya akan selesaikan khotbah ini.

Saudara-saudara, sekali lagi yang disebut sebagai kebangkitan Yesus Kristus adalah sebenarnya akhir zaman yang dipercepat. Seluruh hidup kita akan mengalami akhir zaman dan akhir zaman itu seluruh makhluk, seluruh manusia akan dibangkitkan dan akan dihakimi dan di akhir zaman itulah maka kita baru akan tahu apakah seseorang itu benar atau tidak di hadapan Allah. Saudara-saudara, orang-orang Islam boleh mengatakan bahwa Muhammad itu benar, orang-orang Hindu boleh mengatakan nabinya benar, orang-orang Buddha, orang apa pun silakan mengatakan dia benar, tetapi saudara-saudara, entah mereka benar atau tidak, bukan tergantung dari ucapan mereka tetapi tergantung dari akhir zaman itu, Allah menentukan dia benar atau tidak. 

Saudara-saudara perhatikan, di dalam kekristenan, kebangkitan Yesus itu yang harusnya pada akhir zaman, seharusnya kita bisa tahu Yesus benar atau tidak itu adalah pada akhir zaman, maka ini kemudian dipercepat. Dia bangkit, Dia dibangkitkan oleh Allah, Yesus dinyatakan bahwa Dia benar. Itulah sebabnya seluruh murid-murid-Nya sekarang memiliki sesuatu cara pandang yang baru. Itulah sebabnya di dalam Alkitab dikatakan mereka berapi-api untuk melayani Tuhan. Karena ini bukan saja bicara mengenai sesuatu surprise, kalau Dia ini benar, maka sekarang apalagi yang saya khawatirkan untuk melayani Dia. Apakah ruginya saya melayani Dia? Apa yang kurang ketika aku itu sungguh-sungguh berbakti kepada Dia? Celakalah aku, ketika aku melayani Yesus ternyata Yesus adalah bukan orang benar tetapi orang fasik. Tetapi tidak, Yesus itu benar, Dia dibangkitkan oleh Allah. Maka ketika 2 murid ini menyadari bahwa ini Yesus, kalimat-kalimat Yesus sebelumnya sudah membakar hati mereka, sekarang adalah fakta kebangkitan-Nya membakar mereka dengan penuh. Kemudian malam hari itu juga, mereka langsung jalan balik ke Yerusalem. Saudara-saudara, kalau saudara dan saya mengalami kebangkitan Yesus, capai pun tetap jalan. Capai pun tetap berkobar-kobar, seperti nabi Perjanjian Lama mengatakan, “Aku ingin diam tetapi ada api yang ada di tulangku membakar.” Oh ini adalah ‘Emaus’ dari 2 murid itu. Oh, kiranya saudara dan saya menemukan ‘Emaus’ kita. Ini adalah perjalanan yang mengubah 2 murid Yesus, suatu perjalanan dari kebodohan menjadi pengakuan, kebingungan menjadi kejelasan, keputus-asaan menjadi suka cita, dan tawar hati menjadi berapi-api. Oh kiranya Tuhan mengaruniakan belas kasihan-Nya. Kiranya setiap dari antara kita bertemu Dia di dalam jalan Emaus kita. Mari kita berdoa.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

7 April 2024
Kebangkitan Kristus dan Kuasa Mematikan Dosa (1)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Rom 8:11-14

Rom 8:11-14

Kekristenan bukanlah suatu ide agama. Kekristenan adalah suatu kenyataan kehidupan yang dikerjakan oleh Allah di bumi ini. Dua ribu tahun yang lalu Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal di bumi ini di dalam sejarah. Iman Kristiani adalah iman yang bersandar kepada karya Allah di dalam sejarah. Kristus Yesus lahir, inkarnasi dari anak dara, itu di dalam sejarah. Kristus Yesus mati di atas kayu salib itu real sejarah. Kristus bangkit, Kristus naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah itu adalah kenyataan di dalam hidup ini. Ini bukan khayalan, ini bukan suatu cerita, ini bukan juga suatu harapan. Ini adalah fakta, ini adalah realitas. Bukan saja suatu realitas, tetapi realitas yang memayungi seluruh realitas yang ada, dan ini terjadi ribuan tahun yang lalu. 

Tetapi suatu hari, seperti yang minggu lalu saya sudah katakan, satu pertanyaan dari dosen saya menghujam hati saya, “Jikalau Yesus Kristus sungguh-sungguh bangkit, dan engkau mempercayai, tunjukkan di mana letak kemenangan Kristus di hidupmu. Jikalau Kristus Yesus itu bangkit dan engkau mempercayai, tunjukkan pengaruhnya di dalam hidupmu.” Apakah ada perbedaan antara Yesus Kristus itu mati saja atau bangkit dari antara kubur? Yang dia pertanyakan adalah: ‘Apakah kebenaran di dalam sejarah itu berelasi dengan kehidupanku here and now?’ Pagi ini kita akan sekali lagi memikirkan apa yang Alkitab katakan, bagaimana cara kerja Allah, metode Allah, “the way” yang Dia pakai untuk mengubah hidupku here and now ini dengan kenyataan yang dahsyat ribuan tahun yang lalu. 

Roma 8 yang tadi kita baca menyatakan hubungan yang luar biasa erat antara kebangkitan Kristus Yesus dengan pengudusanku; kejadian ribuan tahun yang lalu dengan hidupku here and now. Kegagalan mengerti ini membuat kita hanya beragama. Kegagalan mengalami ini akan membuat saudara-saudara boleh mengatakan doktrin apapun saja tetapi hidup itu tidak pernah berubah. Dosa tetap berkuasa atas hidup kita dan kita dimatikan oleh dosa, dan semakin kita menyatakan Kekristenan, orang semakin menjauh dari kita karena mereka tidak melihat ada perbedaan antara diri kita dengan diri mereka. Kekristenan yang sejati lebih daripada sekedar doktrin. Kekristenan yang sejati lebih dari sekedar perkataan. Alkitab mengatakan: Kerajaan Allah itu datang dengan kuasa, dan kuasa itu adalah kuasa kebangkitan yang Tuhan sudah berikan kepada kita

Minggu yang lalu kita sudah bicara panjang lebar berkenaan dengan: “Apakah itu sesungguhnya orang Kristen?” Seorang Kristen adalah seseorang yang sudah dilepaskan, dipindahkan dari realm daging menuju kepada realmHoly Spirit. Ini tidak bisa kembali, dan ini adalah sesuatu kenyataan di dalam kerohanian, maka ini adalah sesuatu dasar dari segala sesuatu kehidupan rohani kita dan itu dikerjakan oleh Roh Kudus. Alkitab menyatakan, Roh yang membangkitkan Kristus itu ada di dalam hatimu, di dalam tubuhmu – Dia akan menghidupkan engkau. Karena kenyataan yang Tuhan sudah kerjakan ini, maka Tuhan memberikan satu perintah kepada kita. Tugas atau perintah itu adalah hidup di dalam kekudusan. Dulu kita tidak memiliki kekuatan ini, tetapi di dalam Kristus Yesus oleh Roh Kudus kita memiliki kekuatan ini. Kita memiliki kemungkinan hidup suci ini. 

Saya mau membawa saudara-saudara pada kebenaran minggu yang lalu, yang sangat penting; saya akan mengingatkan saudara-saudara berkenaan dengan diri kita (ourbeing) yang baru di dalam Yesus Kristus. Sepanjang kita tidak mengerti ini maka kita akan kering dalam melakukan tugas-tugas kekristenan. Sepanjang kita tidak mengerti prinsip ini, maka kita salah mengerti hati Tuhan dan motivasi-Nya. Sepanjang kita tidak mengerti hal ini, setiap tugas-tugas kekristenan termasuk memenuhi hukum adalah suatu siksaan bagi jiwa kita. Semakin saya menyadari ketika seseorang mengatakan “saya kering”, “saya terseret-seret”, “saya merasa menjadi orang Kristen itu adalah melakukan perintah-perintah yang mematikan dan tugas-tugas yang begitu banyak”, saya menyadari sekali (karena itu juga terjadi juga dalam hidup saya), saya tidak mengerti apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup saya. Dan saya mengerti jalan keluarnya adalah bukan mengurangi pekerjaan itu, tetapi saya perlu masuk lebih dalam menuju kepada mata air kehidupan itu, untuk menikmati, untuk rest. Apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya seluruhnya kasih karunia, seluruhnya adalah cinta. Sekali lagi saya akan mengingatkan saudara akan prinsip ini: di dalam Alkitab, kalau ada suatu perintah/tugas, saudara lihat lagi di atasnya ada sesuatu yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidup kita. Itulah yang disebut secara teknis bahwa setiap imperatif (setiap tugas atau perintah) pasti ada sesuatu kalimat indikatif (sesuatu kalimat yang ada di atasnya terlebih dahulu). Ada sesuatu yang di atas yang Tuhan sudah kerjakan terlebih dahulu, sebelum Dia memberikan kepada kita tugas. Karena tugas ini tidak mungkin bisa dikerjakan sebelum atasnya itu terjadi. Dan tugas ini (imperatif ini) adalah sesuatu respon alamiah kalau indikatifnya itu sudah terjadi. 

Minggu yang lalu kita sudah bicara mengenai salah satu contohnya di dalam Kolose 3:1-2,5 dikatakan, “Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi…” – Matikan dosa. Perhatikan bahwa ayat dua dan ayat lima adalah tugas (sesuatu imperatif). Biasanya mata kita hanya akan melihat ayat ke-2 dan 5, tetapi sebenarnya rahasia rohani ada pada ayat ke-1. Kalau saudara-saudara memfokuskan pada ayat ke-2 dan 5, saudara akan lelah, saudara akan berpikir bahwa Allah itu menuntut. Saudara akan berpikir bahwa “Oh, aku tahu aku harus mematikan dosa, aku harus hidup suci, tetapi ini adalah sesuatu yang melelahkan dan berat.” Tetapi kalau saudara-saudara mengingat ayat yang ke-1, “Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus…” itu artinya Kristus sudah menjadi hidup kita, kebangkitan Kristus sudah ada pada diri kita, maka ada Roh Kudus di dalam diri kita, maka ada cinta kasih yang sudah menghampiri kita, ada anugerah yang Tuhan berikan kepada kita, maka respon yang alami (bukan dibuat-buat) adalah aku ingin hidup suci, aku rindu hidup suci. 

Saudara saya ambil satu contoh yang lain. Mari kita melihat Keluaran 20, maka saudara akan menemukan 10 perintah Allah. Saudara pasti mengingat 10 perintah Allah, apa yang ada di dalam hati kita? Isinya kata ‘jangan…jangan…jangan…’ – ini melelahkan. Jadi orang Kristen melelahkan, banyak tuntutan. “Apakah Bapak kurang tahu hidup ini? Di rumah saya juga mendengar banyak kata ‘jangan’. Bapak coba dengarkan saja itu, Papaku bicara apa? Lebih lagi Mamaku. Jangan.. jangan…jangan… Sampai gereja yang saya dengar kata ‘jangan’ lagi? Capai Pak.” Ini sungguh-sungguh terjadi, saya pernah sharing tentang ini mungkin tiga kali. Pada waktu saya mahasiswa tehnik kimia, maka saya sesekali pergi ke bioskop. Pada waktu itu bioskop sedang menayangkan film Ten Commandments. Kemudian saya ajak teman saya, “Eh pergi ke bioskop, yuk.” Lalu kemudian teman saya tanya, “Nonton film apa?” Saya menjawab, “Sepuluh Perintah Allah.” Kemudian teman saya menjawab, “Ah tidak mau, tiga saja sudah pusing, apalagi sepuluh.” Perintah-perintah ini sangat memusingkan, akan berat bagi kita. Seluruh tugas dalam Kekristenan itu adalah sesuatu yang berat bagi kita. Kenapa? Karena mata kita hanya melihat perintah. Padahal Alkitab menempatkan perintah itu, di atasnya ada sesuatu indikatif. Saudara perhatikan 10 perintah Allah itu di dalam satu kelengkapannya. Mari kita melihat Keluaran 20:2-3, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Perhatikan intinya, bobotnya ada pada ayat yang kedua. Sebelum Allah memberikan kepada kita perintah, sebelum tugas itu keluar, Dia mengatakan kepada orang Israel, “Israel dengarkan! Akulah TUHAN (God of Covenant), Akulah Allah yang menebus engkau, Aku yang berjanji kepadamu, tidak ada satu bangsa yang Aku berjanji kepadamu. Kepadamu, kepadamu saja, hai Israel! Aku sudah melakukan suatu perbuatan besar bagimu. Aku mengeluarkan engkau dari tangisanmu. Aku menebus engkau dari kematian karena Mesir. Hai Israel, Aku mengasihimu! Jangan ada padamu allah lain.” Apakah saudara sekarang membacanya dengan pandangan yang lain? 

Setan membawa kita untuk melihat seluruh tugas…tugas…tugas. Alkitab membawa kita melihat kepada anugerah…anugerah…anugerah. Anugerah di depan dan kemudian kekudusan di belakang. Setan juga bisa membawa saudara melihat anugerah…cinta…anugerah…cinta, tapi kemudian itu menjadi license untuk berbuat dosa. Kalau saudara melihat secara keseluruhan, saudara bisa melihat bagaimana motivasi Tuhan, isi hati Tuhan, apa yang sudah Tuhan kerjakan, saudara melihat keseluruhan, saudara melihat cinta Tuhan. 

Saya pernah berkhotbah ini dan saya mau mengingatkan bahwa ini adalah teknik setan sejak dari kitab Kejadian. Apa yang Tuhan katakan dan kemudian apa yang setan katakan? Tuhan mengatakan, “Segala dari tumbuhan dan dari hasil pohon di tanah ini seluruhnya boleh engkau makan kecuali pohon yang ini.” Kita selalu akan bertanya kenapa tidak boleh makan yang ini? Saudara lupa bahwa ini adalah Firman untuk suatu kelimpahan. Seluruhnya boleh, kecuali yang ini. Saya ambil contoh: yang boleh adalah seluruh dari mimbar ini, dan yang tidak boleh adalah botol ini. Kalau melihat dari jauh, saudara akan melihat perbandingannya, botol ini sangat kecil dibandingkan seluruh mimbar ini, tetapi setan membuat botol ini yang berada di depan mata kita sehingga seluruh mimbar ini tertutup. Ini adalah cara setan untuk mengelabui kita dengan Firman. 

Sama dengan hal ini. Tuhan itu mengeluarkan Israel, Tuhan itu menghancurkan Mesir sampai kepada Firaun. Bahkan ketika orang Israel itu dikejar oleh Mesir, Tuhan itu menutup mereka dengan tiang awan dan tiang api sampai mereka keluar semua dari laut itu, tidak ada satupun yang tersisa. Mesir bukan tandingan Israel. Israel itu sangat-sangat kecil. Mesir itu sangat-sangat hebat dan Mesir itu menghancurkan Israel, melumat Israel dengan kekuatan-Nya, maka Tuhan itu melindungi Israel. Hari itu dikatakan di dalam Alkitab, (ketika saya membacanya berapa tahun yang lalu air mata saya terus mengalir), “Hari itu adalah hari berjaga-jaganya Aku. Aku tidak akan diam, Aku tidak akan tertidur, Aku berjaga-jaga untuk umat-Ku” Apakah itu jikalau bukan cinta? Apakah itu kalau bukan kasih karunia? Apakah itu kalau bukan motivasi mencintai? Berkali-kali nabi-nabi mengatakan, “Oh lihat seluruh bangsa Israel, apakah ada bangsa yang Aku perlakukan seperti itu?” Dan kemudian Dia katakan, “Jangan ada padamu allah lain, jangan mencuri, jangan berzinah, jangan bersaksi dusta.” Kita selalu pikir yang ini (botol) dan bukan sesuatu yang besar. Itulah sebabnya kekudusan menjadi sesuatu yang sulit bagi kita. Kita tidak mengalami, kita tidak mengingat akan apa yang Dia sudah kerjakan dalam hidup kita. Sama seperti Roma 8 dengan prinsip yang sama “Kristus Yesus sudah bangkit, Roh yang membangkitkan Dia dan Roh itu sekarang ada padamu, maka matikan dosa!” Sekali lagi kalau saudara-saudara melihat agama yang lain, mereka hanya bilang “Matikan dosa, ya. Lakukan ini, ya. Lakukan itu.” Alkitab tidak pernah begitu. Alkitab setiap kali ada perintah sebelumnya ada apa yang Tuhan sudah kerjakan.

