21 April 2024
Kebangkitan Kristus Adalah Kunci Iman Kristen
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Fil 3:10-14

Fil 3:10-14

Kekristenan dibangun di atas pribadi dan karya Kristus. Pribadi Kristus yang Dwi Natur, Allah sepenuhnya dan manusia sepenuhnya tidak mungkin terlepas dari karya-Nya. Dan di dalam karya-Nya dari inkarnasi, mati, bangkit, naik ke sorga, dan di atas tahta Dia mencurahkan Roh Kudus, ini menjadi suatu pekerjaan mata rantai yang kokoh untuk keselamatan kita yang tidak mungkin bisa dilepaskan satu dengan yang lain, dan di antara karya Kristus, maka Alkitab, rasul-rasul, mengajarkan kematian dan kebangkitan Kristus adalah fokus iman kita. Begitu pentingnya peristiwa ini sampai-sampai Paulus menyatakan di dalam ayat ini, “Tujuan hidupku adalah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan bersekutu bersama-sama di dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia di dalam kematian-Nya, supaya pada akhirnya aku beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”Ini adalah satu tujuan di dalam seluruh kehidupan Paulus. Bukan membuat gereja, bukan belajar teologia, bukan mengabarkan Injil, bukan membangun sebuah gedung gereja, bukan membangun jemaat, bukan mati martir. Semuanya tadi yang saya katakan, seluruhnya dikerjakan oleh Paulus, tetapi biarlah kita boleh tahu apa yang menjadi nomena dan bukan fenomena. Apa yang sesungguhnya membuat dia begitu perkasa di dalam seluruh tubuhnya yang sangat lemah. Paulus, apa yang engkau inginkan? Apa tujuan hidupmu? Maka di dalam bahasa aslinya, my aim, saya punya tujuan adalah aku mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan Persekutuan di dalam penderitaan-Nya. Aku menjadi serupa dengan kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Dan kemudian, ‘titik’? Tidak! Dia mengatakan aku berjuang untuk itu, aku mengejar itu. Aku tidak menganggap bahwa aku sudah menemukannya, aku berjuang untuk itu. Aku melupakan segala sesuatu yang di belakangku, aku menetapkan tujuan dan aku berjuang untuk tujuan itu. Maka prinsipnya ada di sini saudara-saudara, orang-orang kudus sepanjang masa mengerti mata air kehidupan dia adalah kalau dia bisa menimba lebih dalam, lebih dalam lagi akan kematian dan kebangkitan Kristus. Kalau Roh Kudus bekerja membuat kematian dan kebangkitan Kristus itu kita lebih mengenal, lebih mengerti, lebih dalam apa artinya, di situ maka kekuatan rohani itu muncul. Saudara-saudara, siapa yang tidak tahu apalagi kalau kita adalah orang Kristen, Yesus mati, Yesus bangkit, semua juga tahu. Kemudian saudara pikir, ya sudah tidak usah pikir lagi. Kalau seperti itu, maka tidak perlu Alkitab ini ditulis panjang lebar. Saudara-saudara, Alkitab ini ditulis panjang lebar adalah setiap kali kita membaca dan setiap kali Roh Kudus ini mengiluminasi, saudara dan saya akan dibawa makin lama makin dalam mengerti apa itu kebangkitan dan penderitaan Kristus. Yang membedakan kita dengan Paulus, Paulus memiliki satu ketetapan hati, “Aku akan mengejar, mengejar dan mengejar!” Saudara-saudara, itu yang menumbuhkan kerohaniannya, itu yang membuat dia makin dewasa iman, itu yang membuat dia bisa memiliki kuasa untuk menaklukkan dosa dan juga untuk bersaksi. Saudara-saudara, kita harus terus memikirkan kematian dan kebangkitan Kristus itu makin lama makin dalam dalam seluruh aspek.

Pada pagi hari ini saya akan membawa saudara-saudara memikirkan mengenai kebangkitan Yesus itu pentingnya bagi iman kristiani. Apa artinya kebangkitan Kristus bagi aku, imanku? Apa sesungguhnya yang Tuhan berikan kepadaku melalui kebangkitan-Nya? Saudara-saudara, kebangkitan Yesus Kristus adalah kunci iman Kristen. Mengapa? Pagi ini kalau Tuhan pimpin maka kita akan bicara mengenai 5 hal ini. 

Yang pertama adalah, karena sesuai dengan janji Kristus, Yesus bangkit dari kematian-Nya. Oleh karena itu kita dapat yakin bahwa Dia mewujudkan seluruh janji dan perkataan-Nya kepada kita. Saudara-saudara, kita harus mengerti bahwa Yesus adalah pribadi yang tidak pernah tergantikan di dalam dunia ini. Tidak ada duanya. Dia bukan saja pendiri agama, Dia bukan saja nabi, Dia bukan saja seorang revolutionnaire, Dia adalah pribadi ke-2 dari Tritunggal yang turun ke dunia, yang mengenakan tubuh, yang mati dan bangkit untuk menebus manusia dari kebinasaan. Saudara perhatikan kalimat di bawah ini: tidak ada satu manusia pun yang pernah bisa memprediksi dengan cara bagaimana dia mati dan menyatakan bangkit pada hari ke-3 dan sungguh-sungguh tergenapi. Kebangkitan itu menyatakan, bukti bahwa apa yang dibicarakan itu benar. Kebangkitan itu menyatakan bahwa Dia itu jujur, Dia bukan nabi palsu. Kebangkitan itu membuktikan bahwa Dia bisa dipercaya. Kebangkitan itu membuktikan bahwa Dia adalah pribadi yang benar. Kebangkitan itu membuktikan bahwa kalimat-kalimat yang diucapkan dengan bibir mulut-Nya itu bisa kita pegang menjadi sandaran hidup kita. Dari satu peristiwa kebangkitan itu, di mana kebangkitan itu sendiri Dia sudah katakan sebelumnya, dan Dia membuktikan perkataan-Nya benar, dari titik itu saudara lihat kembali seluruh kalimat-kalimat-Nya dalam hidup kita. Kalaupun itu belum terjadi, pasti akan terjadi. Bahkan Dia mengatakan satu claim seperti ini, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi engkau akan lihat perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Oh, ini kalimat yang luar biasa berani. Kita bicara sehari berapa puluh ribu kalimat, saudara. Yesus di dalam hidup 33 ½ tahun itu, Dia bicara berapa ribu kalimat? Jutaan. Satu pun tidak akan ada yang gagal. Oh Pak Agus, kita bicara seperti itu kan harap. Pak Agus, anda bicara seperti itu kan mudah-mudahan. Pak Agus, anda bicara seperti itu kan menduga. Tidak! Karena Dia bicara bahwa Dia mati dan bangkit dan Dia bangkit! Saya tanya sekarang, apakah ada pendiri agama yang seperti ini? Apakah ada satu orang yang sangat baik, filsuf di dalam dunia yang berpikir sangat-sangat pelik pun yang bisa mengatakan ini dan bisa membuktikan kalimatnya pasti tidak ada satu pun yang salah? Kematian dan kebangkitan Yesus menyatakan bahwa apa yang dinyatakan itu tidak berdusta, itu sungguh-sungguh terjadi.

Hal yang ke-2. Kebangkitan Yesus di dalam tubuh menunjukkan kepada kita bahwa Kristus itu penguasa Kerajaan Allah yang kekal. Sekali lagi, kebangkitan Yesus di dalam tubuh menyatakan bahwa Dialah penguasa Kerajaan Allah yang kekal. Mari kita melihat Roma 1:4. Ini adalah salah satu ayat Alkitab yang menjelaskan pentingnya kebangkitan tubuh Yesus dan implikasinya di dalam pemerintahan Kristus akan Kerajaan Allah yang kekal itu ada di tempat ini. Roma 1:4. Saudara bisa melihat bahwa kalimat ini menyatakan kebangkitan Yesus dari kematian itu menunjukkan kuasa dan otoritas-Nya sebagai Anak Allah. Ini menandakan kemenangan-Nya atas dosa dan kematian dan mengukuhkan Dia sebagai penguasa kerajaan Allah yang kekal. Saudara-saudara, ayat yang lain yang dengan prinsip teologi yang sama, 1 Korintus 15:20-28. Saya akan bacakan seluruhnya. Saudara-saudara, Yesus bangkit dengan tubuh-Nya bukan tidak ada artinya. Maka Paulus menyatakan kebangkitan Yesus dengan tubuh-Nya menyatakan sebagai manusia yang sejati dan Allah sejati, Dia memerintah Kerajaan Allah di muka bumi ini. Ini menggambarkan pemerintahan Yesus yang berkelanjutan sampai seluruh musuh-musuhnya dikalahkan, termasuk kematian itu sendiri dan menegaskan otoritas dan kemenangan tertinggi-Nya. Yesus bangkit dari kematian dengan tubuh yang baru dan Allah Bapa di sorga menyatakan Dia adalah pemerintah itu. 

Saudara, ada ayat yang unik. Mari kita melihat Matius 28. Kita tahu semua Matius pasal 28:18-20 adalah bicara berkenaan dengan amanat agung. Saudara-saudara perhatikan ayat 16: ‘Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.’ Ayat 17 dan 18: ‘Ketika melihat Dia, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”’ Saudara dan saya menjadi orang Kristen zaman sekarang, saudara dan saya menyembah Kristus, saudara pasti tidak ragu-ragu bukan? Tetapi saudara perhatikan ada ayat yang aneh di sini, “Kenapa murid-murid-Nya itu sebagian ragu-ragu?” Perhatikan baik-baik. Orang Yahudi diajarkan tidak boleh menyembah allah yang lain selain Allah di sorga, apalagi menyembah manusia. Mereka melayani bersama Yesus, okay. Mereka menjadikan Yesus guru, baik, tetapi mereka menyembah hanya satu yaitu Allah di sorga. Mereka bisa melihat Yesus menyembuhkan orang, membereskan angin ribut, mereka terpesona, mereka mengatakan Tuhan. Tuhan itu artinya tuan, tetapi bicara mengenai menyembah itu adalah Allah. Sebagian dari mereka itu ragu-ragu. 

Saudara, ini adalah masalah teologis yang besar bahkan sampai sekarang. Kalau saudara-saudara bicara berkenaan dengan orang-orang di luar kekristenan, mereka selalu akan bertanya kepada kita, “Mengapa orang Kristen itu menduakan Tuhan? Pertama adalah mengapa engkau mengatakan Yesus itu Tuhan? Seandainya engkau mengatakan Yesus Tuhan, tetapi kemudian juga engkau mengatakan Yesus manusia, saya lebih tanya lagi kenapa engkau menyembah manusia?” Saudara-saudara ini menjadi masalah teologis yang luar biasa besar. Bahkan kalau kita orang Kristen, kita mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi ke-2 Tritunggal dan kemudian kita menyembah, kita pasti akan okay, tetapi kemudian saudara-saudara tahu bahwa di sorga kita menyembah Yesus yang adalah Allah yang sejati sekaligus manusia yang sejati. Tetapi inilah yang Allah nyatakan melalui Alkitab: Yesus Kristus yang adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Dia ditentukan sebagai penguasa kerajaan Allah yang kekal. 

Hal yang ke-3adalah kita dapat yakin akan kebangkitan kita karena Kristus telah dibangkitkan. Kebangkitan Yesus di dalam sejarah membuat kita bisa mendapatkan satu kepastian bahwa adanya kehidupan setelah kematian. Saudara, sekali lagi kita sudah terbiasa dengan seluruh kalimat Kristen, kita tidak rasa ini menjadi suatu yang spesial. Tetapi sesungguhnya kalau saudara bayangkan sekarang, kalau Yesus tidak bangkit, apa yang terjadi setelah kematian tidak ada yang bisa memastikan. Ya, saudara bisa mengajarkan doktrin tentang hal itu, saudara bisa mengajarkan teori yang hebat tentang hal itu, tetapi tidak ada bukti. Saudara-saudara, bahkan sebelum Yesus bangkit, begitu banyak teori, begitu banyak spekulasi, banyak perdebatan, tetapi tetap tidak ada bukti bahwa ada kehidupan setelah kematian. Tetapi kebangkitan Yesus menyatakan kepastian bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Kematian bukan akhir, kematian adalah pintu masuk di dalam kekekalan, dan yang mana di dalam kekekalan itu kita menerima penghakiman, dan apakah dari penghakiman itu kita menerima kehidupan kekal atau kematian kekal. Saudara mari kita melihat Kisah Para Rasul 17:31. Saudara bisa melihat bahwa Allah memberikan kepastian akan penghakiman itu dengan bukti kebangkitan Yesus. Kisah Para Rasul 17:31, “Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Tuhan menyatakan, “Kau lihat kebangkitan Yesus. Hai seluruh dunia, kau lihat kebangkitan Yesus. Ini adalah jaminan-Ku. Perhatikan baik-baik. Ini adalah bukti-Ku bahwa pasti akan ada penghakiman. Hidupmu tidak akan berakhir di dalam kematian. Aku akan membangkitkanmu kembali dan Aku akan menghakimi engkau. Dan buktinya adalah Aku membangkitkan Yesus.” 

Hal yang ke-4. Kebangkitan Yesus menyatakan kuasa yang membangkitkan Yesus itu tersedia bagi kita untuk menghidupkan diri kita, tubuh kita yang mati rohani itu, sekarang menjadi hidup dan masuk di dalam pengudusan. Sekali lagi mari kita membaca Roma 8:11 yang beberapa minggu lalu saya eksposisi. Di sini dikatakan, “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Sekali lagi, ini adalah kalimat bukan bicara berkenaan dengan kebangkitan tubuh ketika setelah kematian, tetapi ini adalah bicara bagaimana Roh Kudus akan membuat seluruh tubuh kita yang sebelumnya tanpa Kristus selalu mengerjakan pekerjaan kegelapan, sekarang menghidupkan kita untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan terang. Dengan kata lain, kalimat ini menyatakan kita diberikan kuasa untuk hidup kudus. 

Kebangkitan Yesus itu membuat kita di dalam Dia memiliki Roh yang sama. Kebangkitan Yesus itu menjadi titik awal Tuhan memberikan Roh-Nya masuk dalam hati orang-orang yang dipilih-Nya. Kalau Yesus tidak bangkit maka dunia akan makin lama makin gelap, dunia makin lama makin jahat. Tetapi Kristus itu bangkit, Dia memberikan kuasa kebangkitan kepada para pengikut-Nya, membuat suatu dunia di tengah-tengah arus kegelapan itu ada sinar yang makin lama makin bersinar. Saudara perhatikan kalimat di bawah ini: di dalam Kristus kita akan makin kudus, di luar Kristus maka orang itu akan makin jahat. Ada dimana? Wahyu 22:11. Mari kita lihat Wahyu 22:11, mari kita membaca bersama-sama: “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!” Saudara-saudara, ini bukan sesuatu statis tetapi sesuatu progressive

Yang terakhir ke-5. Kebangkitan Yesus Kristus adalah dasar kesaksian gereja kita kepada dunia. Seorang theolog dari Scotland, Alexander Maclaren menyatakan demikian, “Anda tidak dapat membangun gereja dari Kristus yang mati. Anda tidak dapat membangun gereja dari rumor gosip dan cerita-cerita kebangkitan. Anda hanya dapat membangun gereja dari kenyataan bahwa Dia itu bangkit.” Penampakan Yesus yang bangkit secara fisik adalah keperluan mutlak bagi iman dan kesaksian kita. Iman yang sejati harus berlandaskan kepada fakta, dan fakta sejarah yang sejati itu menyatakan dan membuktikan bahwa Yesus Kristus bangkit. Dan saksi itu bukan cuma satu. Yesus sepanjang 40 hari menyatakan kebangkitan-Nya. Di dalam 1 Korintus 15:14 Paulus menyatakan demikian: “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” Saudara perhatikan baik-baik satu kalimat penting di bawah ini: Gereja meletakkan tumpuan kesaksiannya pada pondasi tunggal yaitu kebangkitan. Kenapa engkau memberitakan Injil Pak Agus? Karena Kristus bangkit. Kenapa engkau mau berjuang habis-habisan Pak Agus? Karena Kristus itu bangkit. 

Saya tidak sedang mengabarkan seorang pendiri agama yang baik yang mati, saya mengabarkan satu pribadi yang tidak ada duanya di dunia ini. Tidak saja baik, tidak saja tulus, tidak saja berani, tidak saja suci, tidak saja benar, tetapi Dia menaklukkan dosa dan setan. Siapa yang seperti Dia? Siapa orang yang pernah hidup seperti Dia? Siapa malaikat seperti Dia? Siapa tua-tua di surga seperti Dia? Dia bangkit! Itulah dasar kenapa gereja itu berdiri. Dan itu dasar saudara dan saya harus mengabarkan ini ke seluruh dunia. Kebangkitan Kristus. Itulah sebabnya maka Paulus menyatakan sekali lagi. Engkau ingin apa Paulus? Memberitakan injil? Iya, tapi bukan itu. Engkau ingin apa, membangun gereja? Iya, tapi bukan itu. Jadi misionaris? Iya, tapi bukan itu. Jadi martir? Kalau Tuhan kehendaki, tapi bukan itu. Lalu kemudian kamu ingin apa? Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dalam kematian-Nya, supaya akhirnya aku beroleh kebangkitan dari antara orang mati dan aku mengejarnya. Apa yang engkau dan saya kejar? Kiranya kita boleh mengenal Dia. Kiranya kita boleh mengalami kuasa kebangkitan-Nya. Mari kita berdoa.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

14 April 2024
Kebangkitan Kristus dan Kuasa Mematikan Dosa (2)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Luk 24:13-35

Luk 24:13-35

Peristiwa yang ditulis Lukas ini adalah peristiwa yang signifikan indah dan menakutkan. Signifikan karena Lukas adalah seorang dokter, dia adalah seorang scientist. Dia menulis kisah ini bukan saja untuk membuat kita beriman, tetapi dia mau melihat fakta sesungguhnya yang menjadi dasar imannya. Saudara-saudara, iman yang sejati harus berdasar pada fakta kehidupan yang real. Iman bukan berdasarkan pada harapan yang kosong atau imajinasi yang liar. Ketika di dalam iman ada harapan, tetapi harapan itu harus real adanya. Ini adalah sesuatu yang penting. Ini adalah sesuatu yang signifikan. Ketika Lukas menuliskan hal ini, dia menggabungkan antara peristiwa kebangkitan Yesus dengan saksi. Dia mau menyodorkan kepada kita, ini adalah sesuatu fakta. Ini adalah sesuatu yang real terjadi. Ketika engkau dan saya mempercayai Yesus, engkau bukan mempercayai sesuatu peristiwa yang kosong. Engkau tidak berharap kepada sesuatu yang ‘mudah-mudahan,’ tetapi ini adalah sesuatu pengharapan berjangkar kepada sejarah yang mutlak, benar-benar terjadi. 

Di dalam iman, kita mempercayai sesuatu. Di dalam iman, kita bersandar kepada sesuatu. Tetapi apakah kita mempercayai sesuatu itu real atau tidak? Apakah kita bersandar kepada sesuatu yang layak kita sandari atau tidak? Maka di dalam kekristenan, iman kita bersandar kepada sesuatu realitas fakta sejarah. Yesus sungguh-sungguh bangkit! Yesus sungguh-sungguh bangkit dan ada saksinya. Dan khususnya di dalam agama Yahudi, maka kitab Ulangan, Tuhan sudah menyatakan melalui Musa kepada orang Israel, “Engkau jangan percaya kepada kesaksian yang hanya satu orang.” Oh, ini mungkin tidak terlalu populer buat kita, tidak terlalu penting bagi kita. Tapi kalau saudara dan saya masuk ke dalam persidangan; ini adalah sesuatu yang mutlak, absolut, mutlak perlu. Tidak bisa kebenaran itu dibangun atas satu saksi, maka saudara melihat di dalam Alkitab kita, Lukas khususnya, maka dia menekankan mengenai kesaksian-kesaksian orang yang berjumpa dengan Yesus yang bangkit. Sekali lagi, iman yang sejati tidak bisa bersandar kepada pengharapan yang palsu. Tidak bisa bersandar kepada sesuatu yang bukan kenyataan. Harus sungguh-sungguh real

Ada sungguh-sungguh satu cerita, dan cerita ini cerita yang sangat menggelikan sebenarnya: Ada satu gedung, dan gedung itu adalah gedung yang indah dikunjungi banyak turis, di London, dan kemudian gedung itu kebakaran. Pada saat itu tidak ada fire extinguisher yang ada di atas gedung tersebut, maka gedung tersebut kemudian setengahnya roboh. Gedung itu kemudian dibangun kembali, sekarang dengan seluruh sistem pemadam kebakaran; ada sprinkle-sprinkle di atas itu dan di bawah yang siap untuk menyemprotkan air seandainya ada kebakaran. Gedung itu dibuka kembali untuk turis dan kemudian tour guides mengatakan kepada turis-turis tentang keindahan gedung itu dan bagaimana sistem keamanan terhadap kebakaran itu sekarang ada. Gedung itu beroperasi 1 tahun, 2 tahun, sampai 10 tahun, dengan terus menerus mereka menyatakan keindahan gedung dan bagaimana sistem anti kebakaran itu ada. Lalu pemilik gedung melakukan pengecekan terhadap seluruh sistem kebakaran, ternyata gedung itu setelah dibangun, tidak ada saluran air ke tempatnya nozzles setiap sprinkle itu, 10 tahun. Itu adalah iman bukan berdasar kepada fakta. 

Tetapi kekristenan tidak. Kekristenan itu berjangkar kepada kematian Yesus yang real dan kebangkitannya yang real. Injil Lukas ini signifikan di dalam tulisan ini, menyatakan bahwa iman kita itu bukan iman yang sia-sia. Tetapi ini bukan saja signifikan; tulisan ini begitu indah dan keindahannya ada terjadi sepanjang jalan Emaus, dari Yerusalem ke Emaus; 12 km ini. Saudara-saudara, Alkitab mengatakan di dalam ayat 13, ‘ada hari itu juga dua orang dari murid-muridnya, Yesus pergi ke sebuah kampung yang letaknya 11 atau 12 km dari Yerusalem.’ ‘Pada hari itu juga,’ itu hari apa? Itu adalah tepat hari kebangkitan Yesus. Pagi-pagi benar, maka Yesus bangkit. Di saat pagi hari di mana Yesus bangkit, maka Dia itu mengunjungi beberapa orang ini. Pertama, dia mengunjungi Maria Magdalena. Ke-2, Dia mengunjungi beberapa wanita yang pergi ke kubur itu. Dan juga pada saat ini, di sini, maka Dia mengunjungi 2 orang ini: Kleopas dan satu rekannya. Saudara-saudara, Yesus bangkit pada waktu itu adalah suatu kebangkitan yang tersembunyi. Oh, apakah yang sebenarnya dipikirkan oleh Tuhan kita, saya sungguh-sungguh tidak tahu. Setiap kali saya membaca apa yang dilakukan-Nya pada waktu kebangkitan-Nya, saya menyadari bahwa Dia itu terlalu rendah hati. Kenapa Yesus bangkit pagi-pagi dan tidak memberitahukannya kepada banyak orang? Sedangkan ketika Dia tersalib, Dia membiarkan diri-Nya dipermalukan di depan ribuan orang. Kenapa Kristus tidak menunjukkan kekuatan kebangkitan-Nya di depan orang-orang? Kenapa Dia bertindak diam-diam, secara tersembunyi, tidak banyak bicara dan hanya mengunjungi beberapa orang saja? Kerendahan hati-Nya itu indah tetapi juga menakutkan. Kerendahan hati-Nya itu menyisihkan semua orang-orang yang tidak didatangi-Nya. Saudara-saudara, perhatikan baik-baik; kalau Dia mau mengunjungi seseorang, orang itu pasti bertobat. Pasti bertobat! Kalau dia mau datang kepada Pilatus, Pilatus pasti bertobat. Dia mau mendatangi Kayafas, Hanas, orang yang paling keras sekalipun, kalau Dia mau datang di depannya, pasti mereka bertobat. Tetapi tidak, Dia tidak mau mengunjungi mereka. Dan kalau Dia mempertontonkan kebangkitan-Nya di depan ribuan orang, ribuan orang juga akan pasti bertobat. Tetapi Dia menyembunyikan diri-Nya, Dia begitu rendah hati. Itulah sebabnya saya mengatakan kepada saudara-saudara; kerendahan hati-Nya begitu indah tetapi sangat menakutkan. 

Sepanjang 40 hari di bumi sebelum kenaikan-Nya. Alkitab mengatakan; Dia hanya menjumpai lebih dari 500 orang saja. Dia tidak memberikan kesempatan kepada Pilatus, Hanas, Kayafas, orang-orang Israel yang mengejek-Nya untuk bertobat. Saudara-saudara mari kita kembali memikirkan, apa artinya anugerah? Apa artinya itu Yesus mencintai? Sekali lagi, kita sering salah mengerti kata ‘anugerah’ itu dan ‘cinta’ itu. Kita berpikir bahwa Allah yang mengasihi dan Allah yang beranugerah itu, Dia menyamaratakan seluruh manusia; sama sekali tidak. Dia memilih orang-orang yang ingin dibuat-Nya bertobat, dan pemilihan-Nya itu adalah dengan kerendahan hati. Oh, ini sesuatu yang luar biasa penting dan luar biasa menakutkan, tetapi Dia menunjukkan kasih sayangnya kepada dua orang murid-Nya di jalan Emaus. Dua orang murid-Nya ini tidak tergabung di dalam sebelas murid-Nya. Juga mungkin tidak tergabung di dalam tujuh puluh orang yang pernah Dia kirim. Pada saat itu kedua murid-Nya ini meninggalkan Yerusalem dengan sedih dan dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang berkecamuk berkenaan dengan apa yang terjadi sesungguhnya dengan Yesus. Pengharapan mereka sudah pudar, seperti sebuah kapal yang karam. Dan mungkin saja mereka terpecah dari murid-murid yang lain. Kita tahu bukan saudara-saudara, kalau di dalam sebuah persekutuan, tujuannya itu sudah gagal, biasanya maka mereka saling menyalahkan satu dengan yang lain. Mereka biasanya sudah tawar satu dengan yang lain. Mereka disatukan dengan pengharapan, dan pengharapan itu adalah Yesus, adalah sang Mesias tetapi sekarang Mesias itu sudah dibunuh. Saya yakin, satu dengan yang lain, saling beradu, dan mereka saling menyalahkan. Adalah mudah untuk mencari kesalahan ketika semua berjalan tidak baik. Sangat mungkin dua orang ini meninggalkan Yerusalem untuk satu keperluan, tetapi mereka juga tidak ada lagi attachment dengan murid-murid yang lain. 

Saudara-saudara, ketika mereka berjalan dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang sedang terjadi; yang mereka tidak bisa menggabungkan; seperti puzzle yang terpisah. Saudara-saudara, tanpa sepengetahuan mereka, Yesus mendekati mereka dan berjalan bersama mereka. Ketika saya membaca tulisan ini, hati saya tersentuh. Yesus tanpa sepengetahuan mereka, Yesus mendekati mereka dan berjalan bersama dengan mereka dan masuk di dalam conversation mereka. Oh, lihatlah kelembutan hati Yesus yang mencari domba-domba-Nya, satu persatu yang hilang ketika iman mereka itu pudar. Saudara-saudara, tapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. Saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang begitu nyata di dalam perikop ini. Saudara-saudara perhatikan baik-baik; apa yang Yesus itu kerjakan? Apa artinya anugerah? Apa artinya cinta? Saudara-saudara perhatikan ayat 16. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, dan kemudian Yesus itu masuk dan Dia mengerjakan anugerah-Nya satu demi satu (nanti kita lihat). Mari kita melihat ayat yang ke-31. Hasil akhir ada pada ayat yang ke-31. Saudara perhatikan; tadinya mata mereka tidak bisa melihat, dan kemudian Yesus masuk, dan Yesus berinteraksi. Yesus menyatakan cinta dan juga belas kasihan-Nya. Yesus memberikan apa yang disebut sebagai anugerah. Dan kemudian saudara bisa melihat ayat 31, apa hasil akhirnya? yaitu mata mereka terbuka. 

Saudara-saudara, ini adalah sesuatu hal yang luar biasa penting. Sekali lagi, ketika saudara dan saya bicara berkenaan dengan kasih karunia, anugerah, cinta Allah, saya mau tanya apa yang ada di dalam pikiran kita? Uang, kelancaran, kemakmuran, kesehatan? Tapi Alkitab kita menyatakan, salah satu bentuk anugerah yang besar adalah kalau mata hati kita itu bisa lihat. Mata hati kita bisa lihat. Untuk bisa terjadi seperti itu, maka diperlukan pekerjaan Allah Tritunggal. Masalah dua murid ini bukan masalah intelektual saudara. Masalahnya itu adalah masalah rohani. Mereka membaca Alkitab Perjanjian Lama, tetapi mereka kehilangan titik berat, centre of the gospel itu apa. Dan (nanti saudara-saudara melihat di dalam ayat yang ke-25) maka Yesus mengatakan, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” Saudara lihat bagaimana cinta Yesus itu sekarang dinyatakan di dalam ekspresi luar. Saudara-saudara, dengan apa? Bukan dengan pujian. Dengan apa? Dengan hardikan, dengan teguran. Saudara-saudara, ada satu prinsip di sini: Orang yang dikasihi oleh Tuhan akan ditegur oleh Tuhan, tetapi orang-orang fasik akan dibiarkan oleh Tuhan. Saudara-saudara apakah kita tidak takut dengan hal-hal prinsip ini? Kalau saudara melihat ada satu orang yang jahat, dan dibiarkan untuk bicara apapun saja sampai hari kematiannya dan membunyikan seluruh kebohongannya kepada publik dan Tuhan membiarkannya, tidak ada hajaran apapun saja; saudara-saudara, orang itu persis seperti Hanas, Kayafas, Pilatus dan semua orang-orang Israel yang memakukan Yesus. Orang-orang ini adalah orang-orang yang dibiarkan Tuhan dan sama sekali tidak dipukul oleh Tuhan. Tetapi dua murid Yesus ini dihardik oleh Tuhan, dikatakan: “Kamu itu bodoh, engkau lambat percaya.” 

Saudara-saudara, ada satu bagian Alkitab di dalam Mazmur, saya akan membawa saudara-saudara untuk mengerti satu ayat ini, ayat yang penting untuk kerohanian kita; Mazmur 50:16-17. Saudara lihat pentingnya hardikan, dan bagaimana respon seseorang terhadap hardikan itu menentukan kerohaniannya sesungguhnya. Saudara-saudara, ayat 16-17 bersama-sama: ‘Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: “Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran dan mengesampingkan Firman-Ku.”’ Saudara-saudara, orang fasik bukanlah orang yang tidak tahu Alkitab. Orang fasik bukanlah orang yang tidak bisa mengajar. Tetapi di sini dikatakan: orang fasik adalah orang yang menyebut-nyebut Firman Tuhan, tetapi tidak pernah menerima untuk setiap kali hardikan itu datang kepada dirinya. Saudara perhatikan bahwa dua murid ini tidak mengetahui siapa sesungguhnya Yesus. Yesus adalah orang asing bagi dia. Seorang asing yang tiba-tiba masuk berintervensi dengan kalimat-kalimat mereka, dan kemudian menghardik mereka. Saudara, saya menyadari satu hal; mereka memiliki kerendahan hati. Sedikit saja mereka sombong mereka akan bilang, “Kamu itu siapa? Siapa kamu? Kita kenal saja tidak pernah, kok kamu bilang aku bodoh.” Tetapi orang benar akan menerima seluruh penghakiman itu. Orang benar akan menerima seluruh hardikan itu. Kita sering sekali mengatakan: Jangan menghakimi, tetapi saudara melihat di dalam Alkitab, orang-orang benar selalu respon terhadap penghakiman itu; selalu menerima. Saudara-saudara, lihatlah apa yang ada di dalam Daud, lihatlah apa yang ada di dalam Musa, lihatlah kepada orang-orang seperti 2 murid ini. Saudara akan melihat bahwa mereka menerima seluruh penghakiman itu, saat ini, dan sifat yang menerima itulah, malah sifat itu yang menyatakan mereka adalah orang benar. 

Yesus mendekati mereka, dan mengikut percakapan mereka, dan Yesus tanya, “Apa yang kamu bicarakan?” Lalu mereka berhenti dan mukanya muram. Saya yakin karena dua hal ini: Pertama, karena mereka sedih, kedua, karena mereka juga sedih dengan pertanyaan Yesus. Kleopas kemudian bertanya, “Kamu ini satu-satunya orang asing yang tidak tahu apa yang terjadi ya?” Kalau saudara melihat di dalam bahasa Yunaninya, maka kata ini memakai nada bicara yang menyindir, setengah menghina, “Kamu tidak tahu?” Karena apa yang terjadi pada Yesus Kristus di salib itu adalah pada hari Paskah. Seluruh orang Yahudi dari berbagai macam daerah datang. Tapi sekali lagi bahwa; Tuhan kita itu adalah Tuhan yang rendah hati dan Dia memiliki selera humor. Bukannya Dia menjawab, Dia malah tanya, “Oh, hal apa ya?” Lalu mereka menjawab, “Tentang Yesus seorang Nazaret, Dia nabi yang sangat berkuasa, Dia melayani di depan Allah dan manusia (Itu artinya mereka menghormat daripada Yesus Kristus), namun para pemimpin agama kami mengkhianati Dia, menyerahkan Dia untuk dihukum mati. Mereka menyalibkan Dia, padahal kami mengharapkan Dia menjadi pembebas bangsa kami.” 