Sekarang saya akan masuk ke dalam Roma 8:13 dan saya akan menjelaskan ayat ini saja untuk saudara mengerti: ada satu rahasia vitalitas rohani karena kebangkitan Kristus sudah dikerjakan. Sekali lagi, yang ada di dalam pikiran Paulus adalah, “Engkau sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus. Kristus sudah bangkit 2000 tahun yang lalu dan sekarang Roh yang membangkitkan Dia ada pada dirimu dan sekarang Roh itu akan menghidupkan dirimu. Roh Kudus ada di dalam hatimu, sekarang matikan dosa!” Dan saya akan menyoroti lima bagian kecil ini. “Jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”

Perhatikan, kata yang pertama adalah ‘jika’.Paulus memakai kata ‘jika’ ini untuk menunjukkan hubungan conditional antara mematikan dosa dengan hidup (ada hubungan yang terkondisi, bukan tanpa kondisi). Ada kondisi antara mematikan dosa dan hidup. Nanti saya akan jelaskan apa yang dimaksudkan dengan kata ‘hidup’ di sini. Ini bukan bicara mengenai hidup kekal, tetapi adalah hidup masa kini. Sekarang saya akan masuk terlebih dahulu berkenaan dengan ‘jika’. Kata ini adalah persis seperti analogi ini: Jika engkau minum obatnya, maka engkau akan sembuh. Ada suatu kondisi. Kamu mau sembuh? Maka, minum obatnya. Bukan saja suatu kondisi, ini suatu janji. Kalau engkau minum, maka engkau akan sembuh. Dan, di sini ada janji: Jika engkau mematikan dosa, kehidupan rohanimu di dunia ini here and now akan hidup. 

Hal yang kedua adalah kata ‘kamu’. “Jika oleh Roh ‘kamu’ mematikan…” Ini memberitahukan kepada kita siapa yang bertanggung jawab melakukan kewajiban ini – yaitu diri kita (orang-orang yang sudah ada di dalam Kristus, orang-orang yang sudah ada di dalam realm Roh Kudus). Perintah ini tidak ditujukan bagi orang-orang di luar Kristus, karena bagi mereka hal itu tidak mungkin dilakukan. Kalimat ini adalah ditulis oleh Paulus untuk orang-orang di dalam Kristus, bukan di luar Kristus. Karena orang-orang di luar Kristus tidak memiliki Roh Kudus yang berkuasa untuk mematikan dosa.

Hal yang ketiga, kata ‘oleh Roh’.Ini menyatakansarana utama atau kuasa utama dalam melakukan kewajiban mematikan dosa yaitu Roh Kudus yang berdiam di dalam kita; yang memberikan kehidupan, yang menjadikan kita anak-anak Allah, yang menolong kita dalam kelemahan kita. Seluruh kalimat-kalimat yang saya bicarakan tersebar di dalam Roma 8. Paulus mau mengatakan demikian: “Seluruh sarana lain untuk mematikan dosa adalah kesia-siaan. Kita tidak bisa mematikan dosa dengan kekuatan kita sendiri. Hanya Dia yang membangkitkan Kristus dari dalam kubur, Dialah yang memampukan kita untuk mematikan dosa kita.” Jangan mengecilkan arti dosa. Jangan membiarkan dosa itu keluar dari diri kita. Itu adalah sesuatu kekuatan. “Matikan dosa atau dia akan mematikan kita” demikian kata John Owen. Perhatikan sesuatu yang penting ini: Kuasa itu adalah dari Roh Kudus. Roh yang ada dalam diri kita. Roh yang sama yang sudah membangkitkan Kristus dari kematian. Dosa tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan kita (Itu bukan lawan kita). Dosa itu hanya bisa dikalahkan oleh kuasa yang dimiliki oleh Roh. Tetapi, siapa yang mematikan dosa? Kita yang melakukannya, bukan Roh Kudus. 

Saudara mungkin berpikir, “Oh, ayat ini lebih indah kalau Roh Kudus yang mematikan dosa, jangan saya.” Saya bisa jelaskan begitu banyak dengan hal-hal teologi, tetapi ini yang saya mau katakan: cara kerja Allah tidak pernah memaksa kita. Dia tidak akan pernah membuat kita itu seperti robot. Dia menginginkan keinginan hati kita. Problem utama dari mematikan dosa itu bukan Roh Kudus. Problem utama dari mematikan dosa adalah our will – keinginan kita itu apa? Kita sama-sama orang yang bergumul dengan dosa. Kita sering mengatakan, “Aku tidak mampu. Aku terlalu lemah, ” dan berkali-kali saya juga mengatakan alasan yang sama. Sebenarnya kalau kita mau jujur adalah bukan kita tidak mampu, Alkitab mengatakan, “Kamu mampu! Ada Roh Kudus!” Masalah utama adalah kamu tidak mau! Kita yang tidak mau! Itulah sebabnya setiap kali melakukan dosa itu, Tuhan tahu hati kita. Kita menyakiti hati Dia sekali lagi. Kristus sudah mati. Roh sudah ada di dalam diri kita dan Tuhan itu membenci dosa, tetapi kita tidak mau mematikannya, kita menginginkannya, kita memeliharanya, kita suka dengannya. Masalah utama ada di sana, bukan di dalam kuasa. Orang Puritan mengatakan demikian: Roh memakai sarana apa untuk memberikan kita kekuatan untuk mematikan dosa? Roh memakai sarana-sarana anugerah terutama adalah Firman. Itulah sebabnya, kalau saudara-saudara berdosa, jangan malah keluar dari gereja. Kalau saudara berdosa, jangan malah menjauhi Alkitab. Saudara sadar dosa saudara, mari datang karena kita memerlukan Firman untuk dipakai oleh Roh Kudus, untuk menguatkan kita mematikan dosa tersebut. 

Hal yang keempat adalah ‘mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu’, dengan kata yang lain ‘mematikan dosa’. Apa yang dimaksud dengan kata ‘mematikan’? Mari pikirkan, kalau saudara-saudara membunuh seekor binatang. Apa artinya? Artinya adalah merenggut kekuatan atau kuasanya dan menghabisi hidup binatang itu, sehingga dia tidak lagi bisa bertindak dan melakukan apa yang dia inginkan. Sekali lagi, sehingga dia tidak bisa bertindak dan melakukan apa yang dia inginkan. Masalah utama dari dosa yang tidak dimatikan adalah suatu hari ini akan keluar dan kita tidak mungkin bisa cegah dan melakukan sesuka-suka yang dia kerjakan. Ketika saya membaca dari apa yang terjadi di hari-hari terakhir Yesus Kristus dan kemudian saya melihat apa yang terjadi dan dilakukan oleh Yudas, maka ada satu kalimat atau satu komentator yang mengatakan demikian: ‘Jikalau kita sudah membuka celah dosa itu dan kemudian dosa itu tidak kita matikan, maka ada satu waktu di mana segala sesuatu tidak bisa kembali lagi. Ada satu waktu di mana dosa itu akan menjelma dan tidak mungkin bisa kembali lagi, kecuali bunuh diri.’ Mau diapa-apain, tidak bisa kembali. Saya sebenarnya tidak mau pakai ilustrasi ini karena sebenarnya ini ilustrasi yang kasar tapi minta maaf, saya perlu pakai ini supaya saudara mengerti apa yang kita hadapi dan ini ilustrasi dari dosen saya. Saudara, karena ini ilustrasi dari dosen saya dan saya tidak ketemu satu ilustrasi yang lebih tepat lagi. Dia mengatakan, kalau kamu nonton terus video porno, saudara pasti suatu hari engkau akan berzinah. Karena dosa itu seperti ini, sampai titik tertentu, saudara itu seperti orang kebelet kencing, minta maaf yah. Mau tidak mau, mesti keluar! Tidak bisa, saudara tahan-tahan! Tidak bisa! Sampai titik tertentu, pasti keluar! Wah, saya dapat itu ilustrasi sudah puluhan tahun, saya bilang, “Wah, ini betul.” Saudara, tidak mungkin bisa. Kita tidak punya kekuatan itu. Maka ketika kecil, bunuh! Dan, ingat perintah ini sekali lagi. Tuhan sudah mati bagi kita dan Roh ada di dalam diri kita. Kita tidak melakukannya sendiri. 

Hal yang kelima, terakhir, ‘kamu akan hidup’.Jika kita mematikan dosa, maka kita akan hidup. Apa yang dimaksudkan di sini? Apakah ini hidup kekal, atau kehidupan rohani saat ini? Arti hidup di sini adalah kehidupan rohani saat ini. Sesungguhnya kalau kita mau jujur, banyak dari antara kita anak-anak Tuhan yang sejati tetapi kehilangan vitalitas rohani, kehilangan sukacita, kehilangan damai sejahtera. Kita tidak merasakan Allah dekat, atau kita tidak merasakan ada satu pengalaman bersama dengan Allah. Itu terjadi karena kita membiarkan dosa-dosa itu ada, dan kita kehilangan kesaksian kita. Kita tidak lagi bisa bersaksi. Kita tidak lagi memiliki kekuatan. Kita kemudian berpikir setiap kali kita mau pergi, mau melakukan hal yang baik, “Ah itu munafik.” Dan, di situ kemudian setan akan mencengkram pikiran kita dan ketika melihat orang lain yang aktif melayani, kita berpikir bahwa mereka sama seperti kita (padahal tidak), bahwa mereka juga ada sesuatu dosa yang disembunyikan, mereka munafik. Padahal belum tentu, mungkin orang itu mematikan dosa. Kita yang tidak mematikan dosa dan kemudian kita menghakimi dia. Kita sudah berdosa, tidak mematikan dosa. Dosa semakin merajarela dan kemudian kita menghina orang lain. Kita menuduh orang lain. Kita menghakimi orang lain. Itulah sebabnya, makin lama, orang ini makin jauh dari Tuhan dan saudara akan menyadari seluruh dari Alkitab ini akan menuduh dan mengejar kita. 

Perhatikan apa yang ditulis oleh John Owen. Kekuatan, kuasa, dan sukacita rohani kita saat ini tergantung dalam hal mematikan dosa. Tetapi pertanyaannya adalah “Pak Agus, saya sudah tahu ini sekarang. Saya mau tanya, kalau saya tidak mau mematikan dosa, apa yang terjadi? Saya tidak dapat sukacita di sini tapi saya akan pergi ke surga, kan?” Saya akan jawab. Uniknya, Alkitab mengatakan, orang-orang yang ada Roh Kudus di dalamnya hidupnya berubah. Dia akan memiliki satu kesadaran bahwa hidup bukan bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Tuhan. Ini tidak bisa dibuat-buat. Ini adalah sesuatu yang alami. Sekali lagi, kalau Roh Kudus ada di dalam diri kita, uniknya, orang yang seperti ini rindu untuk hidup yang hanya satu kali adalah hidup yang menyenangkan Tuhan. Ketika dia akhirnya jatuh ke dalam dosa, dia akan berlinang air mata karena dia tahu dia sudah begitu menyakiti hati Tuhan. Uniknya orang yang seperti ini tidak bisa tenang dalam hidupnya ketika hubungan dengan Tuhan itu terganggu. Maka saudara-saudara, biarlah kita menguji diri kita. Jikalau kita tidak memiliki kerinduan-kerinduan ini, apakah Roh Kudus ada di dalam hidup kita? Ini adalah sesuatu yang normal, sesuatu yang alami. Apa yang dikerjakan Allah di dalam hidup kita adalah – Dia memberikan Kristus. Dia memberikan providensia. Seluruh anugerah-anugerah itu untuk kita boleh hidup kudus. Kudus bukan moralitas. Moralitas adalah sesuatu yang self-centred. Tetapi kekudusan adalah hasil dari Injil Kasih Karunia Allah. 

Saya akan akhiri dengan satu prinsip kehidupan lagi. Satu hal yang membuat kekudusan (holiness) itu menakutkan adalah karena kita selalu berpikir kita tidak bisa meraihnya atau selalu gagal melakukannya dan kita kemudian putus asa. Saya tidak katakan bahwa kita akan bisa 100% kudus. Tidak mungkin. Itu hanya akan terjadi pada waktu Kristus itu memberikan consummation (kesempurnaan bagi kita). Tetapi Roh itu diberikan kepada kita supaya kita bertumbuh di dalam kesucian dan menikmati kesucian. Tetapi sekali lagi, banyak dari kita termasuk saya, berkali-kali kita putus asa karena kita gagal lagi dan gagal lagi. 

Di akhir khotbah ini, saya akan membawa saudara-saudara untuk melihat satu cerita. Mungkin sebagian dari saudara pernah melatih anak saudara pada waktu kecil bermain sepeda. Saya masih ingat ketika anak saya main sepeda pertama kali. Dia pertama-tama bermain sepeda roda empat (ada dua roda yang besar dan dua roda yang kecil). Dia bisa ke mana-mana dengan sepeda roda empat itu. Tetapi kemudian saya mengatakan kepadanya untuk dua roda kecilnya dibuka, jadi sepedanya hanya akan ada dua roda. Ketika dia itu mulai menyadari hanya ada dua roda, maka itu tergantung dari keseimbangannya, dan dia mulai merasa takut. Dia takut jatuh. Pertama-tama akan sulit karena dia takut jatuh, maka dia tidak mau kemana-mana. Dia coba naikkan satu kaki, kemudian dia naikkan satu kaki lagi, lalu goyang, kemudian cepat-cepat dia kembali ke posisi awalnya. Dia takut jatuh. Saya sudah katakan pada dia, “Kamu tidak akan jatuh sampai tergeletak. Kalau kamu jatuh, sebelum kamu jatuh, Papa pasti akan angkat kamu.” Tetapi kalau dia tidak percaya dengan apa yang saya katakan, dia tidak akan kemana-mana. Kalau dia memperhatikan dirinya terus, ketika dua kaki itu diangkat kemudian goyang, dia akan kembali lagi posisinya. Dia tidak akan menjalankan sepeda itu. Dia tidak akan mengayuh sepeda itu. Tetapi berkali-kali, saya mengatakan kepada dia, “Tidak apa…Tidak apa. Ayo maju, Timmy.” Kalau dia melihat ke belakang terus, juga tidak mungkin dia bisa maju. Dia harus memusatkan diri ke depan dan mempercayai kalimat saya di belakang. Kemudian dia mengayuh dan sebelum terjatuh saya pegang día. Dan setiap kali seperti itu. Setiap kali dia terjatuh, sebelum tergeletak, saya pegang dia dan posisikan dia ke posisi yang semula. Demikian seterusnya dengan kesabaran saya, sampai dia berhasil mengayuh sepedanya. Dan perhatikan baik-baik: hati saya tidak berubah, jikalau dia (anak saya) jatuh dari sepeda. Hati saya akan tetap sama. Saya akan kembalikan dia. Berapa banyak dari kita yang sudah begitu kecewa dengan diri kita sendiri? Kita sudah putus asa dengan kekudusan kita. “Oh, tidak bisa, Tuhan. Aku tidak bisa. Aku bukan orang itu…” Tapi, lihatlah janji Allah di belakang. Tetapkan mata di depan dan belajar mengayuh lagi. Terus seperti itu. Kalau-pun jatuh, hati Bapa kita tidak akan berubah. 

Ada seorang bapak yang melatih anaknya bersepeda. Seseorang kemudian memperhatikan selama beberapa hari dan bertanya kepada bapak itu, “Bapak, saya mau tanya, untuk apa engkau melatih anakmu bersepeda? Apakah untuk nantinya bisa membantu bapak membeli barang? Atau supaya nanti saat sudah remaja, dia bisa bekerja membagikan newspapers dan mendapatkan sedikit uang?” Dan bapak itu mengatakan, “Ya, mungkin… Tetapi ada satu hal yang saya paling inginkan. Saya menginginkan dia bisa bersama-sama bersepeda bersama saya, istri saya dan juga dengan kakak-kakaknya menyelusuri pantai dan kita bisa menikmati angin dan matahari yang menerpa tubuh kita. Saya ingin dia bersama-sama saya bersepeda.” Apa gunanya Tuhan melatih kita untuk hidup suci? Perhatikan satu kalimat ini: Tanpa kekudusan, tidak ada orang yang bisa melihat Allah. Saudara dan saya pasti ditolong oleh Tuhan. Allah itu begitu aktif untuk menjagai hidup kita. Tetapi siapa yang bisa melihat pergerakannya? Siapa orang yang bisa melihat Dia bekerja di tengah-tengah kita? Adalah satu – orang yang suci hatinya. Matikan dosa karena Kristus sudah bangkit. Mari kita berdoa. 

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

31 March 2024
Christ The Fountain of Life (3)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Roma 8:11-13

Roma 8:11-13

Kristus adalah mata air kehidupan. Dialah sumber dari segala sesuatu yang baik di dalam kehidupan manusia yang tidak mungkin bisa digantikan oleh pendiri agama atau satu pribadi pun yang pernah hidup dan yang akan hidup di tengah-tengah dunia ini. Hari ini adalah hari ke-3 kita memikirkan apa yang diberikan Kristus yang tidak pernah bisa diberikan oleh pendiri agama lain. Apa yang diberikan Kristus yang tidak pernah bisa diberikan oleh dunia ini? Dengan kata lain apa kebutuhan esensial di dalam kehidupan manusia kita semua ini yang hanya bisa diberikan oleh Yesus, tetapi tidak pernah bisa diberikan oleh dunia atau pendiri agama manapun. Hari ke-1 saya mengatakan itu adalah cinta. Hari ke-2 saya menyatakan Alkitab menyatakan itu adalah kasih karunia. Dan hari ke-3ini maka Alkitab menyatakan yang diberikan oleh Kristus yang tidak mungkin diberikan oleh pendiri agama atau saudara saya dapatkan di dunia ini adalah kuasa kemenangan, kuasa kebangkitan.

Beberapa ribu tahun yang lalu, pagi-pagi benar pada hari seperti ini di saat musuh-musuh Kristus masih tertidur, di tengah seluruh penghuni Yerusalem yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Maka Kristus bangkit dari kuburnya, tidak ada satu manusia pun yang membangkitkan, tidak ada satu malaikat pun yang membangkitkan. Alkitab menyatakan Allah di surga membangkitkan Kristus. Alkitab mengatakan Roh Kudus membangkitkan Kristus. Alkitab mengatakan Kristus bangkit sendiri dari kubur-Nya. Tidak ada satu manusiapun yang pernah memiliki pengalaman seperti ini. Bangkit tanpa ada yang membangkitkan dari manusia yang lain. Apakah saudara tahu bahwa inti kekristenan berada di tempat-tempat yang paling menakutkan di tengah-tengah umat manusia. Di atas salib yang mengerikan Yesus memberikan proklamasi It is finished.” Dan di tengah-tengah kuburan yang sangat gelap dan mengerikan malaikat mengatakan, “Mengapa engkau mencari yang hidup di tengah-tengah orang yang mati?” Saudara dan saya harus mendengarkan dan memperhitungkan peristiwa ini. Saudara dan saya dan seluruh dunia harus mempertimbangkan ini adalah peristiwa apa.

Kalau saya mengatakan, kalau Alkitab mengatakan bahwa ada seorang yang baik, yang tulus, yang tidak memiliki satu kecacatan apapun saja, tetapi disalah mengerti dan disalib oleh orang-orang Romawi dan mati di atas kayu salib. Kalau Alkitab hanya menyatakan seperti itu, maka hal itu begitu banyak di tengah-tengah zaman itu. Tetapi jikalau Alkitab mengatakan ada satu manusia yang suci, yang tidak ada kesalahan apapun saja dan dipaku dan mati di atas kayu salib dan bangkit pada hari yang ke-3, seperti apa yang Dia katakan sendiri sebelumnya tanpa ada satu manusia pun membangktikan-Nya maka seluruh manusia harus memperhitungkan ini peristiwa apa. Setiap mahkluk yang hidup harus berespon terhadap kenyataan ini. Yesus bangkit pada hari ke-3. Siapa pendiri agama yang pernah bangkit? Siapa manusia yang pernah bangkit dan sampai saat ini tetap hidup? Tidak ada. Tidak satu pun. Itu berarti setiap pendiri agama, setiap pemimpin-pemimpin agama, setiap jendral, setiap kekuatan apapun yang paling kuat di tengah-tengah dunia ini; semuanya kalah. Kalah dari kuasa kematian. Kalah itu ya kalah saudara. Kalah artinya tidak punya kemampuan. Orang bisa mengatakan sesuatu yang indah silahkan, tapi kalah. Orang itu bisa menulis tulisan Mazmur atau sesuatu puisi yang paling indah, tapi kalah. Dia bisa mengajar “Oh Allah itu di sana, oh Allah itu suci kita mesti berbakti kepada Dia,” tapi tetap kalah dengan kuasa dosa. Kalah yang mau kalah, dia mau bicara apapun, kalah. Dia mau mengatakan agamaku sama dengan kekristenan, tapi kalah. Tidak ada satu pun yang bangkit. Satu-satunya yang bangkit adalah Yesus Kristus. Dosa memiliki satu kekuatan, kuasa dan kuasa dari dosa itu adalah kuasa mematikan. Tetapi Yesus memiliki kuasa yang lebih, Dia mematikan dosa. Menjadikan dosa mati karena kematian Kristus. Yesus memiliki kuasa kemenangan. Kuasa kebangkitan ada pada Dia. Terusan kuburan bagi Yesus dan seluruh dari orang-orang di dalam Dia adalah kebangkitan; bukan kematian. Hari ini saya akan membawa kita untuk bisa mengerti apa yang Alkitab katakan mengenai kuasa kebangkitan Kristus di dalam 2 hal saja.

Hal yang pertama, di dalam Kristus maka kebangkitan-Nya menjadi kebangkitan kita. Dalam Kristus, Allah mengaruniakan kebangkitan bagi kita. Lawan kata dari bangkit itu mati. Mari kita memikirkan apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh saudara dan saya, oleh dunia ini; yaitu kehidupan. Musuh utama kita adalah kematian. Karena kematianlah Salomo yang memiliki segala harta itu mengatakan, “Sia-sia hidupku, sia-sia.” Salomo mengatakan lihatlah seluruhnya sama. Mataharinya sama. Tanah yang kita injak ini dari dulu ya begini, sama. Air itu yang mengalir yang kita minum kemudian kita keluarkan lagi air yang sama. Angin yang kita itu hirup dan kita keluarkan lagi adalah sama. Ribuan tahun. Puluhan ribu tahun semuanya itu sama. Tetapi manusia dari satu generasi pergi, generasi lain datang. Generasi yang baru itu tidak pernah mengenal generasi sebelumnya. Salomo tiba-tiba mengerti kebenaran ini. Dia menyadari bahwa suatu hari dia akan menghilang dari bumi ini maka dia mengatakan sia-sia hidupku. Oh Salomo bukan orang bodoh, dia adalah orang yang sangat pandai. Dia bukan orang terbuang, dia adalah pemimpin negara. Dia bukan orang miskin, dia orang kaya raya. Dengan seluruh yang dimilikinya dia menyimpulkan satu kata yang tidak akan kita percayai, kecuali saudara dan saya memikirkan apa sesungguhnya esensi hidup itu. Dengan seluruh yang dia miliki. Dengan kerja keras akhirnya memiliki semuanya dia menyimpulkan satu hal “hidupku sia-sia”. Hah, sia-sia? Kenapa Salomo? Karena kematian. Kalau saudara dan saya pernah satu menit saja berpikir tentang eksistensial hidup ini berkenaan dengan kematian maka sesungguhnya hati kita yang tiba-tiba akan gemetar takut. Orang-orang Puritan mengatakan jikalau itu ada sedikit saja, maka hidup itu berubah. Tetapi kenapa hidup kita tidak mau memikirkan kematian? Karena kita menghindarinya dan kita terlalu sibuk dan Roh Kudus tidak bekerja untuk membawa kita ke sana sehingga akhirnya kita itu tidak pernah masuk di dalam dimensi memikirkan kematian ini.

Richard Baxter mengatakan demikian: ada perbedaan besar dalam bayangan kita atas kematian saat kita sehat dan saat kita sekarat. Saat sehat kita dapat membicarakan kematian sambil tertawa, tetapi itu akan lain ketika menjelang kematian. Dan anehnya adalah kebanyakan orang ketika menjelang kematian dia memikirkan kematian tiba-tiba mereka langsung berubah seolah-olah mereka tidak pernah mendengar bahwa mereka adalah makhluk yang akan mati. Itulah sebabnya Alkitab mengajarkan kepada kita pergilah ke rumah duka daripada ke rumah pesta. Richard Baxter kemudian mengatakan demikian, “Pergilah kepada seseorang yang terbaring di ranjang kematiannya atau seorang narapidana yang besok akan menjalani hukuman mati dan godalah dia dengan kekayaan, kehormatan, hawa nafsu, mabuk-mabukan atau hal-hal yang lain, yang duniawi. Anda akan dianggap kurang ajar oleh dia dan tidak waras.” Oh, alangkah seriusnya pertobatan dan usaha kita demi terbebas dari pertanggungjawaban kita ketika kita melihat kematian sudah di depan mata. Lihatlah orang-orang di sekitar kita. Kalau saudara nanti keluar dari gereja ini lihatlah semua orang yang saudara temui di jalanan. Ketika saudara makan lihatlah pelayannya, pemilik restorannya, owner dari toko di sebelah saudara, pengemudi bus atau pengemudi train, lihatlah kita disatukan dengan satu keadaan ini yang pasti sama yaitu kematian. Orang itu bisa berbeda di dalam pendidikan, dalam kekayaan. Orang itu bisa berbeda di dalam keluarga,ada yang single parent ada yang masih utuh semuanya. Semua bisa berbeda dari antara kita semua tetapi ada satu hal yang menyamakan saudara dan saya semua orang yang temui yaitu kematian. Iblis sudah menipu kita, berusaha menjauhkan kita dari kebenaran yang pasti kita akan ke sana. Kematian itu sesuatu yang mengerikan dan gelap dan pasti dalam hidup kita, tetapi Iblis berusaha dunia berusaha untuk bisa membuatnya itu lunak dan seakan-akan menyenangkan. Di dalam bahasa Indonesia ini semuanya diperhalus. Bukan mati tetapiberpulang. “Rest in peace”, belum tentu peace, mungkin dia terbuka matanya, mungkin marah. Yang jelas, kalau Kristus tidak ada pada dia, setelah itu lebih tidak rest lagi.

Mari pikirkan kematian. Seseorang yang cantik itu kemudian menjadi menakutkan. Kalau saudara bertemu dengan perempuan yang cantik atau cowok yang ganteng, saudara ingin untuk dekat dengan dia. Kalau saudara menjadi pacarnya dan menjadi suami atau isterinya, saudara memegang dia, memeluk dia. Banyak orang yang ingin dekat dengan orang-orang yang cantik atau ganteng. Tetapi begitu dia mati, tidak ada satu orang pun yang mau memegang tubuhnya. Begitu saudara pegang, saudara akan sadar begitu dingin orang itu, dan rasanya ini orang yang lain. Pada waktu mama saya meninggal, waktu itu setelah saya memimpin pemuda di tempat ini, kemudian saya langsung pulang ke Jakarta dan langsung pergi ke rumah sakit. Mama saya masih terbaring dengan alat pompa jantungnya dan paru-parunya. Dokter sudah mengatakan kemungkinan mama sudah tidak ada, jadi kalau dicopot dari aliran itu, maka mungkin akan mati. Saya tanya berapa lama kemungkinan, dokter mengatakan mungkin sekitar 1 jam sudah mati. Saya masuk ke ruangannya, saya memandang dia dan saya cium dia. Ketika saya cium pipinya, saya kaget, pasti sudah tidak ada ini, lain. Dari cantik menjadi menakutkan, dari mulia menjadi hina, tadinya berprestasi punya banyak uang, ada piala penghargaan, sekarang tinggal debu, tinggal abu. Satu-satunya yang dimiliki yang bisa dipertahankan adalah 2x1meter. Sekarang jadi abu, tadinya orang itu berkuasa. Ketika mulia ditakuti, sekarang takut apa? Tidak ada satu orang pun takut kepada abunya. Yang lebih menyakitkan adalah dari ada jadi tidak ada. Kalau kita pernah berjumpa dengan orang yang dekat dengan kita dan orang itu mati. Saudara masuk ke rumah, saudara akan sadar baunya masih ada. Saudara kadang bertemu dengan bajunya atau bertemu dengan barang kesayangannya, saudara langsung rasa “orang ini masih ada.” Seorang anak pulang dari sekolahnya ketika mamanya baru beberapa bulan yang lalu meninggal. Tetapi ketika dia masuk, dia merasakan bahwa mamanya biasa menyongsong dia di dapur itu. Dan ketika dia masuk, tanpa sadar dia mengatakan, “Mama, mama.” Tidak ada. Itu yang dikerjakan oleh kuasa dosa. Itu yang dikerjakan oleh kuasa dosa yang ada pada kita. Setan mengambilnya. Kematian ada di tengah-tengah kita. Saudara mau baik dan pergi ke gereja, baik untuk beribadah tetap mati. Kematian merenggut seluruh yang kita punya memisahkan semua yang kita cintai. Menyia-nyiakan seluruh hasil kerja kita puluhan tahun. Itu adalah senjata dari Iblis, singgasananya ada di kuburan. Tetapi Yesus Kristus menghancurkan setan tepat di atas singgasananya, kuburan. Dia dari surga, turun ke dunia, masuk ke kuburan, menghancurkan setan di sana dan Dia bangkit dan Dia menyatakan barang siapa di dalam Dia maka dia memiliki kuasa kebangkitan pada akhir zaman. Apa yang terjadi di kubur? Yesus bangkit, kuasa setan dengan kekuatan perangnya sudah dikalahkan tepat di atas singgasananya. Apakah ada lebih berita yang lebih mulia, lebih indah, lebih manis daripada hal ini? Pintu gerbang dari kematian itu sekarang sudah dihancurkan. Di dalam Kristus, maka terusan kuburan itu kehidupan.

Oh, saya suka sekali Alkitab menulis seperti apa pada pagi hari di Minggu. Para wanita membawa rempah-rempah, ingin merempahi tubuh Yesus. Tapi mereka kaget, pintu kubur itu terbuka. Pada waktu itu berbentuk gua, bukan di bawah. Mereka itu takut, ini pasti ada yang curi atau apa yang terjadi? Maka ada 2 malaikat duduk, satu di bagian yang tadinya kepala Yesus terbaring dan satu lagi di bagian kaki-Nya. Malakait itu mengatakan, “Mengapa engkau mencari yang hidup di tengah-tengah orang mati? Dia tidak ada di sini, pergi sekarang.” Wah saya sangat terhibur dengan satu kalimat ini. Maka itu adalah perjalanan wanita ke kubur itu persis seperti perjalanan kita semua ke kubur. Semua langkah kaki kita menuju kuburan. Tapi sampai di kuburan, “Ayo keluar, keluar, tempatmu bukan di sini, pulang-pulang tempatmu bukan di sini.” Perhatikan baik-baik, ini bukan bicara mengenai apakah saudara Kristen atau bukan Kristen, tetapi ini berbicara kalau kita sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus, jika kita diikat menjadi satu di dalam Kristus Yesus, terusan kuburan itu adalah kehidupan. Lihat seluruh pendiri agama semuanya mati. Apakah ada pengharapan di antara seluruh agama? Sama sekali tidak ada. Perhatikan Alkitab. Kekristenan bukan bicara menjadi baik atau tidak. Alkitab tidak bicara maka saudara menjadi kaya atau tidak. Alkitab tidak mengajar bagaimana sehat atau sakit. Tetapi Alkitab mengajar apakah engkau hidup atau mati taruhannya. Pagi ini ribuan tahun yang lalu, kuasa setan dan kekuatan perangnya sudah dikalahkan tepat di atas singgasananya. Sekali lagi, hal yang pertama; di dalam Kristus, kebangkitan-Nya menjadi kebangkitan kita. Di dalam Kristus, Allah mengaruniakan kebangkitan bagi kita. 

Sekarang saya akan masuk ke dalam bagian yang ke-2. Di dalam Kristus, karena kebangkitan-Nya sudah dimiliki oleh kita, Allah menugaskan kita untuk mematikan dosa. Beberapa puluh tahun yang lalu ketika saya kuliah teologia, dosen saya masuk ke kelas dan tiba-tiba dia bertanya satu pertanyaan yang menusuk hati saya. Dia bertanya kepada seluruh muridnya, “Mahasiswa teologia, pertanyaannya adalah tunjukkanlah di mana letak kemenangan Kristus di dalam dirimu?” Jikalau engkau mempercayai kebangkitan Kristus, tunjukkan di mana pengaruh event itu; Kristus bangkit di dalam hidupmu. Apakah ada perbedaan dalam hidupmu antara Kristus bangkit atau tidak? Dan biarlah pada pagi hari ini, pertanyaan itu menjadi pertanyaan kita semua. Tunjukkanlah di mana letak kemenangan Kristus di dalam hidup kita. Jikalau engkau mempercayai Kristus itu bangkit, di mana pengaruh-Nya di dalam hidupmu? Ada sesuatu yang unik di sini, Paulus mengaitkan realita kebangkitan Kristus dengan kekudusan hidupnya. Dia mengatakan demikian, “Jikalau Roh yang membangkitkan Kristus itu ada padamu, Roh yang sama itu akan memberikan kepadamu kuasa untuk mematikan dosa (mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu)” Ketika kita membaca kitab Roma, sebenarnya kitab Roma itu luar biasa kompleks dan kalau melihat dari beberapa komentator, saudara akan menemukan begitu banyak dari berbagai macam sudut komentator berbeda berbicara satu dengan yang lain penekanannnya. Tetapi mereka sama di dalam beberapa titik berat dan hari ini saya akan memberikan kepada saudara-saudara beberapa titik berat yang penting di dalam kitab Roma ini, untuk membuat saudara dan saya itu menyadari bahwa kebangkitan Kristus bukan bicara berkenaan dengan suatu sejarah yang kita kenang, yang sudah pernah terjadi di dunia, tetapi adalah sesuatu yang sangat memiliki relasi dengan hidup kita here and now.