Saudara-saudara, kalimat ini sebenarnya adalah kalimat yang sangat strong, sangat kuat. Kita bukan orang yang memiliki pengharapan. Ya kalau ditanya, setiap orang pasti punya pengharapan. Saudara, coba sebutkan satu pengharapan saudara di dalam hidup yang berpuluh-puluh tahun ini, dan seberapa kuat pengharapan itu. Ada orang: “Kamu harapannya apa?” “Supaya anakku berhasil, anakku jadi orang kaya (atau apa saudara-saudara)” “Apa pengharapanmu?” Ada orang di kampung, “Supaya saya bisa pergi ke tempatnya Amerika.” Saudara-saudara, maka orang tersebut pasti punya pengharapan. Tetapi orang Israel, saudara-saudara; mereka adalah orang yang mati hidup dengan satu pengharapan yaitu: ‘Mesias datanglah!’ Kalau saudara-saudara melihat sekarang Israel ini terlibat perang, ndak ada habis-habisnya. Tadi pagi kita mendengarkan news, bahwa Iran sekarang meluncurkan rudalnya ke tempatnya Israel. Saudara-saudara, ini akan menjadi perang yang besar sekali mungkin. Israel dari dulu sampai sekarang isinya perang terus. Tetapi mereka menyadari, mereka tidak akan bisa menang tuntas, sampai Mesias itu datang. Maka mereka terus mengharapkan Mesias kapan datang karena di dalam Perjanjian Lama, Mesias itu kalau datang akan menghancurkan musuh-musuh Israel di kaki-Nya. Pada zaman murid-murid ini hidup, sekali lagi mereka berada di dalam penjajahan Romawi. Saudara-saudara, ini adalah sesuatu hal yang luar biasa menyakitkan terus-menerus, bertahun-tahun, puluhan tahun, ratusan tahun di dalam orang Israel dan mereka mengharapkan kedatangan Mesias dan mereka kira itu adalah Yesus Kristus. Kita sendiri mengatakan Yesus Kristus, Kristus artinya “yang diurapi”, saudara-saudara, itu artinya adalah seorang yang akan membebaskan umatnya, tetapi mereka mengharapkan Yesus menjadi Kristus, tetapi ternyata Yesus itu mati maka kalimat ini adalah bukan dikatakan dengan enteng, kalimat ini adalah kalimat yang dikatakan dengan hancur hati. Mereka menceritakan kepada Yesus berkenaan dengan Yesus yang mati, tetapi kemudian perempuan-perempuan itu yang datang ke kubur membuat mereka bingung karena mayat Yesus tidak ada lagi di situ. Yesus sudah mati, tetapi kubur-Nya kosong; dan ini menjadi suatu teka-teki, ini menjadi puzzle yang tidak bisa mereka hubungkan satu dengan yang lain. Oh, kalau saudara-saudara baik-baik mengerti apa yang terjadi, dan bagaimana keadaan ini hanya di dalam beberapa jam saja, dan apa yang menjadi latar belakang mereka, saudara akan melihat bahwa orang-orang ini adalah orang-orang yang sungguh sulit untuk berdiri dengan kokoh, mereka sangat-sangat kebingungan untuk apa yang terjadi. Tetapi yang jelas, kebangkitan tidak ada dalam pikiran mereka. 

Saudara-saudara, saya akan memberikan note di sini. Ada orang-orang di luar kekristenan yang mengatakan bahwa kebangkitan Yesus sebenarnya tidak pernah terjadi. Mereka mengatakan bahwa kebangkitan Yesus adalah cerita karangan dari murid-murid abad pertama. Saya mau katakan pada saudara-saudara, Alkitab mencatat, bahkan murid-murid pertama-Nya pun saja tidak percaya kebangkitan Yesus. Sekali lagi, murid-murid pertama-Nya saja tidak ada yang percaya bahwa Yesus itu bangkit. Sekarang bayangkan bagaimana puluhan murid pertama, belasan murid pertama yang tidak mempercayai kebangkitan itu bersekongkol membuat suatu teori bahwa gurunya Yesus itu bangkit dan mempertahankan teori itu sampai mati satu per satu dibunuh. Dan kedua murid ini sama dengan murid yang lain, sampai kapan pun mereka tidak bisa menghubungkan penderitaan dan kemuliaan Kristus. Melalui kalimat-kalimatnya, saudara akan menemukan bahwa mereka tidak bisa melihat penolakan, penghinaan dan kematian Yesus sebagai bagian integral dari karya keselamatan Allah yang mulia. Teologia penderitaan dan teologia kemuliaan itu dua kutub yang terpisah, dan tidak mungkin bergabung. Kalau menderita, maka tidak mungkin mulia. Kalau seseorang mulia, maka tidak mungkin menderita. Tetapi kematian dan kebangkitan Yesus mengajarkan bahwa kemuliaan itu ada setelah penderitaan. Penderitaan akan mendahului kemuliaan. Kematian dan kebangkitan Yesus mengajarkan kehidupan yang sejati itu dimulai ketika seseorang itu mati. Ini seluruhnya tersembunyi bagi mereka. Dan mungkin kalimat ini tidak tersembunyi bagi saudara dan saya pada Perjanjian Baru dan zaman gereja ini, tetapi jikalau kita tidak sadar setelah kita mendengarkan kalimat ini, kita tetap tertutup mata rohani kita.

Dan sekarang, lihatlah bagaimana mereka dituntun oleh Yesus. Ada sesuatu yang indah di sini. Yesus mendatangi dan mengikuti mereka, masuk di dalam pembicaraan mereka. Pertama-tama, Yesus adalah tamu, tetapi tanpa mereka sadari, Yesus kemudian yang memimpin pembicaraan itu. Yesus kemudian menjadi tuan rumah bahkan, ketika nanti mereka mengundang Yesus, Yesuslah yang mengambil roti dan memecah-mecahkannya. Oh, lihatlah apa yang dilakukan oleh Yesus. Sekali lagi, dari mata yang tertutup dan kemudian mata yang terbuka. Pertama-tama, yang dilakukan Yesus adalah: Yesus membawa mereka mengingat kembali Firman yang telah mereka baca. Saudara-saudara, ayat 27 mengatakan, ‘Yesus menjelaskan kepada mereka, apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.’ Kitab Musa adalah 5 Kitab Taurat, Kitab Nabi adalah bicara berkenaan dengan keseluruhan Perjanjian Lama, selain Taurat. Ini adalah bicara mengenai seluruh Perjanjian Lama. Kadang-kadang penulis kitab Perjanjian Baru mengatakan Perjanjian Lama itu adalah Tanakh. Tanakh itu adalah 3, adalah bicara mengenai Taurat, Kitab Nabi, dan juga Mazmur (orang Islam mengatakan Zabur).

Saudara-saudara, lihatlah bagaimana Yesus itu menghargai Firman. Dia mau membuka hati orang tersebut dengan Firman. Lihatlah bagaimana iman itu dibangun berdasarkan Firman. Saudara-saudara, iman Kristiani sekali lagi adalah iman yang berdasarkan fakta sejarah yang dinyatakan oleh Kitab Suci. Apa yang terjadi saat ini, kematian dan kebangkitan Mesias, Yesus mau menunjukkan apa yang terjadi saat ini, sudah dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Kematian dan kebangkitan itu real di dalam sejarah, tetapi kematian dan kebangkitan itu juga real di dalam Firman. Seorang penulis mengatakan demikian, “Kuburan itu terbuka dan kosong, sesungguhnya Alkitab itu dibuka dan tergenapi.” Sekali lagi saudara-saudara, ketika melihat kuburan itu terbuka dan kosong, Yesus menunjukkan hal itu, tetapi Yesus menunjukkan kepada dua murid-Nya, Firman itu. Ketika mereka membuka Firman, Firman itu tergenapi. Saudara-saudara, apa yang Yesus kerjakan untuk mata yang tertutup itu sekarang terbuka. Pertama adalah membawanya untuk mengerti Firman. Tetapi yang ke-2 saudara-saudara, lebih dari pada itu, maka pengetahuan Alkitab saja tidak mencukupi, perlu anugerah Allah untuk mencelikkan hati kedua murid itu. Inilah yang disebut oleh Calvin atau orang-orang Puritan yang disebut sebagai double light. Ketika Allah berurusan dengan seseorang untuk menyelamatkan, Allah akan memberikan sinar-Nya, pengertian-Nya, mencerahkan isi Alkitab, tetapi juga Allah mencerahkan hati kita. Ini disebut sebagai double light. Ini pekerjaan spiritual. Kalau saudara-saudara mengerti prinsip ini, lihatlah bagaimana kita itu benar-benar tergantung kepada kemurahan hati Yesus Kristus untuk kita mengerti suatu kebenaran. Kebenaran saja tidak cukup untuk mengubah hidup kita. Sepanjang hidup-Nya, Yesus mengatakan kebenaran, karena Dia adalah Sang Kebenaran itu. Ketika Dia menyatakan kebenaran, ketika kita membaca kebenaran, tetapi Dia tidak berkasih karunia membuka mata hati kita, maka yang terjadi adalah kita seperti Pilatus. Suatu hari dalam Yohanes 18:37-38, saudara-saudara, bukankah Yesus itu menyatakan kebenaran? Didengar langsung oleh telinga Pilatus, bukan melalui nabi, bukan melalui pendeta, bukan melalui rasul, bukan melalui malaikat, Dia menyatakan kebenaran dan kebenaran itu adalah real, itu adalah suatu yang objective. Apakah Pilatus itu bertobat? Tidak. Apa yang salah? Bukankah dia powerful sekali? Kenapa dia tidak bisa bertobat? Karena Dia tidak memberikan pencerahan di dalam hati Pilatus; tidak ada double light, hanya ada satu light, yaitu kebenaran itu. 

Saudara perhatikan baik-baik, inilah yang disebut sebagai, ‘Firman itu tidak pernah kembali dengan sia-sia.” Saudara-saudara, Firman sudah diberitakan, pertama, Firman itu akan menghasilkan penghakiman, yang kedua, Firman tersebut akan menghasilkan keselamatan, itu tidak pernah kembali dengan sia-sia. Jadi ketika saudara dan saya mendengarkan sesuatu kebenaran, ada 2 kemungkinan; yang pertama adalah menjadi penghakiman bagi kita, atau yang kedua, Tuhan memberikan juga sinar di dalam hati kita, sehingga kita mengerti kebenaran, kita bertobat. Tetapi dari apa pun saja, ketika Firman diberitakan, dia tidak mungkin akan kembali dengan sia-sia. Itulah sebabnya kita terus perlu meminta kepada Tuhan, “Tuhan, berikan kepada aku sinar-Mu, Tuhan selamatkan aku, aku tahu Firman ini benar, aku tahu Firman ini kokoh, bumi dan langit akan berlalu, Firman ini akan tinggal tetap, aku mempercayainya Tuhan. Aku bisa berkhotbah, aku bisa mengajar, aku bisa berdebat teologia, tetapi itu tidak akan mengubah aku, kecuali Engkau memberikan anugerah itu kepadaku; terang yang kedua, double light.”

Tetapi perhatikan, ada hal yang penting yang Lukas catat di sini antara yang pertama dan yang kedua. Yang pertama, sekali lagi adalah bicara berkenaan dengan Yesus menyatakan Firman, itu adalah terang yang pertama. Yang kedua adalah kemudian Yesus itu mencelikkan mereka, ketika dengan satu simbol, Dia itu memecahkan roti. Sebelum Tuhan memberkati mereka dengan berkat yang besar, yaitu mencelikkan mata mereka, sekali lagi Tuhan sudah bicara mengenai Alkitab, Tuhan sudah menjelaskan semuanya mengenai Alkitab. Saudara-saudara, ada sesuatu yang Lukas itu perhatikan dalam diri mereka. Yesus kemudian jalan sama mereka, dan Yesus mau seakan-akan meninggalkan mereka terus berjalan. Namun Alkitab mengatakan kedua orang ini mendesak-Nya, mereka minta, “Engkau tetap tinggal di sini,” mereka tidak katakan “Yesus” karena mereka tidak tahu nama-Nya: “Tinggallah bersama dengan kami, ini sudah mau menjelang malam, matahari sudah mulai terbenam.” Saudara-saudara, perhatikan ada satu hal yang penting di sini, Yesus tidak pernah memaksakan diri-Nya dan karunia-Nya mengganggu kita. Dia menginginkan jiwa kita bangkit untuk menginginkan Dia. Saudara-saudara, kedua murid ini mengatakan, “Tinggallah bersama dengan kami,” Implikasinya adalah jikalau mereka tidak menyediakan waktu untuk-Nya, maka Yesus akan terus pergi, Yesus tidak mengganggu mereka, mereka kedua murid ini harus mendesak-Nya, “Silakan masuk, silakan masuk, ini sudah larut malam, jangan lanjutkan perjalanan-Mu, kami ingin menghabiskan sisa waktu kami bersama-Mu.” Di dalam Wahyu 3:20, Yesus pernah mengatakan demikian, “Lihatlah Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk, jika ada yang mendengarkan suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk.” Saudara-saudara, perhatikan baik-baik, ‘Kita harus memaksa Dia untuk masuk di dalam hidup kita.’ 

Seorang pengkhotbah mengatakan demikian, “Saya sarankan anda meluangkan waktu setiap hari, 15-30 menit, hanya untuk mengatakan, “Tuhan saya menyisihkan waktu ini, aku memaksa-Mu Tuhan untuk datang dan menghabiskan waktu bersamaku. Tuhan aku menyisihkan waktu ini untuk Engkau. Aku sungguh-sungguh ingin untuk Engkau datang dan menghabiskan waktuku bersama-Mu.” Jikalau tidak, maka Dia akan melanjutkan perjalanan-Nya tanpa mengganggu kita karena Dia tidak pernah memaksa kita.” Saudara-saudara perhatikan, saya mau tanya kepada saudara-saudara, bagaimana dengan waktu teduh kita? Apakah kita mengharapkan Dia datang? Atau saudara dan saya malah menganggap waktu teduh itu adalah sesuatu yang mengganggu kita? “Kau jangan ganggu aku Tuhan, Engkau tahu aku banyak sekali assignment harus dikerjakan, Engkau tahu aku banyak rapat ini, rapat itu, Engkau jangan mengganggu waktuku Tuhan.” Saudara-saudara perhatikan, ini berbeda dengan apa yang ada dalam jiwa daripada murid-murid-Nya. “Tuhan silakan masuk, jangan pergi lagi, silakan masuk, aku memaksa-Mu untuk masuk menyediakan waktu-Mu bagiku.” J.C. Ryle,Anglican Bishop itu mengatakan bahwa, “Kristus tidak selalu memaksakan karunia-karunia-Nya pada kita tanpa kita cari dan minta. Dia suka mengeluarkan hasrat kita dan mendorong kita untuk menggunakan kasih sayang rohani kita dan menunggu doa-doa kita.” BishopJ.C. Ryle mengatakan, “Dengan kata lain Tuhan suka dicari dan diinginkan dan Dia mengeluarkan dan membentuk hal seperti ini dalam jiwa murid-murid-Nya. Mungkin itu sebabnya Dia tidak datang kepada kita dengan begitu cepat dan mudah pada saat kita berdoa dan membaca Alkitab. Dia menarik hasrat ini keluar dari dalam diri kita, hasrat yang sejati dan mendalam terhadap Dia.” 

Firman sudah diberitakan oleh Yesus, tetapi Tuhan tidak membukakan mata hati mereka, tetapi mereka mendesak-Nya, “Jangan pergi Yesus, sama kami di sini.” Dan ketika hasrat dari Kristus bertemu dengan hasrat dari jiwa yang diciptakan ini, dan Kristus kemudian mengambil roti dan kemudian memecahkannya, dan dengan means of grace ini, Dia membukakan mata dari murid-murid ini. Langsung mereka tahu ini Yesus, dan langsung Yesus hilang. Dan kemudian setelah itu apa yang dilakukan oleh mereka? Alkitab mengatakan; mereka berapi-api, berkobar, mereka berapi-api berkobar. Oh saudara-saudara, pertanyaannya kenapa mereka berapi-api dan berkobar? Karena kebangkitan itu bukan saja menjadikan surprise dalam hidup mereka, tetapi kebangkitan itu adalah sesuatu yang mengubah, memutar cara pandang. Saya akan jelaskan sedikit dan kemudian saya akan selesaikan khotbah ini.

Saudara-saudara, sekali lagi yang disebut sebagai kebangkitan Yesus Kristus adalah sebenarnya akhir zaman yang dipercepat. Seluruh hidup kita akan mengalami akhir zaman dan akhir zaman itu seluruh makhluk, seluruh manusia akan dibangkitkan dan akan dihakimi dan di akhir zaman itulah maka kita baru akan tahu apakah seseorang itu benar atau tidak di hadapan Allah. Saudara-saudara, orang-orang Islam boleh mengatakan bahwa Muhammad itu benar, orang-orang Hindu boleh mengatakan nabinya benar, orang-orang Buddha, orang apa pun silakan mengatakan dia benar, tetapi saudara-saudara, entah mereka benar atau tidak, bukan tergantung dari ucapan mereka tetapi tergantung dari akhir zaman itu, Allah menentukan dia benar atau tidak. 

Saudara-saudara perhatikan, di dalam kekristenan, kebangkitan Yesus itu yang harusnya pada akhir zaman, seharusnya kita bisa tahu Yesus benar atau tidak itu adalah pada akhir zaman, maka ini kemudian dipercepat. Dia bangkit, Dia dibangkitkan oleh Allah, Yesus dinyatakan bahwa Dia benar. Itulah sebabnya seluruh murid-murid-Nya sekarang memiliki sesuatu cara pandang yang baru. Itulah sebabnya di dalam Alkitab dikatakan mereka berapi-api untuk melayani Tuhan. Karena ini bukan saja bicara mengenai sesuatu surprise, kalau Dia ini benar, maka sekarang apalagi yang saya khawatirkan untuk melayani Dia. Apakah ruginya saya melayani Dia? Apa yang kurang ketika aku itu sungguh-sungguh berbakti kepada Dia? Celakalah aku, ketika aku melayani Yesus ternyata Yesus adalah bukan orang benar tetapi orang fasik. Tetapi tidak, Yesus itu benar, Dia dibangkitkan oleh Allah. Maka ketika 2 murid ini menyadari bahwa ini Yesus, kalimat-kalimat Yesus sebelumnya sudah membakar hati mereka, sekarang adalah fakta kebangkitan-Nya membakar mereka dengan penuh. Kemudian malam hari itu juga, mereka langsung jalan balik ke Yerusalem. Saudara-saudara, kalau saudara dan saya mengalami kebangkitan Yesus, capai pun tetap jalan. Capai pun tetap berkobar-kobar, seperti nabi Perjanjian Lama mengatakan, “Aku ingin diam tetapi ada api yang ada di tulangku membakar.” Oh ini adalah ‘Emaus’ dari 2 murid itu. Oh, kiranya saudara dan saya menemukan ‘Emaus’ kita. Ini adalah perjalanan yang mengubah 2 murid Yesus, suatu perjalanan dari kebodohan menjadi pengakuan, kebingungan menjadi kejelasan, keputus-asaan menjadi suka cita, dan tawar hati menjadi berapi-api. Oh kiranya Tuhan mengaruniakan belas kasihan-Nya. Kiranya setiap dari antara kita bertemu Dia di dalam jalan Emaus kita. Mari kita berdoa.

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

7 April 2024
Kebangkitan Kristus dan Kuasa Mematikan Dosa (1)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Rom 8:11-14

Rom 8:11-14

Kekristenan bukanlah suatu ide agama. Kekristenan adalah suatu kenyataan kehidupan yang dikerjakan oleh Allah di bumi ini. Dua ribu tahun yang lalu Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal di bumi ini di dalam sejarah. Iman Kristiani adalah iman yang bersandar kepada karya Allah di dalam sejarah. Kristus Yesus lahir, inkarnasi dari anak dara, itu di dalam sejarah. Kristus Yesus mati di atas kayu salib itu real sejarah. Kristus bangkit, Kristus naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah itu adalah kenyataan di dalam hidup ini. Ini bukan khayalan, ini bukan suatu cerita, ini bukan juga suatu harapan. Ini adalah fakta, ini adalah realitas. Bukan saja suatu realitas, tetapi realitas yang memayungi seluruh realitas yang ada, dan ini terjadi ribuan tahun yang lalu. 

Tetapi suatu hari, seperti yang minggu lalu saya sudah katakan, satu pertanyaan dari dosen saya menghujam hati saya, “Jikalau Yesus Kristus sungguh-sungguh bangkit, dan engkau mempercayai, tunjukkan di mana letak kemenangan Kristus di hidupmu. Jikalau Kristus Yesus itu bangkit dan engkau mempercayai, tunjukkan pengaruhnya di dalam hidupmu.” Apakah ada perbedaan antara Yesus Kristus itu mati saja atau bangkit dari antara kubur? Yang dia pertanyakan adalah: ‘Apakah kebenaran di dalam sejarah itu berelasi dengan kehidupanku here and now?’ Pagi ini kita akan sekali lagi memikirkan apa yang Alkitab katakan, bagaimana cara kerja Allah, metode Allah, “the way” yang Dia pakai untuk mengubah hidupku here and now ini dengan kenyataan yang dahsyat ribuan tahun yang lalu. 

Roma 8 yang tadi kita baca menyatakan hubungan yang luar biasa erat antara kebangkitan Kristus Yesus dengan pengudusanku; kejadian ribuan tahun yang lalu dengan hidupku here and now. Kegagalan mengerti ini membuat kita hanya beragama. Kegagalan mengalami ini akan membuat saudara-saudara boleh mengatakan doktrin apapun saja tetapi hidup itu tidak pernah berubah. Dosa tetap berkuasa atas hidup kita dan kita dimatikan oleh dosa, dan semakin kita menyatakan Kekristenan, orang semakin menjauh dari kita karena mereka tidak melihat ada perbedaan antara diri kita dengan diri mereka. Kekristenan yang sejati lebih daripada sekedar doktrin. Kekristenan yang sejati lebih dari sekedar perkataan. Alkitab mengatakan: Kerajaan Allah itu datang dengan kuasa, dan kuasa itu adalah kuasa kebangkitan yang Tuhan sudah berikan kepada kita

Minggu yang lalu kita sudah bicara panjang lebar berkenaan dengan: “Apakah itu sesungguhnya orang Kristen?” Seorang Kristen adalah seseorang yang sudah dilepaskan, dipindahkan dari realm daging menuju kepada realmHoly Spirit. Ini tidak bisa kembali, dan ini adalah sesuatu kenyataan di dalam kerohanian, maka ini adalah sesuatu dasar dari segala sesuatu kehidupan rohani kita dan itu dikerjakan oleh Roh Kudus. Alkitab menyatakan, Roh yang membangkitkan Kristus itu ada di dalam hatimu, di dalam tubuhmu – Dia akan menghidupkan engkau. Karena kenyataan yang Tuhan sudah kerjakan ini, maka Tuhan memberikan satu perintah kepada kita. Tugas atau perintah itu adalah hidup di dalam kekudusan. Dulu kita tidak memiliki kekuatan ini, tetapi di dalam Kristus Yesus oleh Roh Kudus kita memiliki kekuatan ini. Kita memiliki kemungkinan hidup suci ini. 

Saya mau membawa saudara-saudara pada kebenaran minggu yang lalu, yang sangat penting; saya akan mengingatkan saudara-saudara berkenaan dengan diri kita (ourbeing) yang baru di dalam Yesus Kristus. Sepanjang kita tidak mengerti ini maka kita akan kering dalam melakukan tugas-tugas kekristenan. Sepanjang kita tidak mengerti prinsip ini, maka kita salah mengerti hati Tuhan dan motivasi-Nya. Sepanjang kita tidak mengerti hal ini, setiap tugas-tugas kekristenan termasuk memenuhi hukum adalah suatu siksaan bagi jiwa kita. Semakin saya menyadari ketika seseorang mengatakan “saya kering”, “saya terseret-seret”, “saya merasa menjadi orang Kristen itu adalah melakukan perintah-perintah yang mematikan dan tugas-tugas yang begitu banyak”, saya menyadari sekali (karena itu juga terjadi juga dalam hidup saya), saya tidak mengerti apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup saya. Dan saya mengerti jalan keluarnya adalah bukan mengurangi pekerjaan itu, tetapi saya perlu masuk lebih dalam menuju kepada mata air kehidupan itu, untuk menikmati, untuk rest. Apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya seluruhnya kasih karunia, seluruhnya adalah cinta. Sekali lagi saya akan mengingatkan saudara akan prinsip ini: di dalam Alkitab, kalau ada suatu perintah/tugas, saudara lihat lagi di atasnya ada sesuatu yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidup kita. Itulah yang disebut secara teknis bahwa setiap imperatif (setiap tugas atau perintah) pasti ada sesuatu kalimat indikatif (sesuatu kalimat yang ada di atasnya terlebih dahulu). Ada sesuatu yang di atas yang Tuhan sudah kerjakan terlebih dahulu, sebelum Dia memberikan kepada kita tugas. Karena tugas ini tidak mungkin bisa dikerjakan sebelum atasnya itu terjadi. Dan tugas ini (imperatif ini) adalah sesuatu respon alamiah kalau indikatifnya itu sudah terjadi. 

Minggu yang lalu kita sudah bicara mengenai salah satu contohnya di dalam Kolose 3:1-2,5 dikatakan, “Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi…” – Matikan dosa. Perhatikan bahwa ayat dua dan ayat lima adalah tugas (sesuatu imperatif). Biasanya mata kita hanya akan melihat ayat ke-2 dan 5, tetapi sebenarnya rahasia rohani ada pada ayat ke-1. Kalau saudara-saudara memfokuskan pada ayat ke-2 dan 5, saudara akan lelah, saudara akan berpikir bahwa Allah itu menuntut. Saudara akan berpikir bahwa “Oh, aku tahu aku harus mematikan dosa, aku harus hidup suci, tetapi ini adalah sesuatu yang melelahkan dan berat.” Tetapi kalau saudara-saudara mengingat ayat yang ke-1, “Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus…” itu artinya Kristus sudah menjadi hidup kita, kebangkitan Kristus sudah ada pada diri kita, maka ada Roh Kudus di dalam diri kita, maka ada cinta kasih yang sudah menghampiri kita, ada anugerah yang Tuhan berikan kepada kita, maka respon yang alami (bukan dibuat-buat) adalah aku ingin hidup suci, aku rindu hidup suci. 

Saudara saya ambil satu contoh yang lain. Mari kita melihat Keluaran 20, maka saudara akan menemukan 10 perintah Allah. Saudara pasti mengingat 10 perintah Allah, apa yang ada di dalam hati kita? Isinya kata ‘jangan…jangan…jangan…’ – ini melelahkan. Jadi orang Kristen melelahkan, banyak tuntutan. “Apakah Bapak kurang tahu hidup ini? Di rumah saya juga mendengar banyak kata ‘jangan’. Bapak coba dengarkan saja itu, Papaku bicara apa? Lebih lagi Mamaku. Jangan.. jangan…jangan… Sampai gereja yang saya dengar kata ‘jangan’ lagi? Capai Pak.” Ini sungguh-sungguh terjadi, saya pernah sharing tentang ini mungkin tiga kali. Pada waktu saya mahasiswa tehnik kimia, maka saya sesekali pergi ke bioskop. Pada waktu itu bioskop sedang menayangkan film Ten Commandments. Kemudian saya ajak teman saya, “Eh pergi ke bioskop, yuk.” Lalu kemudian teman saya tanya, “Nonton film apa?” Saya menjawab, “Sepuluh Perintah Allah.” Kemudian teman saya menjawab, “Ah tidak mau, tiga saja sudah pusing, apalagi sepuluh.” Perintah-perintah ini sangat memusingkan, akan berat bagi kita. Seluruh tugas dalam Kekristenan itu adalah sesuatu yang berat bagi kita. Kenapa? Karena mata kita hanya melihat perintah. Padahal Alkitab menempatkan perintah itu, di atasnya ada sesuatu indikatif. Saudara perhatikan 10 perintah Allah itu di dalam satu kelengkapannya. Mari kita melihat Keluaran 20:2-3, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Perhatikan intinya, bobotnya ada pada ayat yang kedua. Sebelum Allah memberikan kepada kita perintah, sebelum tugas itu keluar, Dia mengatakan kepada orang Israel, “Israel dengarkan! Akulah TUHAN (God of Covenant), Akulah Allah yang menebus engkau, Aku yang berjanji kepadamu, tidak ada satu bangsa yang Aku berjanji kepadamu. Kepadamu, kepadamu saja, hai Israel! Aku sudah melakukan suatu perbuatan besar bagimu. Aku mengeluarkan engkau dari tangisanmu. Aku menebus engkau dari kematian karena Mesir. Hai Israel, Aku mengasihimu! Jangan ada padamu allah lain.” Apakah saudara sekarang membacanya dengan pandangan yang lain? 

Setan membawa kita untuk melihat seluruh tugas…tugas…tugas. Alkitab membawa kita melihat kepada anugerah…anugerah…anugerah. Anugerah di depan dan kemudian kekudusan di belakang. Setan juga bisa membawa saudara melihat anugerah…cinta…anugerah…cinta, tapi kemudian itu menjadi license untuk berbuat dosa. Kalau saudara melihat secara keseluruhan, saudara bisa melihat bagaimana motivasi Tuhan, isi hati Tuhan, apa yang sudah Tuhan kerjakan, saudara melihat keseluruhan, saudara melihat cinta Tuhan. 

Saya pernah berkhotbah ini dan saya mau mengingatkan bahwa ini adalah teknik setan sejak dari kitab Kejadian. Apa yang Tuhan katakan dan kemudian apa yang setan katakan? Tuhan mengatakan, “Segala dari tumbuhan dan dari hasil pohon di tanah ini seluruhnya boleh engkau makan kecuali pohon yang ini.” Kita selalu akan bertanya kenapa tidak boleh makan yang ini? Saudara lupa bahwa ini adalah Firman untuk suatu kelimpahan. Seluruhnya boleh, kecuali yang ini. Saya ambil contoh: yang boleh adalah seluruh dari mimbar ini, dan yang tidak boleh adalah botol ini. Kalau melihat dari jauh, saudara akan melihat perbandingannya, botol ini sangat kecil dibandingkan seluruh mimbar ini, tetapi setan membuat botol ini yang berada di depan mata kita sehingga seluruh mimbar ini tertutup. Ini adalah cara setan untuk mengelabui kita dengan Firman. 

Sama dengan hal ini. Tuhan itu mengeluarkan Israel, Tuhan itu menghancurkan Mesir sampai kepada Firaun. Bahkan ketika orang Israel itu dikejar oleh Mesir, Tuhan itu menutup mereka dengan tiang awan dan tiang api sampai mereka keluar semua dari laut itu, tidak ada satupun yang tersisa. Mesir bukan tandingan Israel. Israel itu sangat-sangat kecil. Mesir itu sangat-sangat hebat dan Mesir itu menghancurkan Israel, melumat Israel dengan kekuatan-Nya, maka Tuhan itu melindungi Israel. Hari itu dikatakan di dalam Alkitab, (ketika saya membacanya berapa tahun yang lalu air mata saya terus mengalir), “Hari itu adalah hari berjaga-jaganya Aku. Aku tidak akan diam, Aku tidak akan tertidur, Aku berjaga-jaga untuk umat-Ku” Apakah itu jikalau bukan cinta? Apakah itu kalau bukan kasih karunia? Apakah itu kalau bukan motivasi mencintai? Berkali-kali nabi-nabi mengatakan, “Oh lihat seluruh bangsa Israel, apakah ada bangsa yang Aku perlakukan seperti itu?” Dan kemudian Dia katakan, “Jangan ada padamu allah lain, jangan mencuri, jangan berzinah, jangan bersaksi dusta.” Kita selalu pikir yang ini (botol) dan bukan sesuatu yang besar. Itulah sebabnya kekudusan menjadi sesuatu yang sulit bagi kita. Kita tidak mengalami, kita tidak mengingat akan apa yang Dia sudah kerjakan dalam hidup kita. Sama seperti Roma 8 dengan prinsip yang sama “Kristus Yesus sudah bangkit, Roh yang membangkitkan Dia dan Roh itu sekarang ada padamu, maka matikan dosa!” Sekali lagi kalau saudara-saudara melihat agama yang lain, mereka hanya bilang “Matikan dosa, ya. Lakukan ini, ya. Lakukan itu.” Alkitab tidak pernah begitu. Alkitab setiap kali ada perintah sebelumnya ada apa yang Tuhan sudah kerjakan.

Sekarang saya akan masuk ke dalam Roma 8:13 dan saya akan menjelaskan ayat ini saja untuk saudara mengerti: ada satu rahasia vitalitas rohani karena kebangkitan Kristus sudah dikerjakan. Sekali lagi, yang ada di dalam pikiran Paulus adalah, “Engkau sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus. Kristus sudah bangkit 2000 tahun yang lalu dan sekarang Roh yang membangkitkan Dia ada pada dirimu dan sekarang Roh itu akan menghidupkan dirimu. Roh Kudus ada di dalam hatimu, sekarang matikan dosa!” Dan saya akan menyoroti lima bagian kecil ini. “Jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”

Perhatikan, kata yang pertama adalah ‘jika’.Paulus memakai kata ‘jika’ ini untuk menunjukkan hubungan conditional antara mematikan dosa dengan hidup (ada hubungan yang terkondisi, bukan tanpa kondisi). Ada kondisi antara mematikan dosa dan hidup. Nanti saya akan jelaskan apa yang dimaksudkan dengan kata ‘hidup’ di sini. Ini bukan bicara mengenai hidup kekal, tetapi adalah hidup masa kini. Sekarang saya akan masuk terlebih dahulu berkenaan dengan ‘jika’. Kata ini adalah persis seperti analogi ini: Jika engkau minum obatnya, maka engkau akan sembuh. Ada suatu kondisi. Kamu mau sembuh? Maka, minum obatnya. Bukan saja suatu kondisi, ini suatu janji. Kalau engkau minum, maka engkau akan sembuh. Dan, di sini ada janji: Jika engkau mematikan dosa, kehidupan rohanimu di dunia ini here and now akan hidup. 