Beberapa hal yang menjadi titik berat, pertama; kitab Roma mengajarkan jikalau kita ada di dalam Kristus, sesungguhnya kita ada di dalam realm Spirit. Alkitab mengatakan engkau hanya ada 2 kemungkinan. Satu adalah di dalam realm daging atau yang ke-2 adalah di dalam realm Spirit. Ini adalah sesuatu yang critical. Kita harus mengerti kebenaran ini. Hanya ada 2 realm di dunia ini. Saudara melihat diri saudara, istri saudara, pacar saudara, orang lain. Saudara hanya ada dalam 2 realm ini. Apakah orang tersebut ada di dalam realm Spirit atau orang tersebut ada di dalam realm daging. Saudara tidak bisa dua-duanya. Ini bukan bicara 2 hal ini ada di dalam satu, dalam tubuh saya, di dalam hidup saya. Tidak. Saudara hanya mungkin ada dalam satu realm. Apakah saudara-saudara dan saya berada dalam realm daging atau saudara dan saya berada dalam realm Spirit. Realm Spirit Holy Spirit. Tidak ada posisi di tengah-tengah. Orang Kristen yang sejati; jikalau saudara dan saya adalah orang yang ditebus oleh Kristus dan kita menjadi milik Kristus, kita adalah orang yang tadinya ada di dalam realm daging dan sekarang dipindahkan/di-transfer ke dalam realm Roh Kudus. Dan yang men-transfer adalah Allah dengan anugerah-Nya di dalam Kristus.

Martin Lloyd Jones menyatakan hal ini: “Menjadi orang Kristen bukan sekedar perubahan kepercayaan kita saja.” Oh, aku percaya sama Yesus Kristus, tadinya belum. Aku percaya kepada Alkitab dan aku membaca Alkitab, tadinya belum. Bukan, bukan berhenti sampai di situ saja. Oh, aku tadinya tidak tahu doktrin ini, tidak tahu doktrin keselamatan. Tidak tahu doktrin mengenai eskatologi. Saya tidak tahu doktrin. Sekarang saya menjadi orang Reformed, saya mengerti doktrin ini. Ya itu ada, tetapi bukan berhenti sampai di situ saja sebenarnya. Menjadi orang Kristen sesungguhnya adalah seseorang yang tadinya ada di dalam realm daging, dipindahkan Allah di dalam realm Holy Spirit. Atau dengan kata lain, sebelumnya seseorang itu dikuasai atau didominasi oleh keinginan daging dan diperintah olehnya, sekarang dia hidup, di-transfer ke dalam realm yang dikuasai, dikontrol, diperintah oleh Holy Spirit dengan Firman-Nya. Kita tidak mungkin bisa mengubah ini. Transfer ini, pemindahan ini hanya dikerjakan oleh Allah di dalam Yesus Kristus dengan kuasa kelahiran baru. Di dalam hal ini ada sesuatu kebenaran lagi yang ditekankan dalam Alkitab. Ketika kita berada dalam realm Spirit ini, saudara dan saya tidak pernah bisa berpindah kembali ke dalam realm daging. Itu semua adalah pekerjaan Allah bukan dari kita dan karena itu adalah pekerjaan dari Allah maka kita bisa memiliki kepastian kekekalan. Pekerjaan Allah selalu sempurna, tidak pernah gagal dan Allah tidak pernah berubah. Itulah sebabnya dalam Alkitab dikatakan, ‘Apa yang sudah dimulai, hal yang baik dari Allah, Dia akan selesaikan sampai kesudahannya.’

Hal yang ke-2 yang menjadi titik berat kitab Roma adalah Paulus menjelaskan bagaimana cara kerja Allah memindahkan kita dari realm daging menuju realm Spirit ini. Maka saudara akan menemukan Roma 6 dan Roma 8 itu paralel adanya, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda. Roma 6 mau menyatakan bahwa Allah memindahkan kita ke dalam realm Spirit dengan menyatukan kita, union with Christ. Dan Roma 8 memberikan sesuatu penekanan, Allah itu men-transfer kita kepada realm Spirit itu adalah dengan memberikan Holy Spirit di dalam hidup kita, Roh yang membangkitkan Kristus sekarang ada dalam hati kita. Kalau mau menggabungkan keduanya, maka bagaimana Allah memindahkan kita dari realm daging ke realm Spirit adalah melalui pekerjaan Roh Kudus yang menyatukan kita dengan Kristus; union with Christ

Penekanan yang ke-3,maka yang sekarang menjadi titik aplikasi dari apa yang Paulus itu nyatakan. Engkau sudah dipindahkan di dalam realm Holy Spirit. Engkau tidak bisa kembali. Engkau bisa pergi ke sini karena anugerah Allah. Dan di dalam realm ini itu adalah kehidupan. Kalau engkau berada dalam realm daging maka itu kematian. Sekarang engkau sudah ada dalam realm Holy Spirit. Engkau dan saya ada dalam union with Christ. Engkau dan saya ada di dalam Kristus. Dan engkau dan saya sudah memiliki Roh Kudus, Roh yang membangkitkan Yesus Kristus. Maka Paulus mengatakan: “Maka matikan dosa.” Ada tugas; matikan dosa. Paulus mau menyatakan ada satu kemungkinan hidup yang dulu engkau tidak pernah bisa miliki dan tidak pernah bisa memiliki kemampuan untuk melakukannya. Tetapi sekarang engkau punya. Dan itu adalah mematikan dosa. Haruslah kita ingat kita tidak lagi berada di bawah kuasa dosa/kuasa daging, tetapi sisa-sisa dosa tetap ada dalam kehidupan kita. Ini adalah sesuatu yang penting sekali. Di dalam beberapa minggu ini saya terus memikirkan; Tuhan apa sebenarnya yang Engkau sudah kerjakan yang tidak mungkin dikerjakan oleh seluruh agama, pendiri agama mana pun saja dan tidak dimiliki oleh dunia. Apa bedanya aku mengenal Engkau dan tidak mengenal Engkau? Apakah Kristus Yesus bangkit dan pendiri agama lain tidak dan kita bertepuk tangan lalu selesai? Tidak! Ternyata ada perbedaan hidup. Sekarang ini, here and now. Bukan bicara mengenai nanti masuk ke Surga. Kristus bangkit, karena Dia bangkit maka matikan dosa! Saya akan memberikan satu pengajaran di dalam untuk membuat saudara mengerti prinsip ini karena prinsip ini luar biasa vital tetapi terlalu banyak dari kita yang tidak mengenalnya. 

Ketika kita membaca Alkitab, kita akan menemukan ada prinsip-prinsip yang sifatnya indikatif dan ada prinsip-prinsip yang sifatnya imperatif. Ada hal-hal yang dituliskan, yang bersifat pernyataan. Indikatif menjelaskan apa yang Tuhan sudah kerjakan, adalah suatu anugerah yang menjadi being yang baru bagi kita, identitas yang baru bagi kita. Setelah dinyatakan, baru saudara akan lihat ada kalimat perintah. Imperatif menjelaskan apa yang menjadi implikasi dari apa yang telah menjadi being baru ini. Apa yang menjadi buah dari indikatif/kenyataan yang baru ini? Apa yang menjadi tugas satu being yang baru yang kita dapatkan, anugerah itu? Kalimat imperatif di dalam Alkitab tidak boleh saudara lepaskan dari indikatif. Kalimat imperatif juga tidak boleh disejajarkan dengan indikatif. Juga tidak pernah boleh dibalik tatanannya; imperatif lalu indikatif.

Saya akan berikan contoh, tapi ini luar biasa penting. Lihat Kolose 3 sebagai contoh. Ayat yang pertama, Kolose 3:1 adalah indikatif,ini suatu yang Allah sudah kerjakan bagi kita di dalam Sejarah, kemudian ayat ke-2 dan ke-5, baru Dia memerintahkan kalimat imperatifnya. Ayat yang pertama, ‘Kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus.’ Ini adalah anugerah Allah. Ini adalah apa yang Allah kerjakan bagi saudara dan saya. Kristus sudah bangkit. Itu bukan pekerjaan kita. Kita dibangkitkan bersama dengan Kristus. Itu adalah anugerah, itu bukan pekerjaan kita sama sekali. Itu adalah indikatif. Itu adalah anugerah Allah yang sudah diberikan kepada kita. Sekarang lihat kalimat tugasnya, kalimat perintahnya yaitu ayat yang ke-2, ‘Cari perkara yang di atas.’ Dan ayat yang ke-5, Matikan dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi.’ Cari perkara yang di atas dan matikan dosa. Perhatikan kalimat yang ke-2 dan ke-5, kalimat imperatif, tugas ini tidak pernah muncul di dalam kekristenan tanpa indikatif yang pertama. Apa bedanya dengan seluruh agama? Perhatikan, seluruh agama, dia akan tiba-tiba muncul: “Engkau matikan dosa. Engkau jangan lakukan ini, jangan lakukan itu. Engkau harus berbuat baik.” Karena itu seluruhnya adalah peraturan-peraturan. Tidak di dalam kekristenan. Setiap perintah Allah kepada kita, ada sesuatu sebelumnya yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita sehingga apa yang kita kerjakan adalah dengan kekuatan kuasa dari sebelumnya. Banyak dari kita menjadi lelah untuk mengikuti perintah-perintah Tuhan karena kita tidak mengerti sumber kekuatan kuasa ada di mana. Kekristenan bukan bicara dos and donts. Kekristenan di dalam Alkitab ada kalimat perintah/ada tugas, tetapi ada anugerah di depan. Perhatikan, ayat 1, 2 dan 5 tidak pernah bisa dibalik. Kalau agama-agama yang lain, dia menyatakan seperti ini; Lakukan ini maka engkau akan hidup. Atau kalau ini mau dibalik; Matikan dosa maka engkau akan dibangkitkan bersama dengan Kristus. Lakukan ini maka engkau akan hidup. Tetapi di dalam kekristenan; Engkau sudah dihidupkan, maka engkau mampu melakukan hal ini. Oh ini perbedaan yang luar biasa besar. Ini adalah titik berat khotbah saya hari ini.

Kekristenan bicara mengenai Kristus bangkit dan apa pengaruhnya dalam hidupku? Alkitab mengatakan: Kalau kita di dalam Kristus, kebangkitan-Nya menjadi kebangkitan kita. Dan Roh yang membangkitan Dia ada dalam diri kita, dan Roh itu bersama-sama dengan kita, kita mematikan dosa dengan kekuatan Roh Kudus itu. Saya mau untuk saudara-saudara mengerti satu hal ini di dalam hatimu. Ini adalah berita Alkitab. Mungkin ini tidak pernah kita dengar khotbah seperti ini pada hari Paskah, tetapi Tuhan membawa hati saya menuju kepada ayat-ayat ini. Ketika bicara mengenai kebangkitan Yesus Kristus, kita selalu berpikir mengenai kebangkitan kita pada akhir zaman ketika kita sudah mati. Ya, benar, tetapi ada sesuatu yang lebih manis daripada itu. Kebangkitan Kristus membuat kita memiliki kuasa untuk mematikan dosa here and now. Apa yang diberikan Kristus tidak bisa diberikan oleh seluruh pendiri agama dan dunia ini? Kuasa hidup suci. Dan saya akan akhiri dengan apa yang dikatakan oleh John Owen. Dia mengatakan demikian, ‘Dunia dulu pernah menaruh Kristus di kandang, di luar rumah ketika Dia datang untuk menyelamatkan kita. Sekarang, biarkanlah Kristus mengeluarkan dunia dari hati kita ketika Dia datang untuk menyucikan kita.’ Biarlah saya boleh untuk menyerukan apa yang Paulus serukan dalam kitab Roma, Kristus sudah bangkit! Kristus sudah bangkit, barangsiapa di dalam Dia, memiliki kemungkinan hidup yang tidak dimiliki oleh dunia, memiliki kuasa yang tidak dimiliki oleh dunia. Dan kuasa itu adalah kuasa untuk mematikan dosa. Kristus sudah bangkit, matikan dosa! Kiranya kasihan Tuhan menyertai kita. Kiranya kebangkitan-Nya menjadi kekuatan kita untuk hidup suci. Mari kita berdoa.


Yoh 1:16, Kis 20:24, Ef 2:7-10
 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

30 March 2024
Christ The Fountain of Life (2)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Yoh 1:16, Kis 20:24, Ef 2:7-10

Yoh 1:16, Kis 20:24, Ef 2:7-10

Kita akan terus memikirkan satu tema ini, Yesus Kristus adalah mata air kehidupan. Sekali lagi pertanyaannya adalah apa yang diberikan Kristus yang tidak pernah bisa diberikan oleh pendiri agama lain? Apa yang Kristus berikan yang tidak pernah juga bisa diberikan oleh dunia ini? Dengan kata lain, apa kebutuhan essential dalam kehidupan saudara dan saya yang hanya bisa diberikan oleh Yesus Kristus tetapi tidak bisa diberikan oleh dunia dan pendiri agama manapun saja. Kemarin saya sudah mengatakan satu elemen yang pertama yaitu love (cinta). Hari ini saya akan membicarakan elemen ke-2 yang sangat essential dalam kehidupan manusia yang hanya bisa diberikan oleh Yesus Kristus yaitu kasih karunia.

Karl Barth adalah seorang tokoh Neo-Orthodox, kita tidak terlalu suka dengan teologianya tetapi dia adalah anak Tuhan yang sejati. Suatu hari dia masuk ke dalam sebuah ruangan seminar. Dia agak terlambat pada waktu itu dan ketika dia masuk dia melihat orang-orang yang sudah berkumpul di dalam kelompok-kelompok membahas sesuatu pertanyaan. Kemudian Karl Barth bertanya kepada seseorang di sana, “Kamu sedang diskusi apa?” Lalu kemudian orang itu mengatakan, “Kami sedang berdiskusi, ada satu pertanyaan yang dilontarkan untuk seluruh audience, hal apakah, konsep apakah yang ada di dalam Alkitab yang tidak pernah ada muncul sedikitpun di dalam konsep agama-agama lain?” “Kami sudah membahasnya beberapa menit tetapi kami belum menemukannya. Kami berpikir mengenai Tritunggal, konsep itu.” Saudara-saudara, Tritunggal adalah misteri pertama yang terdalam di dalam iman kita. Dan saudara-saudara, ini adalah sesuatu prinsip Alkitab yang melampaui pikiran. Tetapi saudara-saudara, di dalam diskusi itu mengatakan bagaimanapun saja, agama-agama itu adalah terbagi 2, yang satu percaya monoteism, yang satu percaya polytheism. Kita, Trinity adalah bicara mengenai oneandmany, hadir bersama-sama. Saudara-saudara, minimal ada sesuatu bayang-bayang, tentu tidak bisa mendekati apapun saja dari Trinity, tetapi itu ada di dalam konsep agama-agama. “Kami juga berpikir mungkin adalah dwi natur Kristus. Satu pribadi, dua natur, ilahi sepenuhnya dan manusia sepenuhnya.” Ini adalah misteri ke-2 di dalam iman kristiani, melampaui seluruh pikiran manusia. Tetapi saudara-saudara, di cerita dewa dewi kuno maka sering sekali itu ada dewa-dewa yang datang dan menjelma menjadi sesuatu hal yang ada di dunia ini untuk mengelabui manusia. Dan kemudian yang berdiskusi itu mengatakan, “Sampai sekarang kami belum tahu apa konsep di dalam Alkitab yang tidak pernah terpikir oleh manusia atau oleh agama manapun saja.” Dan sambil merenung sebentar dan kemudian Karl Barth tersenyum, dan kemudian dia mengatakan, “Kasih karunia.”

Iya saudara-saudara, kasih karunia. Alkitab dengan jelas menyatakan kata ini berulang-ulang, ratusan kali bahwa Allah yang suci itu memberikan kasih karunia-Nya dengan berlimpah-limpah kepada kita di dalam Yesus Kristus untuk memberikan kebenaran kepada seseorang yang hina, yang berdosa, yang tidak benar ini. Saudara-saudara, konsep ini bahkan tidak ada di dalam dunia ini. Sesungguhnya dunia sulit untuk mempercayai konsep ini. ‘Kasih karunia’ adalah kalimat yang sangat-sangat mengagumkan dan sangat manis didengar di hadapan telinga dari anak-anak Tuhan, orang-orang kaum pilihan. Tetapi yang paling disangkal oleh siapapun saja yang ada di dunia ini meskipun sesungguhnya mereka memerlukan kasih karunia. Saudara coba kabarkan Injil kepada mereka dan katakan kepada mereka, “Percaya kepada Yesus Kristus maka engkau akan diselamatkan.” Kemudian mereka mengatakan, “Apakah engkau tidak salah? Hanya percaya, aku bisa masuk ke sorga? Hanya percaya saja, Tuhan menerimaku? Bukan karena ritualku? Bukan karena aku berbuat baik? Bukan karena aku memberikan persembahan? Hanya percaya saja aku bisa masuk ke sorga? Oh, come on! Ayo, kita bicara ini! Ini kelihatannya terlalu gampang.” Kalau terlalu easy, terlalu gampang, terima dong! Tapi tidak. Sama sekali tidak. Ini adalah sesuatu yang asing di tengah-tengah orang dunia ini. Dunia ini mengajarkan cara kerja yaitu take and give. Reward and punishment. Tabur tuai. Kamu jahat sama orang lain, kamu akan dibalas yang jahat. Kalau kamu baik sama orang lain, kamu dibalas dengan kebaikan. Kalau kamu itu menanam yang banyak kamu akan menuai yang banyak. Kalau kamu pelit, kamu akan dibikin orang itu, pelit. Kalau kamu itu berhasil, kamu itu indah, kamu itu kaya, maka akan banyak yang memuji. Pintar. Banyak yang memuji. Tetapi kalau kamu bodoh, kalau kamu gagal, kalau kamu jelek, kamu akan dihina di sini. Saudara-saudara, ke manapun saja, saudara tidak akan menemukan konsep grace. Ya, saudara akan ketemu sama orang namanya Grace, tetapi konsep grace itu susah, saudara-saudara dan saya sudah tahu kebenaran ini beberapa puluh tahun yang lalu dan saya merenungkannya, oh benar-benar! Tetapi suatu hari saya terkejut sekali saya menemukan kata ‘grace’ itu di tengah-tengah perjalanan saya. Dan saya kemudian mengatakan, “Wow, dunia ternyata punya konsep grace.” Apa yang saya percaya itu, tadi salah. Saudara tahu saya menemukan kata grace itu di mana? Ketika saya mau masuk parkir di secure parking, di situ ada tulisan grace period 5 menit, saudara. Hanya 5 menit. Aku tidak akan mengambil uangmu. 5 menit lebih 1 detik, uangmu kasih ke saya. Dunia tidak mengenal kata ini. Tetapi lihatlah Alkitab ini menyatakan kata ini begitu banyak. Di dalam Perjanjian Baru sendiri 160 kali kata ini muncul. Dapat dikatakan Allah menempatkan kita berenang-renang di tengah-tengah kasih karunia demi kasih karunia. Pada hari ini kita akan memikirkan apa yang Alkitab katakan mengenai kasih karunia ini.

Yang pertama, ketika kata kasih karunia ini ada, Allah kita di dalam Alkitab meletakkan kata ini melekatkannya kepada Kristus Yesus, karya Kristus Yesus dan yang paling puncak adalah di atas kayu salib. Saudara-saudara, kita jangan sembarangan menggunakan kata ini karena kata ini tidak pernah terlepas dari salib Kristus. Di dalam Alkitab yang tadi kita baca dikatakan kasih karunia demi kasih karunia datang kepada kita dari kepenuhan Kristus. Apa yang ada sesungguhnya dikatakan di situ? Saudara-saudara, di dalam pasal 1:14 sebelumnya dikatakan, ‘bahwa Yesus Kristus, full of grace and truth.’ Di dalam kepenuhan keilahian-Nya yang penuh dengan anugerah dan kebenaran itu, sekarang Allah Bapa memberikan itu semua kepada kita. Dan kasih itu disebut sebagai kasih karunia yang membuat kita itu hidup. Kalau saudara-saudara menggabungkan dengan konsep Roma 3:23, ‘semua manusia sudah jatuh di dalam dosa, dan kehilangan kemuliaan Allah.’ Saudara-saudara coba pause sebentar di sini. Saya memikirkan kalimat ini bebarapa hari yang lalu, saya kemudian mulai menyadari. Ada yang unik di sini. ‘Manusia sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah.’ Iya dikatakan, manusia sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan-Nya. Kata kemuliaan adalah bicara mengenai martabat, kata kemuliaan adalah bicara mengenai bobot. Bahasa aslinya kemuliaan adalah kavod, itu artinya bobot. Itu adalah nilai. Manusia sudah berdosa kehilangan nilai, dan nilai itu adalah kemuliaan Allah. Dan ini satu-satunya bisa dikembalikan adalah jikalau manusia tersebut mengenal, menerima Kristus yang penuh dengan kasih karunia dan kebenaran itulah kemuliaan kita. Sama seperti satu tempat botol minyak itu untuk minyak itu bisa sungguh-sungguh berguna, maka mesti dipecahkan. Atau sebuah karung yang di dalamnya itu ada kekayaannya yang tersimpan untuk saudara bisa mendapatkannya, maka karung tersebut mesti dirobek. Demikian pula kehidupan Allah, keilahian yang penuh dengan anugerah itu untuk bisa menjadi milik kita maka perlu dipecahkan di atas kayu salib. Saudara-saudara, perhatikan kalimat Yesus berkali-kali selalu bicara mengenai pecah, bicara mengenai pecah, bicara mengenai dipecahkan roti, dipecahkan air dicurahkan. Kasih karunia Allah hadir kepada kita hanya melalui Yesus Kristus yang dipecahkan.

Ada satu kalimat yang indah mengatakan demikian, Allah mendekati kita dalam kehidupan Kristus namun Allah menjadi milik kita di dalam kematian Kristus. Sekali lagi, Allah mendekati kita di dalam kehidupan Kristus namun Allah menjadi milik kita di dalam kematian Kristus. Di dalam kepenuhan-Nya, Dia dipecahkan dan keluarlah kasih karunia demi kasih karunia di atas kayu salib. Saudara-saudara, salib adalah satu event, peristiwa yang terjadi, tetapi apa sesungguhnya berkat-berkat dari salib yang real di hadapan Allah untuk Allah itu nyatakan kepada kita, maka para penulis dari surat-surat pastoral itu memberikan kepada kita apa yang sesungguhnya Allah berikan kepada kita melalui salib. Saudara akan menemukan begitu banyak kata-kata yang menyatakan berkat-berkat rohani dari sorga yang diberikan melalui salib Kristus kepada kita. Sekali lagi Allah mendekati kita melalui kehidupan-Nya, tetapi Allah itu menjadi berkat bagi kita melalui kematian Kristus.

Saudara lihatlah rasul Paulus dan rasul-rasul yang lain, saudara-saudara akan melihat dari salib itu memiliki dari beberapa dimensi yang sangat-sangat berharga bagi kita. Salib adalah pembenaran kita. Kata pembenaran itu bicara berkenaan dengan pengadilan dinyatakan sebagai orang yang benar, orang yang tidak bersalah karena kebenaran Kristus. Salib adalah pengampunan bagi kita. Itu artinya dibebaskan dari hukuman yang seharusnya kita tanggung. Salib adalah pengudusan kita. Itu diubah dari kegelapan menjadi terang. Salib Kristus adalah pendamaian kita. Kita dirubah dari musuh menjadi anak-anak Allah. Dikatakan juga salib itu adalah penebusan kita. Harga yang seharusnya kita harus bayar tetapi kita tidak sanggup bayar sekarang dilunaskan oleh Yesus Kristus. Dan salib adalah peredaan murka Allah bagi kita. Itu artinya murka Allah yang seharusnya timpa kepada kita sekarang dialihkan timpa kepada Yesus Kristus. Di dalam bahasa aslinya itu namanya propitiation. Ada sungguh-sungguh cerita yang terjadi, ada seorang bapak dan anak itu terjebak di dalam baku tembak beberapa gangster itu, dan kemudian peluru itu menyasar ke mana-mana. Bapak itu tidak bisa untuk melarikan diri dari tempat itu, tetapi menyadari bahwa sangat mungkin maka peluru itu akan secara liar itu menuju kepada mereka. Kemudian apa yang dilakukan? Dia membawa anaknya yang masih kecil itu dan kemudian membuat dia menunduk dan kemudian dia merangkul dengan seluruh kemampuan daripada luas tubuhnya menutupi anak tersebut. Dia menunggu di situ sampai peperangan itu selesai. Beberapa peluru liar itu menembus tubuhnya dan bapak itu mati ketika dia memeluk anaknya. Itu artinya adalah propisiasi. Apa yang dikerjakan oleh Kristus di atas kayu salib adalah pembenaran, pengampunan, pengudusan, pendamaian, penebusan, peredaan murka Allah. Segala sesuatu ini adalah kasih karunia Allah yang hadir kepada manusia. Ini adalah sesuatu yang sesungguhnya diperlukan oleh orang yang berdosa.

Sebelum saya masuk ke dalam bagian yang ke-2, saya akan membawa saudara-saudara untuk memikirkan kalau hal ini adalah sesuatu yang penting, mengapa orang-orang itu menolak salib? Mengapa tidak mudah untuk membicarakan hal ini kepada orang-orang di dunia? Maka kalau saudara memikirkan baik-baik, sungguh-sungguh memikirkan baik-baik, maka untuk bisa menghargai kemutlakan, kepentingan, kebutuhan salib, ini adalah kata yang penting, the absolute necessity, kepentingan mutlak yang tidak tergantikan dari salib. Maka untuk mengerti itu seseorang harus mengerti 2 hal ini. Yang pertama adalah the glory of God dan yang ke-2 adalah the gravity of sin. Yang pertama adalah kemuliaan Allah yang suci yang tidak tertandingi itu. Yang ke-2 adalah bobot dosa yang keji. Kenapa kita sulit untuk mempercayai salib? Kenapa kita sulit untuk menerima kasih karunia Allah? Anugerah bukankah itu sesuatu yang indah? Saudara-saudara, manusia itu merasa dirinya tidak memerlukan anugerah. Mereka memerlukan gift, memerlukan pemberian. Saudara-saudara, ada 2 hal yang berbeda, satu adalah anugerah. Yang ke-2 adalah gift adalah hadiah. Saudara-saudara, hadiah (gift) adalah segala sesuatu untuk membereskan hal-hal di dunia ini. Tetapi anugerah itu urusannya lain. Itu adalah sesuatu yang berurusan dengan Allah sendiri. Kita tidak mungkin akan mendekat kepada Allah, tidak mungkin berkenan kepada Dia kecuali Dia memberikan anugerah kepada kita melalui salib. Tetapi sekali lagi, kenapa sulit untuk kita itu menghargai salib? Kenapa orang-orang dunia itu sulit untuk menerima kepentingan mutlak dari salib Kristus. Dan bahkan pada siang hari ini, berapa banyak dari antara orang Kristen atau saudara dan saya sekarang yang duduk di tempat ini, yang melihat salib ini dan tetap bisa mengucap syukur dengan sesuatu kesegaran yang baru. Perhatikan baik-baik, kalau kita tidak bertumbuh rohani, maka salib itu tidak akan membuat air mata kita menetes. “Aku sudah tahu, aku sudah jadi orang Kristen lama, apanya yang tidak tahu mengenai salib. Salib, aku tahu! Yesus mati bagiku. Aku diterima sama Bapa. Sudah kok, sekali untuk selamanya. Selesai!” Tidak! Saudara-saudara, salib itu adalah sesuatu yang hidup. Salib itu bukan sesuatu event yang terpancang 2000 tahun yang lalu dan kemudian selesai. Pekerjaan Roh Kudus sesungguhnya adalah membukakan dimensi-dimensi yang baru tentang salib yang menhancurkan hati kita. Orang-orang dunia tidak menghargai daripada salib dan orang Kristen tidak bertumbuh untuk menghargai salib adalah karena 2 hal ini. Yang pertama adalah kita tidak bertumbuh mengenal kemuliaan Allah dan yang ke-2 adalah kita tidak bertumbuh untuk mengenal kebobrokan kekejian dosa diri sendiri. Jikalau kita mengenal kemuliaan Allah, bertumbuh mengenal-Nya, kita akan tahu bahwa diri kita itu makin hari makin nyata kebobrokan dan dosa-dosa kita. Paulus sendiri mengatakan, setelah masa-masa tuanya maka dia mengatakan, “Di antara seluruh orang berdosa, aku orang berdosa.” Apakah dia itu melakukan dosa pada masa tuanya lebih banyak daripada sebelumnya, jawabannya tidak! Tetapi karena Roh Kudus itu memunculkan apa yang tadinya dia tidak sadari mengenai dosa bahkan kita melihatnya sesuatu yang mungkin kecil dan tersembunyi. Orang yang melihat kemuliaan Allah dan orang yang mengerti diri itu adalah manusia berdosa, dia akan melihat salib itu sesuatu yang segar dan sesuatu yang merendahkan hati sekarang. Kasih karunia Allah diberikan kepada manusia hanya di dalam Kristus Yesus yang tersalib.

Hal yang ke-2, ketika bicara mengenai kasih karunia, kasih karunia diberikan Allah di dalam Kristus kepada umat-Nya adalah kasih karunia bagi keselamatan. Saudara-saudara, J. I. Packer pernah ditanya, apa Injil itu? Saudara-saudara, tadi kita baca dalam Kisah Para Rasul, Injil Kasih Karunia Allah. Saudara-saudara, di dalam Alkitab Allah Bapa yang penuh dengan kasih karunia. Allah Anak yang memberikan kasih karunia. Saudara-saudara, kasih karunia dari Allah Bapa dan Allah Anak menyertai engkau jemaat. Dan Injil kasih karunia dan Roh Kudus yang membawa daripada pekerjaan Kristus untuk diberikan di dalam kasih karunia-Nya kepada kita. Injil itu sebenarnya apa? J. I. Packer menyatakan demikian, “Allah menyelamatkan pendosa.” Selesai. Jadi Injil itu apa J. I. Packer? “Allah menyelamatkan pendosa.” Tetapi problemnya adalah di dalam 3 kata ini. Setiap kata bisa dijabarkan masing-masing berjilid-jilid buku. Dan demikianlah Injil dan seluruh catatan Alkitab Perjanjian Baru kita menjabarkan mengenai Allah menyelamatkan (salvation) kepada kita. Saudara-saudara, J. I. Packer kemudian mengatakan, “Allah menyelamatkan manusia. Saudara perhatikan, kata ‘Allah’ Tritunggal, Jehovah, Bapa Putra dan Roh, 3 Pribadi yang bekerja bersama dalam kebijaksanaan, kuasa, kasih yang berdaulat untuk mencapai keselamatan umat pilihan-Nya. Bapa yang memilih, Sang Anak memenuhi kehendak Bapa melalui penebusan, dan Roh Kudus melaksanakan tujuan dari Bapa dan Anak melalui pembaharuan, itu adalah Allah. Kata ‘menyelamatkan’ artinya melakukan segala sesuatu dari awal sampai akhir. Segala sesuatu yang terlibat dalam membawa manusia dari kematian dalam dosa kepada kehidupan di dalam kemuliaan. Allah Tritunggal itu, merencanakan dari kekekalan mencapai manusia dengan inkarnasi, mengkomunikasikan penebusan dengan salib, dan memanggil serta menjaga kita dengan pekerjaan Roh Kudus, membenarkan, menguduskan dan memuliakan.