Hal yang kedua adalah kata ‘kamu’. “Jika oleh Roh ‘kamu’ mematikan…” Ini memberitahukan kepada kita siapa yang bertanggung jawab melakukan kewajiban ini – yaitu diri kita (orang-orang yang sudah ada di dalam Kristus, orang-orang yang sudah ada di dalam realm Roh Kudus). Perintah ini tidak ditujukan bagi orang-orang di luar Kristus, karena bagi mereka hal itu tidak mungkin dilakukan. Kalimat ini adalah ditulis oleh Paulus untuk orang-orang di dalam Kristus, bukan di luar Kristus. Karena orang-orang di luar Kristus tidak memiliki Roh Kudus yang berkuasa untuk mematikan dosa.

Hal yang ketiga, kata ‘oleh Roh’.Ini menyatakansarana utama atau kuasa utama dalam melakukan kewajiban mematikan dosa yaitu Roh Kudus yang berdiam di dalam kita; yang memberikan kehidupan, yang menjadikan kita anak-anak Allah, yang menolong kita dalam kelemahan kita. Seluruh kalimat-kalimat yang saya bicarakan tersebar di dalam Roma 8. Paulus mau mengatakan demikian: “Seluruh sarana lain untuk mematikan dosa adalah kesia-siaan. Kita tidak bisa mematikan dosa dengan kekuatan kita sendiri. Hanya Dia yang membangkitkan Kristus dari dalam kubur, Dialah yang memampukan kita untuk mematikan dosa kita.” Jangan mengecilkan arti dosa. Jangan membiarkan dosa itu keluar dari diri kita. Itu adalah sesuatu kekuatan. “Matikan dosa atau dia akan mematikan kita” demikian kata John Owen. Perhatikan sesuatu yang penting ini: Kuasa itu adalah dari Roh Kudus. Roh yang ada dalam diri kita. Roh yang sama yang sudah membangkitkan Kristus dari kematian. Dosa tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan kita (Itu bukan lawan kita). Dosa itu hanya bisa dikalahkan oleh kuasa yang dimiliki oleh Roh. Tetapi, siapa yang mematikan dosa? Kita yang melakukannya, bukan Roh Kudus. 

Saudara mungkin berpikir, “Oh, ayat ini lebih indah kalau Roh Kudus yang mematikan dosa, jangan saya.” Saya bisa jelaskan begitu banyak dengan hal-hal teologi, tetapi ini yang saya mau katakan: cara kerja Allah tidak pernah memaksa kita. Dia tidak akan pernah membuat kita itu seperti robot. Dia menginginkan keinginan hati kita. Problem utama dari mematikan dosa itu bukan Roh Kudus. Problem utama dari mematikan dosa adalah our will – keinginan kita itu apa? Kita sama-sama orang yang bergumul dengan dosa. Kita sering mengatakan, “Aku tidak mampu. Aku terlalu lemah, ” dan berkali-kali saya juga mengatakan alasan yang sama. Sebenarnya kalau kita mau jujur adalah bukan kita tidak mampu, Alkitab mengatakan, “Kamu mampu! Ada Roh Kudus!” Masalah utama adalah kamu tidak mau! Kita yang tidak mau! Itulah sebabnya setiap kali melakukan dosa itu, Tuhan tahu hati kita. Kita menyakiti hati Dia sekali lagi. Kristus sudah mati. Roh sudah ada di dalam diri kita dan Tuhan itu membenci dosa, tetapi kita tidak mau mematikannya, kita menginginkannya, kita memeliharanya, kita suka dengannya. Masalah utama ada di sana, bukan di dalam kuasa. Orang Puritan mengatakan demikian: Roh memakai sarana apa untuk memberikan kita kekuatan untuk mematikan dosa? Roh memakai sarana-sarana anugerah terutama adalah Firman. Itulah sebabnya, kalau saudara-saudara berdosa, jangan malah keluar dari gereja. Kalau saudara berdosa, jangan malah menjauhi Alkitab. Saudara sadar dosa saudara, mari datang karena kita memerlukan Firman untuk dipakai oleh Roh Kudus, untuk menguatkan kita mematikan dosa tersebut. 

Hal yang keempat adalah ‘mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu’, dengan kata yang lain ‘mematikan dosa’. Apa yang dimaksud dengan kata ‘mematikan’? Mari pikirkan, kalau saudara-saudara membunuh seekor binatang. Apa artinya? Artinya adalah merenggut kekuatan atau kuasanya dan menghabisi hidup binatang itu, sehingga dia tidak lagi bisa bertindak dan melakukan apa yang dia inginkan. Sekali lagi, sehingga dia tidak bisa bertindak dan melakukan apa yang dia inginkan. Masalah utama dari dosa yang tidak dimatikan adalah suatu hari ini akan keluar dan kita tidak mungkin bisa cegah dan melakukan sesuka-suka yang dia kerjakan. Ketika saya membaca dari apa yang terjadi di hari-hari terakhir Yesus Kristus dan kemudian saya melihat apa yang terjadi dan dilakukan oleh Yudas, maka ada satu kalimat atau satu komentator yang mengatakan demikian: ‘Jikalau kita sudah membuka celah dosa itu dan kemudian dosa itu tidak kita matikan, maka ada satu waktu di mana segala sesuatu tidak bisa kembali lagi. Ada satu waktu di mana dosa itu akan menjelma dan tidak mungkin bisa kembali lagi, kecuali bunuh diri.’ Mau diapa-apain, tidak bisa kembali. Saya sebenarnya tidak mau pakai ilustrasi ini karena sebenarnya ini ilustrasi yang kasar tapi minta maaf, saya perlu pakai ini supaya saudara mengerti apa yang kita hadapi dan ini ilustrasi dari dosen saya. Saudara, karena ini ilustrasi dari dosen saya dan saya tidak ketemu satu ilustrasi yang lebih tepat lagi. Dia mengatakan, kalau kamu nonton terus video porno, saudara pasti suatu hari engkau akan berzinah. Karena dosa itu seperti ini, sampai titik tertentu, saudara itu seperti orang kebelet kencing, minta maaf yah. Mau tidak mau, mesti keluar! Tidak bisa, saudara tahan-tahan! Tidak bisa! Sampai titik tertentu, pasti keluar! Wah, saya dapat itu ilustrasi sudah puluhan tahun, saya bilang, “Wah, ini betul.” Saudara, tidak mungkin bisa. Kita tidak punya kekuatan itu. Maka ketika kecil, bunuh! Dan, ingat perintah ini sekali lagi. Tuhan sudah mati bagi kita dan Roh ada di dalam diri kita. Kita tidak melakukannya sendiri. 

Hal yang kelima, terakhir, ‘kamu akan hidup’.Jika kita mematikan dosa, maka kita akan hidup. Apa yang dimaksudkan di sini? Apakah ini hidup kekal, atau kehidupan rohani saat ini? Arti hidup di sini adalah kehidupan rohani saat ini. Sesungguhnya kalau kita mau jujur, banyak dari antara kita anak-anak Tuhan yang sejati tetapi kehilangan vitalitas rohani, kehilangan sukacita, kehilangan damai sejahtera. Kita tidak merasakan Allah dekat, atau kita tidak merasakan ada satu pengalaman bersama dengan Allah. Itu terjadi karena kita membiarkan dosa-dosa itu ada, dan kita kehilangan kesaksian kita. Kita tidak lagi bisa bersaksi. Kita tidak lagi memiliki kekuatan. Kita kemudian berpikir setiap kali kita mau pergi, mau melakukan hal yang baik, “Ah itu munafik.” Dan, di situ kemudian setan akan mencengkram pikiran kita dan ketika melihat orang lain yang aktif melayani, kita berpikir bahwa mereka sama seperti kita (padahal tidak), bahwa mereka juga ada sesuatu dosa yang disembunyikan, mereka munafik. Padahal belum tentu, mungkin orang itu mematikan dosa. Kita yang tidak mematikan dosa dan kemudian kita menghakimi dia. Kita sudah berdosa, tidak mematikan dosa. Dosa semakin merajarela dan kemudian kita menghina orang lain. Kita menuduh orang lain. Kita menghakimi orang lain. Itulah sebabnya, makin lama, orang ini makin jauh dari Tuhan dan saudara akan menyadari seluruh dari Alkitab ini akan menuduh dan mengejar kita. 

Perhatikan apa yang ditulis oleh John Owen. Kekuatan, kuasa, dan sukacita rohani kita saat ini tergantung dalam hal mematikan dosa. Tetapi pertanyaannya adalah “Pak Agus, saya sudah tahu ini sekarang. Saya mau tanya, kalau saya tidak mau mematikan dosa, apa yang terjadi? Saya tidak dapat sukacita di sini tapi saya akan pergi ke surga, kan?” Saya akan jawab. Uniknya, Alkitab mengatakan, orang-orang yang ada Roh Kudus di dalamnya hidupnya berubah. Dia akan memiliki satu kesadaran bahwa hidup bukan bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Tuhan. Ini tidak bisa dibuat-buat. Ini adalah sesuatu yang alami. Sekali lagi, kalau Roh Kudus ada di dalam diri kita, uniknya, orang yang seperti ini rindu untuk hidup yang hanya satu kali adalah hidup yang menyenangkan Tuhan. Ketika dia akhirnya jatuh ke dalam dosa, dia akan berlinang air mata karena dia tahu dia sudah begitu menyakiti hati Tuhan. Uniknya orang yang seperti ini tidak bisa tenang dalam hidupnya ketika hubungan dengan Tuhan itu terganggu. Maka saudara-saudara, biarlah kita menguji diri kita. Jikalau kita tidak memiliki kerinduan-kerinduan ini, apakah Roh Kudus ada di dalam hidup kita? Ini adalah sesuatu yang normal, sesuatu yang alami. Apa yang dikerjakan Allah di dalam hidup kita adalah – Dia memberikan Kristus. Dia memberikan providensia. Seluruh anugerah-anugerah itu untuk kita boleh hidup kudus. Kudus bukan moralitas. Moralitas adalah sesuatu yang self-centred. Tetapi kekudusan adalah hasil dari Injil Kasih Karunia Allah. 

Saya akan akhiri dengan satu prinsip kehidupan lagi. Satu hal yang membuat kekudusan (holiness) itu menakutkan adalah karena kita selalu berpikir kita tidak bisa meraihnya atau selalu gagal melakukannya dan kita kemudian putus asa. Saya tidak katakan bahwa kita akan bisa 100% kudus. Tidak mungkin. Itu hanya akan terjadi pada waktu Kristus itu memberikan consummation (kesempurnaan bagi kita). Tetapi Roh itu diberikan kepada kita supaya kita bertumbuh di dalam kesucian dan menikmati kesucian. Tetapi sekali lagi, banyak dari kita termasuk saya, berkali-kali kita putus asa karena kita gagal lagi dan gagal lagi. 

Di akhir khotbah ini, saya akan membawa saudara-saudara untuk melihat satu cerita. Mungkin sebagian dari saudara pernah melatih anak saudara pada waktu kecil bermain sepeda. Saya masih ingat ketika anak saya main sepeda pertama kali. Dia pertama-tama bermain sepeda roda empat (ada dua roda yang besar dan dua roda yang kecil). Dia bisa ke mana-mana dengan sepeda roda empat itu. Tetapi kemudian saya mengatakan kepadanya untuk dua roda kecilnya dibuka, jadi sepedanya hanya akan ada dua roda. Ketika dia itu mulai menyadari hanya ada dua roda, maka itu tergantung dari keseimbangannya, dan dia mulai merasa takut. Dia takut jatuh. Pertama-tama akan sulit karena dia takut jatuh, maka dia tidak mau kemana-mana. Dia coba naikkan satu kaki, kemudian dia naikkan satu kaki lagi, lalu goyang, kemudian cepat-cepat dia kembali ke posisi awalnya. Dia takut jatuh. Saya sudah katakan pada dia, “Kamu tidak akan jatuh sampai tergeletak. Kalau kamu jatuh, sebelum kamu jatuh, Papa pasti akan angkat kamu.” Tetapi kalau dia tidak percaya dengan apa yang saya katakan, dia tidak akan kemana-mana. Kalau dia memperhatikan dirinya terus, ketika dua kaki itu diangkat kemudian goyang, dia akan kembali lagi posisinya. Dia tidak akan menjalankan sepeda itu. Dia tidak akan mengayuh sepeda itu. Tetapi berkali-kali, saya mengatakan kepada dia, “Tidak apa…Tidak apa. Ayo maju, Timmy.” Kalau dia melihat ke belakang terus, juga tidak mungkin dia bisa maju. Dia harus memusatkan diri ke depan dan mempercayai kalimat saya di belakang. Kemudian dia mengayuh dan sebelum terjatuh saya pegang día. Dan setiap kali seperti itu. Setiap kali dia terjatuh, sebelum tergeletak, saya pegang dia dan posisikan dia ke posisi yang semula. Demikian seterusnya dengan kesabaran saya, sampai dia berhasil mengayuh sepedanya. Dan perhatikan baik-baik: hati saya tidak berubah, jikalau dia (anak saya) jatuh dari sepeda. Hati saya akan tetap sama. Saya akan kembalikan dia. Berapa banyak dari kita yang sudah begitu kecewa dengan diri kita sendiri? Kita sudah putus asa dengan kekudusan kita. “Oh, tidak bisa, Tuhan. Aku tidak bisa. Aku bukan orang itu…” Tapi, lihatlah janji Allah di belakang. Tetapkan mata di depan dan belajar mengayuh lagi. Terus seperti itu. Kalau-pun jatuh, hati Bapa kita tidak akan berubah. 

Ada seorang bapak yang melatih anaknya bersepeda. Seseorang kemudian memperhatikan selama beberapa hari dan bertanya kepada bapak itu, “Bapak, saya mau tanya, untuk apa engkau melatih anakmu bersepeda? Apakah untuk nantinya bisa membantu bapak membeli barang? Atau supaya nanti saat sudah remaja, dia bisa bekerja membagikan newspapers dan mendapatkan sedikit uang?” Dan bapak itu mengatakan, “Ya, mungkin… Tetapi ada satu hal yang saya paling inginkan. Saya menginginkan dia bisa bersama-sama bersepeda bersama saya, istri saya dan juga dengan kakak-kakaknya menyelusuri pantai dan kita bisa menikmati angin dan matahari yang menerpa tubuh kita. Saya ingin dia bersama-sama saya bersepeda.” Apa gunanya Tuhan melatih kita untuk hidup suci? Perhatikan satu kalimat ini: Tanpa kekudusan, tidak ada orang yang bisa melihat Allah. Saudara dan saya pasti ditolong oleh Tuhan. Allah itu begitu aktif untuk menjagai hidup kita. Tetapi siapa yang bisa melihat pergerakannya? Siapa orang yang bisa melihat Dia bekerja di tengah-tengah kita? Adalah satu – orang yang suci hatinya. Matikan dosa karena Kristus sudah bangkit. Mari kita berdoa. 

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

31 March 2024
Christ The Fountain of Life (3)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Roma 8:11-13

Roma 8:11-13

Kristus adalah mata air kehidupan. Dialah sumber dari segala sesuatu yang baik di dalam kehidupan manusia yang tidak mungkin bisa digantikan oleh pendiri agama atau satu pribadi pun yang pernah hidup dan yang akan hidup di tengah-tengah dunia ini. Hari ini adalah hari ke-3 kita memikirkan apa yang diberikan Kristus yang tidak pernah bisa diberikan oleh pendiri agama lain. Apa yang diberikan Kristus yang tidak pernah bisa diberikan oleh dunia ini? Dengan kata lain apa kebutuhan esensial di dalam kehidupan manusia kita semua ini yang hanya bisa diberikan oleh Yesus, tetapi tidak pernah bisa diberikan oleh dunia atau pendiri agama manapun. Hari ke-1 saya mengatakan itu adalah cinta. Hari ke-2 saya menyatakan Alkitab menyatakan itu adalah kasih karunia. Dan hari ke-3ini maka Alkitab menyatakan yang diberikan oleh Kristus yang tidak mungkin diberikan oleh pendiri agama atau saudara saya dapatkan di dunia ini adalah kuasa kemenangan, kuasa kebangkitan.

Beberapa ribu tahun yang lalu, pagi-pagi benar pada hari seperti ini di saat musuh-musuh Kristus masih tertidur, di tengah seluruh penghuni Yerusalem yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Maka Kristus bangkit dari kuburnya, tidak ada satu manusia pun yang membangkitkan, tidak ada satu malaikat pun yang membangkitkan. Alkitab menyatakan Allah di surga membangkitkan Kristus. Alkitab mengatakan Roh Kudus membangkitkan Kristus. Alkitab mengatakan Kristus bangkit sendiri dari kubur-Nya. Tidak ada satu manusiapun yang pernah memiliki pengalaman seperti ini. Bangkit tanpa ada yang membangkitkan dari manusia yang lain. Apakah saudara tahu bahwa inti kekristenan berada di tempat-tempat yang paling menakutkan di tengah-tengah umat manusia. Di atas salib yang mengerikan Yesus memberikan proklamasi It is finished.” Dan di tengah-tengah kuburan yang sangat gelap dan mengerikan malaikat mengatakan, “Mengapa engkau mencari yang hidup di tengah-tengah orang yang mati?” Saudara dan saya harus mendengarkan dan memperhitungkan peristiwa ini. Saudara dan saya dan seluruh dunia harus mempertimbangkan ini adalah peristiwa apa.

Kalau saya mengatakan, kalau Alkitab mengatakan bahwa ada seorang yang baik, yang tulus, yang tidak memiliki satu kecacatan apapun saja, tetapi disalah mengerti dan disalib oleh orang-orang Romawi dan mati di atas kayu salib. Kalau Alkitab hanya menyatakan seperti itu, maka hal itu begitu banyak di tengah-tengah zaman itu. Tetapi jikalau Alkitab mengatakan ada satu manusia yang suci, yang tidak ada kesalahan apapun saja dan dipaku dan mati di atas kayu salib dan bangkit pada hari yang ke-3, seperti apa yang Dia katakan sendiri sebelumnya tanpa ada satu manusia pun membangktikan-Nya maka seluruh manusia harus memperhitungkan ini peristiwa apa. Setiap mahkluk yang hidup harus berespon terhadap kenyataan ini. Yesus bangkit pada hari ke-3. Siapa pendiri agama yang pernah bangkit? Siapa manusia yang pernah bangkit dan sampai saat ini tetap hidup? Tidak ada. Tidak satu pun. Itu berarti setiap pendiri agama, setiap pemimpin-pemimpin agama, setiap jendral, setiap kekuatan apapun yang paling kuat di tengah-tengah dunia ini; semuanya kalah. Kalah dari kuasa kematian. Kalah itu ya kalah saudara. Kalah artinya tidak punya kemampuan. Orang bisa mengatakan sesuatu yang indah silahkan, tapi kalah. Orang itu bisa menulis tulisan Mazmur atau sesuatu puisi yang paling indah, tapi kalah. Dia bisa mengajar “Oh Allah itu di sana, oh Allah itu suci kita mesti berbakti kepada Dia,” tapi tetap kalah dengan kuasa dosa. Kalah yang mau kalah, dia mau bicara apapun, kalah. Dia mau mengatakan agamaku sama dengan kekristenan, tapi kalah. Tidak ada satu pun yang bangkit. Satu-satunya yang bangkit adalah Yesus Kristus. Dosa memiliki satu kekuatan, kuasa dan kuasa dari dosa itu adalah kuasa mematikan. Tetapi Yesus memiliki kuasa yang lebih, Dia mematikan dosa. Menjadikan dosa mati karena kematian Kristus. Yesus memiliki kuasa kemenangan. Kuasa kebangkitan ada pada Dia. Terusan kuburan bagi Yesus dan seluruh dari orang-orang di dalam Dia adalah kebangkitan; bukan kematian. Hari ini saya akan membawa kita untuk bisa mengerti apa yang Alkitab katakan mengenai kuasa kebangkitan Kristus di dalam 2 hal saja.

Hal yang pertama, di dalam Kristus maka kebangkitan-Nya menjadi kebangkitan kita. Dalam Kristus, Allah mengaruniakan kebangkitan bagi kita. Lawan kata dari bangkit itu mati. Mari kita memikirkan apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh saudara dan saya, oleh dunia ini; yaitu kehidupan. Musuh utama kita adalah kematian. Karena kematianlah Salomo yang memiliki segala harta itu mengatakan, “Sia-sia hidupku, sia-sia.” Salomo mengatakan lihatlah seluruhnya sama. Mataharinya sama. Tanah yang kita injak ini dari dulu ya begini, sama. Air itu yang mengalir yang kita minum kemudian kita keluarkan lagi air yang sama. Angin yang kita itu hirup dan kita keluarkan lagi adalah sama. Ribuan tahun. Puluhan ribu tahun semuanya itu sama. Tetapi manusia dari satu generasi pergi, generasi lain datang. Generasi yang baru itu tidak pernah mengenal generasi sebelumnya. Salomo tiba-tiba mengerti kebenaran ini. Dia menyadari bahwa suatu hari dia akan menghilang dari bumi ini maka dia mengatakan sia-sia hidupku. Oh Salomo bukan orang bodoh, dia adalah orang yang sangat pandai. Dia bukan orang terbuang, dia adalah pemimpin negara. Dia bukan orang miskin, dia orang kaya raya. Dengan seluruh yang dimilikinya dia menyimpulkan satu kata yang tidak akan kita percayai, kecuali saudara dan saya memikirkan apa sesungguhnya esensi hidup itu. Dengan seluruh yang dia miliki. Dengan kerja keras akhirnya memiliki semuanya dia menyimpulkan satu hal “hidupku sia-sia”. Hah, sia-sia? Kenapa Salomo? Karena kematian. Kalau saudara dan saya pernah satu menit saja berpikir tentang eksistensial hidup ini berkenaan dengan kematian maka sesungguhnya hati kita yang tiba-tiba akan gemetar takut. Orang-orang Puritan mengatakan jikalau itu ada sedikit saja, maka hidup itu berubah. Tetapi kenapa hidup kita tidak mau memikirkan kematian? Karena kita menghindarinya dan kita terlalu sibuk dan Roh Kudus tidak bekerja untuk membawa kita ke sana sehingga akhirnya kita itu tidak pernah masuk di dalam dimensi memikirkan kematian ini.

Richard Baxter mengatakan demikian: ada perbedaan besar dalam bayangan kita atas kematian saat kita sehat dan saat kita sekarat. Saat sehat kita dapat membicarakan kematian sambil tertawa, tetapi itu akan lain ketika menjelang kematian. Dan anehnya adalah kebanyakan orang ketika menjelang kematian dia memikirkan kematian tiba-tiba mereka langsung berubah seolah-olah mereka tidak pernah mendengar bahwa mereka adalah makhluk yang akan mati. Itulah sebabnya Alkitab mengajarkan kepada kita pergilah ke rumah duka daripada ke rumah pesta. Richard Baxter kemudian mengatakan demikian, “Pergilah kepada seseorang yang terbaring di ranjang kematiannya atau seorang narapidana yang besok akan menjalani hukuman mati dan godalah dia dengan kekayaan, kehormatan, hawa nafsu, mabuk-mabukan atau hal-hal yang lain, yang duniawi. Anda akan dianggap kurang ajar oleh dia dan tidak waras.” Oh, alangkah seriusnya pertobatan dan usaha kita demi terbebas dari pertanggungjawaban kita ketika kita melihat kematian sudah di depan mata. Lihatlah orang-orang di sekitar kita. Kalau saudara nanti keluar dari gereja ini lihatlah semua orang yang saudara temui di jalanan. Ketika saudara makan lihatlah pelayannya, pemilik restorannya, owner dari toko di sebelah saudara, pengemudi bus atau pengemudi train, lihatlah kita disatukan dengan satu keadaan ini yang pasti sama yaitu kematian. Orang itu bisa berbeda di dalam pendidikan, dalam kekayaan. Orang itu bisa berbeda di dalam keluarga,ada yang single parent ada yang masih utuh semuanya. Semua bisa berbeda dari antara kita semua tetapi ada satu hal yang menyamakan saudara dan saya semua orang yang temui yaitu kematian. Iblis sudah menipu kita, berusaha menjauhkan kita dari kebenaran yang pasti kita akan ke sana. Kematian itu sesuatu yang mengerikan dan gelap dan pasti dalam hidup kita, tetapi Iblis berusaha dunia berusaha untuk bisa membuatnya itu lunak dan seakan-akan menyenangkan. Di dalam bahasa Indonesia ini semuanya diperhalus. Bukan mati tetapiberpulang. “Rest in peace”, belum tentu peace, mungkin dia terbuka matanya, mungkin marah. Yang jelas, kalau Kristus tidak ada pada dia, setelah itu lebih tidak rest lagi.

Mari pikirkan kematian. Seseorang yang cantik itu kemudian menjadi menakutkan. Kalau saudara bertemu dengan perempuan yang cantik atau cowok yang ganteng, saudara ingin untuk dekat dengan dia. Kalau saudara menjadi pacarnya dan menjadi suami atau isterinya, saudara memegang dia, memeluk dia. Banyak orang yang ingin dekat dengan orang-orang yang cantik atau ganteng. Tetapi begitu dia mati, tidak ada satu orang pun yang mau memegang tubuhnya. Begitu saudara pegang, saudara akan sadar begitu dingin orang itu, dan rasanya ini orang yang lain. Pada waktu mama saya meninggal, waktu itu setelah saya memimpin pemuda di tempat ini, kemudian saya langsung pulang ke Jakarta dan langsung pergi ke rumah sakit. Mama saya masih terbaring dengan alat pompa jantungnya dan paru-parunya. Dokter sudah mengatakan kemungkinan mama sudah tidak ada, jadi kalau dicopot dari aliran itu, maka mungkin akan mati. Saya tanya berapa lama kemungkinan, dokter mengatakan mungkin sekitar 1 jam sudah mati. Saya masuk ke ruangannya, saya memandang dia dan saya cium dia. Ketika saya cium pipinya, saya kaget, pasti sudah tidak ada ini, lain. Dari cantik menjadi menakutkan, dari mulia menjadi hina, tadinya berprestasi punya banyak uang, ada piala penghargaan, sekarang tinggal debu, tinggal abu. Satu-satunya yang dimiliki yang bisa dipertahankan adalah 2x1meter. Sekarang jadi abu, tadinya orang itu berkuasa. Ketika mulia ditakuti, sekarang takut apa? Tidak ada satu orang pun takut kepada abunya. Yang lebih menyakitkan adalah dari ada jadi tidak ada. Kalau kita pernah berjumpa dengan orang yang dekat dengan kita dan orang itu mati. Saudara masuk ke rumah, saudara akan sadar baunya masih ada. Saudara kadang bertemu dengan bajunya atau bertemu dengan barang kesayangannya, saudara langsung rasa “orang ini masih ada.” Seorang anak pulang dari sekolahnya ketika mamanya baru beberapa bulan yang lalu meninggal. Tetapi ketika dia masuk, dia merasakan bahwa mamanya biasa menyongsong dia di dapur itu. Dan ketika dia masuk, tanpa sadar dia mengatakan, “Mama, mama.” Tidak ada. Itu yang dikerjakan oleh kuasa dosa. Itu yang dikerjakan oleh kuasa dosa yang ada pada kita. Setan mengambilnya. Kematian ada di tengah-tengah kita. Saudara mau baik dan pergi ke gereja, baik untuk beribadah tetap mati. Kematian merenggut seluruh yang kita punya memisahkan semua yang kita cintai. Menyia-nyiakan seluruh hasil kerja kita puluhan tahun. Itu adalah senjata dari Iblis, singgasananya ada di kuburan. Tetapi Yesus Kristus menghancurkan setan tepat di atas singgasananya, kuburan. Dia dari surga, turun ke dunia, masuk ke kuburan, menghancurkan setan di sana dan Dia bangkit dan Dia menyatakan barang siapa di dalam Dia maka dia memiliki kuasa kebangkitan pada akhir zaman. Apa yang terjadi di kubur? Yesus bangkit, kuasa setan dengan kekuatan perangnya sudah dikalahkan tepat di atas singgasananya. Apakah ada lebih berita yang lebih mulia, lebih indah, lebih manis daripada hal ini? Pintu gerbang dari kematian itu sekarang sudah dihancurkan. Di dalam Kristus, maka terusan kuburan itu kehidupan.

Oh, saya suka sekali Alkitab menulis seperti apa pada pagi hari di Minggu. Para wanita membawa rempah-rempah, ingin merempahi tubuh Yesus. Tapi mereka kaget, pintu kubur itu terbuka. Pada waktu itu berbentuk gua, bukan di bawah. Mereka itu takut, ini pasti ada yang curi atau apa yang terjadi? Maka ada 2 malaikat duduk, satu di bagian yang tadinya kepala Yesus terbaring dan satu lagi di bagian kaki-Nya. Malakait itu mengatakan, “Mengapa engkau mencari yang hidup di tengah-tengah orang mati? Dia tidak ada di sini, pergi sekarang.” Wah saya sangat terhibur dengan satu kalimat ini. Maka itu adalah perjalanan wanita ke kubur itu persis seperti perjalanan kita semua ke kubur. Semua langkah kaki kita menuju kuburan. Tapi sampai di kuburan, “Ayo keluar, keluar, tempatmu bukan di sini, pulang-pulang tempatmu bukan di sini.” Perhatikan baik-baik, ini bukan bicara mengenai apakah saudara Kristen atau bukan Kristen, tetapi ini berbicara kalau kita sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus, jika kita diikat menjadi satu di dalam Kristus Yesus, terusan kuburan itu adalah kehidupan. Lihat seluruh pendiri agama semuanya mati. Apakah ada pengharapan di antara seluruh agama? Sama sekali tidak ada. Perhatikan Alkitab. Kekristenan bukan bicara menjadi baik atau tidak. Alkitab tidak bicara maka saudara menjadi kaya atau tidak. Alkitab tidak mengajar bagaimana sehat atau sakit. Tetapi Alkitab mengajar apakah engkau hidup atau mati taruhannya. Pagi ini ribuan tahun yang lalu, kuasa setan dan kekuatan perangnya sudah dikalahkan tepat di atas singgasananya. Sekali lagi, hal yang pertama; di dalam Kristus, kebangkitan-Nya menjadi kebangkitan kita. Di dalam Kristus, Allah mengaruniakan kebangkitan bagi kita. 

Sekarang saya akan masuk ke dalam bagian yang ke-2. Di dalam Kristus, karena kebangkitan-Nya sudah dimiliki oleh kita, Allah menugaskan kita untuk mematikan dosa. Beberapa puluh tahun yang lalu ketika saya kuliah teologia, dosen saya masuk ke kelas dan tiba-tiba dia bertanya satu pertanyaan yang menusuk hati saya. Dia bertanya kepada seluruh muridnya, “Mahasiswa teologia, pertanyaannya adalah tunjukkanlah di mana letak kemenangan Kristus di dalam dirimu?” Jikalau engkau mempercayai kebangkitan Kristus, tunjukkan di mana pengaruh event itu; Kristus bangkit di dalam hidupmu. Apakah ada perbedaan dalam hidupmu antara Kristus bangkit atau tidak? Dan biarlah pada pagi hari ini, pertanyaan itu menjadi pertanyaan kita semua. Tunjukkanlah di mana letak kemenangan Kristus di dalam hidup kita. Jikalau engkau mempercayai Kristus itu bangkit, di mana pengaruh-Nya di dalam hidupmu? Ada sesuatu yang unik di sini, Paulus mengaitkan realita kebangkitan Kristus dengan kekudusan hidupnya. Dia mengatakan demikian, “Jikalau Roh yang membangkitkan Kristus itu ada padamu, Roh yang sama itu akan memberikan kepadamu kuasa untuk mematikan dosa (mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu)” Ketika kita membaca kitab Roma, sebenarnya kitab Roma itu luar biasa kompleks dan kalau melihat dari beberapa komentator, saudara akan menemukan begitu banyak dari berbagai macam sudut komentator berbeda berbicara satu dengan yang lain penekanannnya. Tetapi mereka sama di dalam beberapa titik berat dan hari ini saya akan memberikan kepada saudara-saudara beberapa titik berat yang penting di dalam kitab Roma ini, untuk membuat saudara dan saya itu menyadari bahwa kebangkitan Kristus bukan bicara berkenaan dengan suatu sejarah yang kita kenang, yang sudah pernah terjadi di dunia, tetapi adalah sesuatu yang sangat memiliki relasi dengan hidup kita here and now.

Beberapa hal yang menjadi titik berat, pertama; kitab Roma mengajarkan jikalau kita ada di dalam Kristus, sesungguhnya kita ada di dalam realm Spirit. Alkitab mengatakan engkau hanya ada 2 kemungkinan. Satu adalah di dalam realm daging atau yang ke-2 adalah di dalam realm Spirit. Ini adalah sesuatu yang critical. Kita harus mengerti kebenaran ini. Hanya ada 2 realm di dunia ini. Saudara melihat diri saudara, istri saudara, pacar saudara, orang lain. Saudara hanya ada dalam 2 realm ini. Apakah orang tersebut ada di dalam realm Spirit atau orang tersebut ada di dalam realm daging. Saudara tidak bisa dua-duanya. Ini bukan bicara 2 hal ini ada di dalam satu, dalam tubuh saya, di dalam hidup saya. Tidak. Saudara hanya mungkin ada dalam satu realm. Apakah saudara-saudara dan saya berada dalam realm daging atau saudara dan saya berada dalam realm Spirit. Realm Spirit Holy Spirit. Tidak ada posisi di tengah-tengah. Orang Kristen yang sejati; jikalau saudara dan saya adalah orang yang ditebus oleh Kristus dan kita menjadi milik Kristus, kita adalah orang yang tadinya ada di dalam realm daging dan sekarang dipindahkan/di-transfer ke dalam realm Roh Kudus. Dan yang men-transfer adalah Allah dengan anugerah-Nya di dalam Kristus.

Martin Lloyd Jones menyatakan hal ini: “Menjadi orang Kristen bukan sekedar perubahan kepercayaan kita saja.” Oh, aku percaya sama Yesus Kristus, tadinya belum. Aku percaya kepada Alkitab dan aku membaca Alkitab, tadinya belum. Bukan, bukan berhenti sampai di situ saja. Oh, aku tadinya tidak tahu doktrin ini, tidak tahu doktrin keselamatan. Tidak tahu doktrin mengenai eskatologi. Saya tidak tahu doktrin. Sekarang saya menjadi orang Reformed, saya mengerti doktrin ini. Ya itu ada, tetapi bukan berhenti sampai di situ saja sebenarnya. Menjadi orang Kristen sesungguhnya adalah seseorang yang tadinya ada di dalam realm daging, dipindahkan Allah di dalam realm Holy Spirit. Atau dengan kata lain, sebelumnya seseorang itu dikuasai atau didominasi oleh keinginan daging dan diperintah olehnya, sekarang dia hidup, di-transfer ke dalam realm yang dikuasai, dikontrol, diperintah oleh Holy Spirit dengan Firman-Nya. Kita tidak mungkin bisa mengubah ini. Transfer ini, pemindahan ini hanya dikerjakan oleh Allah di dalam Yesus Kristus dengan kuasa kelahiran baru. Di dalam hal ini ada sesuatu kebenaran lagi yang ditekankan dalam Alkitab. Ketika kita berada dalam realm Spirit ini, saudara dan saya tidak pernah bisa berpindah kembali ke dalam realm daging. Itu semua adalah pekerjaan Allah bukan dari kita dan karena itu adalah pekerjaan dari Allah maka kita bisa memiliki kepastian kekekalan. Pekerjaan Allah selalu sempurna, tidak pernah gagal dan Allah tidak pernah berubah. Itulah sebabnya dalam Alkitab dikatakan, ‘Apa yang sudah dimulai, hal yang baik dari Allah, Dia akan selesaikan sampai kesudahannya.’

Hal yang ke-2 yang menjadi titik berat kitab Roma adalah Paulus menjelaskan bagaimana cara kerja Allah memindahkan kita dari realm daging menuju realm Spirit ini. Maka saudara akan menemukan Roma 6 dan Roma 8 itu paralel adanya, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda. Roma 6 mau menyatakan bahwa Allah memindahkan kita ke dalam realm Spirit dengan menyatukan kita, union with Christ. Dan Roma 8 memberikan sesuatu penekanan, Allah itu men-transfer kita kepada realm Spirit itu adalah dengan memberikan Holy Spirit di dalam hidup kita, Roh yang membangkitkan Kristus sekarang ada dalam hati kita. Kalau mau menggabungkan keduanya, maka bagaimana Allah memindahkan kita dari realm daging ke realm Spirit adalah melalui pekerjaan Roh Kudus yang menyatukan kita dengan Kristus; union with Christ

Penekanan yang ke-3,maka yang sekarang menjadi titik aplikasi dari apa yang Paulus itu nyatakan. Engkau sudah dipindahkan di dalam realm Holy Spirit. Engkau tidak bisa kembali. Engkau bisa pergi ke sini karena anugerah Allah. Dan di dalam realm ini itu adalah kehidupan. Kalau engkau berada dalam realm daging maka itu kematian. Sekarang engkau sudah ada dalam realm Holy Spirit. Engkau dan saya ada dalam union with Christ. Engkau dan saya ada di dalam Kristus. Dan engkau dan saya sudah memiliki Roh Kudus, Roh yang membangkitkan Yesus Kristus. Maka Paulus mengatakan: “Maka matikan dosa.” Ada tugas; matikan dosa. Paulus mau menyatakan ada satu kemungkinan hidup yang dulu engkau tidak pernah bisa miliki dan tidak pernah bisa memiliki kemampuan untuk melakukannya. Tetapi sekarang engkau punya. Dan itu adalah mematikan dosa. Haruslah kita ingat kita tidak lagi berada di bawah kuasa dosa/kuasa daging, tetapi sisa-sisa dosa tetap ada dalam kehidupan kita. Ini adalah sesuatu yang penting sekali. Di dalam beberapa minggu ini saya terus memikirkan; Tuhan apa sebenarnya yang Engkau sudah kerjakan yang tidak mungkin dikerjakan oleh seluruh agama, pendiri agama mana pun saja dan tidak dimiliki oleh dunia. Apa bedanya aku mengenal Engkau dan tidak mengenal Engkau? Apakah Kristus Yesus bangkit dan pendiri agama lain tidak dan kita bertepuk tangan lalu selesai? Tidak! Ternyata ada perbedaan hidup. Sekarang ini, here and now. Bukan bicara mengenai nanti masuk ke Surga. Kristus bangkit, karena Dia bangkit maka matikan dosa! Saya akan memberikan satu pengajaran di dalam untuk membuat saudara mengerti prinsip ini karena prinsip ini luar biasa vital tetapi terlalu banyak dari kita yang tidak mengenalnya. 

Ketika kita membaca Alkitab, kita akan menemukan ada prinsip-prinsip yang sifatnya indikatif dan ada prinsip-prinsip yang sifatnya imperatif. Ada hal-hal yang dituliskan, yang bersifat pernyataan. Indikatif menjelaskan apa yang Tuhan sudah kerjakan, adalah suatu anugerah yang menjadi being yang baru bagi kita, identitas yang baru bagi kita. Setelah dinyatakan, baru saudara akan lihat ada kalimat perintah. Imperatif menjelaskan apa yang menjadi implikasi dari apa yang telah menjadi being baru ini. Apa yang menjadi buah dari indikatif/kenyataan yang baru ini? Apa yang menjadi tugas satu being yang baru yang kita dapatkan, anugerah itu? Kalimat imperatif di dalam Alkitab tidak boleh saudara lepaskan dari indikatif. Kalimat imperatif juga tidak boleh disejajarkan dengan indikatif. Juga tidak pernah boleh dibalik tatanannya; imperatif lalu indikatif.

Saya akan berikan contoh, tapi ini luar biasa penting. Lihat Kolose 3 sebagai contoh. Ayat yang pertama, Kolose 3:1 adalah indikatif,ini suatu yang Allah sudah kerjakan bagi kita di dalam Sejarah, kemudian ayat ke-2 dan ke-5, baru Dia memerintahkan kalimat imperatifnya. Ayat yang pertama, ‘Kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus.’ Ini adalah anugerah Allah. Ini adalah apa yang Allah kerjakan bagi saudara dan saya. Kristus sudah bangkit. Itu bukan pekerjaan kita. Kita dibangkitkan bersama dengan Kristus. Itu adalah anugerah, itu bukan pekerjaan kita sama sekali. Itu adalah indikatif. Itu adalah anugerah Allah yang sudah diberikan kepada kita. Sekarang lihat kalimat tugasnya, kalimat perintahnya yaitu ayat yang ke-2, ‘Cari perkara yang di atas.’ Dan ayat yang ke-5, Matikan dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi.’ Cari perkara yang di atas dan matikan dosa. Perhatikan kalimat yang ke-2 dan ke-5, kalimat imperatif, tugas ini tidak pernah muncul di dalam kekristenan tanpa indikatif yang pertama. Apa bedanya dengan seluruh agama? Perhatikan, seluruh agama, dia akan tiba-tiba muncul: “Engkau matikan dosa. Engkau jangan lakukan ini, jangan lakukan itu. Engkau harus berbuat baik.” Karena itu seluruhnya adalah peraturan-peraturan. Tidak di dalam kekristenan. Setiap perintah Allah kepada kita, ada sesuatu sebelumnya yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita sehingga apa yang kita kerjakan adalah dengan kekuatan kuasa dari sebelumnya. Banyak dari kita menjadi lelah untuk mengikuti perintah-perintah Tuhan karena kita tidak mengerti sumber kekuatan kuasa ada di mana. Kekristenan bukan bicara dos and donts. Kekristenan di dalam Alkitab ada kalimat perintah/ada tugas, tetapi ada anugerah di depan. Perhatikan, ayat 1, 2 dan 5 tidak pernah bisa dibalik. Kalau agama-agama yang lain, dia menyatakan seperti ini; Lakukan ini maka engkau akan hidup. Atau kalau ini mau dibalik; Matikan dosa maka engkau akan dibangkitkan bersama dengan Kristus. Lakukan ini maka engkau akan hidup. Tetapi di dalam kekristenan; Engkau sudah dihidupkan, maka engkau mampu melakukan hal ini. Oh ini perbedaan yang luar biasa besar. Ini adalah titik berat khotbah saya hari ini.

Kekristenan bicara mengenai Kristus bangkit dan apa pengaruhnya dalam hidupku? Alkitab mengatakan: Kalau kita di dalam Kristus, kebangkitan-Nya menjadi kebangkitan kita. Dan Roh yang membangkitan Dia ada dalam diri kita, dan Roh itu bersama-sama dengan kita, kita mematikan dosa dengan kekuatan Roh Kudus itu. Saya mau untuk saudara-saudara mengerti satu hal ini di dalam hatimu. Ini adalah berita Alkitab. Mungkin ini tidak pernah kita dengar khotbah seperti ini pada hari Paskah, tetapi Tuhan membawa hati saya menuju kepada ayat-ayat ini. Ketika bicara mengenai kebangkitan Yesus Kristus, kita selalu berpikir mengenai kebangkitan kita pada akhir zaman ketika kita sudah mati. Ya, benar, tetapi ada sesuatu yang lebih manis daripada itu. Kebangkitan Kristus membuat kita memiliki kuasa untuk mematikan dosa here and now. Apa yang diberikan Kristus tidak bisa diberikan oleh seluruh pendiri agama dan dunia ini? Kuasa hidup suci. Dan saya akan akhiri dengan apa yang dikatakan oleh John Owen. Dia mengatakan demikian, ‘Dunia dulu pernah menaruh Kristus di kandang, di luar rumah ketika Dia datang untuk menyelamatkan kita. Sekarang, biarkanlah Kristus mengeluarkan dunia dari hati kita ketika Dia datang untuk menyucikan kita.’ Biarlah saya boleh untuk menyerukan apa yang Paulus serukan dalam kitab Roma, Kristus sudah bangkit! Kristus sudah bangkit, barangsiapa di dalam Dia, memiliki kemungkinan hidup yang tidak dimiliki oleh dunia, memiliki kuasa yang tidak dimiliki oleh dunia. Dan kuasa itu adalah kuasa untuk mematikan dosa. Kristus sudah bangkit, matikan dosa! Kiranya kasihan Tuhan menyertai kita. Kiranya kebangkitan-Nya menjadi kekuatan kita untuk hidup suci. Mari kita berdoa.


Yoh 1:16, Kis 20:24, Ef 2:7-10
 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

30 March 2024
Christ The Fountain of Life (2)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Yoh 1:16, Kis 20:24, Ef 2:7-10

Yoh 1:16, Kis 20:24, Ef 2:7-10

Kita akan terus memikirkan satu tema ini, Yesus Kristus adalah mata air kehidupan. Sekali lagi pertanyaannya adalah apa yang diberikan Kristus yang tidak pernah bisa diberikan oleh pendiri agama lain? Apa yang Kristus berikan yang tidak pernah juga bisa diberikan oleh dunia ini? Dengan kata lain, apa kebutuhan essential dalam kehidupan saudara dan saya yang hanya bisa diberikan oleh Yesus Kristus tetapi tidak bisa diberikan oleh dunia dan pendiri agama manapun saja. Kemarin saya sudah mengatakan satu elemen yang pertama yaitu love (cinta). Hari ini saya akan membicarakan elemen ke-2 yang sangat essential dalam kehidupan manusia yang hanya bisa diberikan oleh Yesus Kristus yaitu kasih karunia.

Karl Barth adalah seorang tokoh Neo-Orthodox, kita tidak terlalu suka dengan teologianya tetapi dia adalah anak Tuhan yang sejati. Suatu hari dia masuk ke dalam sebuah ruangan seminar. Dia agak terlambat pada waktu itu dan ketika dia masuk dia melihat orang-orang yang sudah berkumpul di dalam kelompok-kelompok membahas sesuatu pertanyaan. Kemudian Karl Barth bertanya kepada seseorang di sana, “Kamu sedang diskusi apa?” Lalu kemudian orang itu mengatakan, “Kami sedang berdiskusi, ada satu pertanyaan yang dilontarkan untuk seluruh audience, hal apakah, konsep apakah yang ada di dalam Alkitab yang tidak pernah ada muncul sedikitpun di dalam konsep agama-agama lain?” “Kami sudah membahasnya beberapa menit tetapi kami belum menemukannya. Kami berpikir mengenai Tritunggal, konsep itu.” Saudara-saudara, Tritunggal adalah misteri pertama yang terdalam di dalam iman kita. Dan saudara-saudara, ini adalah sesuatu prinsip Alkitab yang melampaui pikiran. Tetapi saudara-saudara, di dalam diskusi itu mengatakan bagaimanapun saja, agama-agama itu adalah terbagi 2, yang satu percaya monoteism, yang satu percaya polytheism. Kita, Trinity adalah bicara mengenai oneandmany, hadir bersama-sama. Saudara-saudara, minimal ada sesuatu bayang-bayang, tentu tidak bisa mendekati apapun saja dari Trinity, tetapi itu ada di dalam konsep agama-agama. “Kami juga berpikir mungkin adalah dwi natur Kristus. Satu pribadi, dua natur, ilahi sepenuhnya dan manusia sepenuhnya.” Ini adalah misteri ke-2 di dalam iman kristiani, melampaui seluruh pikiran manusia. Tetapi saudara-saudara, di cerita dewa dewi kuno maka sering sekali itu ada dewa-dewa yang datang dan menjelma menjadi sesuatu hal yang ada di dunia ini untuk mengelabui manusia. Dan kemudian yang berdiskusi itu mengatakan, “Sampai sekarang kami belum tahu apa konsep di dalam Alkitab yang tidak pernah terpikir oleh manusia atau oleh agama manapun saja.” Dan sambil merenung sebentar dan kemudian Karl Barth tersenyum, dan kemudian dia mengatakan, “Kasih karunia.”

Iya saudara-saudara, kasih karunia. Alkitab dengan jelas menyatakan kata ini berulang-ulang, ratusan kali bahwa Allah yang suci itu memberikan kasih karunia-Nya dengan berlimpah-limpah kepada kita di dalam Yesus Kristus untuk memberikan kebenaran kepada seseorang yang hina, yang berdosa, yang tidak benar ini. Saudara-saudara, konsep ini bahkan tidak ada di dalam dunia ini. Sesungguhnya dunia sulit untuk mempercayai konsep ini. ‘Kasih karunia’ adalah kalimat yang sangat-sangat mengagumkan dan sangat manis didengar di hadapan telinga dari anak-anak Tuhan, orang-orang kaum pilihan. Tetapi yang paling disangkal oleh siapapun saja yang ada di dunia ini meskipun sesungguhnya mereka memerlukan kasih karunia. Saudara coba kabarkan Injil kepada mereka dan katakan kepada mereka, “Percaya kepada Yesus Kristus maka engkau akan diselamatkan.” Kemudian mereka mengatakan, “Apakah engkau tidak salah? Hanya percaya, aku bisa masuk ke sorga? Hanya percaya saja, Tuhan menerimaku? Bukan karena ritualku? Bukan karena aku berbuat baik? Bukan karena aku memberikan persembahan? Hanya percaya saja aku bisa masuk ke sorga? Oh, come on! Ayo, kita bicara ini! Ini kelihatannya terlalu gampang.” Kalau terlalu easy, terlalu gampang, terima dong! Tapi tidak. Sama sekali tidak. Ini adalah sesuatu yang asing di tengah-tengah orang dunia ini. Dunia ini mengajarkan cara kerja yaitu take and give. Reward and punishment. Tabur tuai. Kamu jahat sama orang lain, kamu akan dibalas yang jahat. Kalau kamu baik sama orang lain, kamu dibalas dengan kebaikan. Kalau kamu itu menanam yang banyak kamu akan menuai yang banyak. Kalau kamu pelit, kamu akan dibikin orang itu, pelit. Kalau kamu itu berhasil, kamu itu indah, kamu itu kaya, maka akan banyak yang memuji. Pintar. Banyak yang memuji. Tetapi kalau kamu bodoh, kalau kamu gagal, kalau kamu jelek, kamu akan dihina di sini. Saudara-saudara, ke manapun saja, saudara tidak akan menemukan konsep grace. Ya, saudara akan ketemu sama orang namanya Grace, tetapi konsep grace itu susah, saudara-saudara dan saya sudah tahu kebenaran ini beberapa puluh tahun yang lalu dan saya merenungkannya, oh benar-benar! Tetapi suatu hari saya terkejut sekali saya menemukan kata ‘grace’ itu di tengah-tengah perjalanan saya. Dan saya kemudian mengatakan, “Wow, dunia ternyata punya konsep grace.” Apa yang saya percaya itu, tadi salah. Saudara tahu saya menemukan kata grace itu di mana? Ketika saya mau masuk parkir di secure parking, di situ ada tulisan grace period 5 menit, saudara. Hanya 5 menit. Aku tidak akan mengambil uangmu. 5 menit lebih 1 detik, uangmu kasih ke saya. Dunia tidak mengenal kata ini. Tetapi lihatlah Alkitab ini menyatakan kata ini begitu banyak. Di dalam Perjanjian Baru sendiri 160 kali kata ini muncul. Dapat dikatakan Allah menempatkan kita berenang-renang di tengah-tengah kasih karunia demi kasih karunia. Pada hari ini kita akan memikirkan apa yang Alkitab katakan mengenai kasih karunia ini.

Yang pertama, ketika kata kasih karunia ini ada, Allah kita di dalam Alkitab meletakkan kata ini melekatkannya kepada Kristus Yesus, karya Kristus Yesus dan yang paling puncak adalah di atas kayu salib. Saudara-saudara, kita jangan sembarangan menggunakan kata ini karena kata ini tidak pernah terlepas dari salib Kristus. Di dalam Alkitab yang tadi kita baca dikatakan kasih karunia demi kasih karunia datang kepada kita dari kepenuhan Kristus. Apa yang ada sesungguhnya dikatakan di situ? Saudara-saudara, di dalam pasal 1:14 sebelumnya dikatakan, ‘bahwa Yesus Kristus, full of grace and truth.’ Di dalam kepenuhan keilahian-Nya yang penuh dengan anugerah dan kebenaran itu, sekarang Allah Bapa memberikan itu semua kepada kita. Dan kasih itu disebut sebagai kasih karunia yang membuat kita itu hidup. Kalau saudara-saudara menggabungkan dengan konsep Roma 3:23, ‘semua manusia sudah jatuh di dalam dosa, dan kehilangan kemuliaan Allah.’ Saudara-saudara coba pause sebentar di sini. Saya memikirkan kalimat ini bebarapa hari yang lalu, saya kemudian mulai menyadari. Ada yang unik di sini. ‘Manusia sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah.’ Iya dikatakan, manusia sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan-Nya. Kata kemuliaan adalah bicara mengenai martabat, kata kemuliaan adalah bicara mengenai bobot. Bahasa aslinya kemuliaan adalah kavod, itu artinya bobot. Itu adalah nilai. Manusia sudah berdosa kehilangan nilai, dan nilai itu adalah kemuliaan Allah. Dan ini satu-satunya bisa dikembalikan adalah jikalau manusia tersebut mengenal, menerima Kristus yang penuh dengan kasih karunia dan kebenaran itulah kemuliaan kita. Sama seperti satu tempat botol minyak itu untuk minyak itu bisa sungguh-sungguh berguna, maka mesti dipecahkan. Atau sebuah karung yang di dalamnya itu ada kekayaannya yang tersimpan untuk saudara bisa mendapatkannya, maka karung tersebut mesti dirobek. Demikian pula kehidupan Allah, keilahian yang penuh dengan anugerah itu untuk bisa menjadi milik kita maka perlu dipecahkan di atas kayu salib. Saudara-saudara, perhatikan kalimat Yesus berkali-kali selalu bicara mengenai pecah, bicara mengenai pecah, bicara mengenai dipecahkan roti, dipecahkan air dicurahkan. Kasih karunia Allah hadir kepada kita hanya melalui Yesus Kristus yang dipecahkan.

Ada satu kalimat yang indah mengatakan demikian, Allah mendekati kita dalam kehidupan Kristus namun Allah menjadi milik kita di dalam kematian Kristus. Sekali lagi, Allah mendekati kita di dalam kehidupan Kristus namun Allah menjadi milik kita di dalam kematian Kristus. Di dalam kepenuhan-Nya, Dia dipecahkan dan keluarlah kasih karunia demi kasih karunia di atas kayu salib. Saudara-saudara, salib adalah satu event, peristiwa yang terjadi, tetapi apa sesungguhnya berkat-berkat dari salib yang real di hadapan Allah untuk Allah itu nyatakan kepada kita, maka para penulis dari surat-surat pastoral itu memberikan kepada kita apa yang sesungguhnya Allah berikan kepada kita melalui salib. Saudara akan menemukan begitu banyak kata-kata yang menyatakan berkat-berkat rohani dari sorga yang diberikan melalui salib Kristus kepada kita. Sekali lagi Allah mendekati kita melalui kehidupan-Nya, tetapi Allah itu menjadi berkat bagi kita melalui kematian Kristus.

Saudara lihatlah rasul Paulus dan rasul-rasul yang lain, saudara-saudara akan melihat dari salib itu memiliki dari beberapa dimensi yang sangat-sangat berharga bagi kita. Salib adalah pembenaran kita. Kata pembenaran itu bicara berkenaan dengan pengadilan dinyatakan sebagai orang yang benar, orang yang tidak bersalah karena kebenaran Kristus. Salib adalah pengampunan bagi kita. Itu artinya dibebaskan dari hukuman yang seharusnya kita tanggung. Salib adalah pengudusan kita. Itu diubah dari kegelapan menjadi terang. Salib Kristus adalah pendamaian kita. Kita dirubah dari musuh menjadi anak-anak Allah. Dikatakan juga salib itu adalah penebusan kita. Harga yang seharusnya kita harus bayar tetapi kita tidak sanggup bayar sekarang dilunaskan oleh Yesus Kristus. Dan salib adalah peredaan murka Allah bagi kita. Itu artinya murka Allah yang seharusnya timpa kepada kita sekarang dialihkan timpa kepada Yesus Kristus. Di dalam bahasa aslinya itu namanya propitiation. Ada sungguh-sungguh cerita yang terjadi, ada seorang bapak dan anak itu terjebak di dalam baku tembak beberapa gangster itu, dan kemudian peluru itu menyasar ke mana-mana. Bapak itu tidak bisa untuk melarikan diri dari tempat itu, tetapi menyadari bahwa sangat mungkin maka peluru itu akan secara liar itu menuju kepada mereka. Kemudian apa yang dilakukan? Dia membawa anaknya yang masih kecil itu dan kemudian membuat dia menunduk dan kemudian dia merangkul dengan seluruh kemampuan daripada luas tubuhnya menutupi anak tersebut. Dia menunggu di situ sampai peperangan itu selesai. Beberapa peluru liar itu menembus tubuhnya dan bapak itu mati ketika dia memeluk anaknya. Itu artinya adalah propisiasi. Apa yang dikerjakan oleh Kristus di atas kayu salib adalah pembenaran, pengampunan, pengudusan, pendamaian, penebusan, peredaan murka Allah. Segala sesuatu ini adalah kasih karunia Allah yang hadir kepada manusia. Ini adalah sesuatu yang sesungguhnya diperlukan oleh orang yang berdosa.

Sebelum saya masuk ke dalam bagian yang ke-2, saya akan membawa saudara-saudara untuk memikirkan kalau hal ini adalah sesuatu yang penting, mengapa orang-orang itu menolak salib? Mengapa tidak mudah untuk membicarakan hal ini kepada orang-orang di dunia? Maka kalau saudara memikirkan baik-baik, sungguh-sungguh memikirkan baik-baik, maka untuk bisa menghargai kemutlakan, kepentingan, kebutuhan salib, ini adalah kata yang penting, the absolute necessity, kepentingan mutlak yang tidak tergantikan dari salib. Maka untuk mengerti itu seseorang harus mengerti 2 hal ini. Yang pertama adalah the glory of God dan yang ke-2 adalah the gravity of sin. Yang pertama adalah kemuliaan Allah yang suci yang tidak tertandingi itu. Yang ke-2 adalah bobot dosa yang keji. Kenapa kita sulit untuk mempercayai salib? Kenapa kita sulit untuk menerima kasih karunia Allah? Anugerah bukankah itu sesuatu yang indah? Saudara-saudara, manusia itu merasa dirinya tidak memerlukan anugerah. Mereka memerlukan gift, memerlukan pemberian. Saudara-saudara, ada 2 hal yang berbeda, satu adalah anugerah. Yang ke-2 adalah gift adalah hadiah. Saudara-saudara, hadiah (gift) adalah segala sesuatu untuk membereskan hal-hal di dunia ini. Tetapi anugerah itu urusannya lain. Itu adalah sesuatu yang berurusan dengan Allah sendiri. Kita tidak mungkin akan mendekat kepada Allah, tidak mungkin berkenan kepada Dia kecuali Dia memberikan anugerah kepada kita melalui salib. Tetapi sekali lagi, kenapa sulit untuk kita itu menghargai salib? Kenapa orang-orang dunia itu sulit untuk menerima kepentingan mutlak dari salib Kristus. Dan bahkan pada siang hari ini, berapa banyak dari antara orang Kristen atau saudara dan saya sekarang yang duduk di tempat ini, yang melihat salib ini dan tetap bisa mengucap syukur dengan sesuatu kesegaran yang baru. Perhatikan baik-baik, kalau kita tidak bertumbuh rohani, maka salib itu tidak akan membuat air mata kita menetes. “Aku sudah tahu, aku sudah jadi orang Kristen lama, apanya yang tidak tahu mengenai salib. Salib, aku tahu! Yesus mati bagiku. Aku diterima sama Bapa. Sudah kok, sekali untuk selamanya. Selesai!” Tidak! Saudara-saudara, salib itu adalah sesuatu yang hidup. Salib itu bukan sesuatu event yang terpancang 2000 tahun yang lalu dan kemudian selesai. Pekerjaan Roh Kudus sesungguhnya adalah membukakan dimensi-dimensi yang baru tentang salib yang menhancurkan hati kita. Orang-orang dunia tidak menghargai daripada salib dan orang Kristen tidak bertumbuh untuk menghargai salib adalah karena 2 hal ini. Yang pertama adalah kita tidak bertumbuh mengenal kemuliaan Allah dan yang ke-2 adalah kita tidak bertumbuh untuk mengenal kebobrokan kekejian dosa diri sendiri. Jikalau kita mengenal kemuliaan Allah, bertumbuh mengenal-Nya, kita akan tahu bahwa diri kita itu makin hari makin nyata kebobrokan dan dosa-dosa kita. Paulus sendiri mengatakan, setelah masa-masa tuanya maka dia mengatakan, “Di antara seluruh orang berdosa, aku orang berdosa.” Apakah dia itu melakukan dosa pada masa tuanya lebih banyak daripada sebelumnya, jawabannya tidak! Tetapi karena Roh Kudus itu memunculkan apa yang tadinya dia tidak sadari mengenai dosa bahkan kita melihatnya sesuatu yang mungkin kecil dan tersembunyi. Orang yang melihat kemuliaan Allah dan orang yang mengerti diri itu adalah manusia berdosa, dia akan melihat salib itu sesuatu yang segar dan sesuatu yang merendahkan hati sekarang. Kasih karunia Allah diberikan kepada manusia hanya di dalam Kristus Yesus yang tersalib.

Hal yang ke-2, ketika bicara mengenai kasih karunia, kasih karunia diberikan Allah di dalam Kristus kepada umat-Nya adalah kasih karunia bagi keselamatan. Saudara-saudara, J. I. Packer pernah ditanya, apa Injil itu? Saudara-saudara, tadi kita baca dalam Kisah Para Rasul, Injil Kasih Karunia Allah. Saudara-saudara, di dalam Alkitab Allah Bapa yang penuh dengan kasih karunia. Allah Anak yang memberikan kasih karunia. Saudara-saudara, kasih karunia dari Allah Bapa dan Allah Anak menyertai engkau jemaat. Dan Injil kasih karunia dan Roh Kudus yang membawa daripada pekerjaan Kristus untuk diberikan di dalam kasih karunia-Nya kepada kita. Injil itu sebenarnya apa? J. I. Packer menyatakan demikian, “Allah menyelamatkan pendosa.” Selesai. Jadi Injil itu apa J. I. Packer? “Allah menyelamatkan pendosa.” Tetapi problemnya adalah di dalam 3 kata ini. Setiap kata bisa dijabarkan masing-masing berjilid-jilid buku. Dan demikianlah Injil dan seluruh catatan Alkitab Perjanjian Baru kita menjabarkan mengenai Allah menyelamatkan (salvation) kepada kita. Saudara-saudara, J. I. Packer kemudian mengatakan, “Allah menyelamatkan manusia. Saudara perhatikan, kata ‘Allah’ Tritunggal, Jehovah, Bapa Putra dan Roh, 3 Pribadi yang bekerja bersama dalam kebijaksanaan, kuasa, kasih yang berdaulat untuk mencapai keselamatan umat pilihan-Nya. Bapa yang memilih, Sang Anak memenuhi kehendak Bapa melalui penebusan, dan Roh Kudus melaksanakan tujuan dari Bapa dan Anak melalui pembaharuan, itu adalah Allah. Kata ‘menyelamatkan’ artinya melakukan segala sesuatu dari awal sampai akhir. Segala sesuatu yang terlibat dalam membawa manusia dari kematian dalam dosa kepada kehidupan di dalam kemuliaan. Allah Tritunggal itu, merencanakan dari kekekalan mencapai manusia dengan inkarnasi, mengkomunikasikan penebusan dengan salib, dan memanggil serta menjaga kita dengan pekerjaan Roh Kudus, membenarkan, menguduskan dan memuliakan.

Kata yang ketiga, ‘orang-orang berdosa’ yang dilihat Allah, bersalah keji tidak memiliki kuasa tidak berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa untuk melakukan kehendak Tuhan atau memperbaiki nasib mereka. Dan dari seluruh penjelasan ini saya mau menekankan beberapa hal. Hal yang pertama, ketika Alkitab bicara mengenai kasih karunia, Allah menyelamatkan pendosa. Titik beratnya adalah apa yang Allah lakukan? Apa yang Allah lakukan bagi saudara dan saya? Bukan apa yang kita lakukan bagi Allah. Ini yang membedakan antara kekristenan dengan seluruh agama yang lain. Kalau saudara-saudara membaca Alkitab dan kemudian saudara berpikir bahwa Alkitab kita berisi do’s and don’ts. Lakukan ini kalau tidak lakukan, dosa. Jangan lakukan itu, kalau tidak lakukan itu dosa. Maka saudara-saudara salah mengerti titik beratnya. Saudara-saudara, itu yang dikerjakan oleh seluruh agama, itu diberikan oleh seluruh agama. Itu yang dipikiran oleh manusia yang berdosa, tetapi Alkitab memberitahu kepada kita bicara berkenaan dengan kemuliaan Allah dan dosa kita, kita memerlukan kasih karunia dan titik utama dari pada Injil kasih karunia yaitu pekerjaan Allah bagi kita bukan apa yang kita lakukan bagi Allah. Hal yang ke-2 dalam poin ini adalah, tadi saya sudah katakan bicara mengenai kasih karunia yaitu kasih karunia dari Allah di dalam Kristus Yesus yang menyelamatkan. Maka kata keselamatan ini artinya adalah segala-galanya, seluruhnya dalam kehidupan kita a sampai z di dalam hidup saya. Seluruh dari a sampai z. Saudara ketika bicara mengenai keselamatan di dalam kekristenan, saya minta semua saudara memperhatikan ini karena ini adalah sesuatu yang berkali-kali kita salah dan ketika kita salah saudara tidak bisa melihat pekerjaan Allah yang indah di dalam keseharian. Sungguh Allah itu hidup saudara, sungguh Allah itu indah bekerja dalam hidup kita dalam kasih karunia demi kasih karunia, tetapi saudara-saudara perhatikan prinsip ini. Saya akan menekankan hal ini karena kaum injili, kita kaum injii kita sudah terdistorsi dalam arti kata keselamatan. Ketika bicara mengenai keselamatan, apakah engkau, apakah saya sudah diselamatkan? Selalu dalam pikiran kita adalah aku masuk ke surga selesai. Tidak saudara, sama sekali tidak! Keselamatan adalah satu payung yang besar yang meliputi seluruh karya Allah yang dikerjakan dari a sampai z kepada diriku. Itu bukan bicara mengenai titik akhirnya saja tetapi itu adalah bicara mengenai segala sesuatu yang Kristus itu kerjakan di dalam diriku bahkan saat ini, detik ini. Saudara-saudara, saudara tidak akan bisa menikmati kata dari kepenuhan-Nya maka aku mendapatkan kasih karunia demi kasih karunia. Kalau saudara dan saya memikirkan keselamatan itu adalah terima Yesus Kristus, aku dari neraka masuk sorga, selesai. Saudara-saudara, tidak, di dalam Kristus Alkitab mengatakan; “kita menerima segala sesuatu berkat-berkat rohani dari sorga”. Saudara-saudara, kalau saudara-saudara mempelajari dari doktrin keselamatan reformed maka salah satu sub temanya yaitu ordo salutis. Orang-orang Puritan itu menggunakan kata golden chain, itu artinya satu dengan yang lain selalu akan berkait dan tidak ada yang bisa untuk memisahkan dari rantai itu. Apakah itu pembunuhan, apakah itu penyiksaan, apakah itu ketelanjangan, apakah itu kemiskinan, tidak ada yang memisahkan kita dari kasih Kristus, itu golden chain yang terus menerus.