Kata yang ketiga, ‘orang-orang berdosa’ yang dilihat Allah, bersalah keji tidak memiliki kuasa tidak berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa untuk melakukan kehendak Tuhan atau memperbaiki nasib mereka. Dan dari seluruh penjelasan ini saya mau menekankan beberapa hal. Hal yang pertama, ketika Alkitab bicara mengenai kasih karunia, Allah menyelamatkan pendosa. Titik beratnya adalah apa yang Allah lakukan? Apa yang Allah lakukan bagi saudara dan saya? Bukan apa yang kita lakukan bagi Allah. Ini yang membedakan antara kekristenan dengan seluruh agama yang lain. Kalau saudara-saudara membaca Alkitab dan kemudian saudara berpikir bahwa Alkitab kita berisi do’s and don’ts. Lakukan ini kalau tidak lakukan, dosa. Jangan lakukan itu, kalau tidak lakukan itu dosa. Maka saudara-saudara salah mengerti titik beratnya. Saudara-saudara, itu yang dikerjakan oleh seluruh agama, itu diberikan oleh seluruh agama. Itu yang dipikiran oleh manusia yang berdosa, tetapi Alkitab memberitahu kepada kita bicara berkenaan dengan kemuliaan Allah dan dosa kita, kita memerlukan kasih karunia dan titik utama dari pada Injil kasih karunia yaitu pekerjaan Allah bagi kita bukan apa yang kita lakukan bagi Allah. Hal yang ke-2 dalam poin ini adalah, tadi saya sudah katakan bicara mengenai kasih karunia yaitu kasih karunia dari Allah di dalam Kristus Yesus yang menyelamatkan. Maka kata keselamatan ini artinya adalah segala-galanya, seluruhnya dalam kehidupan kita a sampai z di dalam hidup saya. Seluruh dari a sampai z. Saudara ketika bicara mengenai keselamatan di dalam kekristenan, saya minta semua saudara memperhatikan ini karena ini adalah sesuatu yang berkali-kali kita salah dan ketika kita salah saudara tidak bisa melihat pekerjaan Allah yang indah di dalam keseharian. Sungguh Allah itu hidup saudara, sungguh Allah itu indah bekerja dalam hidup kita dalam kasih karunia demi kasih karunia, tetapi saudara-saudara perhatikan prinsip ini. Saya akan menekankan hal ini karena kaum injili, kita kaum injii kita sudah terdistorsi dalam arti kata keselamatan. Ketika bicara mengenai keselamatan, apakah engkau, apakah saya sudah diselamatkan? Selalu dalam pikiran kita adalah aku masuk ke surga selesai. Tidak saudara, sama sekali tidak! Keselamatan adalah satu payung yang besar yang meliputi seluruh karya Allah yang dikerjakan dari a sampai z kepada diriku. Itu bukan bicara mengenai titik akhirnya saja tetapi itu adalah bicara mengenai segala sesuatu yang Kristus itu kerjakan di dalam diriku bahkan saat ini, detik ini. Saudara-saudara, saudara tidak akan bisa menikmati kata dari kepenuhan-Nya maka aku mendapatkan kasih karunia demi kasih karunia. Kalau saudara dan saya memikirkan keselamatan itu adalah terima Yesus Kristus, aku dari neraka masuk sorga, selesai. Saudara-saudara, tidak, di dalam Kristus Alkitab mengatakan; “kita menerima segala sesuatu berkat-berkat rohani dari sorga”. Saudara-saudara, kalau saudara-saudara mempelajari dari doktrin keselamatan reformed maka salah satu sub temanya yaitu ordo salutis. Orang-orang Puritan itu menggunakan kata golden chain, itu artinya satu dengan yang lain selalu akan berkait dan tidak ada yang bisa untuk memisahkan dari rantai itu. Apakah itu pembunuhan, apakah itu penyiksaan, apakah itu ketelanjangan, apakah itu kemiskinan, tidak ada yang memisahkan kita dari kasih Kristus, itu golden chain yang terus menerus.

Saudara-saudara, bagi orang Reformed masa kini itu disebut sebagai ordo salutis. Ordo salutis itu adalah urutan bagaimana Allah itu mengerjakan keselamatan-Nya mengubah kita dari seorang pendosa sampai menjadi seorang kudusnya Allah dan bahkan dipakai oleh Dia. Saudara perhatikan sinners to saints bukan saja itu, tetapi dipakai oleh Dia. Saudara-saudara ini adalah urutan logic, bukan urutan waktu. Saudara-saudara di dalam reformed teologi maka ordo salutis itu bicara mengenai dipilih sebelum dunia dijadikan di dalam Kristus, ditebus oleh korban Kristus, menerima panggilan injil Kristus, menerima effectivecalling dari Roh Kudus untuk memandang kepada Kristus, diregenerasikan oleh Roh Kudus, memiliki (faith and repentance) iman dan pertobatan yang sejati di dalam Kristus, menerima (justification) pembenaran di dalam Kristus, (sanctification) pengudusan di dalam Kristus, glorification di dalam Kristus dan seluruh ordo saluti ada di bawah payung besar union with Christ. Maka saudara-saudara melihat apa yang ditulis di kitab Yohanes, Yesus sendiri mengatakan satu kalimat yang mencengangkan, “apart from me you can do nothing”. Engkau tidak bisa melakukan apapun saja. “Di luar Aku engkau tidak bisa dibenarkan, diluar Aku engkau tidak bisa menerima pengudusan, diluar Aku engkau tidak bisa membereskan guilty feeling-mu, di luar Aku engkau tidak bisa memiliki perubahan di dalam karaktermu yang buruk, di luar Aku engkau tidak mungkin mendapatkan jalan keluar sebagaimana dunia ini tidak mendapatkannya, diluar Aku engkau tidak bisa mendapatkan kehidupan. Di dalam Kristus kita mendapatkan anugerah demi anugerah.” Ketika saudara-saudara dan saya melihat salib, saudara teringat apa? Pertama ingat cinta. Ke-2 ingat kasih karunia. Dan ini tidak ada pada dunia, ini tidak ada sama pendiri agama. Ini hanya diberikan oleh Allah. Alkitab mengatakan kepada manusia di dalam kepenuhan Kristus Yesus dari sanalah kasih karunia dan kasih karunia mengalir kepada kita.

Hal yang ke-3 yang terakhir, adalah implikasi kasih karunia bagi kita. Kasih karunia hanya ada pada Kristus Yesus yang di mana kepenuhan-Nya penuh dengan kasih karunia dan kebenaran. Ini adalah sumber kemuliaan kita. Dia datang ke dunia dalam hidup-Nya untuk kasih karunia itu bisa diberikan kepada kita, Dia harus dipecahkan di atas kayu salib. Sehingga kita bisa menerima kasih karunia demi kasih karunia, demikianlah cara berpikir Alkitab. Sekarang hal yang ke-3 adalah kalau aku sudah menerima kasih karunia, implikasinya apa? Saudara-saudara jawabannya adalah semuanya, semua hidup kita, semua milik kita. Saudara-saudara perhatikan satu kalimat yang ditulis oleh Dietrich Bonhoeffer yang luar biasa penting. Kasih karunia itu cuma-cuma tetapi harganya luar biasa mahal. Sekali lagi, kasih karunia itu cuma-cuma tetapi luar biasa harganya mahal. Saudara perhatikan ada satu prinsip rohani yang penting disini, perhatikan baik-baik prinsip rohani ini. Orang yang sungguh-sungguh dibukakan akan kasih karunia ini akan menghargai kasih karunia ini dan akan menyerahkan seluruh hidupnya di bawah pemerintahan kasih karunia ini. Sekali lagi ada satu prinsip rohani di sini, kalau saudara dan saya itu menerima kasih karunia, ada sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Kita sungguh-sungguh akan dibukakan kepada kepentingan dan harga yang mahal dari kasih karunia ini. Kita akan menghargai kasih karunia ini dan Roh Kudus akan mendorong kita untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk diperintah oleh kasih karunia ini. Alkitab berulang-ulang menyatakan kepada kita akan kasih karunia Allah dan pada saat yang sama Alkitab berulang-ulang menyatakan harga kasih karunia Allah yang mahal itu. Saya akan membacakan tulisan dari Dietrich Bonhoeffer, mungkin dia adalah yang paling dikenal luas dalam tulisannya mengenai kasih karunia yang mahal. Demikian yang ditulisnya, ‘Kasih karunia yang mahal adalah harta terpendam di ladang yang olehnya orang pergi dan menjual segala sesuatu yang mereka miliki dengan gembira. Kasih karunia yang mahal ini adalah Injil yang harus dicari berulang kali, anugerah yang harus terus diminta, pintu di mana seseorang harus terus menerus mengetuk. Kasih karunia ini mahal karena memanggil kita menjadi murid, tetapi ini adalah juga kasih karunia karena memanggil kita untuk mengikuti Yesus. Kasih karunia ini mahal karena akan mengorbankan hidup kita dan orang-orang yang mengikuti kasih karunia ini tetapi ini adalah kasih karunia karena dengan mengorbankan hidup kita membuat hidup kita hidup. Kasih karunia ini mahal, karena mengutuk dosa, tetapi ini adalah kasih karunia karena itu akan membenarkan orang berdosa di atas segalanya. Kasih karunia itu mahal karena di dalam kasih karunia itu Allah harus membayar harganya, karena kasih karunia itu mengorbankan nyawa Anak-Nya. Dan karena itu yang mahal bagi Allah pastilah tidak ada sesuatu pun yang murah adanya.’

Hari ini kita bicara mengenai kasih karunia, sesuatu yang indah, sesuatu pekerjaan Allah Tritunggal untuk mengubah hidup kita. Tidak ada jalan keluar dalam hidup kita hai jemaat kecuali Tuhan itu berkasih karunia dalam hidup kita dalam bentuk apa pun saja. Bukan saja di dalam hal-hal rohani bahkan di dalam duniawi pun, jasmani pun kita bergantung pada kasih karunia. Tetapi ada masalah besar di dalam kekristenan dan orang-orang yang dipakai Tuhan sejak dulu sudah memunculkan masalah ini. Masalah ini yang disebut sebagai skandal kasih karunia. Berkali-kali kita selalu terjebak di dalam dosa ini. Banyak orang mendengar kata kasih karunia sebagai sesuatu yang lembut, yang nyaman, yang enak seperti berlibur setiap hari. Bagi kebanyakan kita kata kasih karunia dan yang kemarin kata kasih Allah adalah surat izin sah untuk melakukan dosa. Adalah surat izin Allah untuk kalau kita bersalah tidak perlu membereskannya dengan pertobatan dan pengakuan. Dan itu masalah besar, itu kanker di dalam hidup kekristenan kita. Bahkan ada kalimat seperti ini; “Ya tidak apa-apalah berbuat dosa ‘kan nanti ‘ngaku, diampuni, Allah kan mencintai, ada kasih karunia selalu tersedia, kasih karunia demi kasih karunia.” Saudara-saudara, saudara melihat ini kata kasih karunia dan kata cinta itu adalah milik kekristenan. Ini adalah keunikan kekristenan. Ini diberikan Allah kepada kita dalam kemurahan hati-Nya tetapi setan kemudian membalikkan kata ini menjadi kecelakaan fatal di dalam kerohanian kita. Menggunakan kata ini dan kemudian menusuk kembali Allah untuk menyakiti hati-Nya. Saya sungguh-sungguh tidak tahu, kenapa Allah menggunakan cara ini? Berapa banyak dari pada kita ketika melakukan sesuatu dosa, sesuatu hal yang mendukakan hati Allah atau sesuatu kejahatan, kita tidak pernah bicara berkenaan dengan pertobatan? Hal yang pertama yang kita lakukan adalah jangan menghakimi. Allah sendiri itu Maha kasih di mana kekristenan itu kan kasih, kasih, kasih. Kata itu selalu di depan untuk menutupi dosa kita. Itu skandal kasih karunia! Kasih karunia itu diberikan. Saudara perhatikan, saya akan coba untuk mempresentasikan. Kasih karunia itu diberikan untuk menghidupkan kita, memampukan kita, untuk melangkah dengan kuat kuasa menuju kepada kehendak Allah. Tetapi sekarang kasih karunia itu diberikan, dan kita itu pakai untuk melawan Allah. Adalah kecelakan besar dalam hidup kita terhadap kata ini. Saudara perhatikan baik-baik, kasih karunia diberikan untuk kita memiliki kuasa bertobat. Kasih karunia diberikan untuk kita memiliki kuasa hidup suci. Kasih karunia diberikan untuk kita bergerak lebih lagi melayani Allah. Kasih karunia diberikan untuk kita memiliki kerelaan dan sukacita agar seluruh kehendak Allah jadi di hidup kita. Cinta-Nya dan kasih karunia-Nya diberikan kepada kita bukan sebagai lisensi, ijin untuk kita melakukan dosa. Skandal kasih karunia. Kemarin kita sudah bicara mengenai Allah yang kasih. Yohanes mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga mengaruniakan Anaknya yang Tunggal, sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Saudara, kalimat itu ada di seluruh dunia. Kalau sudah gitu Allah mengasihi beres dong aku. Aku sudah dengar, senang. Aku akan menikmati, sama seperti menikmati musik, senang. aku duduk-duduk aja, seperti itu? Tidak! Perampok itu yang tadinya menghina Yesus, Roh Kudus bekerja, dia bertobat dan kemudian dia minta supaya Kristus itu menjadi Rajanya. Begitu ada pertobatan, Allah yang mengasihi itu mengatakan hari ini juga engkau beserta dengan aku di Firdaus. Bagaimana dengan perampok sebelahnya? Dia terus memaki Yesus. Tidak ada pertobatan. Apakah kalimat ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini’, itu terjadi kepada dia? Apakah ada pengampunan bagi dia? Apakah ada pengampuanan bagi Yudas? Bukankah kalimat itu kalimat yang terbentang bagi seluruh umat manusia? Saudara-saudara, seluruhnya kalau kita tidak mengerti titik ini, seluruhnya menjadi skandal rohani.

Kasih karunia itu adalah kasih karunia yang cuma-cuma tetapi mahal. Orang yang mendapatkan kasih karunia ini, kalau dia mengerti harga kasih karunia ditaklukan oleh kasih karunia Allah yaitu Yesus Kristus yang terpaku di atas kayu salib maka dia akan berkerja lebih keras daripada sebelumnya. Jangan pernah bicara mengenai kasih Allah kalau tidak ada pertobatan, tidak ada pengakuan dosa. Jangan pernah bicara mengenai kasih karunia Allah kalau kita sendiri belum dibukakan akan kasih karunia dan harganya itu. Dan kalau kita itu belum dibukakan atau saat inipun dibukakan kecil, mari bersama dengan saya minta untuk Tuhan membukakan harga kasih karunia itu sehingga kita boleh takluk di bawah kasih karunia itu. Karena sesungguhnya yang dibukakan oleh Roh Kudus kepada kita, kasih karunia itu adalah kasih karunia yang mengagungkan, menakjubkan. Kasih karunia itu akan mengubah hidup kita. Makin lama makin suci, makin lama makin bersih, makin lama makin serupa dengan Kristus. Yang jahat, yang sesat, itu kemudian akan menerima dari kebenaran dan kasih dari Tuhan karena kasih karunia itu. Kasih karunia itu adalah kasih karunia yang luar biasa menabjubkan. Kasih karunia itu ada pada Kristus yang tersalib. Kasih karunia itu diberikan kepada kita dalam seluruh kehidupan kita bukan saja hanya bicara mengenai sorga atau neraka. Kasih karunia itu begitu mahal dan seseorang yang mendapatkan kasih karunia itu hidupnya sungguh-sungguh akan diubah.

Saya akan akhiri dengan satu cerita yang sungguh-sungguh terjadi dan saudara mendengarkan bagaimana kasih karunia itu bekerja. Kasih karunia itu sudah bekerja kepada Paulus, kepada Petrus, kepada Yakobus, kepada murid-murid Yesus. Dan kasih karunia yang sama diberikan kepada gereja-Nya dan juga kepada saudara dan saya. Pada pagi hari ini katakan kepada Tuhan, “Tuhan aku minta kasih karunia-Mu bekerja lebih keras, lebih besar lagi dalam hidupku.” Katakan kepada Tuhan, “Aku mengangakan mulutku, aku membuka jiwaku. Tuhan bekerjalah dengan kasih karunia-Mu yang seperti lautan itu mengungkung aku secara keseluruhan. Biarkan aku melihat kasih karunia-Mu yang menakjubkan itu.”