Saudara-saudara, bagi orang Reformed masa kini itu disebut sebagai ordo salutis. Ordo salutis itu adalah urutan bagaimana Allah itu mengerjakan keselamatan-Nya mengubah kita dari seorang pendosa sampai menjadi seorang kudusnya Allah dan bahkan dipakai oleh Dia. Saudara perhatikan sinners to saints bukan saja itu, tetapi dipakai oleh Dia. Saudara-saudara ini adalah urutan logic, bukan urutan waktu. Saudara-saudara di dalam reformed teologi maka ordo salutis itu bicara mengenai dipilih sebelum dunia dijadikan di dalam Kristus, ditebus oleh korban Kristus, menerima panggilan injil Kristus, menerima effectivecalling dari Roh Kudus untuk memandang kepada Kristus, diregenerasikan oleh Roh Kudus, memiliki (faith and repentance) iman dan pertobatan yang sejati di dalam Kristus, menerima (justification) pembenaran di dalam Kristus, (sanctification) pengudusan di dalam Kristus, glorification di dalam Kristus dan seluruh ordo saluti ada di bawah payung besar union with Christ. Maka saudara-saudara melihat apa yang ditulis di kitab Yohanes, Yesus sendiri mengatakan satu kalimat yang mencengangkan, “apart from me you can do nothing”. Engkau tidak bisa melakukan apapun saja. “Di luar Aku engkau tidak bisa dibenarkan, diluar Aku engkau tidak bisa menerima pengudusan, diluar Aku engkau tidak bisa membereskan guilty feeling-mu, di luar Aku engkau tidak bisa memiliki perubahan di dalam karaktermu yang buruk, di luar Aku engkau tidak mungkin mendapatkan jalan keluar sebagaimana dunia ini tidak mendapatkannya, diluar Aku engkau tidak bisa mendapatkan kehidupan. Di dalam Kristus kita mendapatkan anugerah demi anugerah.” Ketika saudara-saudara dan saya melihat salib, saudara teringat apa? Pertama ingat cinta. Ke-2 ingat kasih karunia. Dan ini tidak ada pada dunia, ini tidak ada sama pendiri agama. Ini hanya diberikan oleh Allah. Alkitab mengatakan kepada manusia di dalam kepenuhan Kristus Yesus dari sanalah kasih karunia dan kasih karunia mengalir kepada kita.

Hal yang ke-3 yang terakhir, adalah implikasi kasih karunia bagi kita. Kasih karunia hanya ada pada Kristus Yesus yang di mana kepenuhan-Nya penuh dengan kasih karunia dan kebenaran. Ini adalah sumber kemuliaan kita. Dia datang ke dunia dalam hidup-Nya untuk kasih karunia itu bisa diberikan kepada kita, Dia harus dipecahkan di atas kayu salib. Sehingga kita bisa menerima kasih karunia demi kasih karunia, demikianlah cara berpikir Alkitab. Sekarang hal yang ke-3 adalah kalau aku sudah menerima kasih karunia, implikasinya apa? Saudara-saudara jawabannya adalah semuanya, semua hidup kita, semua milik kita. Saudara-saudara perhatikan satu kalimat yang ditulis oleh Dietrich Bonhoeffer yang luar biasa penting. Kasih karunia itu cuma-cuma tetapi harganya luar biasa mahal. Sekali lagi, kasih karunia itu cuma-cuma tetapi luar biasa harganya mahal. Saudara perhatikan ada satu prinsip rohani yang penting disini, perhatikan baik-baik prinsip rohani ini. Orang yang sungguh-sungguh dibukakan akan kasih karunia ini akan menghargai kasih karunia ini dan akan menyerahkan seluruh hidupnya di bawah pemerintahan kasih karunia ini. Sekali lagi ada satu prinsip rohani di sini, kalau saudara dan saya itu menerima kasih karunia, ada sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Kita sungguh-sungguh akan dibukakan kepada kepentingan dan harga yang mahal dari kasih karunia ini. Kita akan menghargai kasih karunia ini dan Roh Kudus akan mendorong kita untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk diperintah oleh kasih karunia ini. Alkitab berulang-ulang menyatakan kepada kita akan kasih karunia Allah dan pada saat yang sama Alkitab berulang-ulang menyatakan harga kasih karunia Allah yang mahal itu. Saya akan membacakan tulisan dari Dietrich Bonhoeffer, mungkin dia adalah yang paling dikenal luas dalam tulisannya mengenai kasih karunia yang mahal. Demikian yang ditulisnya, ‘Kasih karunia yang mahal adalah harta terpendam di ladang yang olehnya orang pergi dan menjual segala sesuatu yang mereka miliki dengan gembira. Kasih karunia yang mahal ini adalah Injil yang harus dicari berulang kali, anugerah yang harus terus diminta, pintu di mana seseorang harus terus menerus mengetuk. Kasih karunia ini mahal karena memanggil kita menjadi murid, tetapi ini adalah juga kasih karunia karena memanggil kita untuk mengikuti Yesus. Kasih karunia ini mahal karena akan mengorbankan hidup kita dan orang-orang yang mengikuti kasih karunia ini tetapi ini adalah kasih karunia karena dengan mengorbankan hidup kita membuat hidup kita hidup. Kasih karunia ini mahal, karena mengutuk dosa, tetapi ini adalah kasih karunia karena itu akan membenarkan orang berdosa di atas segalanya. Kasih karunia itu mahal karena di dalam kasih karunia itu Allah harus membayar harganya, karena kasih karunia itu mengorbankan nyawa Anak-Nya. Dan karena itu yang mahal bagi Allah pastilah tidak ada sesuatu pun yang murah adanya.’

Hari ini kita bicara mengenai kasih karunia, sesuatu yang indah, sesuatu pekerjaan Allah Tritunggal untuk mengubah hidup kita. Tidak ada jalan keluar dalam hidup kita hai jemaat kecuali Tuhan itu berkasih karunia dalam hidup kita dalam bentuk apa pun saja. Bukan saja di dalam hal-hal rohani bahkan di dalam duniawi pun, jasmani pun kita bergantung pada kasih karunia. Tetapi ada masalah besar di dalam kekristenan dan orang-orang yang dipakai Tuhan sejak dulu sudah memunculkan masalah ini. Masalah ini yang disebut sebagai skandal kasih karunia. Berkali-kali kita selalu terjebak di dalam dosa ini. Banyak orang mendengar kata kasih karunia sebagai sesuatu yang lembut, yang nyaman, yang enak seperti berlibur setiap hari. Bagi kebanyakan kita kata kasih karunia dan yang kemarin kata kasih Allah adalah surat izin sah untuk melakukan dosa. Adalah surat izin Allah untuk kalau kita bersalah tidak perlu membereskannya dengan pertobatan dan pengakuan. Dan itu masalah besar, itu kanker di dalam hidup kekristenan kita. Bahkan ada kalimat seperti ini; “Ya tidak apa-apalah berbuat dosa ‘kan nanti ‘ngaku, diampuni, Allah kan mencintai, ada kasih karunia selalu tersedia, kasih karunia demi kasih karunia.” Saudara-saudara, saudara melihat ini kata kasih karunia dan kata cinta itu adalah milik kekristenan. Ini adalah keunikan kekristenan. Ini diberikan Allah kepada kita dalam kemurahan hati-Nya tetapi setan kemudian membalikkan kata ini menjadi kecelakaan fatal di dalam kerohanian kita. Menggunakan kata ini dan kemudian menusuk kembali Allah untuk menyakiti hati-Nya. Saya sungguh-sungguh tidak tahu, kenapa Allah menggunakan cara ini? Berapa banyak dari pada kita ketika melakukan sesuatu dosa, sesuatu hal yang mendukakan hati Allah atau sesuatu kejahatan, kita tidak pernah bicara berkenaan dengan pertobatan? Hal yang pertama yang kita lakukan adalah jangan menghakimi. Allah sendiri itu Maha kasih di mana kekristenan itu kan kasih, kasih, kasih. Kata itu selalu di depan untuk menutupi dosa kita. Itu skandal kasih karunia! Kasih karunia itu diberikan. Saudara perhatikan, saya akan coba untuk mempresentasikan. Kasih karunia itu diberikan untuk menghidupkan kita, memampukan kita, untuk melangkah dengan kuat kuasa menuju kepada kehendak Allah. Tetapi sekarang kasih karunia itu diberikan, dan kita itu pakai untuk melawan Allah. Adalah kecelakan besar dalam hidup kita terhadap kata ini. Saudara perhatikan baik-baik, kasih karunia diberikan untuk kita memiliki kuasa bertobat. Kasih karunia diberikan untuk kita memiliki kuasa hidup suci. Kasih karunia diberikan untuk kita bergerak lebih lagi melayani Allah. Kasih karunia diberikan untuk kita memiliki kerelaan dan sukacita agar seluruh kehendak Allah jadi di hidup kita. Cinta-Nya dan kasih karunia-Nya diberikan kepada kita bukan sebagai lisensi, ijin untuk kita melakukan dosa. Skandal kasih karunia. Kemarin kita sudah bicara mengenai Allah yang kasih. Yohanes mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga mengaruniakan Anaknya yang Tunggal, sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Saudara, kalimat itu ada di seluruh dunia. Kalau sudah gitu Allah mengasihi beres dong aku. Aku sudah dengar, senang. Aku akan menikmati, sama seperti menikmati musik, senang. aku duduk-duduk aja, seperti itu? Tidak! Perampok itu yang tadinya menghina Yesus, Roh Kudus bekerja, dia bertobat dan kemudian dia minta supaya Kristus itu menjadi Rajanya. Begitu ada pertobatan, Allah yang mengasihi itu mengatakan hari ini juga engkau beserta dengan aku di Firdaus. Bagaimana dengan perampok sebelahnya? Dia terus memaki Yesus. Tidak ada pertobatan. Apakah kalimat ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini’, itu terjadi kepada dia? Apakah ada pengampunan bagi dia? Apakah ada pengampuanan bagi Yudas? Bukankah kalimat itu kalimat yang terbentang bagi seluruh umat manusia? Saudara-saudara, seluruhnya kalau kita tidak mengerti titik ini, seluruhnya menjadi skandal rohani.

Kasih karunia itu adalah kasih karunia yang cuma-cuma tetapi mahal. Orang yang mendapatkan kasih karunia ini, kalau dia mengerti harga kasih karunia ditaklukan oleh kasih karunia Allah yaitu Yesus Kristus yang terpaku di atas kayu salib maka dia akan berkerja lebih keras daripada sebelumnya. Jangan pernah bicara mengenai kasih Allah kalau tidak ada pertobatan, tidak ada pengakuan dosa. Jangan pernah bicara mengenai kasih karunia Allah kalau kita sendiri belum dibukakan akan kasih karunia dan harganya itu. Dan kalau kita itu belum dibukakan atau saat inipun dibukakan kecil, mari bersama dengan saya minta untuk Tuhan membukakan harga kasih karunia itu sehingga kita boleh takluk di bawah kasih karunia itu. Karena sesungguhnya yang dibukakan oleh Roh Kudus kepada kita, kasih karunia itu adalah kasih karunia yang mengagungkan, menakjubkan. Kasih karunia itu akan mengubah hidup kita. Makin lama makin suci, makin lama makin bersih, makin lama makin serupa dengan Kristus. Yang jahat, yang sesat, itu kemudian akan menerima dari kebenaran dan kasih dari Tuhan karena kasih karunia itu. Kasih karunia itu adalah kasih karunia yang luar biasa menabjubkan. Kasih karunia itu ada pada Kristus yang tersalib. Kasih karunia itu diberikan kepada kita dalam seluruh kehidupan kita bukan saja hanya bicara mengenai sorga atau neraka. Kasih karunia itu begitu mahal dan seseorang yang mendapatkan kasih karunia itu hidupnya sungguh-sungguh akan diubah.

Saya akan akhiri dengan satu cerita yang sungguh-sungguh terjadi dan saudara mendengarkan bagaimana kasih karunia itu bekerja. Kasih karunia itu sudah bekerja kepada Paulus, kepada Petrus, kepada Yakobus, kepada murid-murid Yesus. Dan kasih karunia yang sama diberikan kepada gereja-Nya dan juga kepada saudara dan saya. Pada pagi hari ini katakan kepada Tuhan, “Tuhan aku minta kasih karunia-Mu bekerja lebih keras, lebih besar lagi dalam hidupku.” Katakan kepada Tuhan, “Aku mengangakan mulutku, aku membuka jiwaku. Tuhan bekerjalah dengan kasih karunia-Mu yang seperti lautan itu mengungkung aku secara keseluruhan. Biarkan aku melihat kasih karunia-Mu yang menakjubkan itu.”

Pada abad yang ke-18 seorang anak laki-laki dilahirkan dalam sebuah keluarga kristen, 6 tahun pertama ayah dan ibunya terus menerus mengajarkan mengenai Alkitab dan dia menjadi orang Kristen. Tetapi tiba-tiba kedua orang tuanya itu meninggal dan dia menjadi anak yatim piatu dan kemudian dia tinggal bersama dengan anak-anak yang lain. Di sana maka anak-anak yang lain menghina imannya dan anak kecil ini kemudian tidak kuat lagi dan meninggalkan imannya. Ketika dia mulai remaja maka kemudian dia melarikan diri dan bergabung dengan angkatan laut kerajaan. Dan makin lama maka kehidupannya itu makin lama makin bejat. Dia menjadi tukang berkelahi, dia suka sekali mengadukan teman-temannya ke atasannya dan dia berkali-kali dihardik oleh orang lain karena banyak sekali orang yang tidak menyukainya. Lalu kemudian dia melarikan diri dari angkatan laut itu dan dia pergi ke Afrika, dan bergabung dengan satu company yang melakukan perdagangan budak. Tetapi di sana hidupnya itu makin hina lagi. Dan sangat-sangat tidak memiliki apapun saja. Dia sering sekali makan makanan dari sampah. Dia sangat-sangat pahit dan getir dengan hidup dan dengan kepahitan dengan sekitarnya. Lalu ia melarikan diri lagi, dia bekerja pada pedagang budak yang lain. Tetapi anak ini makin bejat dan tidak dapat lepas dari masalah. Suatu hari dia mencuri whisky untuk dia bisa mabuk-mabukkan sampai akhirnya ia terjatuh dari kapal itu dan nyaris tenggelam. Seseorang berusaha menolongnya dengan tombak, tetapi karena tombak itu maka dia memiliki luka bekas dari tusukannya. Luka yang besar dip inggangnya seumur hidupnya. Setelah peristiwa yang hampir mematikan dia itu, di tengah-tengah badai, dilepas pantai dari Skotlandia dan ketika dia harus memompa air itu keluar dari kapal yang dipenuhi dari air badai itu, tiba-tiba kasih karunia Allah itu menjangkau dia di tempat yang jauh itu. Seluruh ayat-ayat Alkitab yang didengarnya pada waktu kecil itu kemudian teringat kembali. Dan secara menakjubkan di tengah lautan itu dia bertobat. Dia kemudian menemukan kehidupan yang baru dengan konteks kehidupan yang sama tapi kehidupan rohani yang baru. Roh Kudus bekerja di dalam hatinya. Dia melihat harga kasih karunia yang menakjubkan itu. Dan kemudian dia menuliskan dari apa yang dialaminya dengan beberapa kalimat ini. ‘Kasih karunia yang menakjubkan betapa indah kedengarannya. Dia menyelamatkan seorang jahanam seperti diriku, dulu aku tersesat tetapi kini aku ditemukannya kembali. Dulu aku buta, tetapi kini aku melihat.’

GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

29 March 2024
Christ The Fountain of Life (1)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Yoh 3:16-18

Yoh 3:16-18

Hari-hari ini kita akan memikirkan satu tema, Kristus mata air kehidupan. Perhatikan beberapa pertanyaan ini. Apa yang diberikan oleh Yesus Kristus yang tidak pernah bisa diberikan oleh pendiri agama yang lain? Apa yang diberikan oleh Yesus Kristus yang tidak pernah bisa diberikan oleh dunia ini? Saya menggunakan kalimat yang lain, apa kebutuhan esensial kehidupan kita yang hanya bisa diberikan oleh Yesus Kristus tetapi tidak bisa diberikan oleh dunia ini dan oleh pendiri agama mana pun saja? Kalau Tuhan pimpin maka di dalam 3 hari ini kita akan memikirkan, memeditasi akan Firman Tuhan melihat apa kebutuhan-kebutuhan esensial kehidupan manusia saudara dan saya sebenarnya. Dan ketika kita melihat Firman dan pribadi Kristus, saudara akan melihat hanya Kristus Yesus yang bisa memberikan itu kepada umat manusia. Hari ini kita akan memikirkan mengenai satu elemen esensial kehidupan yang kita perlukan. Dan hari ini kita akan memikirkan mengenai cinta.

Saudara-saudara, satu hal mendasar yang dibutuhkan, dicari, dikejar oleh kehidupan ini adalah cinta. Kita ingin dikasihi, kita ingin dipeluk, kita ingin dimiliki, kita tidak ingin adanya permusuhan, kita tidak ingin ditolak, sebagai manusia kita ingin diterima. Saudara-saudara, kita selalu ingin dicintai dan kita mencari yang bisa dikasihi. Lihatlah seluruh produk manusia, dari puisi, lagu, film, lukisan, apa pun saja, semua berisi akan satu hal yang penting ini yaitu cinta. Bahkan kalau saudara-saudara melihat ada lembaga-lembaga yang dibuat di dunia ini begitu banyak yang dilahirkan karena cinta. Ada yayasan leukemia, kenapa dibentuk? Karena ternyata sejarahnya adalah anaknya itu pernah mati karena leukemia, karena dia mencintai sungguh anaknya dan tidak ingin anaknya itu hilang dari hati dan ingatannya, dia mendirikan yayasan tersebut. Ada sungguh-sungguh terjadi seorang suami yang sangat mencintai istrinya dan kemudian istrinya mati karena cancer. Setiap pagi, dia selalu pergi ke pasar bertahun-tahun lamanya. Setiap pagi, dia pergi ke pasar dan setiap kali dia pergi ke pasar dia membeli satu bunga yang baru kemudian diletakkan di dalam vas bunga, di depan foto istrinya bertahun-tahun. Lihatlah seluruh film yang kita tonton, telenovela atau drama Korea, semuanya itu urusan cinta. Kalau kita bicara mengenai film kungfu sekalipun, film perang sekalipun, dan film itu tidak akan ada gunanya, tidak akan menyentuh kita, sampai ada unsur cinta di dalamnya. Begitu ada unsur cinta, saudara langsung tahu itu ada kehidupan di dalamnya. Kita tidak akan mau mengeluarkan uang yang banyak untuk menonton 2 jam film isinya cuma perang. Tetapi ketika di dalam perang tersebut ada cinta, maka film itu menjadi hidup. Cinta adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa cinta hidup ini tidak bernyawa dan manusia selalu mengejar untuk ingin dikasihi dan mengasihi. Dan hidupnya dan jiwanya tidak akan pernah tenang sampai tahu bahwa ada yang mengasihi dia.

Cerita ini sungguh-sungguh terjadi. Beberapa puluh tahun yang lalu ada sebuah cerita di satu panti rehabilitasi anak-anak bermasalah di satu negara di Amerika. Di sana ada puluhan anak-anak yang bermasalah, diambil dari yang ada di jalanan, dan mereka masih muda, masih remaja dan dari yayasan Kristen. Dan ini adalah ceritanya. Orang yang melayani ini melihat satu anak bernama Cathy ini berbeda dengan yang lain. Setiap anak dia cermati, setiap anak selalu memiliki sesuatu untuk dipegang di dalam hidupnya. Ada yang memegang bantalnya, ada yang memegang sapu tangannya yang sudah kumal, atau boneka, tetapi anak ini lain. Dia kemana pun saja memegang sebuah kaleng cat yang kecil. Dan kemudian pemimpin pelayan ini bertanya, “Cathy, apa itu?” Cathy itu menghindar, dan terdiam. Kaleng cat itu dibawa kemana pun saja dia pergi. Ketika tidur malam, itu ada di sebelahnya, ketika mandi, dia letakkan di sebelahnya, ketika dia pergi dari siang hari sampai malam kembali maka dia selalu membawanya. Ketika dia makan, itu ada di sampingnya. Suatu hari Cathy kemudian ditanya lagi, “Kenapa engkau selalu membawa kaleng cat ini?” Cathy mengatakan, “Kak, ini adalah ibuku.” “Hah, maksudmu?” “Ini adalah abu ibuku.” Lalu kemudian Cathy menceritakan kehidupannya, “Ibuku membuang aku ketika aku bayi di tempat sampah. Aku dibesarkan oleh orang yang aku tidak kenal. Aku pergi ke satu panti asuhan ke tempat panti asuhan lain. Sampai suatu hari kak, aku punya ide untuk mencari ibuku. Setelah berbulan-bulan akhirnya aku bisa menemukan informasi mengenai ibuku ada tinggal di satu tempat itu dan aku bergegas pergi ke tempat itu. Kemudian aku bertemu dengan tetangga di sana dan ternyata dia mengatakan ibuku tidak ada di sana sekarang, sedang berada di rumah sakit. Aku pergi ke rumah sakit, dan aku masuk ke tempat ibuku itu berbaring. Aku sebenarnya tidak kenal dia, tetapi ketika aku masuk ke dalam rumah sakit yang miskin itu, seorang wanita yang sudah terbaring tidak berdaya melihat aku dan kemudian dia mengatakan, “Cathy.” Dan aku langsung masuk dan aku langsung memeluk dia. Dan kak, dia mengatakan sesuatu. Cathy mulai tersenyum. Dia memeluk aku dan dia mengatakan, “Maafkan aku nak, maafkan aku, aku menyayangi engkau.” Dan tidak lama kemudian mama meninggal. Ini abunya mamaku. Dia sayang sama aku.”

Apa yang dicari oleh manusia yang paling terdalam dalam hidup kita? Cinta. Cinta itu adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa kita mendapatkan cinta, maka hidup kita tidak bernyawa. Manusia memerlukan elemen terdalamnya adalah cinta. Karena manusia diciptakan menurut peta dan teladan Allah dan Allah menyatakan God is love. Sifat ini adalah sifat Allah Tritunggal itu sendiri. Di dalam kekekalan, sebelum ada ciptaan satu pun, di antara pribadi Tritunggal itu Mereka saling mengasihi. Dan sekarang setelah dunia diciptakan, di hadapan dunia, seluruh milyaran umat manusia diciptakan-Nya, sekarang Dia memproklamasikan apa yang ada dalam isi hati-Nya: God is love. Aku begitu mengasihi engkau hai umat manusia. Aku memberikan anak-Ku yang tunggal kepadamu. Percayalah kepada Dia, engkau akan peroleh hidup yang kekal. Ketika saudara-saudara melihat salib, saudara melihat apa? Ketika saudara melihat salib, saudara harus teringat akan satu hal, cinta Allah kepada kita. Yohanes menuliskan kalimat ini. Kalimat ini tidak ada pada Paulus, tidak ada oleh Yakobus, tidak oleh Petrus, tidak oleh Matius, kenapa dia bisa tulis ini? Saya percaya adalah karena dia adalah satu-satunya rasul yang berada tepat di bawah salib Yesus Kristus. Dia mendengarkan setiap perkataan Yesus. Tujuh kalimat di atas kayu salib terakhir itu. Di tengah-tengah umpatan masa yang begitu banyak dan satu tetes darah itu datang dan menyentuh muka daripada Yohanes. Ketika Yohanes di bawah salib melihat Kristus Yesus yang terpaku di atas kayu salib, dia menulis, ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga dikaruniakan Anak-Nya yang tunggal.’ Lihat salib. Saudara dan saya lihat apa? Cinta. Cinta dari Allah Bapa, cinta dari Allah Anak, dan cinta dari Allah Roh Kudus kepada kita.

Pagi ini kita akan melihat apa yang Yohanes itu katakan mengenai love of God. Di dalam Yohanes 3:16-18, saudara akan menemukan 3 dasar dari apa yang Alkitab katakan tentang cinta. Cinta adalah kata yang paling sering diucapkan di mana pun saja tetapi semuanya itu mengandung arti dunia ini. Saudara dan saya mengikuti arti dunia ini akan cinta, kita tidak akan mendapatkan cinta, kita akan kehilangan esensi cinta. Tetapi di dalam Kristus Yesus, di dalam Alkitab, Alkitab sendiri menyatakan cinta itu apa.

Hal yang pertama, ketika Alkitab mengatakan kata kasih, maka itu selalu digabungkan dengan penderitaan dan salib Yesus Kristus. Saudara-saudara di dalam Yohanes 3:16, ada satu kata yang penting ‘Allah memberikan Anak-Nya.’ Saudara perhatikan di dalam bahasa Inggris “gave” mengaruniakan atau memberikan. Saudara-saudara, itu mau bicara berkenaan ada suatu perpisahan di dalam jangka waktu tertentu ketika pribadi Kristus Yesus mengambil rupa sebagai manusia berdarah dan berdaging. Di dalam kata ‘gave’ ini sendiri, ‘Allah memberikan’ ada 3 arti yang ada di dalamnya. Yang pertama itu artinya Kristus dipisahkan untuk dimatikan. Di dalam Perjanjian Lama saudara memiliki gambaran ini, satu anak domba yang akan dikorbankan itu harus dipisahkan dari kawanannya. Meskipun masih hidup namun dengan sengaja dipisahkan dipilih untuk dipisahkan supaya dia nanti dimatikan. Inilah yang disebut sebagai yang dipilih, the chosen one dan ini arti kata mesias. Mesias adalah seseorang yang dipilih. Saudara-saudara, ketika bicara mengenai Yesus Kristus, Yesus adalah nama-Nya, Kristus adalah artinya Mesias, yang diurapi, yang dipilih untuk diurapi, tetapi dipilih untuk diurapi untuk dikorbankan. Di antara bilyaran manusia, Bapa di surga hanya memilih satu pribadi ini menjadi pendamai antara saudara dan saya dan Allah. Dia tidak memilih satu orang terbaik pun dari antara manusia. Dia tidak memilih satu pendiri agamapun di antara manusia. Dia tidak memilih Abraham, Dia tidak memilih Musa, Dia tidak memilih Petrus, Dia tidak memilih siapapun, satu-satunya yang dipilih adalah Yesus Kristus. Dipilih untuk diapakan? Untuk dipisahkan, untuk benar-benar dipilih untuk melayani Allah. Untuk dikorbankan.

Arti yang kedua. Kata ‘Allah memberikan’ berarti Allah memberikan Kristus kepada para algojo untuk mengadili dan menghukum dia sampai mati. Kristus diperlakukan seperti seorang penjahat oleh orang-orang yang jahat. Di dalam Kisah Para Rasul 2:23 dinyatakan “Kristus yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya telah kamu salib dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” John Flavel kemudian memberikan narasi di bawah ini: ‘Ketika tiba saatnya, saat Allah menentukan Kristus itu menderita, seolah-olah Allah berkata hai sekalian semua, gelombang keadilan-Ku yang menderu-deru sekarang membumbung setinggi langit dan akan menyelimuti jiwa dan tubuh-Nya, tenggelamkan Dia, tenggelamkan Kristus itu ke dasar, biarkan Kristus itu pergi ke dasar seperti Yunus ke dalam perut neraka. Datanglah kamu sekalian seperti badai yang mengamuk, yang Aku simpan untuk hari kemurkaan-Ku ini. Hantamlah Dia, hantamlah Dia hingga Dia tidak bisalagi melihat ke atas. Adililah Dia. Taruhlah Dia di atas tiang pancang, siksalah Dia sampai seluruh bagian-Nya, sampai Dia berteriak. Hidup-Ku seperti air yang tercurah. Segala tulang-Ku terlepas dari sendinya. Hati-Ku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dada-Ku. Kekuatan-ku kering seperti beling dan lidah-Ku melekat pada langit-langit mulut-Ku. Di dalam debu maut ya Allah Kau letakkan Aku.’ Ketika kalimat Allah memberikan Kristus, ketika Yohanes menyatakan, ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Dia memberikan Anak-Nya.’ Kata ‘memberikan Anak-Nya’ itu, memberikan Yesus kepada seluruh orang-orang jahat itu untuk dimatikan. Sekali lagi John Flavel mengatakan demikian, ‘Ini adalah seperti Allah mengumpulkan kumpulan-kumpulan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang bukan Yahudi yang begitu jahat. Ke dalam tangan mereka yang haus darah itu, Allah menyerahkan Kristus kepada mereka. Aku menyerahkan ke dalam tanganmu Kristus untuk diperlakukan semaumu, untuk melakukan kejahatanmu sepenuhnya kepada Dia. Hai orang-orang jahat, Aku sekarang melepaskan seluruh rantaimu, engkau bebas melakukan apa pun saja kepada Kristus Yesus. Aku serahkan Dia ke dalam tanganmu dan kekuasaanmu.’ Sama seperti Mazmur 22, Allah memberikan Kristus kepada orang-orang jahat itu artinya Allah merelakan Kristus Yesus dikerumuni oleh anjing-anjing dan dikepung penjahat, diseret dan ditusuk tangan dan kakinya, dilihat dengan hina dan mereka memandangi Kristus dan membagikan pakaian dan membuang undi untuk jubah-Nya. Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal.

Arti ketiga dari kalimat ini. Apa arti Allah itu memberikan Anak-Nya? Itu artinya Bapa memberikan Kristus terpisah dengan Dia, atau dengan kata lain menempatkan Kristus pada jarak tertentu dari diri-Nya untuk sementara waktu. Ada semacam perpisahan antara Bapa dan Anak ketika sang Anak datang di dalam bentuk daging. Yesus sendiri mengatakan “Aku datang dari Bapa ke dunia dan Aku akan meninggalkan dunia dan pergi kembali kepada Bapa.” Saudara-saudara, ada jarak keterpisahan yang tidak terselami oleh kita. Jarak yang terjadi karena inkarnasi Yesus Kristus dan penghinaan yang diterima oleh Dia pada waktu Dia menjadi manusia. Jarak yang terbentang yang tidak terselami karena kehinaan Kristus Yesus dengan kemuliaan yang Dia miliki sebelumnya, kemuliaan yang dimiliki di hadapan Bapa-Nya yang penuh dengan kasih dan kesukaan. Perhatikan berapa jauh jarak ini makin tidak terselami ketika Kristus di atas kayu salib mengatakan, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Kata ‘Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal’ sebenarnya sudah berkali-kali Yesus Kristus itu pernah katakan. Perhatikan beberapa hal ini di dalam Yohanes 6:32, Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari Surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari Surga.” ‘Gave you, memberikan.’ Yesus sudah pernah mengatakan ini untuk memberikan satu bayang-bayang bagaimana Dia akan diremukkan. Ini adalah bicara mengenai ‘roti’. Kepada perempuan Samaria yang bertemu Dia di sumur itu, Yohanes 4:10 dikatakan, “Jikalau engkau tahu tentang apa yang diberikan Allah (atau karunia Allah di dalam bahasa Indonesianya) dan siapa Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Saudara-saudara, kalimat ‘Allah memberikan’ itu ternyata berkali-kali sudah pernah dikatakan Yesus kepada orang-orang yang ditemui-Nya. Kita tidak mengerti artinya keseluruhannya; yang pertama adalah bicara berkenaan dengan Allah di Surga memberikan roti, dan ke-2 adalah Allah di Surga memberikan air hidup; sampai kita mengerti Yohanes 3:16 itu menunjuk kepada salib Yesus Kristus. Allah memberikan Kristus Yesus seperti roti untuk dipecahkan dan seperti air untuk dicurahkan. Saudara-saudara, ketika kalimat ‘kasih karunia’ ini muncul, ketika kalimat ‘Allah menganugerahkan’ ini muncul, atau ‘Allah memberikan’, itu adalah bicara mengenai Kristus yang dipecahkan.

Sekarang hal yang ke-2, yang besar; kita terus memikirkan apa yang Alkitab katakan berkenaan dengan love. Hal yang pertama tadi dikatakan bahwa ketika bicara mengenai love, tidak lain dan tidak bukan Allah akan menggabungkannya, Alkitab akan menggabungkannya dengan sengsara, dengan penderitaan, dengan salib Kristus. Tetapi yang ke-2, saudara-saudara perhatikan, ketika Alkitab menggunakan kata love, itu selalu digabungkan dengan nama Yesus Kristus adalah Anak-Nya yang terkasih, yang tunggal: “The only begotten Son.” Saudara-saudara, saudara tidak akan pernah bisa bicara berkenaan dengan love itu terlepas dari salib, love itu terlepas dari Yesus Kristus. Siapakah yang menderita? Siapakah yang dipecahkan? Anak-Nya yang terkasih, kekasih jiwa Bapa. Sang Anak adalah gambaran nyata dari pribadi Bapa. Sang Anak adalah wujud kecemerlangan kemuliaan Bapa-Nya. Jadi ketika sang Bapa terpisah dari sang Anak; Bapa terpisah dengan hati-Nya sendiri; Bapa terpisah dengan isi perut-Nya sendiri. Yesaya 9:6 menyatakan, ‘Tetapi kepada kita seorang Putera telah diberikan.’ Kolose 1:13 menyatakan, ‘Dia bukan sekadar Putra, tetapi Putra yang terkasih.’ Alkitab dengan jelas menyatakan betapa dekatnya hubungan Bapa dan Yesus Kristus. Ada sungguh-sungguh satu cerita. Ada satu keluarga terancam punah pada masa kelaparan di Jerman. Akhirnya setelah berminggu-minggu dan mereka tidak bisa tahan lagi, sang suami berbicara kepada istrinya untuk mereka menjual salah satu anak, untuk membeli roti untuk yang lain itu bisa survive. Tentunya sang istri tidak menyetujuinya, sampai akhirnya beberapa hari kemudian setelah tidak tahan lagi, istrinya menyetujuinya. Dan kemudian sekarang mereka masuk ke dalam diskusi berikutnya, anak yang mana dari ke 4 anak itu yang harus dijual? Setelah berunding mereka menolak untuk menjual anak yang pertama. Lalu kemudian mereka berunding lagi dan mereka menolak menjual anak yang ke-2 karena persis dengan kakek yang dikasihi oleh suami istri itu. Dan rundingan lagi, mereka menolak lagi anak yang ke-3 karena wajahnya mirip dengan mamanya. Dan kemudian mereka akhirnya juga menolak anak yang ke-4 karena anak itu adalah “Benyamin”, anak yang kecil, yang baru lahir pada masa tua mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk punah bersama daripada berpisah dengan salah satu anak, demi kelepasan dari kelaparan. Saudara-saudara, ada pepatah seperti ini, ‘Seorang anak tidak lain adalah satu bagian dari orangtua yang dibungkus oleh kulit yang lain.’

Saudara-saudara, meskipun sedemikian dekatnya anak-anak yang paling kita kasihi dengan kita, adalah suatu yang tidak bisa menjangkau kedekatan antara sang Bapa dan sang Putra di dalam kekekalan. Maka ketika Alkitab menyatakan, ‘Bapa memberikan Anak-Nya, Bapa rela berpisah dengan sang Putra.’ Ini adalah sesuatu yang luar biasa, isi hati Tuhan yang paling dasar dibuka kepada umat manusia. “Aku mencintai engkau, Aku mencintai engkau, Aku memberikan yang terbaik dalam hati-Ku, hidup-Ku untuk engkau.” Ini adalah manifestasi cinta yang dalam. Paulus mengatakan, “Betapa panjang, lebar, tinggi, dalamnya kasih-Mu ya Kristus.” Ini adalah cinta yang akan dikagumi selama-lamanya. Saudara-saudara, perhatikan satu kalimat penting di bawah ini dan ini adalah dasar dari seluruh teologia dan khotbah pada hari ini: ‘Kristus yang tersalib sebagai pemberian Allah merupakan manifestasi tertinggi kasih Allah kepada orang-orang yang berdosa, yang pernah terjadi sejak kekekalan.’ Sekali lagi saudara-saudara: ‘Kristus yang tersalib yang merupakan pemberian Allah bagi kita, merupakan manifestasi tertinggi kasih Allah kepada orang-orang yang berdosa yang pernah terjadi sejak kekekalan.’ Jangan pernah bicara, “Tuhan, kapan Engkau mengasihi aku?” Jangan pernah bicara seperti ini lagi, karena ini adalah yang tertinggi. Dan di dalam kitab Roma, Paulus mengatakan, “Jikalau Allah sudah memberikan Kristus menjadi pembela bagi kita, masakan Dia tidak memberikan yang lain bagi kita?” Bapa mengasihi engkau hai jemaat, dengan memberikan kepada kita anak-Nya yang tunggal di atas kayu salib, dan Anak mengasihi engkau hai jemaat, karena bagi kita, bagi saudara dan saya, Dia rela secara tuntas menjalani jalan salib itu. Oh apakah kita mengerti apa yang dikerjakan oleh sang Anak? Bahkan sejak dari inkarnasi-Nya sampai kepada Getsemani dan kepada salib, berkali-kali langkah sang Anak itu ingin dihentikan. Seluruh musuh-musuh-Nya berusaha untuk menghentikan. Tetapi Dia tidak mau berhenti, Dia tidak mau mundur, Dia berjalan terus menuju kepada salib, karena Dia tahu, tanpa salib, tanpa korban, Dia tahu keturunan-Nya tidak akan berlanjut umurnya. Satu buku yang pernah saya baca itu sangat-sangat luar biasa baik, ‘Jejak Kristus ke atas kayu salib sama seperti seorang yang mau berjalan menuju kepada satu tujuan itu. Tetapi angin itu bertiup untuk melawan dia, hujan itu begitu deras, badai itu begitu mengamuk, oh begitu sulit, tetapi dia jalan, dia jalan, dia jalan, dia melawan semuanya sampai tuntas.’ Seluruh alam, seluruh setan, seluruh orang yang dikasihi-Nya bahkan berusaha untuk menahan Dia, tetapi Dia tidak berhenti. Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran-Nya selain mengasihi Allah dan mengasihi orang-orang pilihan. Kristus yang tersalib sebagai pemberian Allah, merupakan manifestasi tertinggi kasih Allah kepada orang-orang berdosa yang pernah terjadi sejak kekekalan. 

Hal yang ke-3 terakhir.Ketika Alkitab mengatakan kata “cinta”, maka selalu digabungkan dengan permusuhan. Saudara perhatikan Yohanes 3:16,17,18, saudara akan menemukan kata “kasih” itu diberikan bukan dalam konteks netral tetapi di dalam konteks permusuhan. Artinya ini adalah bukan bicara mengenai netral, suka sama suka, seperti saudara ketemu sama orang, “Eh, aku mencintai engkau ya” “Aku juga mencintai engkau,” netral saudara-saudara. Tetapi kata ini adalah kata pribadi Allah memberikan kasih-Nya kepada musuh-Nya, saudara dan saya. Maka ayat 18 menyatakan, ‘Jikalau kita menolak kasih ini, maka permusuhan ini akan tetap terjadi. Permusuhan yang menuju kepada pembalasan atau penghakiman ini akan terlaksana.’ Saudara-saudara, Flavel menyatakan demikian, ‘Hati kita tersayat melihat penderitaan anak-anak kita, terlebih lagi hati sang Bapa ketika melihat Yesus bergumul dengan susah payah. Yesus Kristus rebah ke tanah memohon supaya cawan ini lalu dari pada-Nya dan akhirnya Yesus Kristus, doa-Nya tidak dijawab dan Dia diserahkan pada murka Allah yang tidak terhingga itu.’ Dan ini adalah pertanyaan Flavel, pertanyaannya adalah, ‘Untuk siapa?’ Untuk para malaikat? Bukan. Untuk para tua-tua di Surga? Bukan. Untuk siapa? Untuk para sahabat-Nya? Bukan. Untuk siapa? Untuk musuh-Nya, saudara dan saya itu musuh-Nya. Roma 5:8-10 menyatakan, ‘Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Sebab jikalau kita ketika masih seteru, kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian anak-Nya, lebih-lebih kita yang sekarang telah diperdamaikan pasti akan diselamatkan dari murka Allah.’ Saudara-saudara perhatikan, Kristus mati pada saat kita? kapan? Ketika aku sudah jadi baik? “Kalau aku good boy, Tuhan akan terima aku, kalau aku bad boy, maka Tuhan akan menolak aku. Kalau aku baik-baik, maka Tuhan akan menerima aku.” Apakah seperti itu? No, bukan. Alkitab mengatakan, ‘Aku menerima engkau ketika engkau saat ini masih berdosa, Aku menerima engkau ketika saat ini engkau masih menjadi musuh-Ku.’ Oh ini kasih yang tidak terkatakan. Ini cinta yang tidak terkatakan. Saya berikan notes sedikit di sini, saya tidak akan membahas ini panjang lebar di dalam notes ini. Kalau Tuhan pimpin, maka suatu saat, saya akan bahas panjang lebar di dalam hal ini. Tetapi karena saya harus memberikan notes ini, supaya saudara tidak ada suatu pikiran yang setan itu sekarang tawan. Saudara-saudara, saudara dan saya diterima oleh Allah, diampuni oleh Allah pada saat ini bahkan sebelum saudara untuk menjadi baik. Saudara-saudara, Dia menerima saudara, tetapi saudara akan tahu penerimaan itu akan menjadi anugerah bagi kita untuk kita transform, untuk kita berubah menjadi suci seperti Kristus. Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin terputuskan. Siapa yang menerima kasih Allah, dia juga akan ditransform untuk menjadi serupa dengan Kristus. Kapan-kapan saya akan bicara tentang hal ini, tetapi pada pagi hari ini, saya mau untuk saudara dan saya merenungkan akan salib Kristus Yesus.

Apa yang tidak bisa diberikan oleh dunia ini? Apa yang tidak bisa diberikan oleh para pendiri agama? Apa yang hanya bisa diberikan oleh Yesus Kristus yang merupakan jawaban dari seluruh kehidupan kita? Seluruh elemen-elemen kehidupan yang paling dasar itu diberikan oleh Yesus Kristus, sehingga Dia menjadi mata air kehidupan. Tanpa mengenal Dia, maka tidak ada mata air itu. Tanpa Dia, maka mata air itu menjadi kering. Tanpa Dia, maka hidup kita tidak bernyawa, tidak ada keindahan, tidak ada kesukaan. Di dalam hari ini maka Yesus Kristus dipaku di atas kayu salib, itu menjawab pertanyaan dan pencarian cinta. Saudara tidak mungkin akan dapatkan di Buddha, saudara tidak mungkin mendapatkannya di tempatnya Muhammad, saudara tidak mungkin mendapatkannya di pendiri-pendiri agama, saudara tidak mungkin mendapatkannya di tempatnya filsuf-filsuf yang pandai itu. Saudara tidak mungkin mendapatkannya bahkan di tempat orang yang paling saudara cintai sekalipun. Karena cinta-Nya itu cinta yang begitu mengalir kepada kita, dan cinta-Nya itu cinta kepada kita ketika kita masih menjadi seteru. Ketika dunia ini bicara, ‘Aku mencintai engkau,’ maka cintanya selalu merupakan cinta bersyarat.

Cerita ini sungguh-sungguh terjadi lagi: Ada seorang tentara yang pulang dari medan pertempuran, dan setelah beberapa bulan tidak ada kabar, tiba-tiba tentara ini yang masih muda ini kemudian menelepon daripada papa mamanya. Dan papa mamanya terima telepon itu surprise, dan mereka itu sangat bersukacita karena mendengar suara daripada anaknya, dan anaknya berkata, “Papa, mama, di dalam beberapa minggu ke depan aku akan kembali ke rumah.” Papa mamanya kemudian dengan sukacita, “Ayo cepat anakku, aku sudah tunggu kamu lama,” dan beberapa menit mereka bicara mengenai hal-hal yang penting yang ada di dalam kehidupan mereka yang pernah terjadi, dan kemudian setelah itu, sebelum menutup teleponnya, maka anak itu bicara, “Papa mama, tapi aku mau minta satu hal.” “Apa itu anakku?” “Aku nanti pulang, aku mau bawa teman baikku,” “Oh, ya, boleh, boleh.” “Tapi begini papa mama, teman baikku itu di perang dia kena ranjau, kakinya dua itu putus dan matanya satu itu buta,” dan kemudian papa dan mamanya langsung protes, dia mengatakan: “Dia tinggal berapa lama?” “Oh mungkin beberapa tahun.” Terus kemudian papa mamanya protes, “Anakku, engkau harus tahu, itu tidak mungkin kita bisa merawat terus, habis jam kita, belum lagi biaya, belum lagi apa, semuanya itu tidak mungkin, kita tidak mungkin bisa menerima dia bertahun-tahun.” Lalu kemudian anak itu terdiam dan kemudian telepon ditutup. Dua hari kemudian, orangtua itu dihubungi oleh seorang polisi, dan mengatakan bahwa anaknya itu bunuh diri. Orangtua ini kemudian kaget, karena dia berpikir anaknya telepon dari negara tempat berperang, tetapi ternyata itu hanya kota sebelah. Orangtua itu cepat bergegas ke rumah sakit, dan kemudian ketika bertemu dengan mayat anaknya, mereka melihat seorang laki-laki muda tanpa kaki, dan matanya sudah buta, dan itu adalah anak mereka sendiri. Dunia ini tidak bisa memberikan cinta yang tanpa syarat. Unconditional love itu adalah milik Alkitab, milik Kristen, milik salib, milik Kristus itu sendiri. Dan seperti Cathy yang tidak pernah rest di dalam hidupnya sampai dia mendapatkan, mengerti, mengenal cinta dari mamanya. Hai seluruh jemaat, jiwa yang seperti saya, jiwa berdosa, jiwa kita akan tetap gelisah sampai kita menemukan rest di dalam Dia yang mengasihi kita tanpa syarat. Lihat salib, saudara teringat apa? Saudara ingatlah cinta, maukah engkau menerimanya? Maukah engkau menerimanya sekali lagi pada pagi hari ini? Kiranya kasih Kristus hadir di tengah-tengah kita. Mari kita berdoa.

 

Yoh 1:16, Kis 20:24, Ef 2:7-10
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

24 March 2024
Palm Sunday – Jesus entered Jerusalem
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Lukas 19:28-44

Lukas 19:28-44

Setiap membaca Alkitab, ada paradoks–paradoks yang dalam, dan paradoks itu akan selalu menjadi jebakan-jebakan yang tersedia bagi kita, karena jiwa kita berdosa di hadapan Tuhan. Cara kerja Tuhan lurus. Jalan Tuhan adalah terang dan suci. Dia tidak jalan dengan berbelok-belok. Mulut-Nya dan janji-Nya tidak pernah dolak-dalik. Ketika Dia dealing dengan jalan yang lurus kepada manusia, kita berpikir kita bisa mendapatkannya. Padahal kalimat-kalimatnya kadang sama, tetapi kita tidak menyadari ada dosa yang mencokol di dalam hati kita, yang akhirnya membalik seluruhnya menjadi kematian bagi kita. Ini sesuatu yang menakutkan!

Tadi ketika doa, saya mendengar satu kata yang masuk dalam hati kita yaitu the bondage of sin. Ini adalah suatu ikatan dosa. Ikatan dosa membuat kita tidak sadar bahwa kita diikat. Sekarang saya akan jelaskan konteksnya. Kenapa dari tadi bicara itu, apa artinya?

Hari ini 2000 tahun yang lalu, Yesus masuk ke kota Yerusalem dari Betfage dan Betania. Kalau melihat secara keseluruhan perikop ini, saudara akan melihat satu kata yang menjadi titik berat. Damai. Setiap saudara dan saya membaca Alkitab, lihat titik beratnya apa. Itu penting. Saudara boleh mengkhotbahkan. Saudara boleh mendapatkan poin-poin yang lain sekitarnya, tetapi titik berat tidak boleh dilupakan. Lukas menyatakan satu tema besar yang mendasari seluruhnya, yaitu damai. Yesus pakai keledai dari Betani menuju kota Yerusalem. Yerusalem adalah City of Peace. Kota Shalom. Kota Damai.

Yesus masuk ke kota Yerusalem, tidak pakai kuda tetapi pakai keledai. Seorang panglima, kalau masuk menggunakan kuda. Kalau dia sudah naik kudanya, dia kapan pun siap berperang. Yesus tidak pakai kuda. Dia sengaja pakai keledai. Zakaria 9:9 menyatakan bahwa itulah the Prince of Peace yang masuk. Raja Damai. Pangeran Damai. Yerusalem adalah kota Damai. Yesus naik keledai mengabarkan mengenai damai. Yesus sendiri adalah the Prince of Peace. Seluruh masyarakat pada waktu itu mengatakan, “Hosana! Hosana! Terpujilah Dia yang datang atas nama Tuhan. Damai sejahtera di langit dan di bumi.” Ini adalah kalimat yang sama ketika Lukas menuliskan Yesus ada di palungan. “Kemuliaan di tempat yang Maha Tinggi dan damai sejahtera di muka bumi.” Seluruhnya damai. Semuanya simbol damai. Masyarakat itu sendiri menginginkan damai. Mereka sudah berada di dalam tekanan dan kekuatan Romawi yang mengalahkan mereka berkali-kali. Kalau melihat satu bangsa yang bekali-kali terus berada dalam penjajahan, itu bukan bangsa Indonesia. Itu bangsa Israel. Mereka sudah dihancurkan oleh Babel. Dia sudah dihancurkan oleh Media Persia. Dia sudah dihancurkan sama Yunani. Saat ini mereka berada di tengah-tengah penguasaan Romawi. Satu-satunya yang mereka inginkan adalah damai. Kalau tidak ada damai, saudara tidak bisa lakukan apa pun saja.

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang misionaris mengatakan kepada saya; ada beberapa elemen untuk menjamin yang sudah dipelajari, menjamin pekerjaan misionaris berhasil. Bukan menggaransi. Itu harus ada, untuk terjadinya misi yang berhasil. Nomor satu. Tidak boleh ada perang. Kalau ada perang, maka pekerjaan misionaris hampir boleh dipastikan tidak akan berhasil. Bukan saja pekerjaan misionaris, mau membangun education di tempat perang, gagal. Saudara mau membangun bisnis di tempat perang, gagal. Satu elemen pertama untuk seluruh bangunan usaha kita tidak sia-sia adalah damai. Saudara dan saya tidak mungkin membesarkan seorang anak menjadi, memiliki jiwa yang stabil, confidence dan sehat, kecuali saudara berada dalam hubungan suami istri yang damai. Saudara juga tidak mungkin akan bisa membuat sesuatu gereja boleh menjadi berkat bagi banyak jiwa di luar gereja, kecuali ada damai. Seluruhnya dasar pertama adalah damai. Demikian juga sesungguhnya, ketika kita berhadapan dengan Allah. Kita mau memberikan uang sebanyak apa pun. Kita mau berbuat baik seperti apa pun. Kalau kita tidak memiliki satu relasi perdamaian, tapi kita dianggap musuh oleh Allah; itu tidak ada gunanya. Alkitab mengatakan Yesus Kristus menjadi pendamai antara Allah dan kita. Kalau itu tidak ada, kalau hari ini saudara tidak berdamai dengan Allah. Maka seluruh usaha apa pun, ritual kita tidak ada gunanya. Saya tidak tanya apakah saudara menjadi orang Kristen atau tidak? Saya tanya kepada saudara-saudara, apakah sungguh-sungguh memiliki perdamaian dengan Allah di dalam diri Anak-Nya, Yesus Kristus atau tidak?

Damai. Yerusalem, kota damai. Keledai itu. Yesus datang, bukan untuk menyerang, tetapi damai. Semua orang berseru, “Hosana! Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.” Damai sejahtera, damai. Tuhan menginginkan damai. Kita menginginkan damai. Katanya sama. Beres, kan? Aku mau damai, Tuhan. Tuhan datang. Aku damai. Selesai, kan? Satu kalimat. Satu kata yang sama. Di situ paradoks. Di situ mematikan! Terlalu banyak kata Alkitab yang mematikan bagi kita karena apa yang kita pikirkan berbeda pengertiannya dengan Tuhan. Orang Kristen bilang Tuhan baik. Tidak ada pengkhotbah mengatakan Tuhan jahat. Tidak ada. Tetapi seperti kata C.S. Lewis, “Tuhan baik, tapi tidak seperti pikiranmu.” Tuhan cinta. Kita pakai kata itu. Ya, kan Tuhan. God is love. Siapa pengkhotbah yang berani mengatakan Tuhan adalah Tuhan yang membenci? Tuhan itu cinta. Betul, kan? Tuhan cinta. Aku senang sama Engkau yang cinta. Saya pakai kalimat C.S. Lewis. Ya, Dia cinta, tapi tidak seperti pikiran kita. Ini adalah suatu hal yang menakutkan. Yesus datang. Untuk damai. Semua orang di Yerusalem bilang, “Terpuji! Terpujilah, Engkau. Damai sejahtera!” Senang, kan? Selesai, kan? Saya bersyukur karena Alkitab menuliskan apa yang terjadi.

Saya yakin sekali Yesus di atas keledai bukan senyum dan senang. Saya yakin, Yesus menahan air mata dan Dia jalan, bukan seperti kuda yang berjalan cepat, tetapi donkey yang jalan lambat. Tapi Dia tahan, karena ini seluruhnya harus digenapi. Sampai di titik tertentu, sudah tidak ada masa lagi, Dia turun dari keledai itu. Dia berjalan sendiri; Dia meninggalkan murid. Dia menuju ke satu bukit yang agak tinggi dan melihat seluruh kota Yerusalem seorang diri. Setelah puji-pujian orang kepada Dia, Dia sama sekali tidak menikmatinya. Dia sendirian. Dia lihat. Dia tidak lagi bisa menahan air matanya, terus keluar. “Yerusalem. Kalau engkau tahu, apa yang perlu untuk damai.” Apa artinya ini? Engkau ingin damai? Aku juga, Tuhan. Aku ingin damai. Tetapi, engkau harus dengan cara-Ku, bukan Aku dengan caramu! Orang Kristen, kita terlalu banyak menggunakan Alkitab, lalu memutarbalikkan kebenaran. Kita berpikir, Tuhan adalah untuk melayani aku. Tidak! Kita ada untuk menyembah Allah. Dosa keluar dari sini. Dosa yang besar di dalam kekristenan selalu kata-katanya ditafsirkan untuk self-centred. Yang paling sering, kata ‘kasih’. Terus diputar-putar kata ‘kasih’ itu. Kata ‘kasih’ diputar untuk diri kita. ‘Kasih’ diputar untuk menutupi kita yang berdosa. ‘Kasih’ diputar karena nafsu kita berada dibalik seluruh kalimat-kalimat, “Tuhan mengasihi.” Ini kecelakaan besar. Inilah kekristenan. Kalau kita tidak berani untuk periksa diri kita, sampai sedalam dan sesakit ini, bagaimana mungkin kita bisa lepas dari dosa yang dalam ini?

Saya bukan orang sempurna, banyak sekali kelemahan. Di tempat yang lain, saya sudah serahkan diri saya kepada Tuhan. Saya sudah tahu sejak pertama saya mesti memutuskan saya menjadi hamba Tuhan seperti apa. Saya tidak sulit untuk hanya berbicara saja dan dengan satu kekuatan karisma menjangkau ratusan ribu orang, buat saya itu tidak terlalu sulit, itu natural gift di dalam diri saya. Tapi Tuhan tidak akan menilai apa pun saja dari hal itu. Banyak orang yang juga lebih karisma. Tapi yang paling penting adalah saya mesti mengeluarkan kalimat apa dan sebelum saya mengeluarkan kalimat, saya mesti bicara apa dalam diri saya terlebih dahulu. Sama-sama Alkitab. Sama-sama gereja. Sama-sama kalimat yang tertulis di sini. Sama-sama teologia. Tetapi pakai itu untuk apa? Untuk kepentinganku? Untuk kehendakku? Untuk keuntunganku? Atau, untuk kepentingan Allah? Untuk kehendak Allah? Untuk kemuliaan Allah? Alkitab mengatakan dengan begitu jelas. Kalau seseorang mau mengasihi Allah, dia tidak mungkin mengasihi dunia. Kalau seseorang mengasihi dunia, tidak mungkin kasih akan Allah ada pada orang itu. Saya hanya punya 2 kemungkinan. Yang pertama, adalah belajar selalu taat kepada Tuhan dan selalu bicara mengenai apa yang menjadi isi hati Tuhan, meskipun itu menyakitkan bagi saya dan bagi saudara. Atau yang ke-2, saya bicara hal yang ringan dan yang lucu. Pasti lebih banyak audience. Pasti lebih banyak teman. Pasti lebih banyak orang yang memberikan applause. Pasti lebih banyak orang yang menghargai. Siapa yang tidak suka ketemu satu gereja, satu hamba Tuhan yang kita di dalam Kristus tapi tidak menghardik dosa. Tetapi ini menjadi jalan hidup yang saya harus pilih dari awal.

Tuhan, aku ingin damai. Tuhan katakan, “Aku mau damai.” Sama, Tuhan. Tuhan nangis. Yerusalem, umat-Ku, kalau engkau tahu apa yang baik buat engkau. Untuk sejahteramu. Untuk damaimu. Ini satu. Kemudian kalimat ini menakutkan. Sekarang. Ini sudah satu keputusan. Sekarang. Hal itu tersembunyi bagimu. Wah, ini kalimat sudah tutup. Engkau tidak mau ikut Aku. Engkau tidak mau menyembah Aku. Orang Israel akan mengatakan, “Kami ini ingin menjadikan Engkau raja.” Itu sejak awal Yesus melayani. Mereka mau mengangkat Yesus menjadi raja. Tetapi Yesus katakan. Di dalam Alkitab mengatakan, “Dia menyingkir dan tidak mau diangkat jadi raja. Karena Dia tidak mau mengikuti kata yang sama. Yesus memang akan jadi raja, itu kehendak Allah. Mereka semua ingin Yesus menjadi raja. Katanya sama, kalimatnya sama, tetapi artinya tetap berbeda. Sekarang ini tertutup bagi engkau. Karena waktu keselamatan sudah selesai bagi orang Israel. Karena mereka tidak mau takluk kepada Yesus Kristus. Karena mereka mau menggunakan Yesus. Dan mereka tidak mau takluk sepenuhnya kepada Yesus, tetapi mereka mau membuat Yesus sepenuhnya sesuai pikiran mereka. Maka Yesus mengatakan, “Akan datang harinya, seluruh musuhmu akan berkumpul mengepung engkau dan bait Allah akan hancur dan tidak ada batu di atas batu yang lain.”

Kapan ini terjadi? Tahun 70. Pada waktu itu Jenderal Romawi bernama Titus pergi mengepung dan menghancurkan Yerusalem dan membakar Bait Suci. Orang-orang Romawi datang ke Yerusalem dan mengepung, kemudian membakar Bait Suci. Pada waktu mereka membakar, tiba-tiba orang-orang Romawi melihat ada sesuatu yang mengkilap, kuning-kuning meleleh di antara batu dengan batu, lalu mereka tahu ini emas. Langsung mereka keluarkan satu batu dengan seluruh batu yang ada, maka nubuatan Yesus terjadi. Mulai saat itu Yerusalem dan Yahudi Israel berada di dalam pembuangan. Perlahan demi perlahan mereka berada dalam aniaya yang besar. Sekelompok orang Zelot yang menyadari tidak bisa memenangkan pertarungan, mereka lari dan pergi ke satu bukit yang namanya Masada. Kurang lebih sekitar 960 sampai 1000 orang. Masada sudah dibangun, satu tempat yang bisa menampung ribuan orang untuk mereka bisa hidup beberapa bulan, untuk makan, minum dan semuanya ada di sana. Satu kelompok orang-orang Yahudi sudah pergi ke sana. Satu kelompok sudah pergi. Ada 1000 orang yang ada di Masada. Orang Romawi tahu, kemudian orang Romawi sebanyak kurang lebih 15.000 orang mengepung bukit itu. Jendral Silva dari Romawi yang memimpin peperangan ini. Mereka terus menerus menunggu 1.000 orang Israel itu menyerah. Ditunggu satu hari, 2 hari, 3 hari, 1 bulan, 2 bulan, mereka tidak menyerah. Mereka terus menerus kuat di atas sana. Kemudian tentara Romawi, jendralnya berpikir bagaimana bisa menaklukkan kubu itu di atas. Orang Israel yang berkumpul di situ tahu mereka akan tinggal waktunya untuk dihancurkan. Apa yang mereka lakukan? Mereka tidak mau menyerah. Mereka lebih baik mati dengan bunuh diri daripada mereka menyerah sama tentara Romawi. Bagaimana mereka melakukannya? Mereka membakar seluruh kepunyaan mereka, tetapi membiarkan makanan-makanan masih tetap utuh di sana untuk membuat orang Romawi tahu bahwa mereka tidak mati karena kelaparan. Mereka mati karena mereka memiliki harga diri. Lalu 1000 orang itu berkumpul dipimpin oleh satu orang. Mereka tahu ada hukum Allah yang tidak boleh membunuh diri sendiri. Maka dibuat suatu perjanjian dan kemudian mereka membuang undi untuk memilih 10 orang yang nantinya 10 orang itu harus membunuh semua orang. Dipilihlah 10 orang. Dan 10 orang itu membunuh semua orang-orang yang lain. Itu supaya mereka tidak membunuh keluarganya karena membunuh keluarga menjadi ketakutan sendiri. Biarkan orang lain membunuh keluarganya. Setelah semua dibunuh, tinggal 10. Dibuang undi lagi, pilih satu untuk membunuh 9. Baru yang terakhir, hanya satu orang yang bunuh diri. Mati semua, orang Romawi di bawah tidak tahu. Dia pasti akan menyerah, aku akan naik ke atas dan membunuh orang Israel. Sampai di atas, mereka menemukan seluruhnya mayat. Orang Israel tidak mau menyerah. Dia tidak akan pernah menyerah kepada Romawi. Saat itu adalah saat kegelapan bagi seluruh Israel. Mulai dari saat itu, Israel terus mengingat akan hari itu. Kalau saudara-saudara melihat tentara Israel. Negara yang kecil. Tentara yang kecil, tetapi sulit untuk dikalahkan. Satu halnya adalah karena di dalam hati mereka, mereka sudah dilatih sedemikian dan mengambil sumpah sebelum lulus dari tentara. Mereka akan pergi ke satu benteng. Karena Masada sekarang sudah boleh dikatakan tidak ada lagi, atau ke tempat bekas Masada. Lalu mereka mengambil sumpah sebelum lulus, mereka mengatakan, “Masada, never again!” Tidak akan terjadi lagi. Tidak mungkin kita akan dikalahkan. Terus sampai detik ini, mereka perang. Entah siapa yang benar, entah siapa yang salah, pokoknya terus perang. Air mata Juruselamat sudah mengatakan, “Wahai Israel! Wahai umat-Ku! Wahai Yerusalem! Seandainya engkau tahu apa yang engkau perlu untuk damai sejahteramu,” dan akhirnya Yesus menyimpulkan, “Tidak! Sekarang matamu tertutup.”

Ayat ini kemudian diakhiri dengan, “Karena engkau tidak mengetahui saat di mana Allah melawat engkau.”  Engkau tidak mengetahui saat Allah melawat engkau. Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran saudara, tetapi ini adalah sesuatu yang menakutkan. Sekali lagi saya mau mengatakan bahwa umbrella, payung besar saya sepanjang saya berkhotbah dari tadi sampai sekarang adalah bicara mengenai paradoks. Kita berpikir ini, kelihatannya sama, ternyata berbeda. Kalau seperti itu, bagaimana kita dapat mengerti dengan tepat waktu kita membaca Alkitab? Engkau tidak mengetahui saat bilamana Allah melawat engkau. Ini kalimat yang luar biasa paradoks. Ketika Yesus datang, Yesus melayani, maka hampir sebagian besar orang menerima, tapi sebenarnya tidak pernah diubah. Di dalam sejarah gereja, saudara akan menemukan begitu banyak kebaktian-kebaktian yang disukai oleh kita, tetapi sebenarnya kebaktian itu dibuang oleh Tuhan. Ada kebaktian-kebaktian yang sangat-sangat menusuk hati, membuat kemarahan, tetapi di situ Roh Kudus bekerja. Beberapa waktu yang lalu ada satu keluarga bicara kepada saya, saya mengatakan ini bukan untuk membenarkan saya. Saya mau mengatakan ini motivasi saya adalah satu, orang ini mengerti cara kerja Tuhan di dalam hidup manusia. Dia mengatakan, “Mama saya minta saya pergi ke gereja ini. Saya juga pergi ke gereja itu, ke gereja ini, ke gereja yang sana dan saya sudah pergi ke beberapa. Tapi saya akhirnya memilih gereja ini, kenapa? Karena saya tersinggung di gereja ini, Pak.” Saya pikir, kerjaan saya menyinggung orang kali. Orang itu mengatakan, “Saya tersinggung di sini.” Orang kalau menyadari akan kebenaran, pasti hati kita tersinggung. Hanya ada dua kemungkinan. Satu, pindah atau ke-2, terima.

Saya dari dulu sampai sekarang, mendengar kotbah pendeta Stephen Tong. Saya tidak katakan saya sama seperti dia. Tidak. Dia jauh pada kelasnya sendiri. Saya masih ingat satu waktu, dia tiba-tiba tanya, waktu itu persekutuan doa Momentum di Granada. Setelah dia berkhotbah, dia bertanya, “Siapa dari saudara yang sadar, yang rasa kebaktian-kebaktian ini memberkati saudara?” Oh, ada banyak orang angkat tangan, “Memberkati, memberkati.” Saya lihat dia, kemudian saya tidak mau angkat tangan. Setiap kali saya dengar dia, jengkel. Sungguh jengkel. Kayak benar sendiri. Kayak sok sendiri. Tiap kali kalimatnya tajam. Keras. Marah. Cuma ada sesuatu yang terjadi. Anehnya, setiap kali saya dengar Pak Tong sampai sekarang, saya selesai kebaktian. Jengkel, tetapi dalam hati kecil saya, ini benar. Benar. Saya tahu saudara juga punya hati yang seperti itu. Jengkel, tapi benar. Benar. Jujur. Tidak main sesuatu yang membuat saya terkesan. Di hadapan Allah dan sesama, benar-benar tembus pandang. Benar ini! Dan, karena kebenaran itu saya datang lagi. Duduk lagi. Jengkel lagi. Pulang lagi. Marah-marah lagi. Tapi dalam hati, benar itu, benar ini. Saya datang lagi. Dengar lagi. Jengkelin lagi. Marah lagi. Sehingga ketika, “Siapa yang mengatakan kebaktian ini, kita dapat berkat?” Saya cuma diam. Enak saja! Saya tidak dapat berkat. Tidak dapat berkat secara hati tidak tersinggung, tetapi ada pertumbuhan rohani terus, pertumbuhan rohani terus. Itu saat Allah melawat saya.

Di saat seperti itu, saya hanya punya 2 kemungkinan. Saya takluk kepada kebenaran yang Tuhan telah berikan kepada orang ini, melalui orang ini kepada saya. Atau, ke-2 adalah saya keluar. Saya tersinggung! Saya tahu Tuhan melawat saya. Saya katakan, “Tuhan, saya mau dibentuk. Saya tidak mau melawan, saya mau dibentuk.” Saya mulai menyadari. Itu ada pada saat Amos berkhotbah. Itu yang dikatakan ketika Yohanes Pembaptis berkhotbah. Itu yang dikatakan ketika nabi-nabi itu berkhotbah. Yunus berkhotbah. Apa yang dikatakan oleh Yunus? “Hei, engkau! 40 hari lagi engkau mati!” Sekarang tergantung seluruh Niniwe mau takluk kepada kalimat itu, atau dia melawan Yunus. Di situlah Allah melawat kita.