Pada abad yang ke-18 seorang anak laki-laki dilahirkan dalam sebuah keluarga kristen, 6 tahun pertama ayah dan ibunya terus menerus mengajarkan mengenai Alkitab dan dia menjadi orang Kristen. Tetapi tiba-tiba kedua orang tuanya itu meninggal dan dia menjadi anak yatim piatu dan kemudian dia tinggal bersama dengan anak-anak yang lain. Di sana maka anak-anak yang lain menghina imannya dan anak kecil ini kemudian tidak kuat lagi dan meninggalkan imannya. Ketika dia mulai remaja maka kemudian dia melarikan diri dan bergabung dengan angkatan laut kerajaan. Dan makin lama maka kehidupannya itu makin lama makin bejat. Dia menjadi tukang berkelahi, dia suka sekali mengadukan teman-temannya ke atasannya dan dia berkali-kali dihardik oleh orang lain karena banyak sekali orang yang tidak menyukainya. Lalu kemudian dia melarikan diri dari angkatan laut itu dan dia pergi ke Afrika, dan bergabung dengan satu company yang melakukan perdagangan budak. Tetapi di sana hidupnya itu makin hina lagi. Dan sangat-sangat tidak memiliki apapun saja. Dia sering sekali makan makanan dari sampah. Dia sangat-sangat pahit dan getir dengan hidup dan dengan kepahitan dengan sekitarnya. Lalu ia melarikan diri lagi, dia bekerja pada pedagang budak yang lain. Tetapi anak ini makin bejat dan tidak dapat lepas dari masalah. Suatu hari dia mencuri whisky untuk dia bisa mabuk-mabukkan sampai akhirnya ia terjatuh dari kapal itu dan nyaris tenggelam. Seseorang berusaha menolongnya dengan tombak, tetapi karena tombak itu maka dia memiliki luka bekas dari tusukannya. Luka yang besar dip inggangnya seumur hidupnya. Setelah peristiwa yang hampir mematikan dia itu, di tengah-tengah badai, dilepas pantai dari Skotlandia dan ketika dia harus memompa air itu keluar dari kapal yang dipenuhi dari air badai itu, tiba-tiba kasih karunia Allah itu menjangkau dia di tempat yang jauh itu. Seluruh ayat-ayat Alkitab yang didengarnya pada waktu kecil itu kemudian teringat kembali. Dan secara menakjubkan di tengah lautan itu dia bertobat. Dia kemudian menemukan kehidupan yang baru dengan konteks kehidupan yang sama tapi kehidupan rohani yang baru. Roh Kudus bekerja di dalam hatinya. Dia melihat harga kasih karunia yang menakjubkan itu. Dan kemudian dia menuliskan dari apa yang dialaminya dengan beberapa kalimat ini. ‘Kasih karunia yang menakjubkan betapa indah kedengarannya. Dia menyelamatkan seorang jahanam seperti diriku, dulu aku tersesat tetapi kini aku ditemukannya kembali. Dulu aku buta, tetapi kini aku melihat.’

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

29 March 2024
Christ The Fountain of Life (1)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Yoh 3:16-18

Yoh 3:16-18

Hari-hari ini kita akan memikirkan satu tema, Kristus mata air kehidupan. Perhatikan beberapa pertanyaan ini. Apa yang diberikan oleh Yesus Kristus yang tidak pernah bisa diberikan oleh pendiri agama yang lain? Apa yang diberikan oleh Yesus Kristus yang tidak pernah bisa diberikan oleh dunia ini? Saya menggunakan kalimat yang lain, apa kebutuhan esensial kehidupan kita yang hanya bisa diberikan oleh Yesus Kristus tetapi tidak bisa diberikan oleh dunia ini dan oleh pendiri agama mana pun saja? Kalau Tuhan pimpin maka di dalam 3 hari ini kita akan memikirkan, memeditasi akan Firman Tuhan melihat apa kebutuhan-kebutuhan esensial kehidupan manusia saudara dan saya sebenarnya. Dan ketika kita melihat Firman dan pribadi Kristus, saudara akan melihat hanya Kristus Yesus yang bisa memberikan itu kepada umat manusia. Hari ini kita akan memikirkan mengenai satu elemen esensial kehidupan yang kita perlukan. Dan hari ini kita akan memikirkan mengenai cinta.

Saudara-saudara, satu hal mendasar yang dibutuhkan, dicari, dikejar oleh kehidupan ini adalah cinta. Kita ingin dikasihi, kita ingin dipeluk, kita ingin dimiliki, kita tidak ingin adanya permusuhan, kita tidak ingin ditolak, sebagai manusia kita ingin diterima. Saudara-saudara, kita selalu ingin dicintai dan kita mencari yang bisa dikasihi. Lihatlah seluruh produk manusia, dari puisi, lagu, film, lukisan, apa pun saja, semua berisi akan satu hal yang penting ini yaitu cinta. Bahkan kalau saudara-saudara melihat ada lembaga-lembaga yang dibuat di dunia ini begitu banyak yang dilahirkan karena cinta. Ada yayasan leukemia, kenapa dibentuk? Karena ternyata sejarahnya adalah anaknya itu pernah mati karena leukemia, karena dia mencintai sungguh anaknya dan tidak ingin anaknya itu hilang dari hati dan ingatannya, dia mendirikan yayasan tersebut. Ada sungguh-sungguh terjadi seorang suami yang sangat mencintai istrinya dan kemudian istrinya mati karena cancer. Setiap pagi, dia selalu pergi ke pasar bertahun-tahun lamanya. Setiap pagi, dia pergi ke pasar dan setiap kali dia pergi ke pasar dia membeli satu bunga yang baru kemudian diletakkan di dalam vas bunga, di depan foto istrinya bertahun-tahun. Lihatlah seluruh film yang kita tonton, telenovela atau drama Korea, semuanya itu urusan cinta. Kalau kita bicara mengenai film kungfu sekalipun, film perang sekalipun, dan film itu tidak akan ada gunanya, tidak akan menyentuh kita, sampai ada unsur cinta di dalamnya. Begitu ada unsur cinta, saudara langsung tahu itu ada kehidupan di dalamnya. Kita tidak akan mau mengeluarkan uang yang banyak untuk menonton 2 jam film isinya cuma perang. Tetapi ketika di dalam perang tersebut ada cinta, maka film itu menjadi hidup. Cinta adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa cinta hidup ini tidak bernyawa dan manusia selalu mengejar untuk ingin dikasihi dan mengasihi. Dan hidupnya dan jiwanya tidak akan pernah tenang sampai tahu bahwa ada yang mengasihi dia.

Cerita ini sungguh-sungguh terjadi. Beberapa puluh tahun yang lalu ada sebuah cerita di satu panti rehabilitasi anak-anak bermasalah di satu negara di Amerika. Di sana ada puluhan anak-anak yang bermasalah, diambil dari yang ada di jalanan, dan mereka masih muda, masih remaja dan dari yayasan Kristen. Dan ini adalah ceritanya. Orang yang melayani ini melihat satu anak bernama Cathy ini berbeda dengan yang lain. Setiap anak dia cermati, setiap anak selalu memiliki sesuatu untuk dipegang di dalam hidupnya. Ada yang memegang bantalnya, ada yang memegang sapu tangannya yang sudah kumal, atau boneka, tetapi anak ini lain. Dia kemana pun saja memegang sebuah kaleng cat yang kecil. Dan kemudian pemimpin pelayan ini bertanya, “Cathy, apa itu?” Cathy itu menghindar, dan terdiam. Kaleng cat itu dibawa kemana pun saja dia pergi. Ketika tidur malam, itu ada di sebelahnya, ketika mandi, dia letakkan di sebelahnya, ketika dia pergi dari siang hari sampai malam kembali maka dia selalu membawanya. Ketika dia makan, itu ada di sampingnya. Suatu hari Cathy kemudian ditanya lagi, “Kenapa engkau selalu membawa kaleng cat ini?” Cathy mengatakan, “Kak, ini adalah ibuku.” “Hah, maksudmu?” “Ini adalah abu ibuku.” Lalu kemudian Cathy menceritakan kehidupannya, “Ibuku membuang aku ketika aku bayi di tempat sampah. Aku dibesarkan oleh orang yang aku tidak kenal. Aku pergi ke satu panti asuhan ke tempat panti asuhan lain. Sampai suatu hari kak, aku punya ide untuk mencari ibuku. Setelah berbulan-bulan akhirnya aku bisa menemukan informasi mengenai ibuku ada tinggal di satu tempat itu dan aku bergegas pergi ke tempat itu. Kemudian aku bertemu dengan tetangga di sana dan ternyata dia mengatakan ibuku tidak ada di sana sekarang, sedang berada di rumah sakit. Aku pergi ke rumah sakit, dan aku masuk ke tempat ibuku itu berbaring. Aku sebenarnya tidak kenal dia, tetapi ketika aku masuk ke dalam rumah sakit yang miskin itu, seorang wanita yang sudah terbaring tidak berdaya melihat aku dan kemudian dia mengatakan, “Cathy.” Dan aku langsung masuk dan aku langsung memeluk dia. Dan kak, dia mengatakan sesuatu. Cathy mulai tersenyum. Dia memeluk aku dan dia mengatakan, “Maafkan aku nak, maafkan aku, aku menyayangi engkau.” Dan tidak lama kemudian mama meninggal. Ini abunya mamaku. Dia sayang sama aku.”

Apa yang dicari oleh manusia yang paling terdalam dalam hidup kita? Cinta. Cinta itu adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa kita mendapatkan cinta, maka hidup kita tidak bernyawa. Manusia memerlukan elemen terdalamnya adalah cinta. Karena manusia diciptakan menurut peta dan teladan Allah dan Allah menyatakan God is love. Sifat ini adalah sifat Allah Tritunggal itu sendiri. Di dalam kekekalan, sebelum ada ciptaan satu pun, di antara pribadi Tritunggal itu Mereka saling mengasihi. Dan sekarang setelah dunia diciptakan, di hadapan dunia, seluruh milyaran umat manusia diciptakan-Nya, sekarang Dia memproklamasikan apa yang ada dalam isi hati-Nya: God is love. Aku begitu mengasihi engkau hai umat manusia. Aku memberikan anak-Ku yang tunggal kepadamu. Percayalah kepada Dia, engkau akan peroleh hidup yang kekal. Ketika saudara-saudara melihat salib, saudara melihat apa? Ketika saudara melihat salib, saudara harus teringat akan satu hal, cinta Allah kepada kita. Yohanes menuliskan kalimat ini. Kalimat ini tidak ada pada Paulus, tidak ada oleh Yakobus, tidak oleh Petrus, tidak oleh Matius, kenapa dia bisa tulis ini? Saya percaya adalah karena dia adalah satu-satunya rasul yang berada tepat di bawah salib Yesus Kristus. Dia mendengarkan setiap perkataan Yesus. Tujuh kalimat di atas kayu salib terakhir itu. Di tengah-tengah umpatan masa yang begitu banyak dan satu tetes darah itu datang dan menyentuh muka daripada Yohanes. Ketika Yohanes di bawah salib melihat Kristus Yesus yang terpaku di atas kayu salib, dia menulis, ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga dikaruniakan Anak-Nya yang tunggal.’ Lihat salib. Saudara dan saya lihat apa? Cinta. Cinta dari Allah Bapa, cinta dari Allah Anak, dan cinta dari Allah Roh Kudus kepada kita.

Pagi ini kita akan melihat apa yang Yohanes itu katakan mengenai love of God. Di dalam Yohanes 3:16-18, saudara akan menemukan 3 dasar dari apa yang Alkitab katakan tentang cinta. Cinta adalah kata yang paling sering diucapkan di mana pun saja tetapi semuanya itu mengandung arti dunia ini. Saudara dan saya mengikuti arti dunia ini akan cinta, kita tidak akan mendapatkan cinta, kita akan kehilangan esensi cinta. Tetapi di dalam Kristus Yesus, di dalam Alkitab, Alkitab sendiri menyatakan cinta itu apa.

Hal yang pertama, ketika Alkitab mengatakan kata kasih, maka itu selalu digabungkan dengan penderitaan dan salib Yesus Kristus. Saudara-saudara di dalam Yohanes 3:16, ada satu kata yang penting ‘Allah memberikan Anak-Nya.’ Saudara perhatikan di dalam bahasa Inggris “gave” mengaruniakan atau memberikan. Saudara-saudara, itu mau bicara berkenaan ada suatu perpisahan di dalam jangka waktu tertentu ketika pribadi Kristus Yesus mengambil rupa sebagai manusia berdarah dan berdaging. Di dalam kata ‘gave’ ini sendiri, ‘Allah memberikan’ ada 3 arti yang ada di dalamnya. Yang pertama itu artinya Kristus dipisahkan untuk dimatikan. Di dalam Perjanjian Lama saudara memiliki gambaran ini, satu anak domba yang akan dikorbankan itu harus dipisahkan dari kawanannya. Meskipun masih hidup namun dengan sengaja dipisahkan dipilih untuk dipisahkan supaya dia nanti dimatikan. Inilah yang disebut sebagai yang dipilih, the chosen one dan ini arti kata mesias. Mesias adalah seseorang yang dipilih. Saudara-saudara, ketika bicara mengenai Yesus Kristus, Yesus adalah nama-Nya, Kristus adalah artinya Mesias, yang diurapi, yang dipilih untuk diurapi, tetapi dipilih untuk diurapi untuk dikorbankan. Di antara bilyaran manusia, Bapa di surga hanya memilih satu pribadi ini menjadi pendamai antara saudara dan saya dan Allah. Dia tidak memilih satu orang terbaik pun dari antara manusia. Dia tidak memilih satu pendiri agamapun di antara manusia. Dia tidak memilih Abraham, Dia tidak memilih Musa, Dia tidak memilih Petrus, Dia tidak memilih siapapun, satu-satunya yang dipilih adalah Yesus Kristus. Dipilih untuk diapakan? Untuk dipisahkan, untuk benar-benar dipilih untuk melayani Allah. Untuk dikorbankan.

Arti yang kedua. Kata ‘Allah memberikan’ berarti Allah memberikan Kristus kepada para algojo untuk mengadili dan menghukum dia sampai mati. Kristus diperlakukan seperti seorang penjahat oleh orang-orang yang jahat. Di dalam Kisah Para Rasul 2:23 dinyatakan “Kristus yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya telah kamu salib dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” John Flavel kemudian memberikan narasi di bawah ini: ‘Ketika tiba saatnya, saat Allah menentukan Kristus itu menderita, seolah-olah Allah berkata hai sekalian semua, gelombang keadilan-Ku yang menderu-deru sekarang membumbung setinggi langit dan akan menyelimuti jiwa dan tubuh-Nya, tenggelamkan Dia, tenggelamkan Kristus itu ke dasar, biarkan Kristus itu pergi ke dasar seperti Yunus ke dalam perut neraka. Datanglah kamu sekalian seperti badai yang mengamuk, yang Aku simpan untuk hari kemurkaan-Ku ini. Hantamlah Dia, hantamlah Dia hingga Dia tidak bisalagi melihat ke atas. Adililah Dia. Taruhlah Dia di atas tiang pancang, siksalah Dia sampai seluruh bagian-Nya, sampai Dia berteriak. Hidup-Ku seperti air yang tercurah. Segala tulang-Ku terlepas dari sendinya. Hati-Ku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dada-Ku. Kekuatan-ku kering seperti beling dan lidah-Ku melekat pada langit-langit mulut-Ku. Di dalam debu maut ya Allah Kau letakkan Aku.’ Ketika kalimat Allah memberikan Kristus, ketika Yohanes menyatakan, ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Dia memberikan Anak-Nya.’ Kata ‘memberikan Anak-Nya’ itu, memberikan Yesus kepada seluruh orang-orang jahat itu untuk dimatikan. Sekali lagi John Flavel mengatakan demikian, ‘Ini adalah seperti Allah mengumpulkan kumpulan-kumpulan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang bukan Yahudi yang begitu jahat. Ke dalam tangan mereka yang haus darah itu, Allah menyerahkan Kristus kepada mereka. Aku menyerahkan ke dalam tanganmu Kristus untuk diperlakukan semaumu, untuk melakukan kejahatanmu sepenuhnya kepada Dia. Hai orang-orang jahat, Aku sekarang melepaskan seluruh rantaimu, engkau bebas melakukan apa pun saja kepada Kristus Yesus. Aku serahkan Dia ke dalam tanganmu dan kekuasaanmu.’ Sama seperti Mazmur 22, Allah memberikan Kristus kepada orang-orang jahat itu artinya Allah merelakan Kristus Yesus dikerumuni oleh anjing-anjing dan dikepung penjahat, diseret dan ditusuk tangan dan kakinya, dilihat dengan hina dan mereka memandangi Kristus dan membagikan pakaian dan membuang undi untuk jubah-Nya. Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal.