Saudara perhatikan satu prinsip rohani ini. Kita bisa pandai dalam banyak hal, tetapi saudara masuk ke dalam prinsip rohani, itu jauh lebih penting. Satu dampak ketika Allah dealing dengan itu, pasti menyakitkan. Di saat seperti itu, saudara dan saya melawan Dia atau saudara menerima. Kalau saudara tanya, “Kenapa Pak, bukankah Allah baik? Kenapa kok menyakitkan?” Ya, Tuhan baik. Tuhan itu suci. Tuhan itu benar. Ketika Dia mendekat kepada kita. Ketika Dia bicara kepada kita. Maka kita yang berdosa, pasti sakit saudara.

Engkau tidak tahu saatnya Allah melawat engkau. Jangan pikir saudara datang ke satu kebaktian lalu saudara nikmati kebaktiannya. Itu saatnya Allah melawat aku. Jawabannya adalah tidak. Yohanes Pembaptis teriak di padang gurun, “Bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat.” Orang-orang datang kepada dia. Senang, kan? Orang-orang ikuti imam-imam di Bait Suci, sekarang datang ke satu padang gurun. Senang, kan? Pengkhotbah ini menjadi terkenal? Yohanes Pembaptis kemudian pikir, ini kalimat pertama sudah keras sudah menyerang. Lalu semua sudah datang, berarti bertobat. Semua baik. Tidak. Begitu pendengar datang ke tempatnya, dia bilang, “Siapa yang bilang bahwa engkau akan bisa luput dari penghakiman dari Allah kepadamu?”

Tambah lagi. Engkau tidak tahu saat Allah melawat engkau. Sekali lagi paradoks. Aku ingin damai, paradoks. Oh, Yesus, Raja. Paradoks. Lain semua. Ini loh, kebaktian di mana Allah melawat aku, paradoks. Di dalam sejarah, saudara lihat khotbah-khotbah yang dipakai oleh Tuhan. Khotbah seperti apa? Tim Challies. Kalau saudara-saudara suka kepada blog-nya, dia beberapa waktu yang lalu memunculkan 5 atau 7 khotbah pada zaman sekarang yang sangat dipakai sama Tuhan. Saudara lihat semuanya itu ada yang dari John Piper, ada yang dari Paul Washer, khotbah-khotbah itu saja. Saudara bisa lihat blog-nya. Semua saudara ikutin khotbahnya. Seluruhnya adalah hardikan yang keras. Itu menjadi waktu Allah melawat. Pada zaman kuno, Jonathan Edwards, ‘Orang berdosa di tangan Allah yang murka.’ Itu adalah saat di mana Allah itu melawat. Kalau saudara-saudara adalah orang yang sudah senior dan saudara adalah orang yang pernah ada di pesisir atas pulau Jawa, saudara pasti mengalami John Sung. Apakah ada kalimat-kalimat John Sung yang menghibur hati kita? Seluruhnya adalah hardikan-hardikan! Tetapi itu adalah saat Allah melawat kita. Ini adalah kalimat-kalimat eksistensial yang menegur dosa kita. Yesus tahu apa yang Dia hadapi. Dia tidak suka dengan seluruh fenomena ini. Dia tahu bahwa orang-orang ini adalah orang Kristen, tetapi bukan orang pilihan-Nya yang bisa mengenal kebenaran. Di dalam beberapa hari semua orang yang mengatakan, “Hosana! Hosana! Engkau Raja.” Tidak mungkin akan bisa menerima seluruh kebijaksanaan-Nya. Pada hari berikutnya (hari Rabu), maka Yesus masuk ke Bait Suci dan memporak-porandakannya. Marah lagi? Ini apa? Kamu bilang, ingin damai. Kenapa Kamu bikin agamaku begini? You memalukan kami! Pada hari berikutnya, Dia lawan semua orang yang munafik, karena itulah, maka hari Jumat Dia harus disalib. Tadi pagi ketika saya bangun pagi, belum doa, belum apa-apa. Tiba-tiba ada satu kalimat dalam pikiran saya. Apa yang membuat Yesus disalib? Apa yang membuat Dia harus disalib? Bukankah Dia adalah Love? Bukankah Dia itu Truth? Bukankah Dia baik? Bukankah pengajaran-Nya terhormat? Apa yang membuat Dia disalib? Karena seluruh kata yang saya baru bicara itu seluruhnya sama, tetapi berbeda artinya dengan mereka. 

Ke-2, muncul lagi siapa yang menyalibkan Yesus? Saya pikir-pikir. Hanas? Kayafas? Pilatus? Yudas? Semua orang Israel pada waktu itu?  Saya bertanya, “Agus, kalau engkau hidup pada zaman itu, siapakah engkau?” Tanya pada dirimu sendiri, kalau engkau hidup pada zaman itu, engkau siapa? Saya yakin kita adalah orang-orang yang pasti memakukan Yesus. Bukan kok. Hanas. Kayafas. Kenapa bilang kita? Saudara perhatikan. Yang memakukan Yesus adalah karena ada dosa dalam diri. Ada dosa kesombongan. Ada dosa cinta uang. Ada dosa ingin selalu sukses. Ada dosa untuk menghindarkan malu. Ada dosa yang menginginkan kekuasaan. Ada dosa yang menyembunyikan kejahatan. Ada dosa kebohongan di sana. Dan, begitu banyak dosa-dosa di dalam bentuk Hanas, Kayafas dan semua orang-orang di sana. Sejauh dosa itu ada pada diri kita, tetap kita adalah bagian dari mereka yang akan memakukan Yesus, jika kita hidup pada waktu itu!  Apa bedanya? 

Saudara kalau liat Putin. Oh, saudara-saudara. Bencinya luar biasa. Saudara kalau lihat koruptor, saudara bencinya luar biasa. Kalau lihat orang sombong, saudara bencinya luar biasa. Kita pikir kita lebih baik daripada dia. Tidak! Kita ada dosa yang sama, bedanya adalah kita belum pada posisi mereka saja. Kalau posisinya sama, kita mungkin akan melakukan yang lebih buruk. Kenapa Yesus disalib? Ke-2, siapa yang menyalibkan Yesus?  Itulah sebabnya dosa harus dimatikan di dunia ini. Itu adalah tugas yang Tuhan sendiri berikan. Matikan dosa dan Roh Kudus akan menyertai engkau. Matikan dosa. Allah membiarkan sampai titik tertentu dan kemudian engkau tidak lagi bisa melihat semuanya itu. Orang-orang yang menyerukan, “Hosana! Hosana!” Hanya beberapa hari langsung bilang, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Sudah lelah. Mereka sudah lelah. Aku sudah harap. Aku sudah usaha. Aku sudah ngomong. Aku sudah berusaha sedemikian rupa, Kristus. Ayo, Engkau ingin damai, tapi pakai caraku! Aku sudah lelah, Engkau malah begini. Engkau membuat. Engkau melakukan sesuatu yang bukan seperti apa yang saya pikirkan mengenai damai. Bukan itu, Yesus. Enough is enough. Tidak ada lagi kesempatan ke-2. Sekali lagi, paradoks. Cukup! Cukup, Tuhan, cukup! Sebelumnya, Tuhan sudah lepas. Enough! Engkau tidak tahu apa yang baik buat engkau. Hari ini matamu tertutup. Dilepas oleh Tuhan. Begitu dilepas, dari “Hosana! Hosana! Ini Raja, Ini Raja.” menjadi “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Oh, ini menakutkan. Seluruhnya satu per satu, paradox, paradoks. Siapa yang bisa mengerti, hai jemaat?  Siapa yang bisa mengerti? Siapa yang dapat mengetahui saat Allah melawat kita itu seperti apa? 

Saya akan akhiri. Seluruh prinsip ini terus berjalan sampai sekarang. Jangan saudara pikir ini hanya ada pada orang Israel. Saudara, biarlah kita setiap pribadi sungguh-sungguh takut akan Allah. Jangan membiarkan Allah lewat begitu saja di hadapan kita. Jangan membiarkan Allah yang melawat kita, itu kita tidak sadar. Kita bahkan menolak-Nya. Yesus tidak perlu datang kalau hanya untuk mengelus-elus kita. Seluruh nabi dan rasul tidak perlu berbicara kalau menyatakan sesuatu kebaikan, keunggulan dan kehebatan kita. Tidak perlu dia bicara. Allah begitu mengasihi saudara dan saya sehingga Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal sehingga siapa yang percaya, tidak binasa melainkan hidup yang kekal. Tetapi kalimat itu akan ada bawahnya, barangsiapa yang tidak percaya, dia tetap berada di dalam hukuman. Kiranya kita mengerti saat Allah melawat. Kiranya saudara dan saya mengerti cara kerja anugerah, cara kerja Dia mencintai kita. Mari kita berdoa.

 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

17 March 2024
Yesus di Getsemani (3)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Lukas 22:39-46

Lukas 22:39-46

Minggu yang lalu saya sudah mengatakan kepada saudara-saudara apa yang sesungguhnya yang menjadi inti nuklir Getsemani. Di dalam empat kisah Injil, maka saudara menemukan ada satu konteks yang besar pada waktu itu terjadi pada Yesus Kristus, yaitu evil yang tertinggi terjadi. Yesus sendiri mengatakan, “Ini adalah waktunya kegelapan itu. Ini adalah waktumu kejahatan!” Di dalam konteks Getsemani, adalah kejahatan yang luar biasa besar melingkupi pribadi Yesus dan murid-murid-Nya, dan di tengah-tengah konteks seperti itu maka ada satu titik nuklirnya. Di dalam titik nuklir itu, 2 hal ini terjadi: pertama adalah doa dan yang kedua adalah cawan yang harus diminum oleh Yesus.

Minggu yang lalu kita sudah melihat tentang tema doa. Di taman Getsemani Yesus memberikan kita satu disposisi hati yang terpenting, yang menjadi senjata peperangan gereja Tuhan, yaitu doa. Kita seumur hidup jangan meremehkan doa. Kita jangan berpikir bahwa doa itu adalah hal yang sepele dan mudah. Ini adalah satu disposisi hati yang diajarkan sendiri oleh panglima bala tentara perang pasukan kerajaan Allah yaitu Yesus Kristus, untuk kita maju dengan lutut kita. Kalau saudara-saudara melihat dan mengikuti mimbar ini, kalau saudara-saudara mengikuti dan kemudian berbicara dengan saya, saudara akan mengerti bahwa tidak habis-habisnya saya bicara berkenaan topik doa ini karena memang doa adalah topik yang kita semua termasuk saya paling sulit untuk dilakukan, tetapi kunci kemenangan kita. Ketika saya berbicara mengenai doa, itu bukan bicara mengenai ritual berdoa, tetapi sikap hati atau kerangka hati untuk bergantung sepenuhnya kepada Allah. Kerangka hati untuk begging, untuk remuk, untuk meratap, minta belas kasihan Allah. Alkitab sendiri mengatakan, “Tetaplah berdoa, berdoalah tanpa henti, berdoalah tanpa jeda.” Itu bukan berarti saudara kemudian terus memiliki sikap berlutut berdoa dan tidak mengerjakan apapun saja, tetapi itu artinya adalah kita selalu memiliki, menjaga hati, memiliki sikap hati berdoa, kerangka hati berdoa, bergantung sepenuhnya kepada Allah setiap detik. Dan ketika kita bicara berkenaan dengan doa, dan ketika kita mengarahkan hati kita untuk memiliki kerangka hati seperti itu, maka saudara dan saya akan menyadari bahwa itu tidak akan bertumbuh, tidak akan tercipta, kecuali kita makin lama makin mengenal Allah. Orang yang sedikit berdoa, orang yang tidak mengerti signifikansi doa, atau dia mungkin dengan mulutnya dan pikirannya mengerti tetapi hatinya tidak menuju ke sana, bagian itu sendiri merupakan bukti bahwa kita tidak bertumbuh mengenal Allah, dan tidak bertumbuh mengenal diri, dan tidak bertumbuh mengenal apa yang terjadi di tengah-tengah dunia ini.

Yesus sendiri di dalam pengajaran pertama-tamanya di tengah-tengah pengajaran di bukit, Dia mengatakan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena dialah yang empunya kerajaan surga.” Saudara-saudara, memiliki kerangka hati miskin, afeksi miskin di hadapan Allah, itu adalah tanda orang yang masuk surga. Kalimat pertama Yesus ini sendiri menyatakan gambaran seorang yang tidak memiliki apa-apa, seorang yang pengemis, atau di dalam kitab Mazmur mengatakan seorang yang tidak memiliki apa-apa, yang memandang tangan tuannya dan tangan nyonyanya terus sampai dia memberikan belas kasihan.

Beberapa tahun yang lalu saya sampai kepada Yohanes 15. Pada waktu itu makin lama makin saya gumuli, saya makin terpesona dengan satu kalimat ‘Apart from Me you can do nothing’. Saya sungguh-sungguh terpesona dengan cara kerja Allah. Dari ayat itu saya menemukan orang-orang Puritan. Orang-orang Puritan menggunakan ayat ini menjadi centre dari kehidupan mereka. Di luar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah saya melihat ayat itu, saya mulai melihat keseluruhan ayat Alkitab, bagaimana Israel bertempur dengan satu persatu dari suku-suku itu, bagaimana Musa itu memimpin, bagaimana Yosua itu memimpin, bagaimana Yeremia itu bertempur dengan musuh-musuh Allah, bagaimana raja-raja itu bertempur dengan musuh-musuh Israel. Saya menyadari satu prinsip ini, ada satu kalimat yang ada di atas mereka, yang memayungi seluruh tindakan mereka dan ini adalah satu kalimat yang paling tinggi yang menyimpulkan seluruhnya: Tuhan mengatakan, “Apart from Me you can do nothing.” Itulah saudara-saudara, seluruh dari tulisan apapun dalam Alkitab, seluruhnya ada dalam kerangka itu, dalam payung itu. Itulah sebabnya kita musti bertekuk lutut untuk minta belas kasihan Tuhan karena di luar Dia kita tidak bisa apa-apa.

Seandainya saya boleh minta keberhasilan di dalam pelayanan sebelum saya meninggalkan sebuah gereja yang saya layani, saya akan meminta hal ini: doa sebagai salah satu tempat utama di mana saya meminta berkat itu dari Tuhan. Saya meminta Tuhan membentuk hati yang remuk, hati yang meratap, bagi saya dan seluruh jemaat yang saya gembalakan. Kenapa saya minta keberhasilan itu seandainya saya boleh meminta keberhasilan kepada Tuhan sebelum saya meninggalkan sebuah gereja yang saya layani? Karena ini adalah kunci membuka berkat-berkat surgawi bagi saudara dan saya. Ini adalah kunci membuka tempat surga bagi keluarga saudara, bagi anak cucu saudara, bagi gereja, bagi kita semua. Ini adalah kunci kemenangan. Ini adalah kunci dari Tuhan itu selalu memimpin kita. Saudara bisa punya kemampuan teologia apa pun saja, saudara punya kemampuan menjawab apa pun saja, tetapi saudara tahu bahwa kemenangan itu bukan terletak di sana. Kemenangan itu terjadi adalah di dalam Tuhan itu berkenan kepada kita. Kemenangan itu terjadi di mana Tuhan itu memberikan tangan kanan-Nya di atas kepala kita. Dan itu adalah di dalam doa.

Saudara-saudara, kita harus mengerti prinsip ini. Yesus sendiri sudah mengatakan kepada murid-Nya, dan Dia bukan saja mengatakan, Dia sendiri berdoa. Dan murid-murid-Nya, karena lemah tubuh, karena mungkin tidak percaya atau mungkin dengar sekilas, maka kemudian mereka tidak mampu berdoa. Dan kemudian apa yang terjadi? Mereka semuanya pergi, mereka semuanya takut, lari padahal mereka adalah orang yang tulus, padahal mereka adalah orang yang sungguh-sungguh.

Saya sendiri melihat dalam gereja ini, saya bersyukur kepada Tuhan karena saya melihat banyak orang tulus dan sungguh-sungguh dan banyak orang yang mau punya hati dididik dan diajar. Bertemu dengan orang-orang seperti itu, itu aset gereja. Itu jauh lebih penting dan lebih utama daripada gereja itu banyak uang, banyak koneksi, terkenal, tidak ada pentingnya itu, tetapi punya orang-orang yang sama-sama berjuang, hati tulus, hati jujur, mau diajar, saya tahu Tuhan itu mau menyertai. Karena di dalam kitab Amsal dan di dalam kitab Mazmur, ada prinsip-prinsip Tuhan menyertai atau tidak, salah satunya yaitu Dia menyertai orang-orang yang jujur hatinya. Tidak ada itu prinsipnya adalah orang yang pintar yang disertai. Tidak ada itu. Saya katakan ini bukan terus kemudian kita semuanya bodoh, tetapi yang saya mau katakan adalah prinsip melayani Tuhan, prinsip berjalan sama Tuhan itu lain dengan apa yang ada dalam dunia. Kalau di dunia, orang yang pintar meskipun mungkin licik, itu langsung juga bisa dipakai. Tetapi di dalam prinsip pelayanan, di dalam kerajaan Allah, itu tidak mungkin. Tuhan itu ada di dalam orang-orang yang memiliki hati yang berintegritas. Hati yang jujur, hati yang tulus, hati yang sungguh-sungguh mau belajar, ini adalah prinsip penting. Saudara-saudara kalau mau cari mantu, juga 3 ini yang penting. Saudara jangan lihat, oh ini kira-kira jadi mantu saya, lihat wah ini pakai mobil apa ya, wah uangnya berapa banyak. Tidak penting itu. Nah, pemuda pemudi semua, kalau mau pacaran lihat 3 hal ini. Kalau sudah orang masih muda, tidak mengerti apa-apa, ngotot-nya lebih banyak, tidak mau berubah, saudara apa ada masa depan? Seakan-akan orang hebat yang bisa menasehati luar biasa orang-orang lain. Semua anak muda biarlah engkau boleh memiliki hati yang sungguh-sungguh jujur, sungguh-sungguh tulus, sungguh-sungguh mau belajar. Sekali lagi, saya sangat bersyukur karena di sini begitu banyak orang yang memiliki hati yang seperti itu. Tetapi di tempat yang lain, itu tidak cukup untuk peperangan.

Yohanes, Yakobus, Petrus, apanya yang tidak jujur, apanya yang tidak tulus, apanya yang tidak sungguh-sungguh, apanya yang tidak mau belajar? Yesus mengatakan, “Setan, enyah engkau!” Oh, kalau Petrus tidak punya hati yang mau belajar, dia akan tersinggung, dia akan cepat-cepat keluar dari gereja. Kalau saudara-saudara punya satu hamba Tuhan, lalu dari mimbar di depan semua orang menegur seseorang. Misalnya saja saya tegur Jeje, “Jeje, engkau diam, setan kamu!” Satu minggu Wijaya sekeluarga rapat besar, “Kira-kira Jeje tidak cocok di sini, hatinya lembut, ini orang yang di mimbar terlalu keras, pendetanya kurang mengerti, kurang menyadari bagaimana dealing sama anak remaja. Kita keluarkan dia.” Seluruh kalimatnya seakan-akan rohani, bagus, padahal cuma satu, tersinggung. Banyak orang tidak punya hati belajar, ya seperti ini. Kalimatnya hebat, “Oh visinya lain, oh ini beda, ini Tuhan berikan sama aku.” Apa pun saja, hati manusia itu licik, cuma satu, tersinggung. Saya tanya, kalau saudara dan saya adalah Petrus, masih mau tetap di situ? Tambah lagi itu ada Yohanes, Yakobus, Matius, semua dari murid-murid-Nya, malunya seperti apa Petrus. Sudah malu, lalu kemudian saudara jangan pikir dari seluruh murid-murid dua belas itu tidak ada suatu rival. Alkitab sendiri menyatakan, pada waktu perjamuan makan, mereka lihat siapa yang terbesar di antara seluruh murid-murid. Oh, saat itu sendiri kalau saudara baca, menghancurkan hati kita. Yesus sendiri mengatakan, “Inilah tubuh-Ku yang dipecahkan bagimu.” Dia masuk ke dalam perendahan. Murid-murid-Nya lihat satu dengan yang lain, siapa yang terbesar, saya atau kamu.

Di hadapan Allah yang suci yang merendahkan diri pun kita tetap mengangkat diri. Itu adalah dosa kita. Makin lama makin saya menyadari, hal yang terdalam, dosa yang terdalam di dalam kita semua termasuk saya yaitu kesombongan. Di dalam waktu-waktu sebisa mungkin kita ingin maju, ingin muncul. Kesombongan muncul dan ketersinggungan itu paling utama dalam hidup kita. Kita tidak mau takluk, bahkan tidak mau takluk pada kebenaran. Petrus bagaimana tidak sangat-sangat malu, di depan rival-nya, pasti rival-nya, “Hm… sudah kena kan.” Oh saudara-saudara, kalau di tengah-tengah satu guru yang besar, ada murid-murid, lalu guru itu menegur salah satu murid, murid yang lain, “Ehem enak lu yah, enak, syukurin.” Saya pernah tidak suka sama seseorang, lalu kemudian orang itu ditegur Stephen Tong, “Wah puji Tuhan!” Ngeri ya hidup saya. Orang seperti ini loh, kok bisa masuk surga, ngeri sekali hidup kita.

Saya kembali lagi, Petrus berani, Petrus jujur, Petrus tulus, Petrus sungguh-sungguh dengan komitmen, tetapi Yesus katakan, “Bukan itu semua, kamu lawan dari kuasa kegelapan pakai doa.” Dia punya semuanya tapi dia tidak punya doa, habis. Setan tidak gemetar melihat seorang pengkhotbah yang hebat, tetapi setan akan gemetar melihat anak Tuhan yang lemah sekali pun tapi berlutut berdoa. Bahkan bukan saja di Getsemani, ketika Yesus sendiri sudah mau pergi ke surga, kalimat terakhir sebelum pergi ke surga, “Tunggu di sini, berdoa di sini, sampai Aku mengutus Roh-Ku kepadamu.” Oh, mereka punya hati, “Sekarang Yesus sudah menang lho, saatnya saya bicara Injil, seluruh dunia ladangku.” Yesus mengatakan, “Tidak! Berdoa, berdoa!” Jemaat, belajarlah berdoa! Saya katakan ini bukan saya ahli berdoa. Saya sendiri sulit untuk berdoa, kadang benci untuk berdoa, tetapi harus berdoa. Charles Spurgeon mengatakan, “Saat-saat di mana engkau perlu berdoa adalah saat di mana engkau tidak suka dan tidak mau dan enggan untuk berdoa.” Di dalam menghadapi evil yang terbesar, kegelapan yang terpekat, lihatlah jendral perang kita, disposisi hati-Nya di dalam doa.

Dan sekarang saya akan masuk ke dalam inti nuklir ke-2 yaitu cawan yang harus diminum. Apa yang terjadi di Getsemani? Yesus akhirnya meminum cawan itu sampai tuntas. Beberapa minggu kita sudah membaca Getsemani dari Injil Matius, Markus dan Yohanes. Saat ini kita melihat apa yang Lukas tuliskan. Lukas dengan jelas menyatakan dan juga ketiga Injil yang lain menyatakan, ada sesuatu yang sangat ditakuti oleh Yesus Kristus, yaitu cawan itu yang ingin dihindarkan. Keringat Yesus menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan di tanah. Lukas cermat sekali di dalam hal ini karena Lukas adalah seorang dokter. Apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh Yesus dan apa sesungguhnya yang ditakuti-Nya?

Saudara, dunia kedokteran menemukan apa yang terjadi pada Yesus Kristus dengan sebutan hematohidrosisHematohidrosis adalah suatu reaksi fisik tubuh yang jarang tercatat dan ini adalah suatu reaksi tubuh ketika menghadapi suatu tekanan, stress yang luar biasa extreme. Pembunuh darah capillary di bawah kulit itu menjadi pecah sehingga darah itu keluar melalui pori-pori yang ada. Yesus Kristus di Getsemani mengalami sesuatu tekanan yang luar biasa extreme dan Yesus Kristus sendiri mengatakan, “Hati-Ku sangat-sangat takut.” Saudara-saudara, apa sesungguhnya yang ditakuti oleh Yesus Kristus? Saudara-saudara, Yesus mengerti sekali apa yang dihadapi-Nya di dalam beberapa jam ke depan. Jiwa-Nya yang suci diminta untuk diterima seluruh dosa manusia sebagai milik-Nya. Sekali lagi, jiwa suci-Nya diminta untuk menerima seluruh dosa manusia sebagai milik-Nya. Ini menjadikannya berada kepada kontradiksi psychology yang luar biasa extreme.

Sebelum saya teruskan pembahasan hal ini, yaitu bahwa Kristus Yesus menerima seluruh dosa manusia, saya musti memberikan satu notes di sini. Saya yakin bahwa kebenaran ini kita bisa mengerti tapi kita sama sekali tidak bisa touch, bahkan mendekatinya. Ketika saya mengetiknya dan kalimat-kalimat ini muncul, saya mulai menyadari, “Tuhan, saya tidak mungkin bisa masuk lebih dalam lagi.” Dan harap Roh Kudus mengasihani kita semua. Kenapa kita tidak bisa masuk lebih dalam untuk mengerti penderitaan Kristus ini? Bahkan kita sebenarnya tidak mengenal sedikit pun penderitaan Kristus. Kenapa? Karena dosa itu bukan sesuatu yang menjijikkan bagi kita, kita bahkan menikmati dosa karena kita sering sekali dengan mudah berkompromi dengan dosa. Dosa malah menjadi rekan dekat kita. Kita tidak pernah jijik terhadap dosa, kita malah memeluk dosa menjadi peliharaan kita. Bahkan di dalam tatanan imajiner seandainya kita mengkhayalkan sekali pun. Saudara-saudara, apakah saudara pernah membayangkan bahwa saudara sedang berkonflik dengan sebuah dosa? Pernah? Pernah kita tidak menyukai dosa? Pernahkah? Iya, kita tidak menyukai akibat dosa seperti rasa bersalah, rasa kosong setelah melakukannya atau malu ketika kita ketahuan orang lain, tetapi kita tidak pernah membenci dosa, kita tidak pernah jijik terhadap dia. Ketika dosa itu hadir di tengah-tengah kita, bahkan kita tidak merasa terganggu untuk hal itu. Ibrani 12:4 menyatakan, “Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.” Kita tidak tahu apa yang terjadi kepada Yesus Kristus. Dia mencurahkan darah bukan saja di Salib di Getsemani. Untuk menerima seluruh dosa itu di Getsemani dan sampai di salib, Yesus akan meminum racun empedu pahit dari jiwa umat manusia yaitu dosa.

Meskipun seluruh hidup-Nya yang suci tanpa dosa Dia jalani demi kehendak Bapa-Nya, tetapi kini kehendak Bapa yang suci menuntut agar Kristus menerima apa yang Kristus dan Bapa sendiri tidak inginkan yaitu dosa. Kristus dan Bapa benci terhadap dosa, dan Kristus sendiri tidak berdosa, dan Kristus sendiri selalu taat kepada kehendak Bapa-Nya. Dan sekarang kehendak Bapa yang suci itu meminta agar Kristus menerima apa yang Kristus dan Bapa sendiri benci yaitu dosa. 2 Korintus 5:21 menyatakan hal ini, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Dan itu belum akhirnya, dan inilah akhirnya. Hasil dari menerima keadaan dosa ini adalah adanya hal yang terburuk dari semua yang terburuk, tergelap dari semua yang gelap, yaitu dimurkai oleh Allah yang suci. Dan itulah cawan yang harus Yesus minum, cawan murka Allah terhadap dosa.

Di Getsemani, apa yang terjadi? Apa yang menjadi inti nuklirnya? Yaitu Yesus memberikan suatu ketetapan hati, yang menghancurkan hati-Nya, untuk meminum cawan murka Allah yang tidak seharusnya Dia terima. Dia setuju untuk dipadamkan ke dalam kegelapan yang paling pekat. Kegelapan yang paling pekat, yang paling ditakuti-Nya, adalah dimurkai oleh Allah yang suci. Itu adalah hal yang terburuk daripada yang terburuk, itu adalah kegelapan daripada yang tergelap, bukan kejahatan yang tergelap. Tetapi murka Allah itulah yang gelap dalam hidup kita hai jemaat. Di depan saya sudah berkali-kali mengatakan, Yesus masuk di dalam kegelapan yang paling pekat dan seluruh kejahatan itu mau untuk menghancurkan Dia, tetapi saudara-saudara ada sesuatu yang sangat-sangat penting di sini, hal yang paling pekat adalah bukan kejahatan itu tetapi murka Allah. Dan itulah yang ditakuti oleh Yesus sampai Dia mengeluarkan darah. Saya tidak tahu seberapa Roh Kudus akan membawa setiap dari kita masuk di dalam kebenaran ini makan lama makin dalam.

Beberapa waktu ini, saya berkali-kali mendengarkan begitu banyak cuplikan-cuplikan di YouTube, di TikTok yang sangat-sangat menghina Tuhan kita Yesus Kristus. Orang-orang dari agama lain dan ada orang-orang yang keluar dari pendeta atau keluar dari gereja dan kemudian memeluk agama lain, dan mereka begitu mencemooh peristiwa-peristiwa Getsemani ini. Mereka mengatakan, “Yesus itu takutkan di Getsemani? Dia takut disalib. Dia takut mati. Dia takut menghadapi semua itu. Dan Allah itu nanti berbelas kasihan sama Dia. Nanti yang disalib itu bukan Yesus tapi Yudas. Muka Yesus berubah sebenarnya adalah Yudas di dalam. Jadi Yudas sesungguhnya yang disalib dengan muka Yesus.” Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang menghina Kristus Yesus. Mereka seakan-akan mau menghormati nabi Isa, tetapi sesungguhnya mereka menghina Yesus.

Sekarang saya akan jawab. Yesus takut mati? Apakah saudara berpikir bahwa Yesus mengatakan biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, itu adalah Dia takut menghadapi Hanas, Kayafas, dan seluruh paku dan seluruh mahkota duri? Saya katakan, bahkan banyak sekali pahlawan di dunia ini yang tidak takut mati. Bagaimana saudara bisa mengatakan Yesus takut mati? Bahkan banyak sekali pahlawan dunia ini yang disiksa pun mereka berani. Bahkan banyak orang-orang beragama tidak takut mati untuk membela agamanya. Kalau saudara-saudara sekarang melihat ini, ada suatu hal yang sangat mengerikan, apa pun agama mereka, kita harus mendoakan, saudara minta perdamaian dunia. Apa yang terjadi di Gaza, saudara bisa melihat bahwa banyak orang Palestina, sebenarnya Palestina itu bukan seluruhnya orang Islam tetapi banyak orang Hamas, banyak orang Palestina yang Islam tidak takut mati. Lalu kemudian orang-orang itu yang menghina kekristenan mengatakan, “Yesus takut mati.” Saudara lihat dari orang Ukraina, banyak sekali dari pasukan mereka tidak takut mati. Saya pernah lihat cuplikan TV, ada orang Australia pergi jadi tentara sukarelawan ke Ukraina. Saya bingung sekali. Tidak ada urusan sama Ukraina, sama Rusia, dia mau jadi tentara sukarelawan, dan itu bukan cuma satu tapi ratusan orang. Mungkin saudara pikir itu karena uang, mungkin saja, tetapi ada orang-orang yang murni, yang mereka mau untuk melawan ketidakadilan membela Ukraina dan mereka tidak takut mati.

Oh, Yesus takut mati? Saudara-saudara menghina Tuhan kita. Yesus tidak pernah takut mati. Yesus tidak pernah untuk melawan keadaan untuk tidak menuju kepada Salib. Lalu mereka mengatakan bahwa yang disalib itu sesungguhnya Yudas, maka Allah di sorga mengubah wajah Yudas sekarang pakai wajah Yesus, jadi yang ketangkap itu adalah sebenarnya Yudas. Oh saudara-saudara, saya tidak tahu bagaimana caranya di atas kayu salib Yudas mengatakan, “Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak mengerti apa yang mereka itu perbuat.” Semua teori sampah. Apa sesungguhnya yang ditakuti oleh Yesus Kristus? Dia mengatakan berkali-kali kepada murid-Nya, “Hatiku sangat takut.” Saudara-saudara, biarlah engkau boleh mendengar berita ini. Yesus tidak takut mati. Yesus tidak takut dihina. Yesus tidak takut dirugikan. Yesus tidak takut dikhianti. Yesus tidak takut ditinggal. Yesus tidak takut miskin. Iya, ketika murid-Nya mengkhianati Dia, Dia pasti sedih tapi Dia tidak pernah takut untuk hal ini. Tetapi yang membuat-Nya sangat takut adalah satu hal ini: ditinggalkan oleh Allah, dimurkai oleh Allah, tidak dilihat oleh Allah, wajah Allah berpaling dari Dia. Itu yang paling ditakuti-Nya. Satu-satunya yang paling ditakuti-Nya dan itu adalah cawan yang harus dia minum. Ini adalah keadaan terburuk dari semua terburuk. Ini adalah keadaan terburuk dari yang bisa dihadapi, diterima, terjadi di seluruh mahluk hidup.

Mari kita pikirkan, saya tanya kepada saudara-saudara, katakan satu hal saja dalam hidupmu, kalau itu terjadi itu adalah hal yang terburuk dari hidup kita. Apa? Kalau saudara melihat orang lain, ini paling buruk yang terjadi atau terjadi pada hidup kita. Saudara mungkin mengatakan yang terburuk adalah kalau mati atau orang yang kita kasihi mati. Tapi saudara-saudara, sering sekali mati bukan keadaan yang terburuk. Beberapa waktu yang lalu saya melihat seorang Israel, seorang bapa Israel dan diwawancarai. Anaknya tertangkap oleh Hamas. Dan ketika dia diwawancarai, apa yang dia inginkan? Saya kaget sekali. Dia mengatakan, “Saya harap anak saya saat ini mati.” Karena dia tahu Hamas itu sangat-sangat membuat penderitaan torture itu kesakitan bagi orang-orang yang di tahannya. Dan mereka membuat kesakitan itu sambil tertawa-tawa. Mereka menyiksa tawanannya. Maka buat dia lebih baik anaknya mati. Saya tanya pada saudara-saudara, apa yang paling buruk yang terjadi di dalam pikiran saudara jikalau itu terjadi pada kita?

Getsemani mengajarkan satu hal. Tidak ada yang lebih buruk dari satu hal ini, yaitu ditinggalkan oleh Allah. Di dalam Getsemani, Kristus mengajarkan kepada Gereja-Nya untuk hidup tanpa rasa takut. Satu-satunya ketakutan yang harus kita miliki adalah takut ditinggalkan Allah. Perhatikan apa yang menjadi ketakutan kita. Pada pagi hari ini hai seluruh jemaat, tetapkan hati dan belajar untuk berani. Tidak takut tetapi takut akan satu hal ini, yaitu ditinggalkan oleh Allah dan biarlah Gereja mempelajari hal ini. Belajar tidak takut terhadap musuh, tidak takut terhadap kesusahan, tidak kuatir akan uang, tidak takut akan masa depan, tidak takut kepada manusia, tidak takut akan ancaman, tidak takut untuk berjuang atau pun sakit, tetapi takut berbuat dosa karena dosa yang membuat Allah itu murka kepada kita. Di Getsemani Yesus yang tidak berdosa itu menetapkan hati-Nya untuk meminum seluruh isi cawan itu sampai habis. Cawan yang berisi murka Allah yang murni tanpa campuran. Murka yang sejadi-jadinya dari Allah kepada setiap makhluk yang berdosa dan itu adalah inti nuklir dari Getsemani. Kristus yang meminum seluruh cawan itu. Barangsiapa yang tidak mau menerima peristiwa ini, saudara harus meminum cawan itu sendiri. Alkitab mengatakan, “Jangan kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa, tapi terutama takutlah kepada Allah yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Sungguh ngeri berada di tangan Allah yang murka. Kiranya kasihan Tuhan menyadarkan hidup kita. Takut kepada Dia. Takut berbuat dosa. Mari kita berdoa.

 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more

10 March 2024
Yesus di Getsemani (2)
Pdt. Agus Marjanto, M.Th · Mat 26:36-46

Mat 26:36-46

Pagi ini kita sampai kepada titik nuklir dari ruang Maha Suci Tuhan kita di Bumi ini. Minggu yang lalu saya sudah katakan Charles Spurgeon menyatakan, “Getsemani adalah ruang Maha Suci dari Tuhan kita di bumi ini” dan pada pagi hari ini saya mengatakan kepada saudara-saudara dan di ruang Maha Suci tersebut ada titik sentral, apa yang dilakukan oleh imam besar kita dan titik sentral dari Getsemani ada 2. Yang pertama adalah doa, yang ke-2 adalah cawan yang harus diminum. Perhatikan baik-baik apa yang ada di seluruh Getsemani ini. Di Getsemani itu evil yang terkejam memberikan pencobaan yang terberat. Ini adalah keadaan yang harus dihadapi dan dalam keadaan yang seperti ini di dalam Getsemani, maka Yesus melakukan 2 hal ini, dan ini adalah inti nuklir dari Getsemani, yaitu Dia berdoa dan kemudian Dia meminum cawan itu sampai tuntas. Pencobaan Yesus Kristus pada titik yang terpuncak di hari itu dan di jam-jam itu. Yesus menetapkan hati di Getsemani untuk taat kepada Bapa-Nya. Dia melakukan itu dengan doa dan dengan doa itu dengan ketaatan kepada Bapa-Nya, Dia menaklukkan seluruh kekuatan pencobaan. Pada pagi hari ini, bagian pertama, saya akan membawa saudara-saudara merenungkan apa itu pencobaan yang dilakukan setan kepada Yesus Kristus. Saudara-saudara ini adalah sesuatu yang harus kita pikirkan dan renungkan sesungguhnya apa itu pencobaan yang dikerjakan setan kepada Yesus? Apa sesungguhnya pencobaan yang Yesus itu alami? Alkitab mengatakan bahwa Yesus dicobai dalam segala hal tetapi tidak berdosa. Adam dicobai dan dia berdosa, Israel dicobai dan Israel berdosa, anak-anak Allah, kita semua gereja itu dicobai dan kita berkali-kali jatuh di dalam dosa. Tetapi Yesus dicobai dalam segala aspek-Nya tetapi Dia tidak berdosa. Dia adalah Israel yang sejati itu, Dia adalah Kepala Gereja kita, dan Dia adalah Adam yang ke-2. Saudara-saudara apa pencobaan sesungguhnya yang terjadi kepada Yesus?

Saudara-saudara ketika saya merenungkan hal ini, saya gentar. Saya sungguh-sungguh merasa tidak layak untuk berkhotbah. Pencobaan dan penderitaan yang dialami Yesus itu sangat-sangat dalam untuk dimengerti. Pencobaan dan penderitaan-Nya melampaui segala akal manusia. Ini adalah pencobaan yang dilakukan oleh setan kepada Yesus Kristus sebagai wakil kita, tetapi juga secara unik adalah dilakukan oleh setan kepada Anak Allah yang tunggal ini. Saudara-saudara di dalam Perjanjian Baru, kata pencobaan peirazo, peirasmos itu artinya adalah test atau trial. Kata ini ketika dipakai di dalam Alkitab tidak selalu menunjuk kepada bujukan untuk berbuat salah secara moralitas. Kata ini juga tidak selalu berarti keinginan dalam hati untuk berbuat dosa, misalnya saja ada nafsu, greedy, ada dorongan seksual. Secara prinsipnya kata pencobaan ini, yang dilakukan setan kepada Yesus berarti setan dengan memakai apa pun saja, dengan cara apa pun saja berusaha mengalihkan Yesus dari pengabdian-Nya kepada Bapa-Nya. Saudara-saudara ini dilakukan setan kepada Yesus dalam segala aspek. Dari sejak pertama pelayanannya sampai Yesus di atas kayu salib. Itulah sebabnya Ibrani mengatakan “Yesus dicobai dalam segala hal tetapi tidak berbuat dosa.” Kalau saudara-saudara melihat di dalam injil maka saudara akan menemukan di awal-awal pelayanan-Nya Yesus dicobai di padang gurun dan pencobaan itu lebih menuju kepada identitas-Nya sebagai Anak Allah. Dan Dia menjadi wakil kita, saudara akan menemukan bahwa pencobaan Yesus di padang gurun, adalah suatu pengalaman yang sama yang terjadi kepada Adam, Israel dan Gereja Tuhan. Itulah sebabnya Yesus sebagai wakil dari kita, dan karena ia tidak berdosa maka Dia layak menebus kita. Pencobaan Yesus di awal-awal pelayaan-Nya meliputi; meragukan kebaikan Allah, menguji kesetiaan Allah, dialihkan untuk boleh menyembah kepada ilah yang palsu. Setan memanfaatkan kebutuhan-kebutuhan real manusia untuk mencobai Yesus. “Yesus jika Engkau adalah Anak Allah, ubah batu ini menjadi roti,Yesus jikalau Engkau Anak Allah maka jatuhkan Dirimu dari bubungan bait suci dan seluruh malaikat akan menggotong Engkau, Yesus lihatlah seluruh dunia, satu kali Engkau tunduk kepadaku, aku berikan seluruhnya”. Setan memanfaatkan real kebutuhan manusia, kebutuhan dari Yesus Kristus karena Dia adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Untuk mengalihkan Yesus dari pengabdian sepenuhnya kepada Bapa-Nya. Tetapi di akhir-akhir hidup Yesus Kristus, pencobaan setan lebih kepada tugas Mesianik-Nya, yaitu pencobaan agar Yesus keluar dari penyelesaian jalan salib-Nya, di mana dalam kehendak Bapa-Nya, salib ini adalah satu-satunya jalan penebusan dosa bagi kita semua. Sekali lagi setan di dalam setiap detiknya dengan memakai apa pun saja, baik itu adalah orang terdekat dari Yesus Kristus bahkan sampai kepada musuh-musuh-Nya dengan menggunakan apa pun saja, dengan uang, dengan masyarakat, dengan masa, dengan politik, dengan agama, berusaha untuk menekan Yesus sedemikian rupa untuk Yesus bisa berhenti menjalani jalan itu menuju salib. Lihatlah beberapa pencobaan yang Yesus alami di saat-saat akhir hidup-Nya.

Suatu hari Yesus bertemu dengan murid-murid-Nya beberapa saat sebelum Dia pergi menuju Getsemani dan Dia mengatakan kepada para murid-Nya, “Anak manusia akan pergi ke Yerusalem, dan di sana Dia akan ditangkap dan kemudian diserahkan kepada orang-orang berdosa untuk menderita dan mati di tangan mereka.” Dan kemudian Petrus yang mendengarkan hal itu langsung menarik Dia ke samping. Dan kemudian Petrus dengan cintanya yang berkobar itu mengatakan “itu tidak mungkin terjadi pada-Mu” Yesus kemudian mengatakan “Enyahlah engkau iblis!” Oh, ini kalimat yang luar biasa keras, bukankah Petrus sangat mencintai Yesus? Bukankah Yesus sangat mencintai Petrus? Bukankah Petrus bicara kepada Yesus di dalam arti kata yang sangat baik? Bukankah Petrus menarik supaya Yesus tidak pergi ke Yerusalem adalah karena cintanya? Tetapi Yesus yang mengerti prinsip utama kenapa Dia ada di dunia ini. Tidak mengizinkan satu orang yang paling dikasihi-Nya sekalipun untuk menggeser dari direction yang sesungguhnya. Hidup-Nya untuk satu, menggenapi rencana Allah Bapa dan rencana Allah Bapa berarti menuju ke salib. Segala sesuatu yang berusaha untuk membuat Dia bergeser, Dia tahu bahwa itu adalah dari setan. Enyahlah engkau iblis!” Waduh, untung Petrus tidak tersinggung saudara-saudara. Dia lihat ke kiri, ke kanan, mana setannya? “Enyahlah setan!”, setannya di mana? Dia lihat-lihat “Loh, saya sendiri setannya.” Saudara-saudara, pekerjaan setan di dalam hidup kita adalah dengan segala cara, dengan simpati, dengan cinta, dengan keluarga, dengan apa pun saja. Intinya adalah untuk menggagalkan panggilan.

Dan apa yang terjadi di Getsemani? Sekali lagi setan menggunakan segala sesuatunya. Di dalam case ini kegelapan, di dalam case ini adalah takut, di dalam case ini adalah masa, di dalam case ini adalah kekuatan politik dan agama bersatu. Di dalam case ini adalah pengkhianatan dari murid-murid yang membuat sakit hati Yesus untuk menggeser Yesus sebisa mungkin berhenti kepada jalan salib. Di Getsemani dan sesudahnya, apa yang terjadi? Murid-murid meninggalkan-Nya, para penjahat, orang Farisi, ahli Taurat yang sombong itu akan menangkap Yesus akan meludahi-Nya, akan menghakimi-Nya dengan tidak adil, akan mencerca-Nya, akan menghina-Nya, akan mengolok-mengolok-Nya, akan memahkotai duri. Ketidakadilan akan ditinggikan, kesombongan akan dibanggakan, kenajisan akan diperlihatkan, dan kebenaran akan diputar balikkan semua di depan mata Yesus yang suci. Yesus berhak dan mampu keluar dari saat seperti itu, salib tidak harus Dia pikul, dan kejahatan tidak harus dilihat oleh mata-Nya yang suci. Dia sewaktu-waktu dapat menghentikan semuanya ini dengan kekuatan kuasa-Nya. Tetapi tidak, Dia melepaskan seluruh hak-Nya. Filipi mengatakan “Dia merendahkan Diri-Nya sedemikian rupa”. Dia tidak menghindarkan jalan salib itu, Dia masuk di dalamnya, menyerahkan seluruh hidup-Nya kepada seluruh musuh-musuh-Nya.

Oh, Dia yang terang itu, Dia yang indah itu, Dia yang suci itu, Dia yang murni itu, Dia yang hadir di hadapan Bapanya senantiasa dalam sukacita. Dan di tangan kanan Bapanya itu penuh dengan nikmat senantiasa, sekarang berhadapan dengan kehinaan, berhadapan dengan kenajisan, berhadapan dengan ketidakbenaran, berhadapan dengan hukum yang diputarbalikkan dan seluruh kejahatan dipertontonkan di depan mata-Nya. Tetapi Dia diam, Dia seperti domba yang dibawa ke pembantaian. Dia tidak meninggalkan tugas Mesianik-Nya. Dia menanggung sampai seluruh kehendak Allah itu jadi, mati di atas kayu salib. Dia tidak meninggalkan perjanjian-Nya dengan Bapa yang di buat di dalam covenant of redemption di dalam kekekalan. Dia rela menanggung semuanya itu dengan diam seperti domba yang dibawa ke pembantaian. Dia tidak berteriak, dia tidak menyaringkan suara-Nya, Dia tidak memperdengarkan suara-Nya di jalan. Tepat seperti Frederick Leahy menyatakan, “Di inti pekerjaan penebusan untuk keselamatan manusia, terletak kekuatan tidak terbatas dari Penebus yang diam.” Sekali lagi, di inti pekerjaan penebusan untuk keselamatan manusia terletak kekuatan tidak terbatas dari Penebus yang diam.”

Ini pencobaan yang melampau pikiran kita, pencobaan yang sungguh-sungguh saudara renungkan, saudara akan tahu betapa Yesus masuk di dalam dimensi-dimensi penderitaan yang bahkan kita tidak bisa menjangkaunya dengan pikiran kita. Bukan saja kita tidak bisa alami, kita tidak mampu mengalaminya. saudara-saudara memikirkannya pun tidak bisa menjangkaunya. Saudara-saudara perhatikan, di Getsemani, Yesus mengajar bagaimana Dia menang terhadap seluruh kekuatan pencobaan di depan. Kalimat ini saya akan tekankan dan saya akan explore dari kalimat ini. Yesus bukan saja menang terhadap pencobaan, Yesus menang atas seluruh kekuatan pencobaan. Saya akan jelaskan kalimat ini dan signifikansinya dengan tulisan dari C. S. Lewis di Mere Christianity. Dia mengatakan begini, “Hanya mereka yang mecoba menahan godaan, tahu betapa kuatnya godaan itu.” Bagaimana anda bisa mengetahui kekuatan tentara Jerman adalah berperang dengan dia dan bukan dengan menyerah. Sekali lagi saudara-saudara, perhatikan, saudara akan bisa mengerti kekuatan tentara Jerman adalah dengan berperang dengan dia dan bukan menyerah. Saudara bisa mengetahui kekuatan angin itu dengan berjalan melawannya dan bukan saudara merunduk. Seorang yang menyerah pada godaan yang datangnya hanya 5 menit, tidak tahu apa kekuatan pencobaan itu dalam satu jam kemudian. Dan saudara-saudara perhatikan apa yang C.S. Lewis katakan, “Itulah sebabnya orang yang menyerah kepada kejahatan, sebenarnya di satu sisi hanya tahu sedikit tentang kejahatan itu, mereka selalu menjalani kehidupan yang selalu menyerah kepada kejahatan.” Dan Kristus adalah satu-satunya manusia yang tidak pernah menyerah kepada pencobaan. Dia adalah satu-satunya Manusia yang mengetahui sepenuhnya apa kekuatan pencobaan itu. Oh saya ketika membaca tulisan ini saya menyadari apa yang terjadi kepada Kristus kita bahkan tidak pernah bisa menjangkaunya. Petrus, Yohanes, Yakobus dan seluruh dari murid-murid yang lain mereka menyerah pada detik-detik pertama pencobaan itu. Sesungguhnya gereja Tuhan tidak pernah mengalami dan menerima dari seluruh kekuatan pencobaan dari setan. Dari hanya 5-10 menit pertama, kita sudah menyerah dengan kekuatan perncobaan itu. Kita tidak pernah mengetahui kekuatan dari tentara Jerman karena di depan kita langsung menyerah. Tetapi Kepala Gereja kita tidak, dia bertahan terhadap seluruh pencobaan itu dan Dia memenangkan peperangan terhadap seluruh kekuatan pencobaan itu sampai akhirnya. Dia menerima seluruh kekuatan pencobaan itu. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan Dia layak disebut Imam Besar karena mengalami segala pencobaan dari segala aspek dengan seluruh kekuatannya tapi Dia tidak berdosa. Kita sudah bicara berkenaan dengan apa yang terjadi secara konteks itu pencobaan yang berat terhadap Kristus Yesus dan sekarang mari kita masuk lebih dalam lagi.

Dan apa yang Yesus kerjakan untuk melawan dari pencobaan itu? Apa yang Yesus ajarkan kepada kita gereja-Nya, kepada murid-murid-Nya untuk bertahan melawan pencobaan itu? Yesus membawa ke-3 murid-Nya masuk ke Taman Getsemani. Dan Yesus meminta kepada Petrus, Yakobus dan Yohanes tinggalah di sini dan berjaga-jagalah dengan aku. Dan kemudian Dia melangkah satu dari lemparan batu dan kemudian Dia berdoa di sana kepada Bapa-Nya. Kemudian Dia kembali kepada murid-murid-Nya dan semua murid-Nya tertidur. Dan kemudian Yesus berkata sekali lagi, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan, roh memang penurut tetapi daging lemah.” Saudara-saudara perhatikan baik-baik, gereja Tuhan perhatikan baik-baik. Di saat krusial dari Yesus Kristus perhatikan apa yang Dia perintahkan kepada murid-murid-Nya dan kepada kita. Kepala Gereja kita, Archegos, Kapten Keselamatan kita, Panglima Bala Tentara Perang memerintahkan posisi perang kepada pasukannya untuk pertempuran dengan menggunakan senjata yang tidak diketahui oleh orang-orang yang bersifat dunia. Dan senjata perang itu adalah lutut, lutut yang kita tekukan di hadapan Bapa di Surga. Yesus Kristus memberikan kepada kita, oh sisi perang melawan musuh yaitu doa. Sampai kapan seluruh jemaat yang ada di sini engkau tidak memperhatikan hal ini? Sampai kapan kita membiarkan dari dosa itu terus menerus menggocoh kita? Bukankah hidup kita berkali-kali ingin taat tetapi kita jatuh di dalam dosa? Dan kita bertanya terus menerus mengapa dan mengapa? Tetapi kalimat yang jelas dari Kapten Keselamatan kita, kita, tidak pernah pikirkan. Berdoalah! Roh memang penurut, Aku tahu hatimu, Aku tahu engkau ingin taat kepada-Ku, tetapi dagingmu selalu membawa kegagalan. Berdoalah, berjaga-jagalah dengan Aku. Bukankah kalimat ini begitu jelas hai jemaat. Apakah engkau memiliki senjata yang lebih hebat dari pada lutut kita yang bertelut? Ini adalah senjata yang tidak diketahui oleh dunia. Bahkan kalau kita adalah seorang Kristen duniawi sekalipun, kita tetap tidak akan mengetahui dan menghargai senjata yang dipakai Allah untuk mengokohkan kerajaan-Nya di bumi ini, yaitu doa. 

Saudara bayangkan sekarang, jikalau saudara adalah pasukan dan kemudian itu tiba-tiba komandan kita di depan itu tahu bahwa musuh itu mendekat dan kemudian dia langsung akan memerintahkan dengan suara yang keras dan lantang, dengan tiupan terompet itu. Langsung saudara sadar, ini mau perang, dan jenderal kita di depan itu kemudian mengatakan, “Prajurit siap, semua tempur!” Langsung kemudian kita keluarkan senjata kita, kita siap sedia, kita maju mau  berperang, kita mengeluarkan seluruh kekuatan senjata yang kita miliki. Dan seperti itulah yang terjadi di Getsemani. Yesus tahu musuh-musuh akan mendekat, inilah waktu kegelapan itu, dan Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, “Ini saat kegelapan. Ini saat untuk berperang. Siap prajurit. Petrus, engkau siap! Yohanes, engkau siap! Yakobus, engkau siap!” Mereka lihat-lihat. Petrus pikir, oh senjataku adalah pedang. Yesus panglima itu berkata, “Siap semuanya, lihat Saya!” Dan kemudian Dia berlutut. Ini posisi perang. Ini senjata kita. Barangsiapa gagal di dalam menggunakan senjata ini kita akan gagal dalam hidup kita. Ini inti Getsemani. Yesus menang di situ, sampai akhir Dia dipaku di atas kayu salib, tidak pernah mundur. Dia mengatakan di depan seluruh musuh-Nya, “It is finished.” Setan tidak takut dengan IQ, setan tidak takut dengan pengalaman hidup kita. Petrus kurang apa pengalamannya? Tiga setengah tahun ikut Yesus, lihat Yesus menghentikan badai, dia ikut. Lihat Yesus itu membangkitkan Lazarus, dia ada. Petrus itu begitu cintanya kepada Yesus Kristus. Dia begitu komitmen kepada Yesus Kristus, “Yesus, perhatikan baik-baik kalimatku, aku akan setia kepada-Mu meskipun semua akan pergi.” Yesus kemudian mengatakan, “Tidak Petrus, kalau kuasa kegelapan itu datang, engkau sudah menyangkal Aku, bahkan sebelum ayam itu berkokok, dan kemudian engkau akan sangkal aku tiga kali.” Dan Petrus tidak percaya. Dan yang lebih mengejutkan adalah dia menyangkal di depan pembantu perempuan yang kecil, bukan di depan jenderal. Seluruh pengalaman hidupnya bersama Yesus tidak ada gunanya. Tiga setengah tahun kuliahnya itu hari terakhir ujian itu nol. Yohanes dan Yakobus, saudara kalau pikir Yohanes itu rasul kasih, betul, tetapi saudara apakah saudara, kita mengingat Yohanes dan Yakobus itu disebut sebagai boanerges, anak guntur. Mereka adalah orang yang paling suka marah, paling kuat komitmennya, paling tidak bisa  melihat orang jahat. Suatu hari ketika dia melihat ada orang jahat itu, mereka bicara sama Yesus, “Yesus, apakah kita tidak mau minta Allah untuk menghabisi mereka dengan halilintar?” Tapi begitu ketemu sama penjaga bait suci yang datang sama Yudas malam hari itu langsung lari. Pelajaran 3½ tahun, tiap hari bersama Yesus itu hilang ditiup angin. Saya tanya kepadamu, apakah engkau dan saya lebih baik dari mereka? Kenapa begitu sombong? Kenapa tidak mau berdoa? Kenapa? Lebih hebat? Lihat saja begitu uang ditawarkan kepada kita, kita langsung jual iman. Lihat saja begitu kita sakit langsung kita memaki-maki Allah. Lihat saja begitu sakit hati sedikit, kita langsung pergi dari gereja. Lihat saja begitu ada pencobaan sedikit kita langsung sombong. Apa sih yang mau kita itu banggakan? Setan dengan mudah sekali membawa kita untuk keluar dari jalan kesucian. Allah memperlihatkan Getsemani kepada kita untuk kita merendahkan hati kita untuk membuat kita menyadari betapa kuat dan liciknya setan. Perhatikan kalimat di bawah ini. Anak-anak Allah terbaik pun akan gagal jika tidak bergantung kepada Allah di dalam doa. Hanya dengan kekuatan Allah maka kita bisa mengalahkan dosa dunia dan setan. Jikalau ketiga murid yang terbaik itu terjatuh, siapa dari kita yang tetap dapat berdiri? Itulah sebabnya Paulus di dalam Efesus 6 mengatakan: “Di dalam peperangan rohani itu, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-nya.” Oh Getsemani, semakin kita lihat ke dalam, saudara melihat apa? Saudara melihat pencobaan yang begitu besar. Petrus, Yohanes, Yakobus belum masuk di dalam pencobaan besar, itu baru cuma di depannya, serpihan, sudah langsung pergi, tapi Yesus tidak. Yesus masuk ke dalam seluruh kekuatan pencobaan dan mengalahkan.

Dan sekarang saya akan masuk bagian yang ke-3. Yang pertama adalah bicara mengenai pencobaan.  Yang ke-2 kita bicara berkenaan dengan apa yang Yesus ajarkan untuk melawan daripada pencobaan itu yaitu dalam doa. Dan yang ke-3 adalah saudara di Getsemani itu saudara akan menemukan doa Yesus Kristus yang membawa keselamatan. Saudara-saudara, perhatikan fokus utama doa Yesus. Apa yang Yesus itu doakan? Sekali lagi konteksnya adalah musuh-musuh datang, kegelapan itu menyergap, tetapi Yesus bergumul bukan melawan musuh di dalam doa-Nya. Dia bukan menengking setan, hai setan keluar engkau. Pikiran-Nya bahkan bukan apa yang nanti musuh itu kerjakan pada Dia, tetapi pikiran-Nya, pergumulan doa-Nya adalah apa kehendak Bapa-Nya di dalam konteks itu. Mata-Nya tertuju kepada isi hati Bapa-Nya dan bukan kepada strategi musuh. Dan Dia tahu prinsip kemenangan terhadap musuh adalah sepanjang Dia bisa taat kepada Bapa-Nya, maka musuh-Nya akan dengan sendirinya dikalahkan oleh Bapa pada waktu-Nya Bapa dan dengan cara-Nya Bapa. Mata Kristus hanya terus menerus kepada kehendak Bapa-Nya. Bapa, Engkau dapat melakukan segala sesuatunya, Aku minta supaya cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi jikalau ini kehendak-Mu maka Aku akan meminumnya. Saudara-saudara, mata Dia tidak kepada setan, mata Dia bukan kepada Yudas, mata Dia bukan kepada murid-murid-Nya yang membawa sakit hati-Nya. Dia bahkan sama sekali tidak menghardik setan, Dia tidak mencari simpati pengikut-Nya, tetapi Dia hanya mau satu kehendak Bapa-Nya itu apa. Dan jikalau Bapa menginginkan Dia menjalani penderitaan itu, Dia rela untuk meminum seluruh isi cawan murka Allah itu sampai tetes terakhir. Dia berdoa 3 kali. Bapa jikalau mungkin, singkirkan cawan ini lalu dari pada-Ku. Bapa jikalau mungkin, singkirkan cawan ini lalu dari pada-Ku. Bapa jikalau mungkin, singkirkan cawan ini lalu dari pada-Ku. Dan dalam doa yang penuh penderitaan itu, perhatikan baik-baik, Bapa melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi dilakukan Bapa kepada Anak, yaitu Bapa menolak Anak. Setiap kali Anak berdoa, setiap kali Bapa membalas dengan diam. Perhatikan hal ini hai seluruh jemaat. Doa yang menyelamatkan pendosa seperti engkau dan saya, sesungguhnya adalah sebuah doa yang ditolak. Doa yang menyelamatkan engkau dan saya sesungguhnya adalah sebuah doa yang ditolak. Bapa mengatakan tidak kepada Yesus. Untuk keselamatan itu hadir kepada engkau dan saya, Bapa menggenapi rencana keselamatan kita di dalam Kristus Yesus dengan mengatakan ‘tidak’ kepada Sang Anak. Dan Yesus meminum cawan itu. Hai jemaat, dengarkanlah, kelepasan terbesar yang datang kepada kita adalah dari doa yang tidak terjawab. Betapa ini penderitaan yang besar, oh betapa paradoks itu begitu dalam, dan siapa yang bisa mengertinya?

Dan khotbah ini saya akan akhiri dengan satu cerita. Setelah seluruhnya ini kita dengar, apa yang dapat kita lakukan untuk Yesus Kristus? Yesus sudah melakukan segala sesuatunya bagi kita, apa yang dapat kita lakukan bagi Dia? Di Getsemani, Yesus meminta Petrus, Yohanes, dan Yakobus dengan kalimat seperti ini. Ini adalah permintaan Yesus Kristus, “Tinggallah di sini dan berjaga bersama dengan Aku.” Setiap kali Yesus kembali, Yesus menemukan mereka tertidur, dan Yesus berbicara lagi kepada mereka, “Jadi tidak bisakah kalian berjaga bersama dengan Aku satu jam saja?” Saudara-saudara, Yesus tidak meminta murid-murid-Nya atau Yesus tidak meminta kita untuk memikul beban dosa atau memikul salib, Dia hanya minta kita untuk tetap terjaga dan bersama-sama dengan Dia. Berjaga bersama dengan Dia. Berjaga bersama dengan Dia. Bersama. Berjalan bersama. Seakan-akan bersama-sama Dia menemani kita dan kita menemani Dia. C.S. Lewis menuliskan satu ilustrasi yang baik sekali bagi kita untuk mengerti hal ini. Di dalam bukunya The Lion, The Witch, and The Wardrobe, kita tahu semua C.S. Lewis, di situ ada satu tokoh yaitu yang menggambarkan mengenai Kristus yang sangat besar dan agung itu adalah seperti seekor singa yang besar itu ‘Aslan’ namanya. Dan di dalam satu episode, singa besar Aslan ini telah menawarkan hidupnya sebagai ganti Edmund, anak sekolah yang pemarah yang telah mengkhianati saudara-saudaranya. Pada malam sebelum Aslan dibunuh di stone table itu, dua gadis yang kecil itu Lucy dan Susan mengikuti Aslan di belakangnya. Mereka berdua tahu Aslan sedang sedih sekali meskipun mereka tidak tahu apa yang membuatnya sedih. Tiba-tiba di tengah-tengah kesedihannya Aslan, singa itu yang besar itu mengizinkan Lucy dan Susan itu untuk menemaninya sebentar. Dan Lucy dan Susan itu mendekati Aslan dan berdiri di sebelah kiri dan kanan Aslan. Dan mereka berjalan berdua di sisi Aslan. Tetapi Aslan berjalan sangat-sangat lambat. Kepalanya yang besar dan anggun itu terkulai hingga hidungnya itu menyentuh rumput. Dan Aslan sedikit tersandung dan mengerang perlahan. Lucy sang anak kecil dengan mata yang berbinar itu kemudian mengatakan: “Dear Aslan, dear Aslan, ada apa? Tidak bisakah engkau memberi tahu kami Aslan. Apakah engkau sakit Aslan?” Dan Aslan  mengatakan dengan lirih, “Tidak, aku sedih dan kesepian.” Dan tiba-tiba Aslan mengatakan demikian, “Letakkan tanganmu di suraiku sehingga aku bisa merasakan kamu ada di sana dan marilah kita berjalan bersama seperti itu.” “Letakkan tanganmu di suraiku, di buluku yang besar, di kepala itu, letakkan tanganmu di situ, biarkan kita berjalan bersama seperti itu.” C.S. Lewis dengan tepat menyatakan seperti itu. Maka gadis-gadis kecil itu melakukan apa yang tidak akan pernah berani mereka lakukan tanpa izinnya. Tetapi ini adalah apa yang sudah lama ingin mereka lakukan sejak pertama kali melihat Aslan. Kedua gadis kecil itu membenamkan tangan dingin mereka di lautan bulu yang indah dan mengelus Aslan. Dan sambil melakukan itu mereka berjalan bersama.

Mesias, Yang Diurapi itu pergi ke tempat pemerasan zaitun untuk diperas, di bawah batu besar kilangan dosa dunia ini. Dia pergi untuk mengungkapkan dosa yang paling besar dalam hati manusia. Dan pada tahap penurunan ini, Dia tersungkur di dalam penderitaan terbesar-Nya, merasakan penolakan Bapa terhadap dosa. Di taman Getsemani, tempat jiwanya hancur, ketika kehadiran Bapa-Nya semakin berkurang, Yesus mengatakan, “Biar kehendak-Mu Bapa yang terjadi.” Dan apa yang bisa kita lakukan untuk Kristus? Tidak ada. Karena ini adalah pekerjaan Yesus Kristus sendiri untuk menyelamatkan umat manusia. Apa yang dapat kita lakukan untuk-Nya? Tidak ada. Tetapi di tempat yang lain, apa yang dapat kita lakukan untuk-Nya? Semuanya. Kita bisa melakukan untuk-Nya apa yang Dia rindukan sejak awal di taman Eden itu yaitu persekutuan kita dengan Dia untuk bersama-Nya, untuk tetap bersama berada dekat-Nya, untuk meletakkan tangan kita di rambut dan bahu-Nya, untuk mengurapi Dia dengan air mata kita menghargai berapa harga yang sudah Dia bayar untuk kita. Untuk berjalan bersama dengan Dia, seperti kedua gadis itu, memasukkan tangannya di semua rambut Aslan dan berjalan perlahan bersama dengan dia. Berjalan bersama dengan Dia yang telah melewati neraka untuk kita, untuk kita dapat melewati neraka dan melewati kematian itu dengan selamat. Apa yang dapat kita lakukan untuk Kristus? Tidak ada. Tapi Kristus mengatakan kepada para murid-Nya, “Tinggallah di sini dan berjaga bersama Aku.” “Berjagalah bersama Aku. Tidakkah kalian dapat satu jam saja berjaga bersama dengan Aku?” Apakah engkau mau, jemaat? Berjaga bersama dengan Mesias, Sang Penebus kita? Mari kita berdoa.


Yoh 18:1-2, Mar 14:32-42
 
 
GRII Sydney

GRII didirikan di atas dasar Pengakuan Iman Reformed Injili dengan tujuan menegakkan satu gereja yang berbasiskan teologi Reformed, dengan mimbar yang menyampaikan khotbah ekspositoris, read more