Arti ketiga dari kalimat ini. Apa arti Allah itu memberikan Anak-Nya? Itu artinya Bapa memberikan Kristus terpisah dengan Dia, atau dengan kata lain menempatkan Kristus pada jarak tertentu dari diri-Nya untuk sementara waktu. Ada semacam perpisahan antara Bapa dan Anak ketika sang Anak datang di dalam bentuk daging. Yesus sendiri mengatakan “Aku datang dari Bapa ke dunia dan Aku akan meninggalkan dunia dan pergi kembali kepada Bapa.” Saudara-saudara, ada jarak keterpisahan yang tidak terselami oleh kita. Jarak yang terjadi karena inkarnasi Yesus Kristus dan penghinaan yang diterima oleh Dia pada waktu Dia menjadi manusia. Jarak yang terbentang yang tidak terselami karena kehinaan Kristus Yesus dengan kemuliaan yang Dia miliki sebelumnya, kemuliaan yang dimiliki di hadapan Bapa-Nya yang penuh dengan kasih dan kesukaan. Perhatikan berapa jauh jarak ini makin tidak terselami ketika Kristus di atas kayu salib mengatakan, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Kata ‘Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal’ sebenarnya sudah berkali-kali Yesus Kristus itu pernah katakan. Perhatikan beberapa hal ini di dalam Yohanes 6:32, Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari Surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari Surga.” ‘Gave you, memberikan.’ Yesus sudah pernah mengatakan ini untuk memberikan satu bayang-bayang bagaimana Dia akan diremukkan. Ini adalah bicara mengenai ‘roti’. Kepada perempuan Samaria yang bertemu Dia di sumur itu, Yohanes 4:10 dikatakan, “Jikalau engkau tahu tentang apa yang diberikan Allah (atau karunia Allah di dalam bahasa Indonesianya) dan siapa Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Saudara-saudara, kalimat ‘Allah memberikan’ itu ternyata berkali-kali sudah pernah dikatakan Yesus kepada orang-orang yang ditemui-Nya. Kita tidak mengerti artinya keseluruhannya; yang pertama adalah bicara berkenaan dengan Allah di Surga memberikan roti, dan ke-2 adalah Allah di Surga memberikan air hidup; sampai kita mengerti Yohanes 3:16 itu menunjuk kepada salib Yesus Kristus. Allah memberikan Kristus Yesus seperti roti untuk dipecahkan dan seperti air untuk dicurahkan. Saudara-saudara, ketika kalimat ‘kasih karunia’ ini muncul, ketika kalimat ‘Allah menganugerahkan’ ini muncul, atau ‘Allah memberikan’, itu adalah bicara mengenai Kristus yang dipecahkan.

Sekarang hal yang ke-2, yang besar; kita terus memikirkan apa yang Alkitab katakan berkenaan dengan love. Hal yang pertama tadi dikatakan bahwa ketika bicara mengenai love, tidak lain dan tidak bukan Allah akan menggabungkannya, Alkitab akan menggabungkannya dengan sengsara, dengan penderitaan, dengan salib Kristus. Tetapi yang ke-2, saudara-saudara perhatikan, ketika Alkitab menggunakan kata love, itu selalu digabungkan dengan nama Yesus Kristus adalah Anak-Nya yang terkasih, yang tunggal: “The only begotten Son.” Saudara-saudara, saudara tidak akan pernah bisa bicara berkenaan dengan love itu terlepas dari salib, love itu terlepas dari Yesus Kristus. Siapakah yang menderita? Siapakah yang dipecahkan? Anak-Nya yang terkasih, kekasih jiwa Bapa. Sang Anak adalah gambaran nyata dari pribadi Bapa. Sang Anak adalah wujud kecemerlangan kemuliaan Bapa-Nya. Jadi ketika sang Bapa terpisah dari sang Anak; Bapa terpisah dengan hati-Nya sendiri; Bapa terpisah dengan isi perut-Nya sendiri. Yesaya 9:6 menyatakan, ‘Tetapi kepada kita seorang Putera telah diberikan.’ Kolose 1:13 menyatakan, ‘Dia bukan sekadar Putra, tetapi Putra yang terkasih.’ Alkitab dengan jelas menyatakan betapa dekatnya hubungan Bapa dan Yesus Kristus. Ada sungguh-sungguh satu cerita. Ada satu keluarga terancam punah pada masa kelaparan di Jerman. Akhirnya setelah berminggu-minggu dan mereka tidak bisa tahan lagi, sang suami berbicara kepada istrinya untuk mereka menjual salah satu anak, untuk membeli roti untuk yang lain itu bisa survive. Tentunya sang istri tidak menyetujuinya, sampai akhirnya beberapa hari kemudian setelah tidak tahan lagi, istrinya menyetujuinya. Dan kemudian sekarang mereka masuk ke dalam diskusi berikutnya, anak yang mana dari ke 4 anak itu yang harus dijual? Setelah berunding mereka menolak untuk menjual anak yang pertama. Lalu kemudian mereka berunding lagi dan mereka menolak menjual anak yang ke-2 karena persis dengan kakek yang dikasihi oleh suami istri itu. Dan rundingan lagi, mereka menolak lagi anak yang ke-3 karena wajahnya mirip dengan mamanya. Dan kemudian mereka akhirnya juga menolak anak yang ke-4 karena anak itu adalah “Benyamin”, anak yang kecil, yang baru lahir pada masa tua mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk punah bersama daripada berpisah dengan salah satu anak, demi kelepasan dari kelaparan. Saudara-saudara, ada pepatah seperti ini, ‘Seorang anak tidak lain adalah satu bagian dari orangtua yang dibungkus oleh kulit yang lain.’

Saudara-saudara, meskipun sedemikian dekatnya anak-anak yang paling kita kasihi dengan kita, adalah suatu yang tidak bisa menjangkau kedekatan antara sang Bapa dan sang Putra di dalam kekekalan. Maka ketika Alkitab menyatakan, ‘Bapa memberikan Anak-Nya, Bapa rela berpisah dengan sang Putra.’ Ini adalah sesuatu yang luar biasa, isi hati Tuhan yang paling dasar dibuka kepada umat manusia. “Aku mencintai engkau, Aku mencintai engkau, Aku memberikan yang terbaik dalam hati-Ku, hidup-Ku untuk engkau.” Ini adalah manifestasi cinta yang dalam. Paulus mengatakan, “Betapa panjang, lebar, tinggi, dalamnya kasih-Mu ya Kristus.” Ini adalah cinta yang akan dikagumi selama-lamanya. Saudara-saudara, perhatikan satu kalimat penting di bawah ini dan ini adalah dasar dari seluruh teologia dan khotbah pada hari ini: ‘Kristus yang tersalib sebagai pemberian Allah merupakan manifestasi tertinggi kasih Allah kepada orang-orang yang berdosa, yang pernah terjadi sejak kekekalan.’ Sekali lagi saudara-saudara: ‘Kristus yang tersalib yang merupakan pemberian Allah bagi kita, merupakan manifestasi tertinggi kasih Allah kepada orang-orang yang berdosa yang pernah terjadi sejak kekekalan.’ Jangan pernah bicara, “Tuhan, kapan Engkau mengasihi aku?” Jangan pernah bicara seperti ini lagi, karena ini adalah yang tertinggi. Dan di dalam kitab Roma, Paulus mengatakan, “Jikalau Allah sudah memberikan Kristus menjadi pembela bagi kita, masakan Dia tidak memberikan yang lain bagi kita?” Bapa mengasihi engkau hai jemaat, dengan memberikan kepada kita anak-Nya yang tunggal di atas kayu salib, dan Anak mengasihi engkau hai jemaat, karena bagi kita, bagi saudara dan saya, Dia rela secara tuntas menjalani jalan salib itu. Oh apakah kita mengerti apa yang dikerjakan oleh sang Anak? Bahkan sejak dari inkarnasi-Nya sampai kepada Getsemani dan kepada salib, berkali-kali langkah sang Anak itu ingin dihentikan. Seluruh musuh-musuh-Nya berusaha untuk menghentikan. Tetapi Dia tidak mau berhenti, Dia tidak mau mundur, Dia berjalan terus menuju kepada salib, karena Dia tahu, tanpa salib, tanpa korban, Dia tahu keturunan-Nya tidak akan berlanjut umurnya. Satu buku yang pernah saya baca itu sangat-sangat luar biasa baik, ‘Jejak Kristus ke atas kayu salib sama seperti seorang yang mau berjalan menuju kepada satu tujuan itu. Tetapi angin itu bertiup untuk melawan dia, hujan itu begitu deras, badai itu begitu mengamuk, oh begitu sulit, tetapi dia jalan, dia jalan, dia jalan, dia melawan semuanya sampai tuntas.’ Seluruh alam, seluruh setan, seluruh orang yang dikasihi-Nya bahkan berusaha untuk menahan Dia, tetapi Dia tidak berhenti. Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran-Nya selain mengasihi Allah dan mengasihi orang-orang pilihan. Kristus yang tersalib sebagai pemberian Allah, merupakan manifestasi tertinggi kasih Allah kepada orang-orang berdosa yang pernah terjadi sejak kekekalan. 

Hal yang ke-3 terakhir.Ketika Alkitab mengatakan kata “cinta”, maka selalu digabungkan dengan permusuhan. Saudara perhatikan Yohanes 3:16,17,18, saudara akan menemukan kata “kasih” itu diberikan bukan dalam konteks netral tetapi di dalam konteks permusuhan. Artinya ini adalah bukan bicara mengenai netral, suka sama suka, seperti saudara ketemu sama orang, “Eh, aku mencintai engkau ya” “Aku juga mencintai engkau,” netral saudara-saudara. Tetapi kata ini adalah kata pribadi Allah memberikan kasih-Nya kepada musuh-Nya, saudara dan saya. Maka ayat 18 menyatakan, ‘Jikalau kita menolak kasih ini, maka permusuhan ini akan tetap terjadi. Permusuhan yang menuju kepada pembalasan atau penghakiman ini akan terlaksana.’ Saudara-saudara, Flavel menyatakan demikian, ‘Hati kita tersayat melihat penderitaan anak-anak kita, terlebih lagi hati sang Bapa ketika melihat Yesus bergumul dengan susah payah. Yesus Kristus rebah ke tanah memohon supaya cawan ini lalu dari pada-Nya dan akhirnya Yesus Kristus, doa-Nya tidak dijawab dan Dia diserahkan pada murka Allah yang tidak terhingga itu.’ Dan ini adalah pertanyaan Flavel, pertanyaannya adalah, ‘Untuk siapa?’ Untuk para malaikat? Bukan. Untuk para tua-tua di Surga? Bukan. Untuk siapa? Untuk para sahabat-Nya? Bukan. Untuk siapa? Untuk musuh-Nya, saudara dan saya itu musuh-Nya. Roma 5:8-10 menyatakan, ‘Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Sebab jikalau kita ketika masih seteru, kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian anak-Nya, lebih-lebih kita yang sekarang telah diperdamaikan pasti akan diselamatkan dari murka Allah.’ Saudara-saudara perhatikan, Kristus mati pada saat kita? kapan? Ketika aku sudah jadi baik? “Kalau aku good boy, Tuhan akan terima aku, kalau aku bad boy, maka Tuhan akan menolak aku. Kalau aku baik-baik, maka Tuhan akan menerima aku.” Apakah seperti itu? No, bukan. Alkitab mengatakan, ‘Aku menerima engkau ketika engkau saat ini masih berdosa, Aku menerima engkau ketika saat ini engkau masih menjadi musuh-Ku.’ Oh ini kasih yang tidak terkatakan. Ini cinta yang tidak terkatakan. Saya berikan notes sedikit di sini, saya tidak akan membahas ini panjang lebar di dalam notes ini. Kalau Tuhan pimpin, maka suatu saat, saya akan bahas panjang lebar di dalam hal ini. Tetapi karena saya harus memberikan notes ini, supaya saudara tidak ada suatu pikiran yang setan itu sekarang tawan. Saudara-saudara, saudara dan saya diterima oleh Allah, diampuni oleh Allah pada saat ini bahkan sebelum saudara untuk menjadi baik. Saudara-saudara, Dia menerima saudara, tetapi saudara akan tahu penerimaan itu akan menjadi anugerah bagi kita untuk kita transform, untuk kita berubah menjadi suci seperti Kristus. Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin terputuskan. Siapa yang menerima kasih Allah, dia juga akan ditransform untuk menjadi serupa dengan Kristus. Kapan-kapan saya akan bicara tentang hal ini, tetapi pada pagi hari ini, saya mau untuk saudara dan saya merenungkan akan salib Kristus Yesus.

Apa yang tidak bisa diberikan oleh dunia ini? Apa yang tidak bisa diberikan oleh para pendiri agama? Apa yang hanya bisa diberikan oleh Yesus Kristus yang merupakan jawaban dari seluruh kehidupan kita? Seluruh elemen-elemen kehidupan yang paling dasar itu diberikan oleh Yesus Kristus, sehingga Dia menjadi mata air kehidupan. Tanpa mengenal Dia, maka tidak ada mata air itu. Tanpa Dia, maka mata air itu menjadi kering. Tanpa Dia, maka hidup kita tidak bernyawa, tidak ada keindahan, tidak ada kesukaan. Di dalam hari ini maka Yesus Kristus dipaku di atas kayu salib, itu menjawab pertanyaan dan pencarian cinta. Saudara tidak mungkin akan dapatkan di Buddha, saudara tidak mungkin mendapatkannya di tempatnya Muhammad, saudara tidak mungkin mendapatkannya di pendiri-pendiri agama, saudara tidak mungkin mendapatkannya di tempatnya filsuf-filsuf yang pandai itu. Saudara tidak mungkin mendapatkannya bahkan di tempat orang yang paling saudara cintai sekalipun. Karena cinta-Nya itu cinta yang begitu mengalir kepada kita, dan cinta-Nya itu cinta kepada kita ketika kita masih menjadi seteru. Ketika dunia ini bicara, ‘Aku mencintai engkau,’ maka cintanya selalu merupakan cinta bersyarat.

Cerita ini sungguh-sungguh terjadi lagi: Ada seorang tentara yang pulang dari medan pertempuran, dan setelah beberapa bulan tidak ada kabar, tiba-tiba tentara ini yang masih muda ini kemudian menelepon daripada papa mamanya. Dan papa mamanya terima telepon itu surprise, dan mereka itu sangat bersukacita karena mendengar suara daripada anaknya, dan anaknya berkata, “Papa, mama, di dalam beberapa minggu ke depan aku akan kembali ke rumah.” Papa mamanya kemudian dengan sukacita, “Ayo cepat anakku, aku sudah tunggu kamu lama,” dan beberapa menit mereka bicara mengenai hal-hal yang penting yang ada di dalam kehidupan mereka yang pernah terjadi, dan kemudian setelah itu, sebelum menutup teleponnya, maka anak itu bicara, “Papa mama, tapi aku mau minta satu hal.” “Apa itu anakku?” “Aku nanti pulang, aku mau bawa teman baikku,” “Oh, ya, boleh, boleh.” “Tapi begini papa mama, teman baikku itu di perang dia kena ranjau, kakinya dua itu putus dan matanya satu itu buta,” dan kemudian papa dan mamanya langsung protes, dia mengatakan: “Dia tinggal berapa lama?” “Oh mungkin beberapa tahun.” Terus kemudian papa mamanya protes, “Anakku, engkau harus tahu, itu tidak mungkin kita bisa merawat terus, habis jam kita, belum lagi biaya, belum lagi apa, semuanya itu tidak mungkin, kita tidak mungkin bisa menerima dia bertahun-tahun.” Lalu kemudian anak itu terdiam dan kemudian telepon ditutup. Dua hari kemudian, orangtua itu dihubungi oleh seorang polisi, dan mengatakan bahwa anaknya itu bunuh diri. Orangtua ini kemudian kaget, karena dia berpikir anaknya telepon dari negara tempat berperang, tetapi ternyata itu hanya kota sebelah. Orangtua itu cepat bergegas ke rumah sakit, dan kemudian ketika bertemu dengan mayat anaknya, mereka melihat seorang laki-laki muda tanpa kaki, dan matanya sudah buta, dan itu adalah anak mereka sendiri. Dunia ini tidak bisa memberikan cinta yang tanpa syarat. Unconditional love itu adalah milik Alkitab, milik Kristen, milik salib, milik Kristus itu sendiri. Dan seperti Cathy yang tidak pernah rest di dalam hidupnya sampai dia mendapatkan, mengerti, mengenal cinta dari mamanya. Hai seluruh jemaat, jiwa yang seperti saya, jiwa berdosa, jiwa kita akan tetap gelisah sampai kita menemukan rest di dalam Dia yang mengasihi kita tanpa syarat. Lihat salib, saudara teringat apa? Saudara ingatlah cinta, maukah engkau menerimanya? Maukah engkau menerimanya sekali lagi pada pagi hari ini? Kiranya kasih Kristus hadir di tengah-tengah kita. Mari kita berdoa.

 

Yoh 1:16, Kis 20:24, Ef 2:7-10
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more